<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4484010673516050752</id><updated>2011-04-21T13:14:35.640-07:00</updated><category term='Mao Zedong'/><category term='Karl_marx'/><category term='Vladimir_Lenin'/><category term='Duncan Hallas'/><category term='Leon Trotsky'/><category term='Albert Einstein'/><category term='Georgi Plekanov'/><category term='George Novack'/><category term='Cyril Smith'/><category term='Tan Malaka'/><category term='Alexandra Kollontai'/><category term='Ernest Mandel'/><category term='Che Guevara'/><category term='Rosa Luxemburg'/><category term='Eleanor Marx'/><title type='text'>Wisma [Komunitas] Kiri Ponorogo - Media Share Marxist</title><subtitle type='html'>Selamat Datang Di Wisma [Komunitas] Kiri Ponorogo Yang Hadir Sebagai Hasil Ide Kawan-kawan Muda Marxist Di Kota Ponorogo Yang Bertujuan Mengajak Kawan-kawan Generasi Muda Di Seluruh Indonesia Untuk Mulai Progresif Revolusioner Agar Nantinya Mampu Menjadi Calon Pemimpin Negeri Yang Bisa Di Andalkan Dan Tidak Hanya Menjadi Sampah-sampah Bernyawa Di Gedung Dewan.
Media Share Marxist Sengaja Menampilkan Semua Materi-materi Marxisme Melalui Blog Ini Agar Bisa Di Baca Dan Dipelajari Oleh Publik.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>" Komunitas Kiri - Ponorogo "</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16581105841070776783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://4.bp.blogspot.com/_Aaxc4WfbAH8/SeX6GtJ-MkI/AAAAAAAAAAM/mWTj7VQhnlU/S220/jajalan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>131</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4484010673516050752.post-245662875461812934</id><published>2009-04-14T15:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T15:38:08.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tan Malaka'/><title type='text'>SI Semarang dan Onderwijs</title><content type='html'>&lt;h1&gt;SI Semarang dan Onderwijs &lt;/h1&gt; &lt;h2&gt; Tan Malaka (1921)&lt;/h2&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt; Yayasan Massa, terbitan tahun 1987 &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kontributor:&lt;/strong&gt; Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007) &lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;h4 align="center"&gt;Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri  atas didikan yang berdasar kemodalan.&lt;br /&gt;  Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa  diperoleh dengan didikan kerakyatan.&lt;/h4&gt; &lt;h3 align="center"&gt; &lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kata Pengantar Penerbit&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.&lt;br /&gt;2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.&lt;br /&gt;  3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke  bawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE  ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penerbit,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yayasan Massa, 1987&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Tergopoh-gopoh kita mengeluarkan buku ini, yang maksudnya hendak menggambar dan menuliskan percobaan Onderwijs, yang rasanya cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat, yang melarat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hampir semua lid SI Semarang kenal sama SI school. Mereka yang hampir pada tiap-tiap vergadering mendengarkan propaganda yang berhubungan dengan sekolah tiu, tentulah akan lebih suka lagi, kalau mempunyai suatu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya sekolah itu. Dengan buku itu kita bisa pula mengumumkan haluan SI school dimana-mana , juga pada tempat-tempat yang sudah setuju dengan Semarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buku ini tentu belum sempurna, sebab sekolah SI masih baru sekali. Lagi pula kita sengaja bercerita pendek, buat menerangkan yang perlu saja, sehingga orang yang tidak paham dalam hal ilmu didikan, juga bisa mengambil arti yang berguna bagi dirinya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita berharap, bahwa dengan cerita yang pendek itu, beserta gambar-gambaran, sampai maksud kita yakni hendak melukiskan didikan Rakyat yang kita katakan tadi. Sungguhpun kita belum tahu, akan hasil perbuatan kita, tetapi kalau kita tilik sikapnya pihak sana, maka kita boleh mengambil keyakinan, bahwa jalan kita ada baik. Baru saja sekolah kita dibuka, Surabayasch Handelsblad serta konco-konconya sudah berteriak : “Hai, pemerintah awasi sekolah SI itu”. Wakil pemerintah di Semarang (Ass. Resident) sudah melarang membikin pasar derma (dengan art 520. WVS ??), yang selamanya ini boleh dilakukan, melarang anak-anak kromo meminta darma dengan menyanyi international (sepanjang art 154. WVS).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendeknya sekalian halang-halangan itu, yang dirasa menutup jalan untuk memperbaiki sekolah, sudah menimbulkan protest besar pada tanggal 13 Nopember ini, pada vergadering SI yang dikunjungi oleh kira-kira 5000 orang lelaki dan plm. 4000 orang perempuan. Perkara tanah yang juga penting buat Rakyat Semarang cuma memakan kira-kira 1 jam, sedangkan perkara onderwijs itu ada menghabiskan waktu kira-kira 2 ½ jam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama kita tinggal di Semarang, belumlah pernah kita menyaksikan suara yang begitu tajam dan keras, baik dari pihak Destuur ataupun lid-lid SI. Sikapnya vergadering tadi seolah-olah seekor burung, yang anaknya disambar Elang. Di dalam di luar vergadering (di desa-desa) kita mendengar: SI school mesti terus:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya, SI school mesti terus, inilah jawab  kita. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERATURAN ONDERBOUW (SEKOLAH  RENDAH)&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Bahwa sekolah SI bukan seperti sekolah particulier yang lain-lain, yakni pertama sekali buat mencari keuntungan, bolehlah kita buktikan dengan bermacam-macam jalan. Bukan saja karena ongkos buat uang sekolah adalah lebih enteng, dan pengajaran ternyata lebih baik seperti keterangan anak-anak sendiri yang datang dari sekolah-sekolah partkulier, tetapi yang terutama sekali, karena hawa (=geest) di sekolah SI ada lebih sehat dan lebih dekat pada watak dan sifat anak asal dari Timur, yakni kalau kita bandingkan dengan geewst di sekolah-sekolah partikulier atau HIS Gouvernement. Nyata buat kita yang anak-anak suka bekerja keras untuk mencari kepandaian, yang perlu kelak buat keperluan hidup (seperti membaca, menulis, berhitung, bahasa dsb) pada dunia kemodalan, yang tiada mempunyai kasihan satu sama lain, pada dunia yang memberi rezeki dan keselamatan cuma pada yang kuat dan pintar saja. Itu memang kewajiban kita sebagai gurunya, supaya kelak anak-anak yang keluar dari sekolah SI cukup membawa senjata untuk perjuangan kelak dalam hal mencari pakaian dan makanan buat anak istrinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pula kita tidak lupa, bahwa ia masih kanak-kanak dalam usia mana ia belum boleh merasa sengsaranya hidup dan berhak atas kesukaan bergaul sebagai kanak-kanak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkara yang ketiga kita ingat juga, bahwa murid-murid kita kelak jangan hendaknya lupa pada berjuta-juta Kaum Kromo, yang hidup dalam kemelaratan dan kegelapan. Bukanlah seperti pemuda-pemuda yang keluar dari sekolah-sekolah biasa (Gouvernement) campur lupa dan menghina bangsa sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ringkasnya maksud kita yang terutama :&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (verenniging).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;h3&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;I. Memberi senjata cukup, buat mencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, membacara, babad, ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu, Belanda dan sebagainya).&lt;/strong&gt;   &lt;/h3&gt;   &lt;p&gt;Perkara yang pertama ini tidak perlu kita panjangkan. Tiap-tiap kita yang keluar dari sekolah sudah tahu, apa artinya pengajaran sekolah hari-hari. Cuma kita dengan pengajaran sekolah itu juga mesti bangunkan hati merdeka, sebagai manusia dengan bermacam-macam jalan. Lagi pula kita mesti bangunkan sifat-sifat kuno, yang terbilang baik. Nyanyi-nyanyi jawa dan wayang-wayang begitu juga menggambarkan wayang-wayang yang begitu sukar kita hargai tinggi. Dalam dua tiga hari saja dinding sekolah kita sudah penuh dengan bermacam-macam gambaran wayang (Bambang Irawan, Prabu Doso Muko, Gatot Koco dan sebagainya), yang digambar oleh anak-anak sendiri dalam waktu temponya. Dalam kepintaran menggambar ini kita sebagai guru mengaku tunduk sama anak-anak yang berumur 10 atau 12 tahun itu. Kita berani mengatakan, yang juga anak-anak eropa yang berumur sebegitu, atau lebih, mesti akan kalah sama anak-anak kita. Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar itu, lebih-lebih bangsa Belanda&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1921-SISemarang.htm#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;1&lt;/a&gt;, kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkara berhitung, tentu kita berani tanggung. Kita tahu, bahwa orang-orang sekolah kelas II dahulu lebih pintar berhitung dari keluaran sekolah HIS sekarang, seperti juga orang-orang keluaran sekolah kweekshchool 20 tahun yang lalau umpamanya, lebih gemar dan lebih pandai berhitung dari keluaran kweekschool sekarang. Tentulah bahasa Belanda itu sangat menghambat kemajuan berhitung. Juga caranya mengajar. Dahulu orang-orang itu disuruh sendirinya saja berhitung. Cuma apa yang tidak bisa saja yang diterangkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bukankah seperti sekarang guru-guru mabuk methode (cara mengajar), sehingga anak-anak tidak bisa cari jalan sendiri. Kita ingat akan babad onderwijs (sejarah pendidikan) di negeri Belanda, dimana orang-orang tani desapun, beberapa ratus tahun dulunya, turut campur berhitung. Semua isi desa memikirkan suatu persoalan, dan yang mendapat pendapatan dimuliakan betul. Kita sendiri masih ingat akan masa, dimana teman-teman kita murid sekolah kelas II (bukan HIS) kesana sini pergi mencari hitungan. Di sekolah SI kita biarkan juga kemauan berhitung itu. Yang pandai kita suruh terus, beberapa kuatnya saja, sehingga sudah ada anak yang duduk di kelas IV umpamanya, yang sekarang sama kitab hitungannya dengan kelas V HIS.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita memang tidak pakai Rooster (daftar pengajaran) seperti HIS. Tidak saja dalam berhitung kita lepas anak-anak sebagaimana kuatnya, tetapi dalam hal mengajar bahasa (Belanda) kita melanggar Rooster. Di kelas II umpamanya duduk anak-anak ada yang sampai berumur 13 tahun. Anak-anak ini keluar sekolah kelas II. Kita mesti terima anak-anak ini. Kalau tidak tentu dia mesti mondar-mandir saja di jalan rayat, karena sekolah yang lain buatnya tidak ada, atau terlampau mahal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita jangan lupa, bahwa diantaranya banyak yang kencang otak, cuma tak bisa bahasa Belanda saja. Tetapi sebab kelak perlawanannya ialah kaum modal, yang memakai bahasa Belanda, maka perlu sekali kita ajarkan betul bahasa itu, terutama untuk mengerti, baru yang kedua untuk menulis atau berbicara dalam bahasa itu. Jadi sebab anak-anak berumur 13 tahun ke bawah itu sudah bisa berhitung buat kelas II, sementara kita pentingkan mengajarkan bahasa Belanda. Tentulah sementara saja, karena kita tidak lupa akan pengajaran lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak-anak keluaran kelas II itu menjadi pertimbangan yang penting sekali buat kita. Untuk mencari pekerjaan mereka itu masih amat kecil. Tetapi ia tiada bisa meneruskan pengajaran. Sebab itulah mereka itu merasa sampai hati sanubarinya dihimpit oleh kemodalan, yang memberi onderwijs (pendidikan) buat yang kaya dan yang mampu membayar saja. Inilah anak-anak yang mudah dimasuki rasa kemerdekaan karena mau naik, tetapi tiada bisa. Pemuda-pemuda semacam inilah di Rusia, yang di muka, di medan peperangan yang menahan pelornya kaum Modal, yang mempertahankan peraturan Komunisme, yang memberi kesempatan bagi kemajuan pikiran dan perasaan pada tiap-tiap manusia. Anak-anak kita di SI school yang keluar kelas II ada serupa kaumnya di Rusia tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dialah yang rajin, gemar dan kalau menyanyikan internasional (lagunya kaum yang tertindas di atas dunia), maka suaranyalah yang keras dan matanyalah yang bercahaya api, disebabkan oleh arti lagu internasional itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain dari pada vak-vak (mata pelajaran) berhitung, menggambar, bahasa itu, tentulah vak-vak ilmu bumi, babad (sejarah) dunia, menyanyi dan sebagainya kita ajarkan dengan cara dan dasar, yang cocok dengan haluan kaum SI, ialah kaum yang melarat. Semua ini belumlah program yang sempurna. Kalau ada perlu tentu disana-sini boleh dirubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;II. Memberi haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan.&lt;/strong&gt;    &lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak di sekolah-sekolah masa sekarang, maka sia-sialah kita mencari geest (hawa) yang sepadan dengan usianya anak-anak. Murid-murid sekarang kerjanya lain tidak semacam mesin pabrik gula, yang siang malam tak berhenti bekerja. Siang malam anak-anak mesti belajar dan menghafalkan pelajaran, sehingga tiadalah berapa waktu tinggal untuk bermain-main. Lain dari pada waktu uitspanning, (main-main di pelataran) tiadalah ada mereka sanggup bercampur-campur. Satu sama lain kenalnya di kelas saja, sehingga kanak-kanak tiada merasa enaknya kumpul-berkumpul. Sifat ini kelak kalau besar akan terbawa-bawa juga, sehingga tiap-tiapnya orang suka mencari kesenangan sendiri-sendiri saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak-anak itu memangnya suka berkumpul-kumpul. Dalam permainan apapun juga, ia ada mempunyai peraturan sendiri. Sungguhpun peraturan tadi (dalam main layangan umpamanya) tidak dituliskan pada Reglement, tetapi mereka yang kecil-kecil itu tiada akan melanggar peraturan yang tetap. Dalam permainan apapun juga kita bisa pastikan, bahwa di sana ada kepala, yang menguruskan permainan, sungguhpun kepala tadi tidak dipilih dengan cara memilih seperti dalam sebuah vereeniging. Kalau ada anak yang melanggar adat bermain, mak anak itu lekas kena tegur dan kalau tiada mau mendengar, maka ia akan kena boycot.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sifat yang batin-batin itu, mesti kita majukan, dan mesti kita sambung. Apa yang kurang mesti kita tambah. Tetapi tidak semacam guru tidak boleh jadi diktator dalam permainannya. Dia mesti merdeka sendirinya. Cuma kalau dia salah atau tidak tahu jalan, baru kita memberi nasehat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sifat suka bergaul itu kita sudah mencoba membangunkan sedikit dengan perkataan. Dengan lekas anak-anak kita di SI school mau mengambil buktinya. Dengan segera terdiri suatu “Commite untuk Bibliotheek” (perkumpulan buku-buku) dan baru-baru ini Commite Kebersihan, dan Voetbal Club (klub sepakbola), Coorzitter dan bestuur yang lain-lain sama sekali dipilih oleh anak-anak. Begitupun Reglementnya dibikinnya sendiri. Dalam watku uitspanning atau sesudah sekolah, maka kita melihat mereka sering mengadakan Vergadering, untuk merembukkan ini itu. Dalam Vergadering SI (orang besar) anak-anak kita yang berumur 13 atau 14 tahun itu sudah pernah bicara, di Semarang ataupun Kali Wungu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan orang-orang tua dan pintar masih gentar dan takut bicara di muka orang banyak; tetapi anak-anak SI school sudah pernah menarik hati orang-orang tua, lantaran keberaniannya. Mereka yang kecil, yang memakai selempang, ditulis dengan rasa kemerdekaan, anak-anak yang berpidato dan menyanyikan internasional, sudah pernah menjatuhkan air mata beberapa lid SI yang mengunjungi Vergadering.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak-anak kita akan terus bikin propaganda untuk Bibliotheeknya tadi. Selama ini disambut dengan girang hati. Begitu juga murid-murid SI ada berpengarapan, yang kasnya akan lekas terisi derma, dan lemarinya akan terisi buku-buku, yang dikehendakinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal organisasinya tadi, kita hampir tiada menolong apa-apa, karena maksud kita bukan hendak mendidik anak-anak jadi Gromopon. Kita mau, supaya dia berpikir dan berjalan sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Besar pengharapan kita, bahwa kelak Vereeniging yang lain-lain seperti tooneel (komidi, sandiwara), wayang menyanyi, surat kabar dan lain-lain, yang setengahnya sekarang masih dalam pikiran saja akan hidup dan maju seperti “Vereeniging Bibliotheeknya” ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;III. Menuju kewajibannya kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo    &lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Ini maksud mudah dituliskan, tetapi tiada mudah disampaikan. Kita jangan lupa, bahwa kita mengajar kanak-kanak, yang belum pernah membanting tulang sendiri buat mencari penghidupan untuk anak istrinya. Seorang yang mempunyai hati dan pikiran yang suci mudah kemasukan iblis, kalau sudah ditimpa bahaya kemelaratan hidup. Demikian juga kelak anak-anak keluaran SI tentu akan ada juga yang pecah iman, kalau mesti masuk pada neraka kemodalan. Hal itu tentu tiada boleh menakuti kita; hanyalah menambah memaksa memikirkan daya upaya, supaya anak-anak keluaran sekolah SI jangan kelak membelakangi Rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau kita periksa dalam-dalam segala perkara-perkara yang memisahkan pemuda-pemuda keluaran sekolah Governement dari Kaum Kromo, maka ternyatalah, bahwa perkara-perkara itu mesti dicari pada sifatnya didikan sekolah-sekolah tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sekolah Governement diajarkan kebersihan pada murid-murid, tetapi tiada dibilang, bahwa Kromo tiada tahu, apa yang bersih, kalau tahu apa bahaya kekotoran. Nanti kalau murid-murid ini sudah besar, maka tiadalah sedikit juga kehendak padanya untuk membangunkan kebiasan kebersihan itu pada kaum melarat itu. Tidak, malah mereka dalam batinnya turut benci pada si Kromo yang kotor katanya itu, dan turut membilang, bahwa kekotoran itu memang sudah sifatnya si Kromo. Jadi didikan sekolah Governement semacam itu, yang tiada disertai kecintaan atas Rakyat, tiada menanam kewajiban buat menaikkan derajat Rakyat menyebabkan, maka didikan itu menimbulkan suatu kaum (bernama kaum terpelajar) yang terpisah dari Rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentulah tiada perkara kebersihan saja yang mendatangkan pisahan itu. Juga kepandaian, adat istiadat, yang didengarkan atau dibacanya dalam sekolah, sama sekali tidak menanam belas kasihan pada Kromo. Dan kalau tiada dibangunkan rasa kewajiban dan kecintaan, maka sudahlah tentu yang bersih pandai dan sopan itu tiada akan tahu menahu yang kotor, bodoh dan biadab, kata kaum sana itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkara juga yang bisa mendatangkan pisahan itu ialah perceraian kerja tangan dan kerja otak. Sekolah biasa dianggap cuma buat mencari kepandaian otak saja. Itulah pula kerjanya anak-anak itu hari-hari. Dahulu kala, dan sekarang juga, anak-anak itu di desa turut mencangkul atau bertukang. Semuanya dilakukannya dengan kegemaran. Tetapi pada sekolah zaman sekarang bertukang atau mencangkul itu cuma dilihatnya saja baik dalam perjalanan atau pada gambar-gambar sekolah. Kalau pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan oleh kaum kotor, bodoh dan sebagainya, heranlah kita, kalau pemuda-pemuda yang bernama terpelajar itu kelak berpikir: Kerja tangan itu rendah sekali?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sekolah SI tidak saja dibilang apa yang  bersih, tetapi diajarkan sendiri mencari kebersihan. Jongos-jongosan tidak ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baru-baru ini sesudah kita mencela kekotoran sekolah dan perkakasnya sekolah kita sendiri, maka segera dibangunkan “Commite kebersihan”, Commite inilah yang menjaga supaya segala pekerjaan berhubung dengan kebersihan sekolah (bangku, bord, dsb) dilangsungkan. Kalau sekarang belum pukul delapan kita memasuki kantor SI maka kelihatanlah anak-anak yang bersingsing lengan baju, memegang kain atau ember untuk membersihkan bangku atau bord (papan tulis). Ini kemajuan besar. Karena, kalau 2 atau 3 bulan yang lalu, kita sedikit minta tolong, umpamanya membersihkan papan, maka kita lihat muka yang seolah-olah mau berkata : “Ini pekejaan jongos”.&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1921-SISemarang.htm#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memandang rendah pada pekerjaan tangan, yakni kerja ibu bapaknya hari-harian, itulah yang mau kita perangi dengan sekuat-kuatnya. Anak-anak mesti cinta pada segala macam pekerjaan yang disahkan (halal).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesudah kita bisa buang sifat didikan yang bisa mendatangkan benci pada kaum Kromo (yang kerja tangan) itu, maka harus kita perhubungkan anak-anak kita dengan kaum melarat. Itulah gunanya, kalau ada tempo kita membicarakan nasib si kromo; kita menanam hati belas kasihan sama bangsa yang tertindas; kita menunjukkan kewajiban sebagai anak kaum yang tertindas itu. Sebab itulah kita membangunkan hatinya, supaya berani bicara dalam Vergadering SI, atau Vergadering Kaum Buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bijak dan berani berpidato, yakni kepandaian yang dimuliakan oleh segala bangsa yang merdeka, baik dahulu, baik sekarang, bisa ditanam cuma dengan jalan Vergadering saja. Kalau kita amat-amati pemimpin-pemimpin muda kita, baik dalam Commite Bibliotheek, “Commite kebersihan” atau “Voetbal Club” dalam Vergaeringnya masing-masing, maka mudah kita saksikan, bahwa dalam Vergaderingnya itu ada orde (aturan), dan ada hati sungguh (baik dari pihak speker (pembicara) ataupun yang mendengar). Kadang-kadang kita heran melihat, bagaimana seorang kanak-kanak bisa mengenggam Vergadering yang dikunjungi oleh lebih kurang 180 anak-anak. Vereeniging inilah suatu sekolah, yang besar artinya untuk mendidik rasa dan hati mereka; mendidik untuk memikirkan dan menjalankan peraturan buat pergaulan hidup, mendidik untuk fasih dan berani bicara, didikan mana dalam zaman perbudakan ini lebih besar harganya dari pada mengetahui, berapa banyaknya sungai-sungai di pulau Borneo umpamanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau kita bisa menyambungkan perkumpulannya dalam sekolah itu dengan perkumpulannya ibu bapaknya seperti Serikat Islam, maka rasanya kelak, kalau ia keluar sekolah tidak akan berpisah dengan ibu bapaknya itu. Sebab itulah maka kalau ada vergaering SI Semarang, kita mengajak anak-anak yang sudah mengerti, mengunjungi vergadering tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;RINGKASNYA :&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Di sekolah anak-anak SI mendirikan dan menguruskan sendiri pelbagai-bagai vereeniging, yang berguna buat lahir dan batin (kekuatan badan dan otak). Dalam urusan vereeniging-vereeniging tadi anak-anak itu sudah belajar membikin kerukunan dan tegasnya sudah mengerti dan merasa lezat pergaulan hidup.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di sekolah diceritakan nasibnya Kaum Melarat di Hindia dan dunia lain, dan juga sebab-sebab yang mendatangkan kemelaratan itu. Selainnya dari pada itu kita membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina itu, dan berhubung dengan hal ini, kita menunjukkan akan kewajiban kelak, kalau ia balik, ialah akan membela berjuta-juta kaum Proletar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam vergadering SI dan Buruh, maka murid-murid yang sudah bisa mengerti, diajak menyaksikan dengan mata sendiri suaranya kaum Kromo, dan diajak mengeluarkan pikiran atau perasaan yang sepadan dengan usianya (umur), pendeknya diajak berpidato.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sehingga, kalau ia kelak menjadi besar, maka perhubungan pelajaran sekolah SI dengan ikhtiar hendak membela Rakyat tidak dalam buku atau kenang-kenangan saja, malah sudah menjadi watak dan kebiasannya masing-masing.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;  &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERATURAN MIDDENBOUW  (SEKOLAH TENGAH)&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Demikianlah bunyinya program SI school di Semarang. Menilik nama Brosure kita yakin bahwa maksud kita bukan hendak mengadakan satu sekolah saja, malah mempertimbangkan hal onderwijs (haluan didikan), juga buat SI. Tegasnya maksud kita mencari suatu macam didikan yang bisa mendatangkan faedah bagi Rakyat, negeri-negeri lain di luar semarang, yang mau mendirikan sekolah seperti di Semarang, maka kita mesti mengatur sekolah itu seperti di Semarang juga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sampai sekarang sudah ada tiga atau empat kota yang sudah meminta pada kita, supaya diadakan dan diatur pula sekolah-sekolah SI. Kota-kota itu sudah siap murid, siap bangku sekolah dan perkakas yang lain-lain. Cuma belum siap akan gurunya. Perkara guru itu penting sekali. Jarang guru keluaran keewwkschool, yang mau atau berani memihak pada kita, kalau memihak, ialah karena gaji saja, bukan karena hati atau haluannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebab itulah kita sendiri pula mesti menanam guru buat SI school itu (sekolah tengah). Pekerjaan ini sudah kita mulai, jadi tidak tinggal dalam pikiran saja lagi. Setiap sore (sementara ini baru 3 x satu minggu saja) di kantor SI diadakan kursus mengajar murid-murid SI yang kelas V, VI, dan VII (jadi murid-murid yang berumur dari 15 tahun ke atas) menjadi guru. Murid-murid itu biasanya kebetulan keluaran sekolah kelas II, jadi sudah menerima pengajaran dalam berbagai-bagai kepandaian. Dalam kepandaian yang tersebut dan dalam bahasa Belanda mereka tiap-tiap pagi dari pukul 8 – 1 dapat pelajaran. Sebab ia keluaran kelas II tadi, maka ia biasanya lekas sudah berhitung, menulis dan sebagainya. Jika ia sudah, maka ia segera disuruh menolong mengajar di kelas rendah SI school yakni pada anak-anak yang baru masuk sekolah. Jadi murid-murid yang besar-besar tadi tiap-tiap hari boleh belajar mendidik, tidak dalam teori saja, malah juga dalam praktek.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendeknya kerja murid-murid di atas dari kelas V yang keluaran sekolah kelas II, dan berumur lebih dari 15 tahun adalah seperti di bawah ini :&lt;/p&gt; &lt;ol start="3" type="1"&gt;&lt;ol start="1" type="a"&gt;&lt;li&gt;Dari pukul 8 – 1 (pagi) ia meneruskan pelajarannya di sekolah. Karena ia lekas sudah mengerjakan tiap-tiap vak, maka selama ¼ jam temponya itu, ia disuruh membantu guru-guru SI di kelas I dan II (semacam guru bantu).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tiap-tiap sore murid-murid besar itu diberi        ilmu pendidikan (paegogogie), supaya teorinya buat mengajar semacam guru.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Selamanya ini pekerjaan ada langsung. Sebentar lagi kita memang berani mempercayakan kelas I sama sekali kepada anak-anak yang sudah kena kursus itu. Tentulah kursus sore itu belum bisa sempurna, sebab belum cukup banyaknya anak-anak yang dari kelas V ke atas itu. Sesudah tiga atau empat tahun lagi barulah kursus sore itu bisa diatur semacam kweekschool yakni dikasih pengajaran sama tinggi dengan kweekschool Gouvernement. (kita sendiri juga sudah keluaran Kweekschool Gouvernement itu).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi sebab permintaan negeri-negeri yang lain-lain di atas tadi, maka dari sekarang kita mesti bersiap. Tiadalah ada salahnya kalau sekarang lebih dahulu kita bicarakan gaji murid-murid keluaran kursus tadi. Kalau murid sudah mendapat kursus 1 tahun, jadi dihitung berhak mengajar di kelas I SI school, maka gajinya plm. bisa f 40,-. Kalau murid itu sudah dapat kursus 2 tahun jadi dihitung berhak (bevoegd) mengajar di kelas II SI school, maka gajinya kira-kira bisa f 50,-. Demikianlah berturut-turut, sehingga kalau guru-guru tadi sudah berhak (bevoegd) mengajar di kelas VII SI dan umurnya dipukul rata 22 tahun, maka gajinya bisa f 100,-. Kalau sekolah maju dan muridnya bertambah-tambah, tentu gajinya guru keluaran kweekschool SI bisa sempurna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di bawah ini kita kasih begrooting, yang kira-kira bisa diteruskan di kota besar-besar seperti Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dsb.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SI, school yang mempunyai murid 300. jumlah uang sekolah sebulan = 300 x f 3 = f 900. Gaji guru-guru = f 40 + f 50 +f 60 + f 70 + f 80 + f 90 + f 100 = f 490. Sisa = f 510.Yang f 500 lebihnya ini boleh sebagian dipakai untuk menambah gaji guru yang sudah lama dinas, yang rajin, pandai dan sebagainya sehingga rasanya maximum f 200 bisa didapat. Banyak murid itu bisa lebih dari 300, karena kita bikin paralelklassen (Ia, Ib, Ic; kelas-kelas ini sama pengajarannya, Cuma gurunya lain-lain, sehingga di klas I saja bisa masuk lebih dari 2 atau 3 guru, dan murid lebih dari 100 atau 200).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi pendeknya pemuda-pemuda keluaran kursus SI Semarang, bisa jadi guru di SI school lain-lain. Buat anak-anak keluaran kelas II school juga kita terima terbuka jalan buat memimpin Rakyat, baik yang kecil, baik yang besar. Karena sesudah sekolah, maka guru-guru SI school bisa membela perkumpulan politik atau Vakvereeniging, ilmu-ilmu mana di SI school sudah diteori dan dipraktekan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berapa perlunya onderwijs di Hindia ini tiadalah berguna dibicarakan lagi. Berapa banyaknya kota-kota yang bisa kita rebut sekolahnya sudah terang, bahwa Gouvernement tidak akan bisa dalam 10 tahun ini memberi pengajaran pada 50 % anak-anak saja (di tanah Jawa saja baru kira-kira 2 % orang keluaran sekolah Gouvernement) karena memangnya tidak ada orang, kalau buat ornderwijs, sebab sudah banyak termakan oleh lasykar darat dan laut. Pemerintah sekarang asyik membicarakan dan meneruskan perkara armada laut, yang akan memakai ongkos kira-kira f 220.000.000,- Apalagi leerplicht (paksaan memasukan tiap-tiap anak ke sekolah), tentulah masih bertambah mustahil (jauh) lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buat kita SI yang memihak pada Rakyat masih besar pasar yang bisa direbut. Makin lekas kita bergerak, dan bersiaplah murid dan sekolah, makin lekas sampai maksud. Kalau kita kaum Rakyat kerja keras semacam ini, tentu dalam 10 atau 15 tahun sudah bisa memakan hasilnya pekerjaan kita. Sudah bisa beribu kaum yang tepelajar, yang pandai mengerti dan memihak dengan pikiran dan nyawanya pada Rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peraturan onderwijs semacam ini tidak mimpi saja, tetapi bisa menjadi, ya, dan mesti menjadinya. Berulang-ulang sudah diterangkan, bahwa dari pemuda-pemuda keluaran sekolah Gouvernement tidak boleh kita mengharapkan besar pertolongan buat pergerakan Rakyat. Seperti sudah diterangkan di atas, anak-anak yang sebagian besar keluaran kweekschool SI bisa dapat pekerjaan di golongan SI (lain dari pada sekolah tentu vak-vak vereeniging akan suka mengambil anak-anak keluaran SI kita).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak-anak keluaran SI school, yang mau meneruskan pengajaran pada ambachtschool Gouvernement dan sebagainya, tentu dari pihak kita tak akan dapat halangan. Melainkan kita akan menjaga, supaya ia sanggup membuat examen (ujian). Sekarangpun rupanya sudah ada satu dua anak-anak yang baru-baru ini tidak diterima di HIS lantaran mana ia lari dari SI school kita, tetapi belum lama ini diterima di HIS tadi. Jadi rupanya pintu HIS Gouvernement, tidak ditutup buat anak-anak SI school.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebaliknya, kita tak perlu takut, bahwa skolah SI kita akan jadi kosong. Anak-anak keluaran kelas II berumur 12 - 13, yakni bibit kita sejati, tidak akan bisa diterima oleh Gouvernement. Lagi pula tiap-tiap minggu Kromo membawa anaknya pada kita, dan tiap-tiap minggu anak-anak minta keluar dari partikulir 1-1, dan masuk pada sekolah kita. Katanya sebab pelajaran baik, bayaran lebih murah dan buat anak-anak ada bermacam-macam permainan dan perkumpulan. Kebenaran itu boleh kita buktikan, dengan keterangan, bahwa ada murid kita yang dari Cepu, dari Sragen (Solo), dari Jawa Barat dan lain-lain. Diantaranya ada yang minta keluar dari HIS Gouvernement.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendek kata, dalam berlomba mencari pasar, yakni merebut mendidik sekalian anak Kromo, SI tak perlu khawatir. Makin besar dan banyak sekolah-sekolah kita dirikan, makin lekas kita sampai di padang kemajuan. Kalau onderbouw (sekolah rendah) sudah cukup, maka niscaya kita dengan pertolongan SI bisa mendirikan middenbouw (sekolah tengah). Kalau sudah ada umpamanya 6 sekolah rendah, dan sekolah-sekolah itu diatur dari central, maka tiadalah akan susah bagi tiap-tiap sekolah mengadakan fonds (dana) kira-kira f 100 sebulan, sehingga sesudah 5 tahun saja sudah bisa ada uang kira-kira f 40.000,- Dengan derma dan l.l uang itu boleh ditambah-tambah. Sesudah 5 atau 6 tahun SI school berdiri, yaitu sesudah kira-kira ada anak-anak yang mesti keluar, maka anak-anak itu boleh meneruskan pengajarannya di sekolah tengah SI ambachtsschool umpamanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peraturan batin ambachtsschool itu kita mesti pegang sendiri (buku-buku baca, ilmu bumi, babad, dan sebagainya). Hanya perkara bertukang atau tehnik kita serahkan pada guru-guru yang biasa. Guru ini mudah saja didapat. Di negeri Jepang, Swedia, atau Swiss ribuan orang yang pandai dan mau meninggalkan engeri, kalau ada penghidupan yang sempurna di negeri lain. Juga di Hindia ini lambat launnya akan timbul pemuda-pemuda yang rela memihak pada kita. Ringkasnya perkara guru itu (tehnik) kita tak perlu sekejappun cemas, asal ada uang di Kas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pun buat anak-anak keluaran ambachtsschool atau sekolah tengah lain-lain itu, adalah akan mudah juga jalan penghidupan, asal didikannya kerakyatan. Asal masih ada Rakyat dan pergerakan di Hindia ini, maka bagi pemuda-pemuda itu akan cukup pekerjaan. Bersambung dengan Rakyat dia akan bisa memimpin Koperasi dalam pertukangan umpamanya. Lagipun di tempat lain-lain tentu ia bisa dapat kerja, asal pintar dan rajin saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah ringkasnya saja maksud kita tentangan onderwijs buat Rakyat. Barangkali reaksi dan musuh kita tak akan kurang terus memfitnah dan menghalang-halangi daya upaya kita. Nyata sudah, bahwa dari pihak pemerintah kita tidak akan mendapat bantuan. Jangankan bantuan, tetapi kemerdekaan pun tidak kita peroleh, yakni kemerdekaan sepeti pada tiap-tiap orang atau vereeniging (partikulier dan zending) buat mendirikan sekolah yang cocok dengan haluan masing-masing.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti Muhammadiyah, zending dan lain-lain di Hindia ini dapat kepercayaan dan bantuan lahir dan batin dari pihak pemerintah. Pada bulan Agustus tahun ini pemerintah sudah membenarkan statusnya “Vereeniging buat mendirikan dan menguruskan sekolah-sekolah Kristen untuk uitgebreid Lager, Middelbaar dan Vakonderwijs-nya di Jawa Tengah”. Dasar onderwijs-nya disebutkan Gods-Woord = Firman Tuhan, yakni Tuhannya kaum Kristen. Memang sudah lama di Hindia ini zending bergerak (Minahaasa, Batak, Ambon, Jawa). Memang sudah banyak di Hindia ini kaum Kristen, lebih-lebih dalam bala tentara (Ambon, Manado).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun di Hindia ini tinggal plm. 50 juta kaum Muslimin, tetapi pemerintah tiada menaruh keberatan atas propaganda-nya kaum Kristen, yang dalam babad sering berperang-perangan dengan kaum Muslimin. Kita orang perjuangan tentu tidak akan mengurangkan satu agama terhadap kepada agama lain – Cuma kita campur meminta kemerdekaan seluas-luasnya, buat onderwijs, yang sepanjang keyakinan kita cocok dengan keperluan Rakyat, yang melarat, Onderwijs mana juga oleh SI Semarang sudah di akui sah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi seperti sudah disebutkan lebih dahulu, kita sudah dapat halangan keras, ketika SI mau mengadakan pasar derma, untuk memperbaiki sekolah saja. Juga baru-baru ini dilarang anak-anak mencari derma di desa-desa dengan menyanyi international. Karena kita tidak mendapat subsidi, maka derma itulah saja jalan buat kita, untuk meneruskan daya upaya. Sehingga kalau derma itu dihalang-halangi, maka sama artinya dengan menghalang-halangi sekolah Serikat Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendeknya, sekolah kita ada bisa segenap  waktu dapat ancaman atau bahaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terus atau tidak kita semata-mata bergantung pada SI. Kalau SI sama sekali mau mempertahankan bibit yang sudah kita tanam itu seperti SI Semarang (Bandung, Sukabumi, dll juga akan mau) maka halangan tentu semuanya terhindar. Sesudah tentu maksud kita gampang dan lekas sampai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buat kita sendiri sudah cukup bukti yang menerangkan, bahwa peraturan SI school Semarang, sudah dimufakati oleh beribu-ribu kaum SI. Hal ini mengeraskan keyakinan kita, bahwa jalan dan haluan kita lurus dan sah. Apa kehendak dan perbuatan kaum sama, kita tunggu dengan hati tetap. Ikhtiar kita, yaitu hendak menarik hati SI terhadap kepada didikan kita, sudahlah cukup hasilnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepercayaan Rakyat yang sudah diperoleh itu bagi kita laksanakan sesuatu wet yang kita akui sah dan terkuasa; kepercayaan itulah saja yang menumpu (mendorong) kita dari belakang untuk berjalan terus, dengan tiada menoleh kiri kanan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR ARTI KATA-KATA ASING  DALAM KARYA TAN MALAKA “SI SEMARANG dan ONDERWIJS”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Onderwijs        =       Pengajaran, pendidikan, atau perguruan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lid SI               =       Anggota Sarekat Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SI School         =       Sekolah atau Perguruan SI.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Surabayasch Hendelsblad = Harian perdagangan       Belanda yag terbit di Surabaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vergadering SI = Rapat atau pertemua SI.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Destuur            =       Pimpinan / pengurus.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Onderbouw (sekolah dasar) = Tingkat       bawah / dasar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekolah particulier = sekolah swasta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hawa (geest) di Sekolah SI = lebih tepat :       jiwa di sekolah SI.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HIS Gouvernement = Hollands Indlandse School Governement = sekolah dasar pemerintah (khusus untuk pribumi anak pegawai negeri tingkat menengah ke atas).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vereeniging      =       perkumpulan, persatuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sifat-sifat yang kuno = lebih tepat :       sifat-sifat yang lama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam watku temponya = dalam waktu istirahat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kweekschool   =       sekolah pendidikan guru (untuk sekolah dasar).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekolah kelas II = sekolah ongko loro,       sekolah dasar untuk anak pribumi golongan rendahan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Babad onderwijs = sejarah pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kencang otak   =       berotak cerdas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rusland            =       Rusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vak-vak berhitung, dll = mata pelajaran       berhitung dll.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Boycot             =       Boikot.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reglement        =       Reglemen, peraturan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sifat yang batin-batin itu = Sifat kejiwaan       itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bibliotheek       =       Perpustakaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Voetbal Club    =       Perkumpulan sepak bola.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gromopon        =       Gramopon, pesawat pemutar piringan hitam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bangku, bord, dsb = Bangku, papan tulis, dsb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cukup aanleg dalam pertukangan = Cukup       berbakat dalam pertukangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bisa menggenggam vergadering = bisa menguasai       pertemuan / rapat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Speker             =       Pembicara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Middenbouw (sekolah tengah)       peraturan tingkat menengah (sekolah menengah).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Negeri-negeri lain = Daerah-daerah lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Uitspanning (pauze) = Waktu istirahat       (jedah).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Begrooting        =       Anggaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Parallelkalassen = Kelas-kelas sejajar,       misalnya kelas I a, I b, dsb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vakvereeniging = Serikat sekerja / buruh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lasykar darat dan laut = Angkatan darat dan       laut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Leerplicht         =       Wajib belajar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ambachtschool Gouvernement = Sekolah tehnik       pemerintah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Examen            =       Ujian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diatur dari Centraal      = Diatur dari pusat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fonds               =       Dana.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Uitgebreid Lager, Middelbaar dan       Vakbonderwijs = pendidikan / pengajaran tingkat rendah, menengah dan       kejuruan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wet                  =       Hukum, undang-undang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Babad              =       Sejarah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Commite          =       Panitia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orde                =       Aturan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pulau Borneo    =       Kalimantan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ilmu didikan (paedagogie) = Ilmu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;hr class="end"&gt;        &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1921-SISemarang.htm#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;1&lt;/a&gt; Tukang-tukang gambar seperti Rembrandt dan Jan Steen di negeri Belanda memang lebih dimuliakan dari pada berpuluh menteri-menteri (minister). &lt;/p&gt;      &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1921-SISemarang.htm#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;2&lt;/a&gt; Kalau cukup modal segera akan kita ajarkan bertukang pada anak yang besar-besar anak-anak Jawa yang cukup aanleg dalam bertukang dan ukir-mengukir itu akan bisa membikin bangku, meja, kursi dan lain-lain. Maka hasil pekerjaan itu akan dijual oleh murid-murid sendiri. Pendek kata urusan pertukangan dan administrasi akan jatuh ditangan murid-murid. Sama sekali dengan peraturan koperasi. Cita-cita ini sudah menggemparkan SI school dan anak-anak bertanya : “Kapan, kapan dimulai”. Anak-anak bisa hidup merdeka, baik di sekolah, ataupun kelak. Kalau mau menyingsingkan lengan baju, tiadalah kelak perlu mengemis pada dan jadi budaknya kaum modal.&lt;/p&gt;     &lt;hr class="end"&gt;Di Kutip Dari www.marxist.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4484010673516050752-245662875461812934?l=wismakiri-ponorogo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/feeds/245662875461812934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/2009/04/si-semarang-dan-onderwijs.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default/245662875461812934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default/245662875461812934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/2009/04/si-semarang-dan-onderwijs.html' title='SI Semarang dan Onderwijs'/><author><name>" Komunitas Kiri - Ponorogo "</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16581105841070776783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://4.bp.blogspot.com/_Aaxc4WfbAH8/SeX6GtJ-MkI/AAAAAAAAAAM/mWTj7VQhnlU/S220/jajalan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4484010673516050752.post-6426010735677368376</id><published>2009-04-14T15:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T15:37:11.112-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tan Malaka'/><title type='text'>Menuju Republik Indonesia</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;em&gt;Naar de 'Republiek Indonesia' &lt;/em&gt;&lt;/h1&gt; &lt;h1&gt;Menuju Republik Indonesia   &lt;/h1&gt; &lt;h2&gt; Tan Malaka (1925)&lt;/h2&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt; Yayasan Massa, terbitan tahun 1987 &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kontributor:&lt;/strong&gt; Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007) &lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;INTERUPSI&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepada para pembaca  !&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mula-mula buku ini dikeluarkan penuh dengan kesalahan-kesalahan cetak. Di sana sini akan terdapat juga kata-kata atau kalimat-kalimat yang sangat asing kedengarannya bagi kuping seorang Belanda asli bagi kesalahan ini perlu saya kemukakan alasan-alasan sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Buku ini dicetak dan dikoreksi oleh kawan-kawan  Tionghoa yang tidak pernah mendengar bahasa Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Percetakan  mereka mempunyai persediaan huruf Latin sangat sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Dan yang terakhir, penulis ini dalam perantauannya selama tiga tahun akhir-akhir ini tidak pernah melihat bacaan atau surat kabar Harian Belanda dan Asia ini juga tidak pernah menjumpai seorang manusia yang mengerti “bahasa dunia” ini, apalagi berbicara.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Alasan-alasan ini dan kesulitan-kesulitan teknis yang kecil-kecil lainnya harus saya kemukakan untuk mempengaruhi pikiran orang-orang penghasut yang lihat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya saya rasa tidak perlu menulis brosur yang agak besar karena brosur besar demikian itu akan dapat mengurasi nafsu pembaca dan minta pembaca rata-rata Indonesia pada waktu sekarang ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang dengan wajarnya setelah harapan saya dapat melangsungkan hidup yang ¾ hukuman penjara ini, “tiga perempat hidup penjara”, demi kesehatan saya, di negeri dimana saya mempunyai hak hidup sepenuhnya, telah ditolak oleh pemerintah, saya kira buat sementara waktu semua harapan untuk kembali ke tanah air harus saya kesampingkan. Akan tetapi saya tak mau menganggur. Saya kira saya dapat mengabdi pada partai dan rakyat, jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dimana terdapat cukup fakta revolusioner, dan dimana sekarang menurut dugaan saya mulai tumbuh perhatian besar atas kemajuan perkembangan pergerakan revolusioner di antara orang intelektuil, maka pekerjaan seperti ini bagi saya hanya “pelepas lelah” belaka. Pekerjaan demikian itu tentu lebih baik dan sudah pada tempatnya jika di Tiongkok terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk mencetak. Pekerjaan semacam “pelepas lelah” ini sekali-sekali akan saya guanakan dan pembaca-pembaca terhormat dalam waktu yang akan datang dapat menyediakan diri untuk mempelajari buku-buku yang agak banyak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kegiatan” semacam ini sudah tentu tak akan dapat saya lakukan, jiwa Yang Mulia Gubenur Jenderal memerlukan diri saya agak dalam batas perikemanusiaan. Ini adalah kejadian dibalik kenyataan yang mula-mula tak dapat saya duga, karena kesehatan dan pengasingan. Adalah pada tempatnya saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kawan-kawan Tionghoa yang telah menolong saya dengan sebaik-baiknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya “ucapan terima kasih obyektif”, yaitu terima kasih yang “terpaksa” perlu juga disampaikan kepada beliau Gubernur Jendral Dirk Fook yang mendorong keluarnya “buku kecil” ini sekalipun dorongan tidak langsung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Canton, April 1925&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tan Malaka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;Keterangan Pada  Cetakan Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Kami merasa khawatir, ketika kami mengirimkan buku yang dicetak di Canton kepada pemesan-pemesan Indonesia. Kami takut, bahwa buku yang nampaknya tak indah itu akan dapat melukai rasa seni sastra intelektual-intelektual kita yang biasa membaca buku berbahasa Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi itu adalah baik bagi kesadaran politik saudara-saudara kita yang lebih muda, agar mereka tidak kecil hati menghadapi barang sesuatu yang hanya indah nampaknya saja. Permintaan-permintaan akan buku ini yang makin banyak jumlahnya yang dikirimkan kepada kami, memberi bukti nyata, kami telah dapat menawan hatinya. Inilah yang juga mendorong kami akan dicetaknya lagi Menuju Republik Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekalipun pengawasan polisi sangat keras di negeri geisha-geisha nan cantik dan bunga-bunga teratai nan indah ini, masih juga terdapat tempat di bawah tanah, tempat kami mencetak kembali buku kecil ini dalam bentuk yang agak menarik dengan kesalahan-kesalahan ejaan dan kata-kata yang agak kurang. Itu disebabkan juga karena adanya pergerakan buruh revolusioner yang sedang berkembang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam interupsi kami di atas telah kami kemukakan, bahwa kami mengeluh tentang kesusahan-kesusahan koreksi dan centakan. Sekalipun demikian halnya dalam cetakan ulangan ini kami kira kesukaran-kesukaran itu masih ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Justru di sini pembaca-pembaca kita yang baru dapat memaklumi kesukaran-kesukaran yang kami alami dan kemajuan apa yang telah kami capai dalam mencetak dan koreksi. Dengan ini kami juga mau membuktikan kepada pembaca-pembaca Indonesia kita, bahwa semua usaha lawan-lawan kita untuk menindas “cita-cita” akan sia-sia belaka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya dengan rasa puas kita disini dapat memaklumi bahwa dalam menafsirkan keadaan international dan nasional dalam cetakan kedua ini tidak perlu mengadakan perubahan atau tambahan. Hanya dalam cetakan ini kiranya kita perlu menambah bab baru untuk memberi penjelasan tentang ide permusyawaratan nasional (national assembly) dengan syarat-syarat dan aksi-aksinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya peru ditegaskan pendapat kita tentang mahasiswa-mahasiswa di negeri lain. Sebab mahasiswa-mahasiswa Tionghoa yang dulu pernah kita kemukakan lebih aktif daripada mahasiwa Indonesia sementara itu telah membuktikan kebenaran pendapat kita. Belum lewat satu bulan, sesudah kami mengambil buku-buku kami dari percetakan, maka kurang lebih lima juta mahasiswa Tionghoa dengan serentak meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dan mempelopori pemberontakan, pemogokan dan demonstrasi yang diadakan oleh kaum petani dan buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mengenai keadaan nasional, “calon fasis Indonesia”, karena sikapnya yang memuakkan sehingga kita harus menahan perut, sementara itu lari tunggang langgang, lebih dulu daripada yang kita kirakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sekarang kita harus menahan perut karena kerendahan budi yang digunakan lawan-lawan kita dalam usaha membasmi gerakan rakyat revolusioner Indonesia sebagaimana halnya ketika jaman yang silam, orang-orang desa bersuka ria menyaksikan perampokan yang digantung dengan, ia sekuat tenaga mencoba melepaskan lehernya dari tali gantungan. Seolah-olah Lodewijk III dan Tsar Nicolas II tak pernah hidup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;   Sekarang berulang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Tak dapat dibantah, bahwa perjuangan politik pada bulan-bulan yang akhir ini telah meruncing, kesadaran politik dan kegiatan revolusioner rakyat kita telah tumbuh diseluruh lapisan di Indonesia, sebagaimana belum pernah terjadi sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   Padi tumbuh tak berisik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tokyo, Desember 1925&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   Tan Malaka&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;BAB  I&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;SITUASI DUNIA&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Perang dunia tahun 1914-1918  dalam pengertian ekonomi telah membagi dunia dalam dua bagian :&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Negeri-negeri yang kalah, yaitu Jerman, Austria, Hongaria dan Turki. Juga Rusia, dimana kaum buruh telah memegang kekuasaan, dalam bidang ekonomi, tergolong pada negeri-negeri tiu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Negeri-negeri yang menang, yaitu : Perancis, Italia,       Amerika Serikat dll.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Negeri-negeri yang kalah perang tak lama sesudah perang sangat menderita, kekurangan bahan-bahan makanan, hasil-hasil pabrik-pabrik modal dan bahan mentah untuk industri-industri. Kecuali perjanjian Versailles telah mewajibkan Jerman membayar kepada negeri-negeri sekutu setiap tahun ratusan juta mark emas (pampasan perang).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Negeri-negeri seperti Perancis, Inggris, Italia sekalipun tergolong pemenang perang, karena biaya yang kembali uang pinjamannya dengan bunga. Austria yang telah merosot menjadi negeri setengah jajahan dengan wajar terikat baik dibidang ekonomi dan karenanya sudah tentu tak mampu mengadakan tantangan. Jerman yang tak pernah dipercaya oleh negeri-negeri sekutu sekarang diikat kuat-kuat. Jerman telah mendapatkan uang 800.000.000 mark meas dengan mengorbankan kemerdekaan ekonomi, politik dan militernya. Juga Jerman sekarang menjadi setengah jajahan. Militerisme Jerman yang kalah, sekarang berada di bawah telapak kaki negeri-negeri sekutu. Negeri-negeri sekutu ini sekarang mengawasi persoalan militer Jerman. Besarnya dan mutu tentara sekarang ditentukan oleh negeri-negeri sekutu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pengawasan ini lebih jauh meliputi anggaran belanja dan keuangan Jerman negeri-negeri sekutu secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran uang Jerman. Sudah tentu pendapatan yang diperolah dari pajak harus lebih besar daripada pengeluaran. Sisa dari pendapatan sesudah dipotong pengeluaran harus diserahkan kepada negeri-negeri sekutu. Bank negara, sesudah bank yang berpengaruh di Jerman sebagai urat nadi penghidupan ekonomi modern suatu negeri telah di internasionalisasikan, yaitu; diusahakan dan diawasi oleh negeri-negeri yang menang perang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perbudakan ekonomi yang diderita Jerman sekarang ini sudah tentu disertai dengan penindasan politik. Itu berarti bahwa di bidang politik, baik politik dalam negeri maupun politik luar negeri Jerman harus tunduk pada kehendak negeri-negeri yang menang perang. Hanya Pemerintahan semacam itulah di Jerman sekarang ini yang mungkin melaksanakan dengan patuh ketentuan-ketentuan dalam rencana Dawes.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Rencana Dawes bukan saja menjamin besarnya pembayaran hutang kepada negeri-negeri sekutu, akan tetapi juga bermaksud membunuh industri-industri dan perdagangan Jerman. Jerman tidak diperbolehkan menghasilkan barang-barang dagangan yang lebih baik dan lebih murah daripada barang-barang dagangan negeri sekutu, sebagaimana halnya sebelum terjadi perang besar (Perang Dunia 1914-1918).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena peperangan, maka Jerman kehilangan semua tanah jajahannya dan karenanya ia juga kehilangan pasaran untuk hasil-hasil pabrik dan bahan-bahan mentah untuk pabriknya, ditambah pula dengan hancurnya atau dirampasnya kapal-kapal niaganya baginya sangat berat untuk membangun kembali industrinya tanpa bantuan dari luar, terutama dari Amerika. Di pihak lain Jerman sekarang buat sementara waktu tidak merupakan saingan negeri-negeri sekutu di tanah jajahan (Indonesia, India dsb) dan di negeri-negeri setengah jajahan (Tiongkok, Persia, dan Turki). Sekarang kita dapat mengetahui dengan jelas, bahwa di negeri-negeri ini semua pengaruh Amerika sangat pesat perkembangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mengalirnya modal dari negeri yang kaya-raya seperti Amerika ke negara-negara yang menang dan kalah perang (Eropa) dan ke negeri-negeri setengah jajahan (Asia), di mana kapitalisme masih berada pada tingkat permulaan dan dimana ada kemungkinan untuk berkembang lebih lanjut, mengalirnya kapital yang berlebih-lebihan ini ke negeri-negeri yang menderita kekurangan menimbulkan pertanyaan di kalangan revolusioner kita sendiri :”Apakah tidak mungkin tahun-tahun krisis ini diikuti dengan satu masa damai (&lt;em&gt;Pasifistische&lt;/em&gt; periode) yaitu perkembangan kapitalisme dnegan damai, sebagaimana yang telah terjadi pada akhir pertengahan abad yang lalu ? “ (ini berarti, bahwa jatuhnya kapitalisme tidak perlu terjadi sekarang ini, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertanyaan ini tidak bisa kita jawab hanya dengan ya atau tidak. Di barisan kita sendiri seorang sejajar Trotsky menegaskan, bahwa masa damai itu mungkin ada. Di pihak lain terdapat cukup alasan yang meramalkan bahwa kapitalisme dunia segera akan runtuh. Karena adanya ratusan kemungkinan yang menyetujui dan menentang ramalan akan adanya masa damai, kita seharusnya jangan tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika kita sekarang menyusun neraca politik, kita harus berkata, bahwa kemungkinan akan berhasilnya suatu pukulan umum tehadap kapitalisme dunia tidak begitu besar daripada tahun-tahun pertama sesudah Revolusi Rusia pada tahun-tahun 1918-1919-1920. Terangkan sudah, bahwa kita pada masa sekarang ini tidak lagi dalam keadaan offensif (menyerang, akan tetapi dalam defensif, mempertahankan diri). Karena pada bulan Oktober 1923 kita tidak mempergunakan kesempatan memukul hancur borjuasi Jerman, maka borjuasi Jerman kemudian melakukan offensif (serangan) dan partai kita di Jerman dipaksa bekerja di bawah tanah. Juga di Italia dimana teror fasis masih tetap berlaku, partai kita terus harus bekerja di bawah tanah. Di Inggris di mana partai kita yang masih muda pada beberapa tahun yang akhrinya mendapat kemajuan. Pemerintah Sosial Demokrat dari Mac Donald diganti oleh pemerintahan konservatif dari Ludwin. Juga di mana kaum buruh buat sementara waktu harus mundur terhadap reaksi. Di India, negeri tempat bergantung mati hidupnya Imperialisme Inggris, pergerakan non-kooperasi yang dipimpin oleh Gandhi pada tahun 1920-1922 telah dapat menggerakkan jutaan orang yang tertindas dalam suatu demonstrasi, sekarang menjadi pergerakan parlementer yang tenang “tenang dalam tubuh Partai Swaraj”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Terhadap gejala-gejala yang membela akan ada satu masa damai, timbul kekuatan yang tiap waktu dapat menghancurkan impian-impian akan adanya perkembangan kapitalisme dengan damai yang senantiasa nampak makin jelas. Salah satu dari kekuatan-kekuatan itu yang senantiasa mengancam hendak menghancurkan kapitalisme dunia ialah “Persaingan” (Pertentangan) antara berbagai negeri kapitalisme sendiri. Pertentangan antara kapitalisme Inggris dan Perancis nampak lebih mendalam daripada apa yang kita dapat lihat sepintas lalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tak dapatlah dibantah, bahwa pertentangan ekonomis dan politik antara dua negeri imperialis itu akan menyebabkan perang baru. Jerman yang sekarang menjadi salah satu negeri setengah jajahan yang tertindas, dengan wajar mengharap dapat mempergunakan tiap kesempatan yang baik untuk membebaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Kesempatan itu bisa didapatkan, jika persatuan antara negeri-negeri sekutu terpecah-belah karena pertentangan-pertentangan yang tumbuh dikalangan sendiri. Juga di Timur Jauh persaingan antara berbagai imperialis makin tajam. Jepang yang merasa dirinya terancam oleh persekutuan Inggris-Amerika telah jatuh dalam pelukan lawannya yang terbesar yaitu “Soviet Uni”. Pertentangan-pertentangan antara negeri-negeri kapitalis, baik yang ada di Eropa sendiri, maupun di pasaran (Asia) setiap waktu dapat menimbulkan perang dunia baru. Pembangunan pangkalan armada di Singapura yang sekarang di teruskan penyelesaiannya oleh pemerintah konservatif Inggris, pameran perang-perangan di Lautan Teduh dengan maksud mengeratkan kerjasama antara armada-armada Amerika, Inggris, dan Belanda, untuk menghadapi kemungkinan perang antara Amerika dan Jepang. Perbaikan angkatan darat dan angkatan laut di Jepang dengan tergopoh-gopoh, semua itu memperkuat dugaan akan adanya perang dunia baru di Lautan Teduh yang lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada perang dunia akhir-akhir ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertentangan nasional dari berbagai negeri-negeri kapitalis di dunia yang terpaksa harus melakukan imperialisme dan perang imperialisme, bukanlah pertentangan satu-satunya. Perkembangan kapitalisme membawa pertentangan yang tak dapat didamaikan antara borjuis dan buruh, yaitu pertentangan kasta, yang setiap waktu akan menghancurkan sistem kapitalisme dan membangun sistem baru di atas puing-puing reruntuhannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Proletariat dunia yang karena jumlahnya dan setia kawannya sekarang secara organis nampak tersusun lebih kuat dari pada borjuis dunia, pada masa sekarang ini jauh lebih siap untuk merubah tiap-tiap perang imperialis menjadi perang kasta. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Tak dapat disangkal, bahwa sikap proletar dunia dalam menghadapi kemungkinan perang dunia sekarang akan berbeda daripada sebelum 1914. Kaum sosial demokrat yang dulu menyerahkan kaum buruh kepada kaum borjuis untuk dijadikan umpan meriam, dikemudian hari akan tak mampu lagi menipu dan mengkhianati kaum buruh. Jika di masa sebelum perang dunia belum terdapat satu partai komunis yang tersusun rapi, sekarang Internasionale ke-3 telah mempunyai seksi-seksi revolusionernya hampir di semua negeri di dunia. Pada masa sekarang ini kaum buruh Eropa Barat di bawah pimpinan Sarekat Sekerja International Amsterdam (beraliran sosial demokrat) sedang melakukan perundingan dnegan Sarekat Sekerja Internasional Moskow. Dengan perundingan ini akan tercipta satu persatuan dari kedua Internasionale itu yang akan mewujudkan satu kekuatan dunia yang belum pernah ada di dunia. Jika persatuan ini telah dapat terbentuk, maka runtuhnya kapitalisme dunia lebih psati daripada yang sudah-sudah.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Bila kapitalisme dunia akan runtuh, kita tak dapat meramalkan dan ramalan itupun tak perlu. Komunisme tidak didasarkan atas lelamunan teosofi. Kaum komunis menyiapkan diri untuk berjuang dan melakukan perjuangan itu bukannya karena mereka percaya pada komunisme sebagai satu kegaiban dunia, akan tetapi karena menurut materialisme dialektika Marx, yakni perjuangan kasta, yang telah dapat membawa peri penghidupan yang semula sangat primitif kepada tata hidup kapitalisme dengan mutlak harus membawa peri penghidupan masyarakat kita dewasa ini kepada bentuk yang lebih tinggi, yaitu komunisme.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Kita, kaum komunis janganlah agaknya sangat asyik memikirkan persoalan tentang ada dan tidaknya kemungkinan masa damai dan kemungkinan lamanya masa damai. Kita tak boleh merasa pesimis, pun tak boleh merasa optimis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Adalah kewajiban kita membentuk di mana-mana Partai Komunis (Partai Rakyat Pekerja) dan memperkuatnya, membawa massa yang mendertia di bawah pimpinan kita dan akhirnya memperkuat ikatan dan setia-kawan internasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Jika nanti waktu untuk bertindak bagi kita telah datang baik nasional maupun internasional, maka tiap-tiap komunis dan tiap-tiap seksi Internasionale ke-3 harus mengetahui tugas-tugasnya masing-masing yang harus dilakukan.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;BAB II&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;SITUASI DI INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiang-tiang yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu. Kita mengetahui sebelumnya bahwa cepat atau lambat gedung itu sekali waktu akan runtuh seluruhnya. Akan tetapi wujud dan luas runtuhannya serta cara bagaimana runtuhnya, hanya praktek yang akan menentukan. Sangat mungkin bahwa semua tiang akan serentak tumbang dan bersama-sama dengan itu juga robohlah seluruh bangunan. Akan tetapi mungkin juga bahwa tiang-tiang itu tidak tumbang serentak, tetapi berurutan, tiap-tiap kali tiang tumbang membawa sebagian dari bangunan itu roboh. Gelombang ekonomi politik yang menggelora di seluruh dunia sehabis perang dunia, hampir-hampir melompat jatuhkan bangunan kapitalisme dunia yang telah goyah. Salah satu dari tiang-tiang yang sangat lapuk, yaitu kapitalisme Rusia, tak dapat bertahan diri dan roboh. Kerobohannya ini hampir-hampir menyebabkan runtuhnya bangunan seluruhnya. Akan tetapi ketika borjuis dunia dalam keadaan gelisah, ketika proletariat dunia hendak memberi pukulan yang menentukan kepadanya, ketika itulah datang budak-budaknya, yaitu kaum sosial demokrat, untuk menahan jatuhnya bangunan kapitalisme dengan dukungan akum buruh dan memberi kesempatan kepada borjuasi memperbaiki bangunan itu sedapat mungkin. Jatuhnya kapitalisme Rusia karenanya tidak diikuti oleh kapitalisme di negeri-negeri lain. Akan tetapi pekerjaan tambal sulam kaum sosial demokrat tidak akan mampu menghalangi keruntuhan bangunan yang lapuk di dalam itu untuk selama-lamanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kami kaum komunis Indonesia tak akan dapat menggantungkan politik kami melulu pada pengharapan, agar negeri-negeri kapitalis di dunia runtuh lebih dahulu. Jika kapitalisme kolonial di Indonesia besok atau lusa jatuh, kita harus mampu menciptakan tata tertib baru yang lebih kuat dan sempurna di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kebobrokan kapitalisme kolonial Belanda nampak makin lama makin terang. Kapitalisme Eropa dan Amerika didukung oleh kaum sosial demokrat. Di tanah-tanah jajahan seperti : Mesir, India, Inggris, dan Filipina imperialisme yang sedang goyah didukung oleh borjuis nasional. Tetapi di Indonesia tak ada sesuatu yang berarti yang mampu menolong menegakkan kembali imperialisme Belanda yang sedang goyah.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Pertentangan antara rakyat Indonesia dan imperialisme Belanda makin lama makin tajam. Penderitaan massa bertambah pesat. Harapan dan kemauannya untuk merdeka berlangsung bersama-sama dengan penderitaannya. Politik revolusioner merembes di antara rakyat Indonesia makin lama makin meluas. Pertentangan yang makin tajam antara yang berkuasa dan yang dikuasai menyebabkan pihak yang berkuasa menjadi kalap dan melakukan tindakan-tindakan sewenang-wenang.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Suara merdu politik etis sekarang diganti dengan suasana tongkat karet yang menjemukan dan gemerincing pedang di Bandung, Sumedang, Ciamis, dan Sidomulyo. Imperialime Belanda telah melampaui batas poltiik etis. Pelaksanaan politik tongkat karet dan pistol diresmikan dengan darah dan jiwa proletar. Rakyat Indonesia di bawah ancaman dan siksaan di luar batas prikemanusiaan tetap menuntut hak-hak kelahirannya ialah hak-hak yang semenjak puluhan tahun yang lalu telah diakui di Eropa dan Amerika, tetapi oleh imperialisme Belanda dijawab dengan tindakan-tindakan biadab. Teranglah sudah bahwa tongkat karet dan pistol tak akan mampu mengundurkan rakyat yang sedang melangkah maju.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Topeng reaksi sekarang telah jatuh. Rakyat Indonesia sekarang telah yakin, bahwa tak dapatlah diharapkan sesuatu pun dari pemerintah imperialisme. Kita mengetahui, sekali pun para reaksioner menyambut baik tindakan-tindakan kekerasan G. G Fock tetapi orang penguasa sendiri dibalik layar akan berunding dan saling bertanya : “Mengapa rakyat sekarang berbeda dari beberapa tahun yang lalu”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Politik apakah yang harus kita lakukan pula sekarang ? Lebih dari 300 tahun imperialisme Belanda melakukan politik “gertakan” dan “tindakan”. Belum pernah politik semacam itu oleh rakyat Indonesia yang sabar disambut dengan terang-terangan dan sewajarnya, sebagaimana telah terjadi pada 1 Februari tahun ini. Pemberontakan-pemberontakan yang telah terjadi di semua bagian daerah Indonesia selama 300 tahun, yang telah mengorbankan beribu-ribu jiwa orang-orang Indonesia, pemberontakan Diponegoro, Aceh, Toli-toli, dsb, tak dapat kita persamakan dengan apa yang terjadi di Priangan dan Madiun. Bukan karena sumpah, jimat, suara gaib atau segala kegelapan-kegelapan feodal yang salam ini menjadi sandaran hidup rakyat “Priangan” akan tetapi karena hak-hak yang nyata dan wajar sebagai manusia yang mendorong mereka mengorbankan jiwanya unutk mendapatkan hak-hak itu. Maka tak heranlah kita, jika pihak yang berkuasa pada masa ini, berkata kepada diri sendiri “Orang Indonesia tak dapat lagi digertak dan ditindas”/ kita hanya dapat menambahkan “Selamat jalan jiwa-jiwa budak dan ……..buat selama-lamanya”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Di belakang layar orang-orang pemegang kekuasan juga akan merundingkan cara-cara untuk menghapus pertentangan yang tajam dengan rakyat Indonesia. Sebab lebih dari yang sudah-sudah, maka ucapan Multatuli akan lebih lantang bergema dikupingnya : “ Jika setiap orang Jawa meludah ke tanah, maka mati tenggelamlah orang-orang Belanda”. Karenanya juga akan dibicarakan cara memperbaiki keadaan ekonomi rakyat. Bersamaan dengan itu juga akan dirundingkan kemungkinan memberi hak-hak politik lebih banyak kepada golongan orang Inodnesia tertentu. Akan tetapi dengan mengenal susunan sosial-ekonomi Indonesia kita kaum komunis dnegan tegas dapat mengatakan, bahwa pemegang kekuasaan itu tak akan dapat selangkah keluar dari lingkungan sempit birokrasinya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Sebab bagaimana imperialisme Belanda dengan seketika dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah berlangsung berabad-abad dengan serentak.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Di India-Inggris umapamanya, di mana sejak bertahun-tahun telah ada industri nasional yang kuat, di sana dapat diadakan jembatan untuk menghubungkan pertama-tama modal Inggris dengan modal nasional, kemudian menghubungi jurang yang curam antara politik imperialisme dan politik nasional. Tetapi politik imperialisme Belanda sejak semula ditujukkan pada penghancuran industri kecil dan perdagangan kecil nasional teristimewa di Jawa. Penghancuran itu dapat terlaksana, jika orang yakin, dapat mempergunakan modal Tionghoa sebagai alat untuk memisahkan rakyat Indonesia dari rakyat Belanda. Semua industri milik suku Jawa mati tak lama sesudah imperialisme Belanda mulai masuk. Dengan matinya industri suku Jawa itu mati jugalah kerajinan dan inisiatif suku Jawa, yang mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk membangun industri nasional modern yang berdasar persaingan dan hak milik perseorangan. Karenanya imperialisme Belanda pada masa ini dengan sungguh-sungguh tidak mengharapkan mendapatkan titik pertemuan untuk suatu kompromi ekonomi dengan orang-orang Indonesia. Berhubung dengan itu suatu kompromi dalam politik akan merupakan sesuatu yang tidak tegas. Menambah jumlah anggota Volksraad dengan dua atau tiga orang Indonesia lagi, atau memberikan konsensi politik lebih banyak kepada orang Indonesia akan hanya berarti satu tetes air saja diatas besi yang membara. Memang teranglah, bahwa krisis Indonesia bukannya hanya krisis politik, seperti di Mesir, India-Inggris dan Filipina, akan tetapi juga terutama adalah krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini tak akan dapat disembuhkan dalam beberapa tahun.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Pun seandainya dokter Morgan berkehendak menyembuhkan imperialisme Belanda dengan memberi pinjaman uang kepadanya, akan masih ada pertanyaan, apakah ia akan mampu membangkitkannya dari tempat tidurnya. Indonesia bukan Austria, Polandia atau Jerman, di mana Morgan telah menunjukkan daya sembuhnya yang mengagumkan. Negeri-negeri Eropa tersebut hanya membutuhkan modal. Tetapi pabrik-pabrik, mesin-mesin, buruh ahli dan tidak ahli sangat cukup adanya. Indonesia yang mempunyai penduduk yang tahun baca-tulis 5-6 % saja, yang selama ratusan tahun ditindas dan dihisap, dan kepentingan-kepentingan sosial penduduk tidak diperhatikan sama sekali., tentu tak akan mungkin menciptakan tenaga-tenaga teknis yang cakap dalam beberapa tahun yang diperlukan untuk membangun industri-industri baru (industri-industri logam dan tekstil) yang akan sanggup berhasil baik menyaingi barang-barang barat. Karenanya Morgan tak akan meminjamkan uangnya begitu saja kepada imperialisme Belanda.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Sudah tentu Amerika suka menanamkan modalnya di Indonesia, tetapi hanya di perusahaan-perusahaan yang akan dapat segera menghasilkan keuntungan dengan cepat yang akan dapat memenuhi keuntungan secara langsung, seperti dalam perusahaan minyak atau karet. Akan tetapi pada masa sekarang ini terdapat &lt;em&gt;over&lt;/em&gt; produksi karet kecuali itu Amerika telah mempunyai cukup perkebunan karet di Indonesia, sehingga tak perlu memikirkan membuka perkebunan karet baru. Mengenai minyak kita masih ingat, bahwa Colyn telah menyerahkan semua tambang minyak di Jambi kepada &lt;em&gt;Maatschappiy&lt;/em&gt; minyak Inggris dan Belanda, yaitu de Koninklijke  sebagai monopoli.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Karena imperialisme Belanda tak akan mungkin mendekati rakyat Indonesia dengan memberikan konsesi politik dan ekonomi, ia harus melakukan politik biadab yang lama, warisan dari Oost Indische Compagnie. Angkatan darat dan laut harus diperkuat. Ini adalah jawaban satu-satunya yang tinggal terhadap rakyat Indonesia yang senantiasa bertambah melarat yang makin bertambah gigih berani mempertahankan tuntutan hak-haknya sepenuhnya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Marx pernah berkata : “Proletariat tak akan kehilangan sesuatu miliknya, kecuali belenggu budaknya”. Kalimat ini dapat kita gunakan di Indonesia lebih luas. Disini anasir-anasir bukan proletar berada dalam penderitaan yang sama dengan buruh industri, karena di sini tak ada industri nasional, perdagangan ansional. Dalam bentrokan yang mungkin terjadi antara imperialisme Belanda dan rakyat Indonesia tak seorang Indonesia pun akan kehilangan miliknya karena bentrokan itu. Di Indonesia kita dapat serukan kepada seluruh rakyat : “Kamu tak akan kehilangan sesuatu milikmu kecuali belenggu budakmu”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt;   &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;BAB III&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;   &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;TUJUAN PKI&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;   &lt;p&gt;Tujuan partai-partai komunis dunia ialah menggantikan sistem kapitalisme dengan komunisme. Waktu terpukul hancurnya kapitalisme, dan terpukul jatuhnya borjuasi belumlah mewujudkan komunisme. Antara kapitalisme dan komunisme ada satu masa peralihan. Dalam masa peralihan ini, proletariat melakukan diktator atas borjuasi. Ini berarti bahwa proletariat dunia memaksakan kehendaknya atas borjuasi dunia yang berulangkali mencoba mendapatkan kembali kekuasaan politik dan ekonomi yang hilang, agar dapat mempergunakan kembali alat-alat pemeras dan penindasnya. Dalam masa penindasan itu, negeri-negeri kapitalis alat-alat penindasan borjuasi dunia diganti dengan negeri-negeri Soviet. Soviet adalah perwujudan diktator proletariat. Tujuan Soviet ialah menghapuskan kapitalisme dan mempersiapkan tumbuhnya komunisme.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Negara Soviet sebenarnya belum mewujudkan komunisme. Untuk mecapai komunisme orang harus melalui jalan yang lamanya mungkin puluhan tahun. Permulaan komunisme yang tulen berarti berakhirnya Negara Soviet. Negara Soviet akan berhenti sebagai negara, yaitu sebagai alat penindas dari proletariat, jika orang-orang borjuasi sebagai pemeras dan penindas telah dibasmi atau berubah menjadi anggota pekerja masyarakat komunisme.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Di masa kekuasaan diktator proletariat, maka industri besar yaitu industri-industri yang cukup terpusat, dinasionalisi. Itu berarti bahwa industri-industri itu diserahkan kepada negara proletar. Dengan nasionalisasi industri-industri besar, hak milik perseorangan tak berlaku lagi dan diganti dengan hak milik komunal. Dengan demikian juga akan hapuslah anarkisme dalam produksi, yaitu : menghasilkan barang keperluan hidup yang satu sama lain tidak ada sangkut pautnya sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat kapitalis. Sebagai gantinya diadakanlah rasionalisasi, yaitu menghasilkan barang-barang keperluan hidup menurut kebutuhan masyarakat. Dengan hapusnya hak milik perseorangan dan anarki dalam produksi, persaingan juga akan hapus. Berhubungan dengan itu juga akan lenyaplah kata-kata yaitu : Kasta Proletar dan Kasta Borjuasi.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dengan hapusnya persaingan juga tak akan berlaku lagi politik imperialisme, yaitu politik modal bank sesuatu negara kapitalis untuk merampas negara-negara yang dibutuhkan sebagai pasaran kelebihan hasil pabriknya, dan selanjutnya untuk mendapatkan bahan-bahan mentah bagi industri-industrinya serta penanaman kelebihan modalnya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Jika imperialisme tak ada lagi, perang imperialis pun tak akan ada. Pendek kata dalam masyarakat komunis akan hapuslah adanya hak milik perseorangan, anarki dalam produksi, persaingan, kasta-kasta, imperialisme dan peperangan imperialis. Sebagai gantinya tersusunlah hak milik bersama, produksi rencana, penukaran produksi dengan sukarela dan internasionalisme, yaitu perdamaian, kerjasama dan persaudaraan antara berbagai bangsa di dunia.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Apa yang diuraikan di atas adalah teori komunis yang bisa menjadi kenyataan jika kapitalisme dunia jatuh serentak, sebagaimana yang hampir-hampir terjadi pada tahun-tahun pertama sesudah revolusi Bolshevik pertama di Rusia. Karenanya Soviet Uni pada permulaan revolusi segera disusun atas dasar proletar yang agak tulen. Bukankah pengkhianatan kaum sosial demokrat yang hingga sekarang dapat menghalangi keruntuhan umum kapitalisme yang memaksa bolshevik mengadakan langkah mundur pada tahun 1921. Langkah mundur ini harus diterima dalam arti ekonomi dan taktik. Dalam arti ekonomi karena Negara Soviet mengijinkan berlakunya kembali hak milik perseorangan kepada petani-petani yang merupakan 80 % dari jumlah penduduk Rusia dan kepada borjuis-borjuis kecil di kota-kota, dan bersamaan dengan itu melakukan perdagangan dengan penghasilan barang dagangan atas dasar kapitalisme. Tapi langkah ini ternyata perlu karena perusahaan-perusahaan kecil yang belum cukup adanya pemusatan teknis dan administratif dan mula-mula juga dinasionalisi, menumbuhkan birokrasi yang maha besar. Karena sekarang hak milik perseorangan dan perdagangan para petani-petani dan perusahaan-perusahaan kecil diijinkan, lenyaplah serentak birokrasi dan ekonomi Rusia dapat berjalan lebih lancar. Kenyataan yang terakhir ini menunjukkan keuntungan politik yang banyak tak terduga, karena dengan demikian petani-petani dapat ditarik dalam barisan pendukung Negara Buruh. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Politik Ekonomi Buruh sebagaimana orang menamakannya tak akan terbatas khusus para Rusia yang terbelakang. Juga di negeri-negeri yang murni kapitalistis seperti Jerman, Inggris dan Amerika dimana &lt;u&gt;+&lt;/u&gt; 75 % dari penduduknya menjadi buruh, adanya hak milik perseorangan dan perdagangan pada borjuis kecil dan golongan petani adalah suatu keharusan. Terutama di Indonesia politik ekonomi baru itu mempunyai arti yang sangat besar. Kapitalisme Indonesia adalah kapitalisme kolonial dan tidak akan tumbuh secara tersusun dari masyarakat Indonesia sendiri, sebagaimana halnya dengan kapitalisme Eropa. Ia dipaksakan dengan kekerasan oleh suatu negeri imperialis Barat dalam masyarakat feodal Timur, untuk kepentingan-kepentingan negeri Barat.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Kapitalisme Indonesia masih dalam taraf permulaan perkembangannya. Industri-industri besar seperti industri-industri untuk membikin mesin-mesin, lokomotif-lokomotif dan kapal, malah industri-industri yang sangat penitng, seperti tekstil, masih belum ada. Berhubung dengan itu proletariat Indoensia berada lebih rendah daripada proletariat Eropa Barat dan Amerika. Diktator Proletariat yang tulen akan dapat membahayakan prikehidupan ekonomi di Indonesia, terlebih jika revolusi dunia tak kunjung datang. Akibatnya daripada itu bagian yang terbesar daripada penduduk, yaitu orang-orang yang bukan proletar, sangat mudah dihasut melawan buruh Indonesia yang kecil jumlahnya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Untuk menjamin pripenghidupan ekonomi di Indonesia dalam kemerdekaan nasional yang mungkin datang, kepada penduduk yang bukan proletar harus diberikan kesempatan (dalam jatah yang terbatas) mengusahakan hak milik perseorangan dan perusahaan-perusahaan kapitalisme. Lebih daripada itu, negeri harus memberikan kepadanya bantuan baik materiil maupun moril, untuk mempertinggi produksinya. Sudah barang tentu, perusahaan-perusahaan besar harus segera dinasionalisi. Dengan demikian kegiatan ekonomi rakyat dapat diperkembang tanpa kekuatiran akan datangnya kasta-kasta atau golongan lainnya. Dengan demikian pertimbangan ekonomi antara proletar dan bukan proletar dapat dicapai dan dipertahankan.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Apabila perimbangan ekonomi telah tercapai, maka perimbangan politik akan menyusul dan dengan sendirinya. Sudah semestinya, buruh Indonesia sebagaimana halnya dalam ekonomi jalan politik tak boleh melangkah lebih jauh. Malah jika nanti buruh dalam perjuangan kemerdekaan nasinal dapat bagian yang maha besar, malah mereka tak boleh sama sekali mengabaikan adanya orang-orang bukan proletar dalam perjuangan mendapatkan bagian yang sama besarnya atau lebih, di Indonesia sistem Soviet yang tulen buat sementara waktu masih belum dapat direncanakan. Memang kita harus selalu ingat, bahwa buruh menurut kualitas dan kuantitasnya ada rendah, sedangkan orang-orang bukan proletar dalam jumlah besarnya dan objektif dan revolusioner, yang kecuali itu hampir semuanya tergoloong pada pemilik kecil. Karenanya dalam “Indonesia Merdeka” cara bagaimanapun kepara orang-orang bukan proletar harus diberikan kesempatan mengeluarkan suaranya. Akan tepat adanya, jika buruh dalam perang kemerdekaan nasional yang mungkin datang, mewujudkan barisan pelopor daripada seluruh rakyat, maka perusahaan-perusahaan besar akan jatuh ditangannya dan selaras dengan itu kekuasaan politik. Perimbangan politik dengan orang-orang bukan proletar akan mudah dapat diciptakan, yang mana akan sangat penting adanya bagi Indonesia Merdeka.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Apabila neraca nasional baik ekonomi maupun politik telah tercapai, maka Indonesia selanjutnya akan dapat berkembang di lapangan ekonomi dan politik! Kecepatan menuju ke arah Negara Soviet yang tulen dan selanjutnya ke arah komunisme tergantung kepada keadaan internasional dan lebih lanjut pada perkembangan industri di Indonesia sendiri.&lt;/p&gt;   &lt;p align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;PROGRAM NASIONAL PKI&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;ol start="1" type="A"&gt;&lt;li&gt;EKONOMI.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Menasionalisi  pabrik-pabrik dan tambang-tambang seperti tambang arang batu, timah, minyak dan  tambang emas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menasionalisi hutan-hutan dan perusahaan-perusahaan modern seperti perusahaan gula, karet, teh kopi, kina, kelapa, nila dan tapioka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menasionalisi        perusahaan-perusahaan lalulintas dan angkutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menasionalisi bank-bank, perusahaan-perusahaan        perseorangan dan maskapai-maskapai perniagaan besar lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Me-elektrifisir Indonesia dengan membangun indsutri-industri baru dengan bantuan negara seperti pabrik-pabrik mesin dan tekstil dan galangan pembikinan kapal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendirikan        koperasi-koperasi rakyat dengan bantuan kredit yang murah dari negara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan bantuan hewan dan alat-alat kerja kepada kaum tani untuk memperbaiki pertaniannya dan mendirikan kebun-kebun percobaan negara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemindahan penduduk        besar-besaran biaya negara dari Jawa ke daerah-daerah luar Jawa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembagian tanah-tanah yang tidak ditanami antara petani-petani melarat dan yang tidak mempunyai tanah dengan bantuan uang mengusahakan tanah-tanah itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghapuskan sisa-sisa feodal dan tanah-tanah partikelir dan membagikan yang tersebut belakangan ini kepada petani melarat dan proletar.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="2" type="A"&gt;&lt;li&gt;POLITIK.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="2" type="A"&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Kemerdekaan Indonesia        dengan segera dan tak terbatas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk republik federasi dari pebagai        pulau-pulau Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Segera memanggil rapat        nasional dan yang mewakili semua rakyat dan agama di Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Segera memberi hak        politik sepenuhnya kepada penduduk Indonesia baik laki-laki maupun        wanita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="3" type="A"&gt;&lt;li&gt;SOSIAL.&lt;/li&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Gaji minimum, kerja 7        jam dan perbaikan jam kerja dan penghidupan buruh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlindungan kerja        dengan pengakuan hak mogok di antara buruh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembagian keuntungan bagi buruh di        industri-industri besar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk majelis-majelis buruh di        Industri-industri besar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemisahan gereja dan        negara dan mengakui kemerdekaan agama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan hak-hak        sosial, ekonomi, dan politik kepada semua warga negara Indonesia baik        laki-laki maupun wanita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menasionalisasi        rumah-rumah besar dan membangun rumah-rumah baru dan distribusi        rumah-rumah antara buruh negara.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="4" type="A"&gt;&lt;li&gt;PELAJARAN DAN PENDIDIKAN.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Wajib belajar bagi anak-anak semua warga negara Indonesia dengan Cuma-Cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghapuskan sistem pelajaran sekarang dan menyusun sistem yang langsung berdasarkan atas kepentingan-kepentingan Indonesia yang sudah ada dan yang akan dibangun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki dan memperbanyak jumlah sekolah-sekolah kejuruan, pertanian, dan perdagangan dan memperbaiki dan memperbanyak jumlah sekolah-sekolah bagi pegawai-pegawai tinggi di lapangan teknik dan administrasi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="5" type="A"&gt;&lt;li&gt;MILITER.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="5" type="A"&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Menghapuskan tentara imperialis dan mengadakan        milisi rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghapuskan kehidupan di kamp-kamp (tangsi-tangsi) dan semua UU yang merendahkan militer rendahan mengijinkan bertempat di kampung-kampung dan di rumah-rumah baru yang dibangun untuk mereka, perlakuan lebih baik dan mempertinggi gaji mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan hak sepenuhnya untuk mengadakan        organisasi dan rapat kepada militer Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="6" type="A"&gt;&lt;li&gt;POLISI.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Pemisahan pangreh  praja, polisi, dan justisi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan hak-hak sepenuhnya kepada tiap-tiap terdakwa unutk melindungi diri menentang hakim di muka pengadilan, dan membebaskan terdakwa dalam waktu 24 jam jika bukti dan saksi-saksi bagi mereka ternyata cukup.Tiap-tiap perkara yang mempunyai dasar hukum, harus diselesaikan dalam waktu lima hari yang sesuai tertib dan di muka umum.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="7" type="A"&gt;&lt;li&gt;RENCANA AKSI.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Menuntut 7 jam kerja, gaji minimum dan  syarat-syarat kerja dan penghidupan yang lebih baik bagi buruh.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengakui Sarekat Sekerja dan hak mogok.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisasi dan petani        untuk hak-hak ekonomi dan politik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghapusan &lt;em&gt;peenalo sanctie.&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghapuskan hukum-hukum dan undang-undang untuk        menindas pergerakan politik, seperti hak-hak pemerintah untuk :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Mengasingkan  tiap-tiap orang yang dipandang berbahaya bagi pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Melarang  pemogokan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Melarang dan  membubarkan rapat-rapat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Melarang  penyiaran pers.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Melarang memberikan pelajaran-pelajaran dan pengakuan  sepenuhnya atas kemerdekaan bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="7" type="A"&gt;&lt;ol start="6" type="1"&gt;&lt;li&gt;Menuntut hak berdemonstrasi, demonstrasi massa di seluruh Indonesia melawan penindasan ekonomi dan politik seperti : pajak pembebasan dengan segala tawanan politik dan pengembalian orang buangan politik, massa aksi yang mana harus diperkuat dengan pemogokan umum dan melawan pemerintah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menuntut hapusnya &lt;em&gt;Volksraad,        Raad van Indie&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Algemeene Secretaris &lt;/em&gt;dan pembentukan        Majelis Nasional (&lt;em&gt;National Assembly&lt;/em&gt;) dari mana nanti akan dipilih        Badan Pelaksana yang bertanggung jawab kepara Majelis Nasional.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;KETERANGAN PENDEK&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;TENTANG PROGRAM&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Belum ada sesuatu partai politik di Indonesia yang begitu jauh telah mengumumkan programnya. Baik partai dari intelektuil-intelektuil seperti Budi Utomo dan Nasional &lt;em&gt;Indische  Partij&lt;/em&gt; maupun massa Partai Sarekat Islam dapat menyusun dengan pendek tuntutan-tuntutan ekonomi dan politiknya. Mereka berpegang teguh pada perkataan merdeka yang sama. Mereka tak pernah mengupas keadaan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Karenanya mereka juga tak pernah sampai pada programnya, sebab suatu program bukannya hanya satu “daftar keinginan”, akan tetapi harus didasarkan atas susunan sosial ekonomi sesuatu negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Juga Partai Komunis Indonesia belum pernah menyusun apa yang ia sebenarnya mau-kan sekarang di bawah imperialisme, dan sesudah hapusnya imperialisme. Sudah tepat pada waktunya kita kerjakan sekarang. Bukannya karena program adalah segala sesuatunya! Tidak, tak ada sesuatu program revolusioner yang berarti, jika tak ada pergerakan revolusioner. Akan tetapi juga, jika tiap-tiap gerakan revolusioner yang tak mempunyai dasar teori yang nyata dan tujuan revolusioner yang tersusun tegas (yaitu suatu program) akan tak berdaya suatu apa dan akan menjadi alat kapitalisme. Sebagai bukti dapat kita ambil sebagai contoh : BU, NIP, dan SI. Ketiga-tiganya setidak-tidaknya pada permulaan adalah revolusioner. Akan tetapi tak ada satu yang bisa menyusun revolusionernya. Memang pemimpin dan disiplin menyebabkan juga keruntuhan partai-partai ini, akan tetapi sebab yang terutama ialah tak adanya tujuan yang tersusun (program) dan penguraian yang jelas tentang jalan-jalan yang harus ditempuh (taktik).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pergerakan revolusioner di Indonesia selalu masih ada. Jika pergerakan ini hendak mendapatkan hasil, maka sekarang telah pada waktunya, kita menyusun program nasional dan mengumumkan program ini kepada seluruh rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kita kira, program kita ini selaras dengan keadaan ekonomi sosial Indonesia, kita dapat dengan rasa berat selangkah lebih jauh dalam tuntutan kita, tanpa menyusahkan kita sendiri. Di bagian lain kita tak akan dan tak perlu mundur selangkah pun. Program ini agaknya sesuai dengan kemungkinan, baik internasional maupun nasional. Jika besok atau lusa kapitalisme dunia jatuh, sehingga rakyat Indonesia bisa mendapatkan segala bantuan lahir dan batin dengan langsung dari proletariat barat, maka program ini dapat digunakan sebagai dasar yang kuat untuk membentuk bangunan komunistis. Jika kita besok atau lusa terpaksa melakukan perjuangan nasional sendiri, maka program ini cukup mempunyai unsur-unsur untuk membangkitkan dan memusatkan tenaga-tenaga seluruh rakyat Indonesia yang sedang tidur, tenaga-tenaga yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika kita selanjutnya mendapatkan kemerdekaan itu, kita dapat juga mempertahankannya dengan lebih baik. Dengan tenaga-tenaga yang terdapat di Indonesia kita – nanti sesudah mendapatkan kemerdekaan – dapat melangkah ke arah komunisme internasional lebih cermat dan dengan pengharapan lebih banyak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika kita dapat melaksanakan program ini di Indonesia Merdeka, maka kemerdekaan semacam itu akan lebih nyata daripada yang dinamakan merdeka di banyak negara-negera modern di dunia. Buruh Indonesia akan memiliki industri-industri besar dan melakukan kekuasaan yang nyata baik dalam ekonomi maupun dalam politik negara. Penindasan dan pemerasan yang pada masa sekarang ini diderita oleh buruh-buruh Jepang, Amerika, Inggris, dll. tak akan ada lagi. Hubungan sosial antar budak dan majikan akan memberikan tempat pada persamaan dan kemerdekaan. Laba yang berjuta-juta jumlahnya yang sekarang mengalir ke dalam saku-saku lintah darat, yang bertempat tinggal &lt;em&gt;Zorgvliet&lt;/em&gt; (Den Haag) akan dapat digunakan untuk memajukan industri Indoenesia (tekstil dan pabrik-pabrik mesin, galangan-galangan kapal dan pekerjaan-pekerjaan tenaga air). Kecuali itu laba itu akan dapat digunakan untuk bantuan keuangan pada petani-petani, pedagang-pedagang kecil, industri-industri kecil dsb. Pendek kata program kita bukan hanya meliputi perburuhan dalam arti kata yang sangat sempit, akan tetapi dalam seluruh rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kita berani katakan sedemikian itu, bukannya karena kita hendak menjanjikan kepada setiap orang satu surga, akan tetapi untuk kepentingan kemerdekaan sendiri! Kepentingan kemerdekaan itu menyarankan, bahwa orang-orang bukan proletar (petani-petani, pedagang-pedagang kecil, pengusaha-pengusaha kecil dan orang-orang intelek) harus juga diberikan pembagian ekonomi, jika buruh menasionalisi industri-industri besar. Karena kapital nasional sangat kecil adanya yang dapat menyebabkan adanya kekuatiran akan politik nasionalisasi buruh, dan karena lebih dari 90 % dari penduduk berada dalam mendertia dan kemelaratan, maka kerjasama antara proletar dan bukan proletar memang sangat mungkin. Dengan pembangunan industri-industri dan koperasi-koperasi negara lebih banyak, dengan bantuan negara yang nyata kepada orang-orang bukan proletar, maka lambat laun akan lenyap segala sesuatunya yang kecil untuk memberikan tempat kepada perusahaan-perusahaan besar atas dasar teknik yang lebih tinggi; milik bersama dan kerjasama. Perusahaan-perusahaan kecil harus insyaf, bahwa perusahaan negara dapat menghasilkan lebih cepat, lebih baik dan lebih murah daripada mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Bilamana mereka menginsyafi ini, maka mereka akan dengan sukarela menyerahkan diri kepada perusahaan-perusahaan negara dan akan meninggalkan perusahaan kecilnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika proses ekonomi ini, yaitu peleburan perusahaan-perusahaan kecil ke dalam perusahaan-perusahaan negara yang besar dapat berjalan langsung dengan kesesuaian di Indonesia merdeka, maka politik borjuis kecil lambat laun juga akan lenyap untuk memberikan tempat kepada politik internasional buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Teranglah sudah, bahwa orang-orang bukan proletar di Indonesia pada masa ini, sekalipun revolusioner nampaknya dalam politiknya adalah nasional yang sempit. Mereka hanya menginginkan penghapusan imperialisme, bukannya penghapusan milik. Akan tetapi buruh Indonesia menganggap orang-orang bukan proletar bukan sebagai lawan. Bagi Indonesia ada gejala yang menguntungkan, bahwa orang bukan proletar menyerahkan diri di bawah pimpinan buruh (bertubuh dalam PKI). Kerjasama antara proletar dan bukan proletar telah menunjukkan sebagai tenaga hidup. Di Priangan, di mana kapitalisme tidak meresap begitu dalam, di mana borjuis kecil mempunyai peranan yang menentukan, di sana orang-orang bukan proletar di bawah pimpinan kaum Komunis menunjukan keberanian dan keuletan. Kepada PKI terletak tugas membangkitkan tenaga-tenaga yang sedang tidur yang sangat banyak jumlahnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll. Berangsur-angsur SR harus menjadi organisasi dari semua musuh imperialisme. Jika penduduk di kota-kota besar di Jawa dan penduduk di luar Jawa telah menginsyafi, bahwa program PKI bertujuan mempertinggi kesejahteraan rakyat pada umumnya dan bukan mengabaikan kepentingan orang-orang bukan proletar, maka orang-orang yang tersebut belakangan ini seluruhnya akan menyerahkan diri di bawah pimpinan PKI.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Adalah kemestian sejarah, bahwa PKI harus mengambil pimpinan revolusioner. Dimana tak terdapat adanya kapital nasional, di sana kasta buruh industri – sebagai kasta yang tersusun rapi dan lebih cukup – adalah satu-satunya kasta yang mampu menciptakan organisasi ekonomi dan politik yang kuat dan menunjukkan tujuan yang jelas dan terperinci. Karena orang-orang bukan proletar di Indonesia tidak merupakan suatu pertumbuhan kasta tertentu, bagi mereka sangat sukar menyusun tujuan kasta, apalagi memberikan pimpinan yang teguh kepada rakyat Indonesia. Ini dibuktikan dengan kegagalan-kegagalan partai-partai bukan proletar seperti BU, NIP, dan SI. Jika orang-orang bukan proletar di Indonesia berkehendak berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasional, maka mereka harus segera memperoleh bantuan buruh industri yang dengan kesadaran organisasi politik dan sarekat-sarekat sekerjanya akan mampu menghancurleburkan alat-alat politik dan ekonomi imperialis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Juga sesudah kemerdekaan nasional tercapai kerjasama yang erat antara proletar dan bukan proletar adalah suatu syarat yang mutlak. Jika kerjasama itu terputus, terlebih-lebih jika orang-orang bukan proletar menjadi lawan buruh industri, maka kemerdekaan nasional hanya memberikan satu jalan bagi perbudakan nasional baru. Tak jauh daripada Indonesia terdapat pencuri-pencuri internasional seperti imperialis-imperialis : Inggris, Amerika, Jepang, yang nanti akan melancarkan serangan imperialisme pada tiap-tiap kesempatan yang baik. Selama Indonesia ke dalam tetap bersatu dan solider, selama itu mereka akan menangguhkan usahanya merampas Indonesia. Akan tetapi begitu lekas perpecahan di dalam, mereka akan segera mendapatkan jalan melaksanakan untuk sekian kalinya politik &lt;em&gt;devide et impera&lt;/em&gt;nya (memecah belah rakyat dalam golongan-golongan untuk dikuasai) Indonesia terdiri dari pelbagai pulau yang berada pada pelbagai tingkatan kebudayaan, memberikan lapangan baik bagi pencuri-pencuri internasional. Daerah-daerah di luar Jawa yang bersifat sangat borjuis kecil akan mudah dapat diperalat melawan Jawa yang sangat Proletaris. Suatu keadaan seperti di Tiongkok, Mexico, dan negara-negara Amerika Selatan akan dialamai orang di Indonesia, yaitu adu domba imperialis dan perang saudara yang kronis (yang tumbuh terus-menerus pada waktu-waktu tertentu).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Hal demikian itu baru kita jaga jangan sampai terjadi! Tetapi bukannya dengan wajangan kebijaksanaan yang kosong. Hanya suatu program yang benar-benar bertujuan memperjuangkan kepentingan-kepentingan materiil seluruh rakyat dan dilaksanakan dengan jujur dapat menciptakan satu setia-kawan, satu setia kawan yang akan mampu menghancurkan imperialisme, bukan hanya demikian, akan tetapi juga menjauhkannya buat selama-lamanya dan akhirnya merintis jalan untuk komunisme internasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertanyaan, apakah kita mempunyai hak melaksanakan program serupa itu, kita hanya dapat menjawab dengan beberapa perkataan; lebih dari 300 tahun Indonesia diinjak-injak dan diperah habis-habisan, dan ribuan jiwa manusia telah dikorbankan untuk imperialisme Belanda! Ratusan juta gulden telah mengalir ke dalam saku pengguntingan-pengguntingan kupon Belanda. Dan Kapital Belanda, sebagaimana tersebut dalam program kita hendak kita nasionalisi, hanya merupakan satu bagian dari apa yang telah tercuri dari Indonesia selama 300 tahun. Demikian itu masih belum dapat juga mengganti jiwa-jiwa petani-petani dan buruh-buruh Indonesia, yang di Aceh, Jawa, Jambi dan lain-lain telah memprotes adanya rampasan dan pembunuhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertanyaan yang terakhir, ialah apakah kita akan mampu merebut kemerdekaan nasional dan mempertahankan, kita juga dapat menjawab dengan beberapa perkataan. Jika kita akan mampu menarik 50.000.000 penduduk Indonesia, untuk program kita dan jika selanjutnya PKI dan SR memiliki cukup kesadaran, disiplin dan politik, maka daya gerak rakyat yang tertindas selama 300 tahun tak akan diabaikan begitu saja..&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kecuali benarnya suatu program, sukses kita dalam perjuangan revolusioner tergantung pada benarnya taktik dan strategi kita. Dua perkataan terakhir ini tak dapat dipisahkan hubungannya satu sama lain. Kita dapat katakan, bahwa taktik adalah satu bagian daripada strategi. Taktik ada hubungannya dengan operasi revolusioner kita pada suatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu. Tetapi strategi adalah jumlah operasi revolusioner kita selama seluruh periode revolusioner. Pukulan taktis adalah menggunakan sebagian kekuatan kita atau suatu tujuan yang terbatas. Pukulan strategis adalah pukulan terakhir, dimana kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mendapatkan kemenangan strategis, yaitu mematahkan hubungan organisatoris musuh dan kemudian menghancurkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Suatu contoh pukulan taktis adalah pemogokan VSTP pada tahun 1923 dan rapat-rapat protes di Priangan. Akan tetapi dalam kejadian-kejadian di atas kita bertindak masih agak kurang sadar. Suatu pukulan taktis yang tulen harus dilakukan dengan kesadaran yang lebih banyak dan persiapan yang lebih baik. Kecuali itu, pukulan itu bukannya dipandang sebagai pukulan yang berdiri sendiri, akan tetapi sebagai satu persiapan atau suatu bagian dari pada pukulan stategis. Pukulan-pukulan taktis di Indonesia harus banyak mendahului pukulan strategis sebelum pukulan ini dimulai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pukulan strategis yang menentukan dapat menjamin harapan-harapan lebih baik, jika kita dalam melancarkan pukulan-pukulan taktis dapat menunjukkan keberanian, kecakapan dan keuletan. Demikian itu tidak berarti, bahwa dalam suatu perjuangan kita harus berjuang terus sampai habis-habisan. Akan tetapi kita harus tahu melangkah kembali, di mana ternyata lawan kuat dan tahu mempergunakan kemenangan, dimana lawan pada satu bagian dari barisan-barisan terpukul. Semestinya organisasi-organisasi politik kita seperti PKI, SR dan Sarekat Sekerja kita harus masih banyak melakukan perjuangan, sebelum Staf Umum PKI dapat merencanakan pukulan strategis. Jika organisasi-organisasi politik dan ekonomi kita tersebut telah dapat menunjukkan cukup kecakapan, disiplin, kesadaran, kemauan dan kegairahan maka kemudian tiap-tiap perjuangan taktis pada tiap waktu dapat diubah menjadi perjuangan strategis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika kita dapat mulai melancarkan pukulan stategis, demikian itu tidak hanya tergantung pada kualitas organisasi kita, akan tetapi juga pada keadaan ekonomi politik, baik pun di dalam maupun di luar negeri. Akan tetapi pukulan strategis itu akan mempunyai harapan lebih besar akan berhasil, jika tiap-tiap aksi politik atau ekonomi dapat kita lancarkan dengan sukses. Ini berarti, bahwa kita, seandainya kita tak mendapatkan kemenangan yang lengkap, kita sedapat mungkin dapat menghindarkan kekalahan, yang dapat melemahkan organisasi-organisasi kita buat waktu yang lama tetapi bukannya menghindarkan perjuangan dan pada buruh ditanamkan khayalan seolah-olah dalam masyarakat kapitalis perjuangan dapat dihindarkan, akan tetapi karena kegiatan persiapan dan kecakapan revolusioner. Memang benar kemenangan politik atau ekonomi dalam masyarakat kapitalis adalah relatif, akan tetapi jika kekalahan salah satu organisasi kita membikinnya tak berdaya buat waktu yang cukup lama, maka dengan sendirinya waktu untuk melancarkan pukulan strategis diperlambat. Sebaliknya jika salah satu dari organisasi politik atau ekonomi kita mendapat kemenangan taktis, maka bukan hanya organisasi yang menang itu saja yang akan mengalami akibat-akibat yang menguntungkan, akan tetapi seluruh barisan revolusioner di Indonesia. Sekarang dengan itu kepercayaan atas pimpinan, keyakinan atas kemenangan terakhir, dan kegairahan dalam perjuangan akan meningkat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Suatu strategi perang biasa tidak sama dengan strategi revolusioner. Dalam perang biasa, baik kualitas (jenis), maupun kuantitas (jumlah) pasukan selalu hampir &lt;em&gt;constant&lt;/em&gt; (tetap). Bagaimanapun halnya lebih sedikit mengalami perubahan-perubahan daripada pasukan revolusioner. Pada yang tersebut belakangan ini, baik jumlah maupun jenis dari pengumpulan lebih cepat mengalami pasang surut. Pasang surut ini ditentukan oleh keadaan ekonomi politik negeri. Jika seluruh rakyat hidup dalam penderitaan yang sangat sebagaimana halnya di Indonesia sekarang ini, reaksi bertindak kejam dan berpandangan sempit, maka gelombang semangat revolusioner sekonyong-konyong meningkat di seluruh negeri sedemikian rupa, sehingga staf umum revolusioner dengan mendadak mendapatkan pasukan yang besar jumlahnya, yang tak pernah dialami olehnya. Jika PKI sekarang umpamanya bisa mendapatkan 50.000-an, maka sesudah dilaksanakan &lt;em&gt;Inlansche Verponding&lt;/em&gt; (pajak tanah bagi anak bumi) atau suatu tekanan ekonomi lainnya, akan bisa terjadi, bahwa seluruh rakyat akan bernaung di bawah bendera komunis. Lebih daripada itu, jika kita tahu mempropagandakan dan mempertahankan program dan pendirian kita dengan bijaksana dan kegiatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena pasukan revolusioner lebih banyak mengalami pasang surut daripada pasukan biasa, maka karena itu staf umum sesuatu organisasi revolusioner dapat melihat lebih jauh ke depan daripada staf umum pasukan biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pada permulaan mereka harus telah dapat memperhitungkan seberapa besar jumlah pasukannya sendiri dan pasukan lawannya yang akan bisa terdapat apda esok harinya. Selaras dengan itu taktisnya harus lebih banyak disesuaikan dengan perubahan pasang surut dan justru harus lebih plastis (jelas dan nyata). Ia harus lebih memperhitungkan moral daripada staf umum pasukan biasa, karena hal itu lebih merupakan suatu faktor yang menentukan dalam perjuangan revolusioner daripada dalam perang biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sekalipun perang biasa mempunyai banyak perbedaan dengan perjuangan revolusioner, keduanya pun mempunyai titik-titik persamaan, keduanya pun mempunyai titik perbedaan yang nyata. Hukum-hukum berikut, yang mewujudkan dasar strategis perang berlaku juga bagi strategi revolusioner.&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Nilai offensif dan inisiatif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemusatan kekuatan pada       tempat yang menguntungkan dan waktu yang tepat bagi kita.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;NILAI OFENSIF DAN INISIATIF&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam tiap-tiap macam perjuangan inisiatif mempunyai nilai besar. Mereka yang lebih dulu mengambil inisiatif, mempunyai keuntungan besar yang tak terduga atas lawannya. Sebab ia lebih dahulu melancarkan aksi dan dengan demikian dapat menimbulkan keadaan yang sama sekali baru di pihak lawannya. Karenanya lawan tak dapat memikirkan rencana baru yang tersendiri, akan tetapi terikat apda keadaan yang baru tercipta. Dengan cara sederhana itu rencana mereka yang menunggu dihancurkan oleh pengambil inisiatif. Yang tersebut belakangan ini menguasai kemauan dan perbuatan yang tersebut duluan yang terpaksa pasif dan menunggu serangan-serangan pengambil inisiatif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika kita dalam perjuangan revolusioner tidak mengambil inisiatif duluan, maka lawan mendapatkan keuntungan menguasai kemauan dan perbuatan ktia sehingga kita dipaksa dalam keadaan pasif melumpuhkan. Jika umpamanya reaksi bermaksud hendak menghancurkan salah satu dari sarekat-sarekat sekerja atau perkumpulan-perkumpulan politik kita, dan ia telah mengambil inisiatif lebih dahulu maka kita akan merasakan tekanan dan tak berkententuan, karena kita tak dapat mengetahui bagaimana dan bilamana ia akan melakukan itu. Akan tetapi jika kita hendak menangkis itu dengan mengambil inisiatif lebih dahulu, maka kita akan mendapatkannya kecuali keuntungan moril, juga keuntungan, bahwa kita dapat menguasai rencana lawan yang permulaan, mungkin juga dapat menghancurkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ujud perjuangan yang dilakukan inisiatif ialah offensif. Mereka yang menyerang duluan, mempunyai inisiatif dan menguasai kemauan dan perbuatan lawannya. Tetapi bentuk offensif yang baik ialah offensif yang dilakukan secara defensif. Politik revolusioner kita di Indonesia dilakukan secara defensif. Sekalipun tujuan kita tak kurang daripada penghapusan imperialisme dan kapitalisme, kita terpaksa oleh keadaan melancarkan serangan-serangan kita dalam bentuk pertahanan-pertahanan. Kita mempersiapkan serangan setelah kita terancam dan terserang. Atas tindakan-tindakan revolusioner lawan, kita mendasarkan agitasi, protes atau tindakan-tindakan kita yang lebih mendekatkan kita pada tujuan kita terakhir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya bisa mendapat kemenangan, jika kita juga mengambil inisiatif bertahan. Agar supaya pukulan terakhir yang menentukan itu dapat mewujudkan tujuan kita. Sarekat-sarekat sekerja dan organisasi-organisasi politik kita mulai sekarang harus memiliki jiwa offensif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEMUSATAN  KEKUATAN-KEKUATAN PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG MENGUNTUNGKAN BAGI KITA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tujuan tiap-tiap offensif ialah menyerang pertahanan lawan yang terlemah dengan cepat, mendadak dan dengan pasukan yang terbesar, dengan maksud mematahkan hubungan-hubungan organisasinya dan akhirnya menghancurkannya buat selama-lamanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Organisasi-organisasi perjuangan kita yang terutama sarekat sekerja dan politik – jika telah pada waktunya, harus dengan cepat dibimbing ke tempat dimana kita dapat membikin musuh menderita kerugian yang terbesar, yaitu dimana menempatkan induk pasukannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Jika kita menghadap Indonesia sebagai gelanggang perjuangan, maka kita mengetahui bahwa kekuatan imperialis Belanda (militer, politik dan ekonomi) tidak terpusat pada satu tempat. Kekuatan militer dipusatkan di Priangan. Kekuatan politik yang sekarang berpusat di Batavia, kemudian mungkin dipindahkan ke Priangan. Akan tetapi Batavia, maupun Priangan sesungguhnya tidak mempunyai pusat ekonomi. Kita mendapatkan itu terutama di lembah Bengawan Solo (Yogya, Solo, Madiun, Kediri, dan Surabaya) dimana terletak bertimbun-timbun industri-industri, perusahaan-perusahaan, badan-badan angkutan lalu lintas dan bank-bank.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dimana suatu offensif revolusioner yang telah disiapsiagakan akan mendapat sukses sebanyak-banyaknya. Jika kekuatan militer, politik dan ekonomi dipusatkan pada suatu kota sebagaimana sering terjadi di negeri-negeri Eropa, maka menjadi kewajiban kita memasukkan kota-kota itu lebih dulu dan rencana organisasi revolusioner ktia, untuk nanti serangan revolusioner pertama-tama dilancarkan. Jika kita di sana mendapatkan sukses, maka sukses di bagian-bagian negara lainnya sedikit atau banyak akan terjadi dengan sendirinya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Akan tetapi karena kekuasaan imperialis Belanda terbagi dalam pelbagai pusat, sesuai dengan itu kita harus juga membagi kekuatan revolusioner kita, untuk nanti kita kerahkan pasukan induk kita ke sana, di mana sukses sebanyak-banyaknya dapat tercapai.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Jika kita pelajari tempat mana yang sangat menguntungkan bagi kita untuk digempur, maka pilihan kita akan jatuh pada lembah Bengawan solo. Memang di sini kita mempunyai harapan lebih besar dapat merampas kekuasaan ekonomi dan politik dan bertahan daripada di Batavia dan di Priangan. Di lembah Bengawan solo bertimbun-timbun buruh industri dan petani melarat, yang akan mewujudkan tenaga-tenaga, bukan saja untuk perampasan, akan tetapi juga sebagai syarat teknis dan ekonomi mempertahankan perampasan itu. Di Batavia atau Priangan kemenangan politik atau militer akan sukar didapat dan dipertahankan daripada di lembah Bengawan Solo, karena sedikit adanya syarat-syarat teknis dan ekonomis untuk mempertahankan perampasan itu. Kemenangan politik atau militer di Batavia atau Priangan lebih sukar bisa didapat dan dipertahankan dari pada lembah Bengawan Solo, karena faktor-faktor teknis dan ekonomi sedikit adanya disana. Kemenangan politik dan militer yang modern hanya dapat dipertahankan, jika kita memiliki syarat-syarat kekuasaan ekonomi (pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, badan-badan angkutan lalu lintas, bank-bank dll).&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dari apa yang tersebut diatas, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa kita nanti harus mengerahkan induk pasukan kita ke lembah Bengawan Solo, agar offensif revolusioner kita dapat menentukan strategi seluruhnya. Jika kita nanti dapat bertahan di lembah Bengawan Solo, sedang di pusat ekonomi lainnya (Sumatera Timur, Palembang, Kalimantan Timur) dan pusat ekonomi dan militer (Batavia, Bandung, Magelang, Malang, Aceh) dapat kita serang dan berhasil kita pertahankan maka lembah Bengawan Solo selanjutnya dapat kita pergunakan sebagai basis bagi Republik Indonesia. Terlebih-lebih jika suara dan pengaruh kita dapat menerobos juga ke dalam angkatan darat dan angkatan laut. Maka bagi imperialis Belanda tak akan begitu mudah mempergunakan kekuasaan militernya. Suara-suara buruh yang bergelora dari lembah Bengawan Solo, akan pasti didengar juga oleh buruh-buruh di Asia, Eropa dan Amerika. Imperialis-imperialis luar negeri akan tak begitu mudah mengerahkan buruhnya untuk membunuh habis-habisan buruh-buruh Indonesia. Kecuali daripada itu adalah Internasionale III yang akan berusaha menyerukan pemberhentian pekerjaan pembunuhan imperialis-imperialis itu.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Sekali pun lembah Bengawan Solo bagi kemenangan kita adalah satu hal yang menentukan akan tetapi bagi offensif. Offensif penyesatan, tempat-tempat seperti Priangan, terutama Aceh dan Ternate adalah sangat penting. Jika kita di sana dapat menyerang dengan berhasil, maka musuh akan terpaksa membagi-bagi kekuatan yang terpusat di Jawa, dan mengirimkan sebagian daripadanya ke daerah-daerah yang jauh. Bagi pergerakan revolusioner hal sedemikian itu setidak-tidaknya masih sangat penting. Kecuali itu bagi imperialisme Belanda, jika itu diteruskan penindasan perlawanan revolusioner dengan kekerasan akan sangat bertambah besar biayanya. Akibatnya ia akan menarik pajak lebih besar dari rakyat yang menderita. Hal ini akan meningkatkan lagi rasa tak puas dan oleh karenanya meningkat pula hasrat revolusionernya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Satu kemenangan di Priangan, Aceh, Ternate ditilik dari sudut taktik adalah sangat penting dan dapat merintis jalan bagi kemenangan strategis. Pukulan strategis yang akan kita lancarkan kemudian di lembah Bengawan Solo, akan merupakan satu pedang Domaclas di atas kepala imperialis Belanda.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Berhubung dengan besarnya arti yang ada di lembah Bengawan Solo bagi kemerdekaan Indonesia sekarang adalah kewajiban revolusioner kita lebih banyak memberikan perhatian pada pusat ekonomi itu daripada yang sudah-sudah. Adalah kewajiban revolusioner kita, mengorganisir dan mengkoordinir massa buruh-buruh industri dan pertanian dan pada akhirnya melatih mereka untuk massa aksi yang langsung buat perampasan kekuasaan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;NILAI KESADARAN, HASRAT DAN  DISIPLIN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam tiap-tiap pergerakan, kesadaran memegang peranan yang sangat penting. Kesadaran revolusioner kita, kita ambil dari materialisme dialektika Marx. Mengikuti Marx, kita dapat memutuskan, bahwa sekarang hampir seluruh rakyat Indonesia bersemangat revolusioner. Tetapi ada perbedaan besar antara kerevolusioneran buruh-buruh industri dan kerevolusioneran pemilik-pemilik kecil (petani-petani, pedagang-pedagang dan pengusaha-pengusaha kecil). Yang tersebut duluan subjektif adalah revolusioner, yaitu mereka tidak hanya berkehendak menghapuskan kekuasaan politik saja, tapi juga kekuasaan ekonomi, ialah dengan penghapusan tanah milik perseorangan dan sistem produksi yang kapitalis. Tapi pemilik kecil subjektif tidak revolusioner sebab mereka tidak berkehendak menghapuskan hak milik perseorangan dan sistem produksi kapitalistis. Sebaliknya mereka menginginkan milik yang lebih besar. Akan tetapi terhadap imperialisme mereka bersikap revolusioner. Mereka mengharapkan adanya pemerintah nasional dan kemerdekaan nasional. Justru karena itu mereka objektif adalah revolusioner.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam usaha kita bertalian dengan organisasi, taktik dan strategi, kita tak dapat mencampur-adukan satu dengan lainnya unsur-unsur buruh industri dan bukan proletar. Mencampur adukan itu tidak akan membawa kekuatan, akan tetapi hanya membawa kelemahan belaka. Sekalipun unsur-unsur tersebut diatas kedua-duanya berjuang melawan imperialisme. Alasan dan tujuan perjuangan melawan imperialisme, alasan dan tujuan perjuangan mereka adalah berbeda. Akan tetapi perbedaan itu orang tak boleh melupakan kemestian kerjasama, sebab baik tujuan bukan proletar, maupun tujuan terakhir buruh industri hanya terlaksana sesudah hancurnya imperialisme. Taktik PKI terhadap orang-orang bukan proletar – dengan mengingat kepentingan materilnya – supaya sangat plastis (sangat membimbing). Ia harus mampu membangkitkan tenaga-tenaga potensi revolusioner, yang ada pada orang-orang bukan proletar. Ia harus mampu juga mengkoordinir tenaga-tenaga ini dengan tenaga-tenaga proletar. Jika ini berhasil, maka kemerdekaan Indonesia boleh dikata telah dapat ditentukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Keadaan revolusioner harus dilengkapi dengan hasrat revolusioner. Kesadaran saja tidak cukup sudah sewajarnya bahwa rakyat Indonesia telah diperbudak selama 300 tahun dan harus berjuang melawan imperialisme yang mungkin dibantu oleh imperialisme-imperialisme lainnya tak akan dapat menang dalam satu hari. Di beberapa tempat PKI mungkin mengalami pukulan. Ada kemungkinan, bahwa ia di hari kemudian akan terpaksa melanjutkan eksis lebih banyak di bawah tanah. Akan tetapi, dalam semua kemungkinan-kemungkinan ini ia tak akan dan tak boleh kehilangan keberanian dan pikiran. Sebaliknya kita yakin bahwa ia akan lebih giat, lebih berpengalaman dan lebih berani. Sebab kepercayaan PKI akan jatuhnya imperialisme Belanda dan tenaga revolusioner rakyat Indonesia bukan disandarkan pada Joyoboyo atau pedagang jamu lainnya, akan tetapi kepercayaan itu disandarkan atas analisa ekonomi-sosial masyarakat Indonesia. Pertentangan yang pantang, damai antara yang berkuasa dan yang dikuasai di Indonesia akan memperkuat yang tersebut belakangan ini dalam perjuangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kesadaran dan hasrat dapat dilakukan pada tempatnya, jika PKI memiliki disipilin baja. Semua anggota, seksi-seksi dan organisasi PKI harus melaksanakan putusan-putusan pusat dengan jujur dan giat. Suatu seksi harus membantu seksi lainnya yang menderikta pukulan. Ia harus melangkah maju, jika pimpinan memandang perlu, dan melangkah mundur jika perjuangan menyuruhnya. Suatu strategi hanya bisa mendapatkan sukses, jika staf umum dapat percaya sepenuhnya ats seluruhnya tentaranya.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;PUKULAN STRATEGI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pukulan  strategi yang penghabisan akan berhasil jika memenuhi syarat-syarat sebagai  berikut ini :&lt;/p&gt; &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li&gt;Partai memiliki disiplin baja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rakyat Indonesia berada       di bawah pimpinan PKI.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Musuh-musuh, baik di dalam maupun di luar negeri       terpecah-pecah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Jika syarat pertama belum terpenuhi, kita tak perlu dan tak boleh menyembunyikan. Sering terjadi, bahwa seorang anggota yang bertanggung jawab, mengikuti pendapatnya sendiri, tanpa menunggu keputusan dari pusat. Atau ia melaksanakan pendapatnya, sedang ia mengetahui, bahwa itu bertentangan dengan pendapat pusat. Sikap atau watak yang tidak disipliner semacam itu dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya bukan hanya akan membahayakan diri pimpinan yang bersangkutan dan seksinya, akan tetapi juga pergerakan seluruhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Disiplin revolusioner mempunyai persamaan dengan disiplin militer pada titik ini : bahwa putusan harus dilaksankaan. Akan tetapi semua berbeda satu sama lain dalam hal ini : bahwa disiplin revolusioner bukannya hasrat menyerah (&lt;em&gt;semuhun dawuh&lt;/em&gt;). Sedangkan Staf Umum Militer tidak mengharapkan dari serdadu-serdadunya bahwa mereka harus mengerti perintah yang diberikan, bagi Staf Umum Revolusioner syarat yang pertama-tama ialah : bahwa anggota-anggota harus mengerti bukan hanya arti putusan saja, akan tetapi setiap anggota harus juga mengerti kemutlakan ketaatan  pelaksanaan putusan, sekalipun jiwa putusan itu bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Suatu putusan revolusioner justru didapat sesudah suatu acara dirundingkan dengan masak-masak. Dalam perundingan tiap-tiap anggota mempunyai hak penuh mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya dan menentang atau menyokong pendapat orang lain. Pada pemungutan suara yang terakhir ia mempunyai hak mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin, sehingga ia dapat melakukan seluruh pengaruh rohaniahnya atas putusan partai. Tetapi jika suara yang terbanyak mengambil keputusan juga yang bertentangan dengan pendapatnya, sekalipun ia tak menyetujuinya, maka harus tunduk pada putusan itu dan sebagai anggota atau pemimpin ia harus melaksanakannya dengan taat dan giat. Jika tidak sedemikian halnya, tidak mungkin daya kekuatan revolusioner partai dapat bertindak keluar secara masal dan bersatu-padu. Suatu partai yang tiap-tiap anggotanya berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing dan menyabotir putusan partai tak akan berdaya adanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Demikianpun syarat kedua belum terpenuhi. Sangat pasti PKI pada masa sekarang ini adalah partai satu-satunya yang dapat dikatakan partai rakyat Indonesia. BU, Pasundan, Perserikatan Minahasa dan partai-partai kecil lainnya, dengan sukar dapat mempertahankan diri, dalam batas-batasnya yang sempit, kecuali jika partai-partai itu dengan penuh tenaga dapat melampaui batas-batas yang sempit itu untuk menjadi satu partai rakyat nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;   Hanya PKI pada masa ini mampu  membentuk &lt;em&gt;afdeeling-afdeeling&lt;/em&gt; dimana-mana di pelbagai pulau. Akan tetapi masih belum dapat dikatakan bahwa ia telah dapat mengorganisir semua lapisan masyarakat dan membawanya di bawah pimpinannya. Masih belum cukup, jika semua orang Indonesia yang tertindas menaruh simpati pada PKI, akan tetapi jika waktunya telah datang rakyat yang tertindas yang berjuta-juta orang jumlahnya itu setiap waktu akan mengikuti juga seruan PKI. Bukan hanya dalam kemenangan, tapi juga dalam kekalahan kepercayaan dan ketaatan pada PKI sebagai partai rakyat revolusioner harus tetap tak berubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kita harus akui, bahwa propaganda dan agitasi kita di daerah-daerah luar Jawa juga di Jawa sendiri masih belum konkrit dan cukup kuat dan karenanya masih belum cukup dalam meresapnya. Kekurangan tenaga dan alat, kekurangan pengetahuan dan pengalaman tentang keadaan daerah-daerah di luar Jawa adalah sebab yang terutama mengapa tenaga-tenaga revolusioner kita sementara masih tertimbun di Jawa dan aksi-aksi kita tetap terbatas di Jawa. Sekalipun di sana-sini tenaga komunistis telah berkembang (Ternate, Aceh dan lain sebagainya) sebagian besar dari daerah luar Jawa bagi kita masih merupakan hutan remaja. Orang-orang Jambi dan Palembang yang memang tak dapat digolongkan pada orang-orang Indonesia yang berperasaan puas dan berjiwa budak bagi kita masih gelap adanya. Tambang-tambang besar seperti tambang emas, timah, minyak,  arang batu dan industri-industri pertanian seperti teh dan karet masih belum mengalami perubahan. Banjarmasin dan Aceh, di mana peperangan-peperangan fanatik dilakukan orang di bawah bendera Islam, bagi kita masih asing adanya. Di daerah-daerah tersebut di atas kita masih belum mempunyai pengaruh di antara petani-petani. Bukan hanya di sana pekerjaan bagi kita masih sangat kurang dapat menerobos ke dalam kesukaran-kesukaran hidup nasionalnya dan cara berpikirnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika kita di daerah-daerah jawa, juga di Jawa hendak meningkatkan tenaga-tenaga potensi kepada tenaga-tenaga penggerak revolusioner, maka propaganda dan agitasi harus kita sesuaikan dengan keadaan lokal yang berbeda-beda adanya di Indonesia, lebih dari pada apa yang sebegitu jauh telah kita lalukan. Kita harus dapat mempengaruhi orang-orang Jambi, Banjar, dan Aceh yang sedikit atau banyak tekun pada agamanya. Jika kita masih belum dapat menggabungkan diri dengan merka, maka kita sudah barang tentu tak dapat berbicara tentang pimpinan revolusioner. Kita selanjutnya harus dapat menunjukkan, bahwa program kita bertujuan meningkatkan hidup materialnya. Kita harus mampu menjelaskan bahwa semua rintangan, yang dialamai pedagang-pedagang kecil, petani-petani dan pengusaha-pengusaha kecil di daerah luar Jawa pada masa ini nanti akan lenyap sesudah hapusnya imperialisme. Kecuali jika orang-orang bukan proletar yang sebagian besar terdiri dari penduduk daerah luar Jawa menginsyafi, bahwa dalam kemerdekaan nasional, bukan hanya buruh-buruh industri saja, akan tetapi juga mereka akan menggabungkan diri disana-sini bersama-sama proletar dalam perjuangan melawan imperialisme. Jika kota Roma tidak dapat dibangun dalam satu hari, demikian-pun mendidik dan mengorganisir rakyat yang 100 juta orang jumlahnya, dan yang telah tertindas ratusan tahun lamanya, juga membutuhkan waktu. Akan tetaip justru penindasan dan reaksi yang meningkat-ningkat adalah pembantu-pembantu PKI yang baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika nanti partai telah dapat didisiplinkan dan sebagian besar dari penduduk telah dapat di bawah pimpinan kita, kita terlebih dahulu harus mengetahui keadaan di kubu lawan baik yang ada di dalam, maupun yang ada di luar negeri, sebelum kita melancarkan pukulan yang menentukan. Lebih terpecah-pecah keadaan lawan, lebih menguntungkan bagi kita. Kita boleh mengatakan, bahwa lawan dalam negeri, yaitu imperialisme Belanda bersatu menghadapi rakyat Indonesia. Tidak demikian halnya di Eropa. Kaum borjuis yang bertubuh dalam partai-partai konservatif, liberal, dan partai-partai radikal lainnya, dalam menghadapi buruh-buruh revolusioner umpamanya nampak solider, akan tetapi di antara mereka sering juga nampak adanya perpecahan yang mendalam. Orang-orang sosial demokrat mondar-mandir kian kemari antara borjuasi dan buruh-buruh. Perpecahan antara borjuasi Eropa di Indonesia, justru karena mereka tergolong pada bangsa lain daripada buruh-buruh, tak sedemikian besarnya, sehingga penduduk Indonesia akan bisa mendapatkan keuntungan yang agak berarti dalam perpecahan itu. Tetapi sekalipun borjuasi Belanda sementara solider menghadapi penduduk Indonesia, kesolideran 100.000 orang akan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kesolideran 50.000.000 orang. Akan tetapi musuh-musuh luar negeri (imperialisme Inggris, Amerika, dan Jepang) menghadapi Indonesia sangat terpecah belah. Antara imperialisme Amerika dan Jepang tak terdapat unsur persatuan dan kesolideran,. Besok atau lusa kedua imperialisme itu harus menentukan kekuasaannya atas lautan pasifik dengan pedang. Akan tetapi bila waktunya perang Jepang-Amerika tak seorang dapat meramalkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertentangan-pertentangan ekonomi dan politik antara Jepang dan Amerika yang pantang damai di Timur Jauh telah berulang-ulang kita tunjukkan, dan di sini tak perlu kita uraikan lagi. Memang dapat dipastikan, bahwa Inggris akan berdiri di pihak Amerika, sehingga armada Jepang dibanding dengan armada Amerika akan merupakan imbangan sebagai 3 : 10. Satu pertanyaan yang sama pentingnya, ialah apakah ketiga imperialisme tersebut memiliki situasi internasional sekarang akan mendatangkan perang dunia baru ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;   Menang adalah satu kenyataan,  bahwa Amerika dalam melaksanakan politiknya “&lt;em&gt;Penetration Pacific&lt;/em&gt;”  (penerobosan Pasifik) dimana-mana mendapat kemenangan dalam persaingan ekonomi. Satu perang dunia baru bukan hanya satu keharusan bagi perjuangan daerah pengaruh Amerika. Akan tetapi soal itu akan dapat membawah bahaya, bahwa buruh internasional nanti di bawah pimpinan Moskow akan merubah perang dunia itu menjadi perang saudara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam kerajaan Jepang sendiri terdapat anasir-anasir yang menentang perang Jepang-Amerika dengan segera. Bencana alam yang disebabkan karena goncangan bumi pada tahun 1923 mengakibatkan kerusakan-kerusakan hebat pada kehidupan ekonomi Jepang daripada apa yang dapat kita lihat dari luar. Bencana itu bagi Jepang membutuhkan tenaga besar dan waktu panjang sebelum ia dapat memperbaiki kembali kehidupan ekonominya atas tingkat yang sama sebagaimana adanya sebelum terjadi bencana alam itu. Pergerakan untuk mendemokrasikan Jepang dari pemerintahan “otokrasi” yang dipimpin oleh kasta pertengahan dan disokong oleh seluruh kaum buruh masih berjalan langsung. Pergerakan ini diperkuat karena dalam negeri sekarang timbul pengangguran yang luas (menurut berita yang terakhir lebih dari 3.000.000 orang), di antaranya terdapat juga banyak korban-korban dari kasta pertengahan. Pergerakan untuk “mendemokrasikan” ini semakin mewujudkan satu bentuk yang berbahaya sedemikian rupa, sehingga kaum militeris yang di Jepang memegang kekuasaan atas alat-alat poltik dan militer seluruhnya, terpaksa memberi konsesi politik banyak. Menurut berita awal tahun ini sistem parlementer di Jepang dimodernisir dan dilaksanakan hak pilih umum, sehingga sekarang jumlah pemilih meningkat dari tiga sampai dua belas juta orang. Untuk mewujudkan, bahwa kaum militeris tidak menginginkan adanya perang baru (dalam hal ini kaum militeris dapat mempertahankan kedudukan otokrasi-nya terhadap kasta pertengahan liberal) Jepang pada akhir tahun yang lalu telah mengadakan perjanjian dengan Soviet Uni. Sekalipun perjanjian ini ditujukan juga terhadap persekutuan Anglo-Amerika, sekali ketika dipergunakan juga untuk meninabobokan kaum buruh dan kasta pertengahan yang membenci dan ketakutan adanya suatu perang baru, dengan alasan, bahwa Jepang “ingin damai dengan siapa pun”. Fakta-fakta ekonomis dan politis tersebut di atas menunjukkan bahwa Jepang ke dalam masih belum memiliki tenaga dan persatuan yang diinginkan untuk memberanikan diri melawan kekuasaan dunia seperti Amerika dan Inggris pada masa sekarang ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Adalah senantiasa tak mudah memperoleh kemerdekaan pada waktu ada sekarang. Pada perang dunia yang lalu kita mengetahui bahwa tak ada satu dari negeri-negeri jajahan (Indo China – Perancis, India – Inggris dan Mesir) berkehandak mengorbankan perjuangan kemerdekaan. Bagi Indonesia juga masih belum dapat dikatakan dengan segera, bahwa dalam suatu perang Pasifik orang mendapatkan kesempatan yang baik untuk menuntut kemerdekaan. Justru hal ini tergantung juga pada persoalan, siapa yang akan menang dan berapa lama perang akan berlangsung. Tapi teranglah, jika nanti di lautan sekeliling Indonesia armada-armada Inggris, Amerika, Belanda telah bersiap-siaga. Bagi Indonesia bukan lagi satu persoalan yang mudah untuk berbicara tentang kemerdekaan, apalagi untuk merebut kemerdekaan. Anglo-Amerika yang juga tentu akan mengharapkan ketenangan dan keamanan yang mutlak di Indonesia akan dengan segera mengecap tiap-tiap gangguan ketenangan itu sebagai satu permusuhan terang-terangan, lebih-lebih karena Inggris hendak mempertahankan hubungan antara Singapura dan Australia-Inggris dan akan mendapatkan kesempatan yang baik menduduki Indonesia jika imperialisme Belanda terlempar jauh. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kesukaran yang sama akan dihadapi oleh Indonesia, jika sesuatu kurang lebih sepuluh tahun pangkalan armada Singapura dan armada Belanda telah selesai dibangun. Perhubungan antara Singapura dan Australia akan menjadi kenyataan pertahanan tata-tertib di Indonesia bagi imperialisme Anglo-Amerika akan dipercayakan kepada armada Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sudah tentu, perpecahan antara imperialisme-imperialisme luar negeri bagi kita adalah satu keuntungan. Akan tetapi persoalannya ialah: apakah kita harus menunggu dulu adanya perang, maukah sekarang menuntut kemerdekaan nasional dan mempergunakan semua alat untuk mendapatkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena ktia telah mengetahui, bahwa perang Pasifik yang mungkin datang bagi kita masih belum berarti satu kemerdekaan dan kita tak dapat menunggu sampai armada Belanda dan pangkalan armada Singapura selesai dibangun, maka bagi Indonesia sangat mungkin sekarang ini adalah kesempatan yang baik untuk menuntut kemerdekaan nasional. Pendapat ini juga diperkuat dengan alasan-alasan sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;   &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Kita tak dapat menggantungkan taktik revolusioner kita seluruhnya pada perang Jepang-Amerika. Taktik semacam itu juga bersifat oportunistis dan berbahaya. Tak ada suatu rakyat yang dapat bertahan lama dalam ketegangan dengan ancaman yang tak dirasakan dengan langsung. Terlebih-lebih jika ancaman itu dalam dua atau tiga tahun masih belum menjadi kenyataan, maka ketegangan psikologis dengan sendirinya akan menjadi buyar. Ketegangan revolusioner akan mempunyai daya hidup, jika ia didasarkan atas syarat-syarat materiil yang langsung dapat dirasakan oleh rakyat. Hanya jika agitasi revolusioner kita didasarkan atas penderitaan-penderitaan yang nyata yang dirasakan oleh rakyat di bawah kekuasaan imperialisme Belanda dewasa ini dan kecuali daripada itu kita dengan serentak mampu meyakinkan rakyat akan propaganda kita, maka tak kepuasan massa akan berubah menjadi suatu kemauan massa dan perbuatan massa. Selanjutnya kita sekarang harus juga bekerja untuk tujuan yang langsung dan menerima akibat agitasi revolsuioner kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;   &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Ada kemungkinan, bahwa perang Jepang-Amerika lama tak kunjung datang dan bahwa periode pasifistis (masa tenang) harus lebih dahulu mendahului revolusi sosial di seluruh dunia. Jika kita menggantungkan aksi-aksi kita seluruhnya pada perang dunia dan revolusi dunia, maka ada kemungkinan bahwa kita akan kehilangan peranan pimpinan kita atas rakyat Indonesia. Karenanya partai kita akan berada di dalam dogma sedang massa akan mencari jalan sendiri-sendiri. Jalan itu akan dapat mengakibatkan pemberontakan-pemberontakan lokal atau perbuatan-perbuatann individual (anarkistis). Memang rakyat Indonesia yang merasa tak puas akan mengikuti pimpinan revolusioner kita sekian lama, selama pimpinan ini sungguh-sungguh merupakan pertumbuhan daripada tujuan revolusionernya. Belum pernah kita pikirkan, bahwa kemerdekaan Indonesia pada masa ini justru akan bisa membahayakan perdamaian di Pasifik. Kemerdekaan ini akan dapat memecahkan perang Pasifik. Akan tetapi tak dikatakan, bahwa kekuasaan-kekuasaan dunia (karena takut akan adanya revolusi sosial) menunda perang itu sebegitu lama. Justru inilah bukannya merugikan, tetapi menguntungkan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun yang lalu kita telah lihat di Tiongkok, bahwa tak satu dari negara-negara imperialis besar yang memberanikan diri membagi-bagi Tiongkok dan mendudukinya, sekalipun mereka mempunyai kesempatan untuk itu. Justru pada waktu itu di Tiongkok berkobar perang saudara, sehingga perusahaan-perusahaan luar negeri di Tiongkok menderita kerugian. Ketakutan akan adanya perang antara imperialis-imperialis satu sama lain adalah sebab mengapa mereka semua melihatnya dengan terang. Tiap-tiap orang tentu berkehendak menduduki bagian Tiongkok yang baik, dan justru itu ia akan dimusuhi oleh yang lain dalam pilihannya. Karena tiap imperialis ingin mempunyai Tiongkok yang baik, karena itu tak seorang mendapatkan sesuatu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ditilik dari sudut perdagangan dan strategi kedudukan Indonesia di Pasifik sebegitu penting, sehingga tak ada seorang imperialis membiarkan diambilnya oleh sesuatu negara yang kuat. Tiap-tiap usaha untuk membaginya akan mudah menyebabkan pertikaian dan perang. Terlebih-lebih jika Indonesia sendiri tak berdiam diri akan tetapi menggunakan perpecahan musuh-musuh. Jika Indonesia nanti menjadi jajahan Anglo-Amerika maka harapan Jepang untuk melebarkan pengaruhnya ke Aisa Selatan dan Barat akan gagal buat selama-lamanya. Cita-cita Jepang “Asia untuk orang Asia”, yaitu Asia di bawah telapak kaki Jepang, akan sia-sia. Jepang yang telah dilarang memasuki Amerika dan Australia, kemudian akan terasing buat selama-lamanya di Timur Jauh. Dibalik itu Anglo Amerika tak akan mengizinkan Jepang menduduki suatu titik di Indonesia. Yuseboru Takekoshi, terompet kaum militeris Jepang, selama berlangsungnya perang besar telah membikin goncang dunia imperialis, ketika ia menunjukkan betapa pentingnya Selat Sunda dan Malaka bagi pelebaran pengaruh Jepang. Akan tetapi kedua selat itu salah satu dalam titik strategi di Indonesia, jika diduduki oleh Jepang berarti juga satu pistol di dada kerajaan Inggris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jika keadaan dalam buku musuh kita simpulkan, baik yang ada di luar negeri, maka kita dapat berkata “kubu Belanda yaitu dalam arti kata krisis ekonomi dan politik”. Ia berada dalam permusuhan terang-terangan dengan rakyat revolusioner. Jika yang tersebut belakangan ini sekarang tak menang, maka ia besok akan dipukul. Imperialis-imperialis luar negeri berada dalam keadaan cerai berai yang sangat mengkhawatirkan dan dalam tahun-tahun yang akan datang tak mungkin dapat campur dalam persoalan Indonesia tanpa menimbulkan bahaya meletusnya perang dunia. Pertanyaan bila waktu yang baik bagi aksi kemerdekaan politik yang tak terbatas dan lengkap kita kira harus menjawab “sekarang dan bukan nanti”. Jika tidak demikian akan datang masanya bagi kita, dimana kita harus berkata : “kita dulu telah membiarkan kesempatan itu berlalu”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sekarang adalah waktunya bagi PKI dalam dan dengan perjuangan untuk menciptakan organisasi-organisasi sendiri yang memiliki keberanian dan kekuatan untuk menerima pertanggungjawaban merebut dan mempertahankan kemerdekaan nasional. Jika nanti setelah banyak perkelahian kecil dan besar di sana-sini, sekarang dengan menggunakan organisasi politik kemudian dengan menggunakan organisasi serikat-serikat sekerja, kita telah dapat menunjukkan kesadaran, hasrat, kebijaksanaan dan kegairahan, maka kita pada akhirnya akan menjatuhkan godam revolusioner kita sedemikian rupa sehingga pukulan itu akan terdengar oleh negara-negara takluk lainnya di Asia dan oleh buruh-buruh yang terbelenggu di Eropa.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;MAJELIS PERMUSYAWARATAN  NASIONAL INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bertentangan dengan pesimisme yang beralasan dan peringatan-peringatan yang sungguh oleh penulis-penulis Prancis seperti, D’Alembert Roxssesu, dan lain-lainnya. Bangsawan-bangsawan Prancis didahului oleh rajanya yang boros dan permasuri yang lebih boros, melangsungkan cara hidupnya yang sangat mewah. Nampaknya tak ada pandangan hidup lainnya yang dianut daripada “sesudah kami bahaya banjir”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Cara hidup bangsawan dan raja yang mahal biayanya yang ditumpahkan kepada rakyat yang melarat yang diciptakan di dunia seolah-olah bukan untuk sesuatu lainnya, akan tetapi hanya untuk membayar “pajak”. Kemelaratan, penyakit dan kelaparan terdapat dimana-mana. Oleh karenanya meningkatlah tak kepuasan massa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Petani, buruh dan borjuis, di bawah pimpinan yang tersebut belakangan, kemudian menggabungkan diri menjadi satu dan menuntut perubahan-perubahan politik yang radikal. “Majelis Permusyawaratan Nasional” dan mewakili seluruh rakyat yang harus berbicara tentang keadaan nasional dan yang dapat dipandang sebagai hasil dari perjuangan politik yang ulet, kemudian dipanggil berkumpul. Akan tetapi bangsawan-bangsawan dan pendeta-pendeta yang merasa kekuasaan dan hak-hak istimewa terancam, menghasut raja agar membubarkan wakil-wakil yang datang berkumpul. Perkataan Mirabeau yang bersejarah yang bertindak tepat pada waktunya,”jangan buyar, kecuali dengan kekuatan bayonet”, benar-benar membawa titik balik dalam sejarah Prancis dan sejarah dunia. Dari Majelis Permusyawaratan Nasional lahirlah kemerdekaan Prancis dan cita-cita republik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kita tidak mau pastikan, bahwa ada satu persamaan yang nyata antara Prancis sebelum revolusi besar dan Indonesia dewasa ini. Sungguh benar keduanya mempunyai perpaduan banyak yang bersifat ekoomi dan politik yang prinsipil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Tetapi di Indonesia bukannya bangsawan-bangsawan Indonesia yang menghisap, hidup mewah dan tak membayar pajak, akan tetapi lintah-lintah darat Belanda. Karenanya disini keadaannya melebihi, sebab uang yang dihambur-hamburkan di Versaille sekali-sekali di sana sini masih ada yang jatuh pada rakyat Prancis dalam wujud eceran, sedangkan uang yang dihambur-hamburkan di Zandveert dan Scheveningon tak sesen pun tercecer ke saku kromo.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Ketika Gubenur Jendral Dirk Fock ini, oleh kapitalis-kapitalis Belanda ditempatkan di Bogor, ketika itu Indonesia menghadapi &lt;em&gt;bankroot finansiil&lt;/em&gt;. Uang negara dalam tahun 1923 meningkat sampai jauh di atas F. 1.000.000.000. Anggaran Belanja tahun 1921 menunjukkan defisit sejumlah F. 285.500.000. Dalam arti kata, pengeluaran uang dalam tahun 1921 terdapat F. 285.000.000. lebih tinggi daripada pemasukkan uang. Sebagaimana Neckar dipanggil oleh Lodewijk ke XVI untuk memperbaiki finansial negara, demikian Dirk Fock muncul di Indonesia untuk menolong negara daripada &lt;em&gt;bankfoot finansiil.&lt;/em&gt; Nocker tak mampu berbuat sesuatu apa, karena bangsawan-bangsawan Prancis dan pendeta-pendeta sampai pada detik yang terakhir tetap berkepala batu berpegang pada hak-haknya luar biasa atas ekonomi dan politik. Dalam kata-kata Belanda kampungan, mereka mempersetan pembayaran pajak dan membiarkan rakyat mampus kelaparan.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Apakah Dirk Fock akan mendapatkan satu “kasta lintah darat” yang luhur budi dan bijaksana terhadap manusia-manusia berkulit sawo matang di Indonesia?&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Rencananya dahulu untuk mewajibkan pengusaha-pengusaha gula menjamin syarat-syarat hidup dan kerja yang lebih baik atas biaya kapital gula ia batalkan tak lama sesudah ia datang di Indonesia. Ketika ia hendak membebankan pajak atas minyak, datanglah ancaman yang terkenal dari Colijn: “Lepas tangan dalam urusan itu, jika tidak kita tutup lumbung-lumbung minyak”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dokter Fock yang harus menyehatkan finansial negara yang sedang sakit, kemudian beralih menggunakan alat lain yang sedang Nocker tak berani menggunakannya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Pada bagian satunya memperbesar pasukan Armada dan polisi dan menaikkan gaji ambtennar-ambtenaar tinggi. Pada bagian lainnya melepaskan kaum buruh dan menurunkan gajirnya, menarik lebih banyak dari rakyat yang melarat dan mengurangi pengeluaran untuk sekolah-sekolah rakyat dan kesehatan.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dengan demikian ia mengira neraca pengeluaran dan pemasukan dapat diperbaiki kembali. Demikian itu adalah satu tindakan seorang negarawan yang berani, satu tindakan terpaksa, yang biasa dilakukan oleh keledai-keledai politik dan penjual-penjual jamu pada waktu kehilangan pencaharian. Bagaimana pun halnya pengguntingan-pengguntingan upah di Zergvilet dan Den Haag akan puas adanya. Gula, teh, korek, api, minyak tanah dan bahan-bahan tekstil untuk masuk dan keluar negeri ditarik pajak, akan tetapi kapital dapat mengambil kembali semua itu dengan aman atas beban pemakai-pemakai, yaitu dengan mudah menaikkan harga-harga kebutuhan hidup rakyat, yang penting rumah-rumah gadai pemerintah dan monopoli garam menambah berat tekanan ekonomi di atas bahu si Kromo sampai pada luar batas kemampuannya. Tidak dilebih-dilebihkan, jika orang berkata, bahwa seorang Jawa dewasa ini dibandingkan dengan kemampuannya membayar pajak yang tertinggi di dunia, tidak memiliki suatu apa, kecuali “hawa untuk dihirup”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Apakah ada harapan krisis ekonomi itu akan diatasi ? Tentu tidak, selama hampir setiap tahun ratusan juta rupiah sebagai deviden mengalir ke saku-saku kapitalis Belanda di negeri Belanda.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Tak satu tanah jajahan lainnya, yang dikeringkan sedemikian rupa seperti Indonesia, sebab negara-negara setengah jajahan seperti Persia dan Tiongkok, setidak-tidaknya sebagian dari pada keuntungan itu tinggal di saku borjuasi pribumi yang bagaimanapun akan dipergunakan untuk dalam negeri sendiri.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Sekalipun nanti jika Amerika atau siapa saja bersedia memberikan pinjaman kepada Indonesia jutaan rupiah atau menanam kapital di Indonesia krisis ekonomi karenanya masih belum dapat diperbaiki. Sebab jutaan rupiah setahunnya yang harus diperoleh dengan memeras kaum buruh Indonesia untuk dikirim ke negeri asing. Lebih gelap adanya hari depan ekonomi bagi rakyat Indonesia daripada rakyat Prancis sebelum tahun 1789. Tiap-tiap orang Gubenur Jendral yang dikirim ke Bogor oleh lintah-lintah darat Belanda, sebagaimana halnya dengan Dirk Fock ini, akan tak mampu menciptakan sesuatunya yang baru kecuali “pajak” baru. Tak seorang GG. akan mampu menghapuskan pengeringan itu, selama lintah-lintah darat negeri Belanda senantiasa menginginkan deviden.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Karenanya kita sangat cepat menuju ke krisis politik. Objektif semua syarat-syarat telah ada. Kemampuan berorganisasi, moral politik dan kesadaran dengan mutlak ada pada kita sendiri. Tetapi langkah kita tidak melalui parlemen. Demikian itu justru terjadi di India-Inggris, Mesir dan Filipina dimana terdapat borjuasi pribumi yang kuat, yang kepentingan-kepentingan ekonominya bersatu dengan kepentingan-kepentingan ekonomi imperialis dan karenanya kepadanya dapat dipercayakan kekuasaan politik berturut-turut dengan aman. Demikianlah (tapi dipastikan) kemerdekaan nansional di India, Mesir, dan Filipina sedikit banyak dengan dukungan massa melalui “&lt;em&gt;dominion&lt;/em&gt;”  dan “Parlemen Nasional”. Jalan kita terletak di luar Parlemen. Jalan kita melalui  politik dan sarekat-sarekat sekerja. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Majelis musyawarah Nasional Indonesia harus dipanggil berkumpul oleh kita sendiri, dengan atau tanpa persetujuan lawan-lawan kita. Majelis Permusyawaratan Nasional sangat mungkin akan tercipta pada waktu bentrokan fisik, ekonomi atau politik yang hebat seperti pemberontakan setempat, pemogokan umum dan demonstrasi massa. Hal itu akan merupakan puncak semua kegiatan kerja kita.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Soal Majelis Permusyawaratan Nasional adalah soal hidup atau mati kita sebagai manusia-manusia merdeka? Untuk itu juga “to be or not to be” bagi lawan kita sebagai pemegang kekuasaan lintah-lintah darat.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Hal ini akan kita persoalkan, jika kita telah yakin, bahwa tindakan pembelaan lawan-lawan kita yang mungkin terjadi dapat kita tangkis dan hancurkan dengan sukses. Soal itu tidak kita kemukakan lebih dahulu, sebab memanggil berkumpul Majelis Permusyawaratan Nasional berarti menyampaikan ultimatum kepada pemegang-pemegang kekuasaan dewasa ini.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Panggilan berkumpul, Majelis Permusyawaratan Nasional Indonesia berisikan pengakuan, bahwa pemegang-pemegang kekuasaan dewasa ini tidak mampu mengatur persoalan-persoalan kita; bahwa kita merasa kuat memegang kekuasaan sendiri dan menjawab tindakan-tindakan pembalasan lawan-lawan kita dengan sukses, bahwa kita karenanya ingin mengatur sendiri persoalan dalam dan luar negeri menurut pendapat kita sendiri tanpa perantaraan orang lain ; bahwa atas dasar alasan-alasan tersebut pemegang-pemegang kekuasaan dewasa ini harus memberikan tempat kepada kita. (pegawai-pegawai administratif dan teknis Belanda, bahkan pejabat militer dan polisi bisa tinggal di Indonesia dengan syarat-syarat tertentu, jika mereka mau bekerja dengan patuh di bawah pemerintah Indonesia yang baru).&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Sudah tentu kita tak dapat mengambil keputusan yang penting ini, jika kita tidak didukung oleh seluruh penduduk Indonesia. Pengaruh PKI dan SR lebih dahulu harus sedemikian besarnya, sehingga semua seksi dan sarekat-sarekat sekerja, benar-benar merupakan divisi-divisi pasukan yang harus siap siaga pada seruan kita pertama, sekalipun mereka harus menghadapi ancaman senapan mesin dan kapal-kapal udara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Ketika Mirabeau mengucapkan kata-kata yang mengandung penuh keberanian, dia mengetahui benar, bahwa kata-katanya akan bergema di antara buruh-buruh yang sangat aktif di kota-kota muka Paris. Jika Lodewijk ke XVI sungguh menggunakan bayonet, tentu akan segera dijawab dengan pemberontakan umum.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dengan penderitaan rakyat Indonesia yang semakin meningkat ini setiap waktu akan bisa meletus kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dari Massa. Jika organisasi-organisasi politik dan ekonomi kita telah mencapai kualitas yang diharapkan, jika petani, buruh, pedagang dan mahasiswa sungguh-sungguh menginginkan kehidupan berjuang lebih baik dan juga untuk itu berani terang-terangan mengemukakan diri, maka barulah kita dapat memanggil berkumpul Majelis Permusyawaratan Nasional Indonesia. Kita harus yakin, jika perlu, dapat mengulangi “Jangan buyar, kecuali dengan ujung bayonet”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;HALILINTAR MEMBERSIHKAN UDARA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada waktu kita menulis brosur ini, datanglah laporan bahwa partai kita diancam oleh “anjing-anjing liar”. Petani-petani dan penganggur-penganggur diorganisir dan dikirim pada anggota-anggota kita untuk meyakinkan mereka dengan tongkat. Pejabat-pejabat yang telah melakukan pembunuhan beberapa kali dibayar dan dikirimkan kepada pemimpin-pemimpin kita yang bertanggung jawab untuk mencoba mengambil jiwanya. Demonstrasi-demonstrasi dari sampah masyarakat Indonesia diorganisir untuk menakut-nakuti, menghina dan memprovokasi anggota-anggota kita. Sarekat ijo adalah nama fasisme Indonesia ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mussolini, seorang makhluk jahat yang reaksioner menciptakan alat reaksionernya setidak-tidaknya menurut suatu prinsip, dan prinsip untuk suatu tujuan politik. Akan tetapi prinsip-prinsip apakah yang dimiliki Sarekat Ijo ini kecuali putus asa dan kerendahan budi? Demikianlah adanya satu periode fasisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kamu pemerintah, pencipta, pengilham perancang intelek perbuatan suram ini! Kamu kira, bahwa ciptaanmu ini dapat menghancurkan kita? Sebagaimana halnya dengan penjara-penjara, pembuangan-pembuangan, pukulan-pukulan tongkat, peluru-peluru dan alat-alat lain dari alam gelap, demikian pun fasisme-mu akan lenyap sebagai timbunan salju di bawah sinar matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tetapi kita tidak mengharapkan satu khayalan, seolah-olah jalan kita pendek dan rata. Tanah gelap, sukar dan penuh dengan racun adalah jalan menuju kemerdekaan. Dari kiri dan kanan kita telah mendengar bisikan kawan-kawan yang ragu-ragu. Apakah kita akan meneruskan itu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Berat adanya pekerjaan pendidikan di antara massa, yang berabad-abad mengalami tidak lain daripada hinaan dan pukulan tongkat, baik dari pemerintah bangsa sendiri, maupun dari pemerintah bangsa asing, massa yang dibikin merangkak-rangkak dan meminta-minta sebagai kebiasaan dan pemecahan persoalan penghidupan pada khalayak tak percaya dan pikiran-pikiran budak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Berat rasanya melaksanakan pekerjaan pendidikan di bawah kekuasaan yang tak segan-segan berdusta, memperkosa undang-undang yang dibikin sendiri, menginjak-injak hak-hak rakyat dan mempergunakan alat-alat perkosaan secara kurang ajar, satu kekuasaan yang memiliki hak luar biasa menggunakan alat-alat penindas yang modern atas rakyat Timur yang menurut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Berat rasanya melakukan pekerjaan perjuangan dengan suatu pasukan tak bersenjata, kehabisan dan dikelilingi oleh pengkhianat-pengkhianat, melawan suatu pasukan yang mempergunakan emas, orang-orang sewaan dan semua alat-alat lainnya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Tetapi kebenaran adalah kuasa, kebenaran kita. Pertentangan antara yang berkuasa dan yang dikuasai, ialah dialektik perkembangan kapitalisme, adalah tenaga pendorong dalam perjuangan revolusioner kita, tenaga yang membangkitkan dan mengilhami kembali yang sedang runtuh dan memberikan kemenangan kepada yang kuat.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Penderitaan yang sedang mendalam, reaksi yang semakin kurang ajar akan memperkuat barisan kita dalam waktu yang pendek dan merongrong barisan musuh.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;   Kepada kaum intelek  kita serukan!&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Juga golonganmu tak akan lepas dari penderitaan akan datang satu masa, bahwa kapitalisme kolonial yang sekarang masih dapat mempergunakan tenagamu, akan membuat kaum-mu seperti sepah yang habis manisnya. Penyakit kapitalis ialah krisis akan tak mampu memelihara, juga kamu buat selama-lamanya. Juga kamu akan terdesak seperti ribuan saudara-saudaramu di Jepang dan India-Inggris kepada “Kasta Proletar Intelek”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras? Tak terlihat olehmu, bahwa mereka pelan-pelan melangkah maju dalam perjuangan yang berat?&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Apakah kamu akan menunggu sekian lama, sampai nanti kemerdekaan direbut oleh mereka sendiri sedang kamu pasti akan ikut menikmati buah kemenangan mereka yang nyaman? Tidak, sebegitu lesu dan sebegitu rendah tentu akan ada padamu. Karenanya bergabunglah kamu pada barisan kita! Tetapi segera, tinggalkan kasta-mu kelak juga dapat berkata dengan bangga : “ saya ikut membantu merebut kemerdekaan”.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt; Dalam taufan revolusioner yang memandang kamu akan belajar mengenai massa Indonesia dalam kemampuan dan kekurangannya, dalam kekuatan dan kelemahannya. Di sana kamu akan mendapatkan kesempatan menggunakan kemampuan moral dan intelek-mu untuk memperlancar jalan revolusi. Di sana kamu akan menginsyafi bagaimana nyamannya melaksanakan pekerjaan sosial dan berjuang untuk dan dengan massa. Di sana kamu akan merasa bagaimana sunyinya hidup secara individual dalam masyarakat kapitalistis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Jika nanti kita mengharapkan, juga bantuanmu, kota-kota dan desa-desa di pantai-pantai dan gunung-gunung Indonesia yang luas berkobar-kobar untuk menuntut hak dan kemerdekaan, maka tak seorang musuh di dunia yang mampu menahan gelombang taufan revolusioner.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Dalam suasana Republik Indonesia merdeka, tenaga-tenaga intelek dan sosial akan berkembang lebih cepat dan lebih baik. Kekayaan yang maha besar yang diperoleh dengan pekerjaan Indonesia akan tinggal di negeri sendiri. Ilmu pengetahuan yang dikendalikan dan diperkosa yang sekarang dipergunakan untuk keuntungan lintah-lintah darat Belanda, nanti akan dapat berkembang dan akan dapat dipergunakan bagi kepentingan masyarakat Indonesia. Kesenian dan perpustakaan akan baru mendapatkan tanah untuk bertumbuh. Lebih pasti dan lebih cepat Indonesia akan bangkit di lapangan ekonomi, sosial, intelek dan kebudayaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Akan lampau adanya abad-abad kelaparan dan penderitaan, perbudakan dan ke-paria-an (kasta yang paling terhina di India) yang gelap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Akan lampau adanya abad-abad dimana berlangsung adanya hak yang tak tentu dan tak adanya hak bagi passivitas-passivitas rohani, kepalsuan dan kegelapan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Akan lampau adanya abad-abad yang mengerikan karena ketakutan akan kelaparan, penyakit menular dan ketakutan menghadapi penarik pajak, polisi dan penjara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   Akan lampau adanya  perbudakan dan pemerasan satu bangsa oleh bangsa lainnya, dan satu manusia oleh  masa lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Dan jaman baru menyingsing, dimana obor komunis selanjutnya akan membimbing rakyat Indonesia yang muda ke arah tujuan yang paling akhir : &lt;strong&gt;KEMERDEKAAN, KEBUDAYAAN DAN  KEBAHAGIAN BAGI SEMUA RAKYAT DI DUNIA.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Tiongkok, April 1925&lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt;  Di Kutip Dari www.marxist.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4484010673516050752-6426010735677368376?l=wismakiri-ponorogo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/feeds/6426010735677368376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/2009/04/menuju-republik-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default/6426010735677368376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default/6426010735677368376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/2009/04/menuju-republik-indonesia.html' title='Menuju Republik Indonesia'/><author><name>" Komunitas Kiri - Ponorogo "</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16581105841070776783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://4.bp.blogspot.com/_Aaxc4WfbAH8/SeX6GtJ-MkI/AAAAAAAAAAM/mWTj7VQhnlU/S220/jajalan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4484010673516050752.post-5037794839723082883</id><published>2009-04-14T15:34:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T15:35:54.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tan Malaka'/><title type='text'>Semangat Muda</title><content type='html'>&lt;h1&gt;Semangat Muda   &lt;/h1&gt; &lt;h2&gt; Tan Malaka (1926)&lt;/h2&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt; Ditulis oleh Tan Malaka pada bulan Januari 1926 di Tokyo &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kontributor:&lt;/strong&gt; Naskah ini dikirim oleh "Pacar Merah Indonesia ", diedit supaya sesuai dengan ejaan baru oleh Ted Sprague (May 2007) &lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt;  &lt;p&gt;Tulisan ini kembali hadir di tengah-tengah teman-temah pergerakan di Indonesia setelah 60 tahun hilang dari Indonesia, ditemukan kembali oleh sebagian kawan-kawan yang masih berusaha mencari tulisan-tulisan klasik dari jaman kejayaan gerakan buruh di Indonesia era 1920an, diharapkan akan menjadi tenaga tambahan karena gerakan di Indonesia yang masih kekurangan teori mengenai ke Indonesiaan walaupun mungkin dalam banyak hal telah berubah apakah itu sistem kapitalis dan juga mengenai kondisi masyarakat Indonesia. Hidup persatuan yang teguh dari semua kelompok yang anti Kapitalisme, Imperialisme dan NeoLiberalisme, Hidup persatuan antara gerakan kiri di Indonesia, hilangkan konflik lama yang akan merugikan gerakan buruh di Indonesia ......... MERDEKA 100% &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kontributor, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Pacar Merah Indonesia"  &lt;/p&gt;&lt;h5&gt;----------------------&lt;/h5&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semangat Muda, yang ditulis pada tahun 1926, mengandung buah pemikiran Tan Malaka tentang bagaimana menjalankan organisasi revolusioner sesuai dengan kondisi &lt;span id="lw_1178772655_1"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; saat itu; yaitu dengan menggandeng perjuangan politik (nasional) dengan perjuangan ekonomi (kelas); dengan menyatukan perjuangan pembebasan nasional dengan perjuangan pembebasan Kelas Buruh. Terkandung di naskah ini adalah program nasional yang mengikutsertakan kaum borjuis kecil dan kaum tani &lt;span id="lw_1178772655_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;, yang notabene saat itu jumlahnya lebih besar dari pada kaum buruh, dengan kaum buruh sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan. Naskah ini sangatlah relevan sebagai pelajaran sejarah bagi gerakan di Indonesia saat ini, dimana gerakan anti-imperialis (anti modal asing) harus disatukan dengan gerakan pembebasan buruh sebagai sebuah kelas. Gerakan nasional dan gerakan kelas tidaklah boleh dilihat sebagai dua tahap yang terpisah, tetapi sebagai satu kesatuan; ini benar untuk &lt;span id="lw_1178772655_3"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; pada tahun 1926 dan terlebih benar untuk &lt;span id="lw_1178772655_4"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; saat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Editor,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ted Sprague &lt;/p&gt; &lt;h5&gt;---------------------&lt;/h5&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Senjata Feodalisme dan Kapitalisme  terutama Peluru dan Pedang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Senjata Proletar Industri ialah  Agitasi, Mogok dan Demonstrasi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebulan Massa-Aksi di Indonesia  sekarang lebih berguna dari 4 tahun Dipo Negoro­Isme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zaman Baru membawa Senjata Baru  !!!!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dicetak di Tokyo Januari 1926.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;ISI BUKU:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;I.  KE ZAMAN KOMUNISME.              &lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.  Watak Zaman Bangsawan &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Watak Zaman Hartawan                &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Zaman Diktatur Proletar         &lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.  Taktik&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5.  Rusia&lt;/p&gt; &lt;p&gt;II.  KEADAAN INDONESIA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.    Ekonomi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.    Sosial&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.    Krisis Ekonomi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.    Krisis Politik&lt;/p&gt; &lt;p&gt;III.  PROGRAM&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.    Program Nasional PKI &amp;amp; SR&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.    Keterangan Program&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;IV.  ORGANISASI&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.    Maksud dan Sifat Organisasi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.     Tentara Nasional&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;V. REVOLUSI&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Peperangan dan Revolusi &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Revolusi di Indonesia &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Taktik di Indonesia&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Massa Aksi di Indonesia &lt;/p&gt; &lt;p&gt;5.  Rapat Rakyat Indonesia &lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.  Revolusioner Komunis &lt;/p&gt;   &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;I.  KE ZAMAN KOMUNISME&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah. dan tengah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Menurut pikiran KARL MARX, maka timbulnya kasta tadi, yaitu disebabkan oleh perkakas mengadakan hasil, seperti cangkul, pahat dan mesin. Adanya kasta tadi pada sesuatu pergaulan hidup, menyebabkan, maka politik, Agama dan adat, dalam pergaulan hidup itu bersifat kekastaan atau bertinggi berendah. Ringkasnya perkara mengadakan hasil, menimbulkan kasta, dan kasta itu menimbulkan paham politik, agama dan adat yang semuanya bersifat kekastaan. Oleh sebab itu kata Marx lagi, semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit. Demikianlah pada Zaman Feodalisme atau Zaman Bangsawan, Kaum Hartawan yang terhimpit itu bertanding dengan kaum Bangsawan dan Raja yang menghimpitnya. Di Eropa pada tahun 1789 Kaum Hartawan di Prancis bisa mengalahkan Kaum Bangsawan dan mendirikan Peraturan Kemodalan seperti macam sekarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal itu pertandingan belum lagi berhenti. Karena pada Zaman Kemodalan sekarang, pertentangan kasta makin tajam, ialah antara Kaum Buruh yang terbanyak dan tertindas itu dengan Kaum Hartawan, yang terkecil, tetapi terkaya dan terkuasa itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berhubung dengan lebar dan dalamnya pertandingan dalam Zaman Kemodalan ini, maka kelak Kaum Buruh, kalau menang ia tidak saja akan memerdekakan dirinya sendiri, seperti dulu Kaum Hartawan, melainkan akan memerdekakan seluruh pergaulan hidup dan sekalian manusia. Dan oleh sebab Kaum Hartawan di seluruh dunia bersatu, maka haruslah pula Kaum Buruh seluruh dunia bersatu, buat manghancurkan musuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.  Watak Zaman-Bangsawan &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada Zaman-Bangsawan, maka perkakas di sawah dan ladang, hanyalah cangkul atau bajak. Di tempat pertukangan, pahat atau ketam yang semuanya diangkat dengan tangan. Hasil sawah, pertukangan dan pertenunan, cuma buat keperluan masing-masing orang atau masing-masing famili saja. Kalau ada berlebih dari keperluan itu, barulah dijual, supaya bisa membeli kain, cangkul atau bajak. Jadi perniagaan baru mulai timbul.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ringkasnya pada Zaman-Bangsawan perkakas kecil, hasil sedikit dan buat keperluan masing-masing famili saja. Sisa keperluan satu-satu famili juga sedikit, sebab itu perniagaan masih lemah. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beberapa tani, tukang dan saudagar pada Zaman Bangsawan berkumpullah mendirikan desa atau kota. Buat menjaga keamanan dalam desa tadi dan mempertahankan desa tadi pada musuh, maka mereka mendirikan Pemerintah Desa. Anggota biasanya terdiri dari orang yang tua, yang pandai, cerdik, berani dan mendapat kepercayaan dari orang banyak. Pangkat memerintah negeri akhirnya jadi turun menurun dari bapak ke anak. Sekarang penduduk desa sudah mulai terbagi atas kasta: Tani, Tukang, Saudagar dan kasta-memerintah, yaitu Bangsawan. Apabila desa tadi banyak berperang-perangan, maka makin besar kuasanya Kaum Bangsawan dan makin dalam kebangsawanan. Kemudian dua desa atau beberapa desa mulai mangadakan perserikatan buat mempertahankan diri kepada serangan dari luar. Urusan negeri dan peperangan sekarang jatuh di tangan seorang Bangsawan yang tetinggi, yang sekarang berpangkat Raja dan berkuasa lebih dari Bangsawan yang sudah-sudah. Makin banyak peperangan dan kemenangannya Raja itu, makin besar kekuasaannya turun menurun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Negeri bertambah besar, kekuasaan makin tertumpuk kepada Raja dan Bangsawan, kekayaan makin tertumpuk kepada Kaum Hartawan serta kaum Buruh dan Tani makin terhisap dan tertindas. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Supaya Buruh dan Tani yang terbanyak itu, takluk saja kepada Kaum Raja dan Bangsawan, maka harus diadakan Agama, Didikan dan Adat yang bersifat kekastaan atau kebudakan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gereja atau mesjid jatuh di tangan Kaum Bangsawan juga, anaknya Rakyat diajar jongkok dan menyembah, sedangkan anaknya Raja serta Bangsawan diajar memukul, memaki dan menerjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah  wataknya Zaman-Bangsawan itu di    India, di Jawa atau Tiongkok  dan Jepang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Watak Zaman Hartawan &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kira-kira 200 tahun yang lalu, kaum Hartawan di Eropa makin bertambah kaya. Pertukangan, dan pertenunan yang dulu kecil-kecil, dan buat keperluan masing-masing famili saja, sekarang sudah terkumpul pada satu pabrik. yang memakai beratus-ratus kuli. Perniagaan sudah jauh melewati batas desa atau negeri. Bank sudah meminjamkan kepada atau menerima uang simpanan dari seluruh penduduk negeri. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi, walaupun kekayaan Kaum-Hartawan sangat maju, kekuasaannya masih tinggal seperti dulu. Raja dan Bangsawan masih bisa ambil pajak sehekendak hatinya. Kemerdekaan Kaum-Hartawan buat mengirim barang dari satu negeri ke negeri lain sangat terhambat, karena barang-barangnya acap kali dipajaki oleh Bangsawan atau Raja. Juga Kaum Pendeta, yakni keturunan Bangsawan tak kecil keganasannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Buat  merdeka mendirikan pabrik dan kirim mengirim    barang,  maka Kaum Hartawan mesti merdeka dalam    urusan politik-Negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan pertolongan Tani dan Buruh, maka Kaum Hartawan pada tahun 1789 bisa menghancurkan semua kekuasaan Kaum Bangsawan dan Raja Prancis. Sekarang urusan ekonomi, dan politik luar serta dalam negeri sama sekali jatuh di bawah tangan Kaum Hartawan dan Wakilnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang Modal bisa tumbuh dan menjalar kiri kanan dengan leluasa. Dalam satu pabrik tidak seratus atau dua ratus, melainkan sudah sampai 30 ribu orang kuli kerja (Inggris, Jerman dan Amerika). Hasilnya dalam satu jam saja sudah beribu-ribu pikul. Mengangkutnya hasil tidak lagi dengan bahu, kerbau atau kuda, melainkan dengan kereta atau kapal yang cepatnya seperti petir. Dengan kelingking saja satu sekerup dibuka, mesin yang kuatnya sejuta kuda berputar dengan sendirinya saja. Kirim mengirim dan pesan memesan barang ke empat penjuru alam dijalankan dengan kawat atau radio. Dari Asia dan Afrika tiap-tiap hari diangkut barang-barang yang mesti dikerjakan dalam pabrik di Eropa, dan dari Eropa atau Amerika tiap-tiap jam berjalan kapal yang mengangkut barang-barang pabrik ke Asia dan Afrika. Ringkasnya mesin kerja dengan kuat dan cepat, Kuli terkumpul pada satu pabrik saja sampai beribu-ribu, pekerjaan teratur dari satu administrasi-pabrik dan dikerjakan bersama-sama, sedangkan perniagaan sudah internasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi seperti pada Zaman-Bangsawan ada pertentangan antara Kaum Bangsawan dan Kaum Hartawan, begitulah juga pada Zaman Hartawan atau Kemodalan ada pertentangan antara Kaum Hartawan dan Kaum Buruh serta Tani. Seperti Zaman­Bangsawan mengandung Benih-Hartawan yang kelak akan menghancurkan Kaum-Bangsawan sendiri, demikianlah pula Zaman-Hartawan kita ini mengandung Benih Buruh yang kelak akan menghancurkan Kaum Hartawan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keyakinan ini kita Kaum Komunis tidak diperoleh dari limau-purut atau ujung jari, seperti tukang-tukang ramal, tetapi kita peroleh dari bukti yang nyata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertentangan-pertentangan yang nyata  dan tak bisa    didamaikan pada Zaman-Kapitalisme  atau Hartawan,    ialah:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;            I.       Hak-Milik. Pada Zaman-Hartawan, seperti juga pada Zaman-Bangsawan maka perkakas mengadakan hasil itu berpisah dari orang yang mengadakan hasil, yakni Kaum-Buruh. Sebab perkakas itu bukan kepunyaan Kaum-Buruh, melainkan satu atau dua orang Hartawan, maka hasil yang diadakan oleh Kaum-Buruh tidaklah kepunyaan Kaum-Buruh sendiri, melainkan kepunyaan yang memiliki perkakas, seperti: tanah, pabrik, kereta, kapal dan lain-lainnya. Kaum Hartawan tak bekerja, tetapi ia memiliki hasil. Kaum Buruh membanting tulang, tetapi tak memiliki hasil yang diadakannya sendiri. Sebabnya, maka dunia sampai terbalik begitu, ialah karena hak-Milik, yang pada semua negeri Bangsawan diaku sah oleh Wet (Bahasa Belanda untuk hukum - catatan editor) dan agama, sekarang dalam Zaman-Hartawan menjadi racun. Dengan alasan hak Milik itu, modal kecil menjadi besar, perusahaan kecil terpukul oleh yang besar dan tani kecil terpukul oleh tani besar, sehingga tukang-tukang kecil dan tani­tani tidak lagi berpunya apa-apa. Kaum yang tidak berpunya ini, terpaksa menjual tenaganya pada Kaum Hartawan dengan harga seberapanya saja, asal bisa menolak bahaya lapar dan mati. Jadi sebab hak Milik tadi pergaulan hidup terbagi dua: l. Kaum Hartawan Sang tersedikit orangnya, tetapi memiliki Perkakas dan Hasil, dan 2. Kaum Buruh, yang terbanyak orangnya, yang sungguhpun mengadakan hasil tak memiliki hasil itu, karena ia orang upahan saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;        II.       Anarkisme. Sungguhpun dalam satu pabrik ada teratur banyak dan caranya mengadakan basil, tetapi satu pabrik berpukul-pukulan dengan yang lain. Kalau satu negeri mempunyai misalnya 100 pabrik kain, maka tiap-tiap pabrik ada mengatur dan menentukan banyak hasil yang mau diadakan, buat masing-masingnya, tetapi yang 100 pabrik tadi tidak mengatur banyak hasil buat seluruh negeri, melainkan masing-masing mengadakan hasil buat memukul yang lain. Makin banyak hasil dapat makin murah harganya barang, sehingga lawannya terpukul dan jatuh. Kalau hasil tiba-tiba menjadi terlampau banyak, harga terlampau murah, dan pabrik tertutup, seperti teh, getah dan minyak di Indonesia baru-baru ini. Walaupun Rakyat perlu memakai hasil itu, tetapi yang punya tidak akan membagikan pada Rakyat, malah lebih suka membuang hasil itu, seperti Kapitalis-Gandum di Amerika pada tahun 1922. Jadi hasil yang diadakan oleh 100 pabrik tadi bukanlah buat negeri dan penduduknya, melainkan buat perniagaan dan pukul-memukul dalam perniagaan. Demikianlah Kaum Hartawan mengadakan hasil tidak rasional, yakni menurut keperluan orang banyak, melainkan anarkistis, yakni sesukanya saja, buat mencari untung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;     III.       Mesin. Buat pukul-memukul dalam perniagaan atau concurrensi, Kaum Hartawan memakai mesin baru. Dengan jalan begitu hasil dengan cepat menjadi berlipat ganda, sehingga harganya barang itu bisa murah sekali. Tuan pabrik yang masih memakai mesin tua, tidak bisa menghasilkan begitu banyak dan begitu cepat. Harga barangnya tinggal mahal, dan akhirnya ia jatuh. Tetapi mesin baru tadi mengurangkan tangan yang mengangkatnya, karena mesin itu bisa dijalankan dengan uap atau listrik saja. Berhubung dengan memakai mesin baru, beribu-ribu buruh dilepas, karena melimpah. Tiap-tiap negeri di Zaman Hartawan penuh dengan limpahan Buruh, yakni buruh yang dilemparkan dan tidak bisa dapat kerja. Limpahan Buruh ini, selalu bertambah-tambah, karena mesin baru tiba-tiba menaikkan hasil, dan tiba-tiba naiknya hasil tiba-tiba pula mendatangkan krisis yakni jatuh harga barang. Kalau krisis datang beribu, berjuta buruh dilepas. Ringkasnya Zaman-Hartawan penuh mempunyai perkakas (mesin), dan penuh mempunyai hasil, tetapi sebaliknya berjuta manusia tanpa pekerjaan dan hidup dalam kelaparan. Nyatalah sudah Kaum Hartawan tidak bisa mengurus keperluan Rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;      IV.       Kasta. Pada Zaman-Hartawan satu kongsi perniagaan bisa maju dengan dua jalan: pertama dengan memukul, kedua dengan berkawan. Kalau satu kongsi mempunyai modal yang besar, tentu ia dengan sementara menurunkan harga barangnya, bisa menjatuhkan musuhnya. Tetapi kalau mereka sama-sama kuat, maka ia mencoba berserikat. Dengan perserikatan mereka mudah menaikan harga barang dengan sekehendak hatinya, karena tak ada persaingan lagi. Yang kerugian tentulah Rakyat juga, yang terpaksa membayar. Dengan jalan berserikat itu dua atau tiga maatschappy (perusahaan) menjadi sindikat. Sindikat ini kurang teratur lagi, karena masih banyak kepala yang mengurus, ialah kepala-kepala dari maatschappy (perusahaan) yang berserikat. Supaya urusan lekas, maka kepala yang banyak tadi ditukar jadi satu, sehingga perniagaan bertambah kuat, urusan rapi dan lekas, karena urusan ge-centraliseerd yakni mempunyai satu kepala saja. Inilah namanya trust. Trust ini bisa berserikat lagi dengan trust lain, seperti trust besi dengan trust arang, sehingga harga arang dan besi boleh dibikin sekehendak yang punya trust. Di Jerman umpamanya Stinnes tidak mempunyai satu, melainkan bermacam-macam trust, seperti arang, besi, kertas, kereta, kapal, Banken, kayu, dan sebagainya. Jadi pertama harga grondstof atau barang asli, yang perlu dikerjakan di pabrik bisa rendah sesuka Stinnes saja. Sebaliknya fabriekswaren atau barang pabrik boleh dia naikkan sesuka hatinya, karena pabrik, kereta, kapal dan surat kabar buat advertensi sama sekali jatuh ditangannya. Jadi semua kongsi, maatschappy (perusahaan) dan Sindikat jatuh di bawah combinatie-trust-Stinnes. Semua urusan ekonomi di Jerman hampir tergenggam di tangan satu manusia saja. Juga Bank dari kongsi kecil menjadi Sindikat, Sindikat menjadi trust dan Trust-Combinaties. Jadi semua urusan Bank jatuh di bawah kekuasaan satu manusia pula (Stinnes). Bank pada tiap-tiap negeri memberi pinjaman pada industri. Supaya ia dapat untung tetap, maka ia adakan kontrol pada industri tadi. Akhirnya industri jatuh di bawah kekuasaan Bank. Bank memberi pinjam uang pada negeri, sebab itu menteri pada suatu negeri kemodalan harus cocok dengan Direktur Bank. Begitulah semua menteri di Amerika mesti tunduk pada Bankir Morgan, Jerman pada Stinnes, Prancis pada lauchuer dan sebagainya. Bank pada suatu negeri acap memberi pinjaman uang kepada negeri lain. Supaya bunga terus diterima, Menteri luar harus menjaga keperluan itu, dan kalau perlu haruslah negeri luar itu dijadikan jajahan. Dengan jalan begitu barang jajahan bisa tetap masuk (kopi, gula, kapas, dll.) orang jajahan tetap beli barang pabrik (kain, mesin, dll.) dan bayar hutang. Nyatalah sudah, bahwa kemajuan kapitalisme mengumpulkan kekuasaan pada satu dua orang. Seorang Bankir menguasai industri negeri, pemerintah negeri dan koloni. Kaum modal pada sesuatu negeri semakin hari semakin bertambah kaya dan bertambah sedikit, kaum buruh bertambah banyak dan bertambah miskin. Pertentangan Hartawan dan Buruh bertambah tajam, sehingga puteran kasta yakni revolusi sosial tak bisa dihindarkan. Salah satu Hartawan atau Buruh mesti hancur. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;          V.       Imperialisme. Anarkisme dalam hal mengadakan menyebabkan Kaum-Hartawan dalam sesuatu negeri satu dengan lainnya berpukul-pukulan dan hancur- menghancurkan. Walaupun mereka terhadap kepada negeri lain ada bersatu, tetapi anarkisme tadi juga menyebabkan beberapa negeri di atas dunia ini satu sama lainnya berpukul pukulan dan hancur-menghancurkan pula. Tiadalah satu negeri mengadakan hasil buat keperluan seluruh dunia, melainan buat perniagaan dan persaingan. Satu negeri yang perlu memakai barang jajahan buat pabriknya seperti kapas, getah, dan sebagainya mau sendiri saja memiliki barang asli atau grondstof itu. Ia sendiri saja mau memiliki negeri jajahan itu sebagai pasar barang pabriknya (besi, mesin, kain-kain, kertas dll.) dan ia sendiri saja mau meminjamkan uang pada jajahan itu, supaya ia sendiri saja pula mendapat bunga yang tetap. Berhubung dengan keperluan industri dan perniagaannya, maka ia sendiri pula mau menggenggam politik negeri jajahan itu. Politik imperialisme ini menyebabkan yang satu negeri berdengki-dengkian dan bermusuh-musuhan dengan negeri yang lain Hal ini menaikkan persiapan peperangan pada tiap-tiap negeri imperialisme dan akhirnya mengadakan peperangan dunia. Demikianlah peperangan dunia yang baru ini, yang memakan jiwa 10.000.000 manusia dan beribu juta harta disebabkan oleh pertentangan antara imperialisme Inggris dan Jerman. Sesudah Jerman kalah, maka timbul lagi sekarang pertentangan antara imperialisme yakni Inggris dan Prancis di Eropa dan lebih tajam lagi Jepang dan Amerika di Asia Timur. Nyatalah sudah, bahwa imperialisme tak bisa dibunuh selama kapitalisme dan anarkisme dalam hal mengadakan hasil masih tetap. Sebab itu peperangan dunia pada tiap-tiap waktu masih mengancam kita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kelima penyakit kemodalan yang kita sebutkan diatas ini tiadalah bisa sembuh, karena sudah terbawa oleh diri kemodalan sendiri. Penyakit itu lah yang menyebab­kan Kaum Hartawan bertambah penakut dan bertambah sedikit orangnya dan sebaliknya penyakit itu lah yang menyebabkan Kaum Buruh bertambah miskin, tetapi bertambah rajin kerja (sebab terpaksa) bertambah tertindas, tetapi bertambah revolusioner dan bertambah banyak orangnya. Krisis ekonomi dan politik bertambah dekat, artinya ini cuma revolusi sosial atau putaran-kasta sajalah yang bisa mengobati krisis itu, dan menghindarkan bala yang bisa menimpa seluruh manusia diatas dunia ini:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Kaum Hartawan yang malas dan sedikit itu haruslah turun, serta Kaum Buruh yang terbanyak dan mengadakan hasil itu, harus memiliki hasil itu dan membagikan hasil itu buat kastanya sendiri dan sekalian orang yang kerja. Ringkasnya Kaum Buruh harus merebut kekuasaan ekonomi dan politik dunia". &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Zaman Diktatur Proletar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kaum Agama mengambarkan surga persis seperti kehendak nafsunya sendiri. Begitu juga Kaum Utopis, seperti Thomas More, Saint Simon, Fourier dan Robert Owen menggambarkan masyarakat yang sempurna di dunia ini persis seperti nafsunya masing-masing. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita Kaum Komunis tidak mengambil gambaran Komunisme itu dari nafsu seorang tukang mimpi atau ahli nujum saja. Kita tidak disuruh Karl Marx buat menghapalkan saja sifat-sifat Komunisme dan terus tinggal mendoa saja supaya Surga Dunia itu datang. Melainkan kita mendapat keterangan yang jelas dari Marx, bahwa kemajuan Feodalisme di dunia ini membawa kemajuan Kapitalisme, dan kemajuan Kapitalisme sekarang ini membawa kemajuan Komunisme. Sebagaimana Kaum Bangsawan sudah terpukul oleh Kaum Hartawan, begitu juga kelak Kaum Hartawan akan dikalahkan oleh Buruh. Kalahnya itu bukanlah pula oleh sebab-sebab yang mistik atau gaib­gaib melainkan atas sebab-sebab yang nyata, yang bisa dilihat dan dirasa. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidaklah pula datangnya Komunisme itu tiba-tiba saja, seperti surga akan terkembang sesudah hari kiamat, tetapi berangsur-angsur, yakni seperti Zaman Kemodalan sendiri yang dulu datangnya juga berangsur-angsur. Dimana pertentangan sangat dalam, seperti di Rusia, maka putaran kasta Buruh dengan Hartawan itu akan disertai dengan banjir darah. Dimana pertentangan itu, selalu dikurang-kurangi, karena Kaum hartawan selalu kasih konsesi atau kemunduran, seperti bisa terjadi di Inggris, maka putaran kasta tadi, boleh jadi tidak berapa menuntut jiwa. Tetapi buat seluruh dunia putaran-kasta itu tiada akan terjadi dengan damai, seperti juga putaran kasta Bangsawan dengan Hartawan dulunya tiadalah terjadi dengan damai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tingkat yang mula-mula mesti kita tempuh di atas Zaman-Kemodalan ini ialah Dictaturnya-Proletar. Bukanlah pada satu negeri saja seperti Rusia, tetapi buat di seluruh dunia. Pada tingkat Diktator-Proletar ini, semua Perkakas Hasil, seperti Pabrik Tambang, Tanah, Kereta, Kapal, Gudang-Gudang dll. dimiliki oleh Kaum-Buruh dan diserahkan pada negaranya Kaum Buruh. Semua urusan buat mengadakan hasil, jatuh di bawah pimpinan Kaum-Buruh sendiri, yang di jalankan oleh Wakil-Wakil yang dipilih oleh Kaum Buruh itu tidak lagi ditetapkan buat perniagaan dan mencari untung saja, tetapi terutama buat keperluan Rakyat. Anarkisme dalam hal mengadakan hasil akan hilang dan berganti dengan rasionalisme, yakni mengadakan hasil menurut keperluan Rakyat. Kaum buruh berhenti menjadi orang upahan yang dibayar sebagaimana suka si Kapitalis saja, karena Buruh sekarang sudah memiliki perkakas hasil yang diadakannya sendiri. Sepadan dengan itu Kasta-Buruh, sebagai Kasta upahan atau budak hilang dan berganti dengan Kasta Pekerja yang campur mengurus pekerjaannya dan memiliki hasil yang dikerjakannya. Oleh karena sekarang mengadakan hasil tidak lagi dengan sesukanya seorang Kapitalis buat perniagaan saja, maka hasil tak akan melimpah lagi, sehingga bisa mendatangkan krisis atau mesti menimbulkan politik merebut jajahan buat pasarnya barang limpahan itu. Jadi politik imperialisme akan hilang dan berganti dengan tukar-menukar barang, seperti barang Eropa dengan Afrika atau Asia, satu negeri dengan yang lain. Berhubung dengan hilangnya politik imperialisme, maka akan hilang pula militarisme dan hilang pula peperangan dunia buat merebut jajahan dan pasar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Supaya Kaum Buruh aman dan sentosa memiliki perusahaan dan semua hasilnya perusahaan, maka haruslah ia merebut politik-negeri. Kaum-Hartawan dan budaknya dari Kasta Tengah atau Kaum Sosial-Demokrat haruslah diusir dari pemerintahan negeri. Kalau tidak begitu ia akan memogoki (saboteeren) semua peraturan yang baik buat Kaum-Buruh dan menunggu waktu yang baik, dimana ia bisa memakai laskar, armada, justisi, polisi dan bui buat menindas peraturan ekonomi kaum buruh, seperti yang kita rancangkan diatas. Bersama dengan Pemerintah-negeri, haruslah dengan sekejap Laskar, Armada, Justisi, Polisi dan Didikan dijadikan merah. Artinya itu, semua anggota ini, haruslah jatuh di bawah kekuasaan Kaum-Buruh dan seberapa bisa diisi dengan Kasta Kaum Buruh sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan Pemerintah Merah, Tentara Merah, Polisi Merah, dan Didikan Merah, maka Kaum Buruh bisa menjaga peraturan mengadakan hasil dan haknya atas hasil itu, terhadap kepada musuh baik di dalam atau pun di luar negeri, yang tak putus akan mencoba merebut kembali kekuasaannya yang hilang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apabila sesudah bertahun-tahun Kaum Hartawan sama sekali hancur, seperti dulu juga Kaum Bangsawan sama sekali hancur, maka barulah lambat laum anggota-anggota Ekonomi Merah, Politik Merah, Didikan Merah dan Justisi Merah berhenti menjadi perkakas penginjak Kemodalan dan Kaum Hartawan, dan menjadi perkakas buat mendatangkan Komunisme. Pada Zaman Komunisme, kasta akan hilang, tindasan dan isapan akan hilang, kekayaan, kepintaran, pengetahuan, kesenian, dan literatur akan menjadi miliknya orang bersama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jadi Komunisme itu bukanlah ilmu batin, yang datangnya sesudah habis dibakar kemenyan sepikul, melainkan suatu peraturan buat pergaulan hidup yang sudah terkandung sendiri oleh pergaulan hidup yang sekarang ini. Lekas datangnya itu bergantung sebagian besar dari cakap dan kuatnya Kaum-Buruh Dunia, mendatangkan Diktatur Proletar, yakni memerahkan peraturan ekonomi dan politiknya Kaum Hartawan yang ada sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4.  Taktik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada Zaman-Feodalisme, maka Taktik buat mendatangkan pemerintah baru itu, yakni dengan ramal dan kemenyan. Seorang guru atau Kiyai, tahu membaca dalam buku atau di ujung jarinya, kapan Ratu Adil atau Imam Madhi akan datang. Dengan jimat dan kemenyan, maka Kaum Revolusioner-feodal bisa mengalahkan musuh. Psikologi atau semangat semacam ini lahir dari keadaan cara mengadakan hasil juga. Pada Zaman-Feodalisme itu mengadakan hasil terutama dengan cangkul. Kalau tanahpun subur, si Tani rajin mencangkul, tetapi hujan tak turun-turun tentu padi tak dapat. Apa itu hujan, buat si Tani, yang belum pernah dengar Natuurkunde atau ilmu-alam adalah perkara kasih atau bencinya Tuhan. Dia bergantung kepada Tuhan itu, dan cara mendapatkan hujan tidak lain dari membakar kemenyan. Bukanlah seperti buruh-pabrik, yang sama sekali tak tergantung pada alam, malah memakai alam itu uap dan elektris kapan ia suka dan berapa ia suka. Sebab itu si Tani pasif atau penerima dan si Buruh aktif atau jalan. Sifat itu terbawa-bawa dan juga buat mendatangkan pemerintah baru, tak lain akal buat si Tani melainkan nujjum, jimat dan kemenyan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di antara Kaum-Buruh industri  adalah tiga taktik    yang terutama dimajukan:  Anarkisme, Reformisme    dan Revolusioner.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Taktik Anarkisme lahirnya pada pertengahan Abad yang lalu. Kaum Anarkis, percaya, bahwa kalau tiap-tiap pembesar Kaum-Hartawan di bom, diracun atau ditikam, maka mereka akan takut memerintah. Si Penindas akan hilang, dan Komunisme akan datang sendirinya saja. Jadi mereka tidak memakai tingkat Diktatur Proletar seperti kaum Komunis, dan.tidak memperdulikan organisasi massa-aksi atau aksi ramai-ramai yang teratur. Bahwa semuanya itu mimpi tak perlu dibentangkan disini. Kaum Hartawan dengan polisi, justisi dan tentaranya adalah sangat teratur dan mempunyai disiplin yang sangat keras. Dan kalau satu pembesar terbunuh, maka seribu lagi gantinya. Sebab itu, kalau Kaum-Buruh tak berkelahi teratur dan mempunyai disiplin yang keras ia mesti kalah. Anarkisme belum pernah menang. Cuma pada waktu Bakunin masih ada, disana sini di negeri yang achterlyk atau mundur kapitalismenya seperti di Selatan Jerman, di Balkan ia bisa bikin huru hara. Tetapi di negeri yang sudah maju kapitalismenya pada masa itu (tahun 1850) seperti Inggris, Bakuninisme sama sekali tak bisa dijalankan. Di Rusia sendiri pada tahun 1917 dan sekarang di Jerman Anarkisme sama sekali tak berarti. Sebab kaum anarkis tak mau mengakui aturan dan disiplin itu, maka ia tak bisa membikin perserikatan, malah mudah berpecah-pecahan, dan bertengkar-tengkaran. Sebab ia mengukur kemarahan Rakyat yang tertindas itu kepada yang menindas bukan dengan alasan ekonomi, melainkan dengan kemarahannya personal, maka ia mudah kena provokasi, dan terdorong, sehingga ia terisolasi dari orang banyak, dan akhirnya kalah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Taktik Kaum Sindikalis, yang juga beralaskan Anarckisme yang terutama berpengaruh di sebelah Selatan Eropa dan Amerika Selatan pun tak bisa mencukupi kekuatan buat memerangi kemodalan zaman sekarang. Kaum Syndicalist itu anti-parlemen dan anti-politik. Sebab itu Kaum Syndicalist tak mau mengirim wakil ke parlemennya kaum Hartawan. Sebaliknya ia menyangka, bahwa Serikat Buruh itulah yang tertinggi. Sudahlah tentu dasar anti-politik dan anti-parlemen itu salah sekali. Dengan sikap begitu, Kaum-Buruh tak tahu akan politiknya Kaum-hartawan, sedangkan politik dan ekonomi itu bersanak sudara. Politik tidak lain dari gecon­centreerde ekonomi, artinya itu, politik ialah pusatnya urusan ekonomi. Apabila Kaum-Buruh akan menyia‑nyiakan politik, yakni pusatnya ekonomi kaum Hartawan itu, mereka akan mudah terjerat kaki dan lehernya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Taktik Kaum Sosial Demokrat tak perlu kita uraikan di sini dengan panjang lebar. Mereka itu percaya bahwa Modal dan Tenaga (Arbeid) tak bertentangan. Begitu juga Hartawan dan Buruh bisa sama-sama jalan. Sebab itu Kaum Sosial Demokrat memasuki Parlemennya Kaum Hartawan. Mereka percaya, bahwa kalau kelak dengan jalam damai mereka bisa mengadakan wakil lebih banyak dari Hartawan, maka Hartawan akan kalah suara dan akan mundur saja. Sesudahnya itu perusahaan ekonomi boleh dijatuhkan ke tangan Buruh. Berhubungan dengan itu, maka Kaum Sosial Demokrat anti-revolusioner dan aksinya ialah merebut bangku Parlemen saja. Sepadan dengan keyakinan ini, maka Kaum Sosial Demokrat, dimana-mana sudah menjadi Kaum Penghianat. Pembunuhan jiwa Buruh yang 10.000.000 dalam peperangan besar baru lalu, ialah terjadi dengan bantuan Sosial Demokrat, yang selalu bantu Begrooting Kaum Hartawan dimana-mana. Di sekalian jajahan, Sosial Demokrat membantu politiknya Kaum Imperialist buat menindas bangsa Timur. Di Jerman, Ebert, Noske dan Scheidemann sudah merasakan, bahwa Parlemen itu tak mudah dijadikan anggota Kaum Buruh. Dimana dulu, Sosial Demokrat mendapat Meerderheid atau Suara Kelebihan dalam Ryksdag (Parlemen), sekarang mereka jadi boneka saja, dan pemerintah sama sekali jatuh di tangan Fasis. Oleh karena Sosial Demokrat pada tahun 1918-1923 tidak memerahkan Justisi, Kementerian, Laskar dan Polisi, maka anggota-anggota ini dengan rahasia mengumpulkan kekuatannya di bawah selimutnya Sosial-Demokrat. Oleh karena kaum reaksi Jerman sekarang di bawah Presiden Jendral bisa sembelih semua Sosial Demokrat, yang dulu tuannya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Taktik Merah, atau taktik revolusioner tidak saja di Rusia sudah menjatuhkan kemodalan, dan bisa mempertahankan Soviet sudah lebih dari 8 tahun, tetapi dimana-mana di dunia, Eropa Barat, Amerika, Tiongkok, Jepang, India dan Indonesia sedang membingungkan yang berkuasa. Taktik merah tidak bersarang di jimat atau kemenyan, melainkan berurat pada keadaan hidupnya Rakyat yang tertindas. Kita tidak anti-parlemen seperti Kaum Syndicalist, tetapi tidak pula parlemener seperti si Pengkhianat Sosial Demokrat. Kita masuki Parlemen, buat membuka topengnya Kaum Hartawan dan Sosial Demokrat, tetapi sama sekali tiada mengharapkan hasilnya yang konkrit atau nyata dari aksi di Parlemen itu. Kita tahu, bahwa sebagian besar dari Buruh masih mengikut Sosial Demokrat dan percaya pada Parlementarisme. Sebab itu kita masuki Parlemen itu buat memecahkan dari dalam. Dalam pada itu kita lebih pentingkan mengatur kekuatan Buruh, Tani dan sekalian Rakyat yang tertindas di luar Parlemen. Semuanya aksi dan pertarungannya Buruh, Tani dan penduduk kota, baik ekonomi ataupun politik mesti kita campuri. Bukan buat menipu mereka dan memperdamaikan dengan Hartawan seperti laku Sosial Demokrat, melainkan buat membantu mendorong, dan kalau bisa menghancurkan Hartawan dan budak­budaknya. Menurut kekuatan kita dan Rakyat yang percaya pada kita, maka kalau bisa semua aksi ekonomi kita besarkan jadi mogok umum, kalau perlu ditambah dengan boikot dan demonstrasi. Dari mogok umum, boikot dan demonstrasi yang dilakukan di seluruh negeri itulah bisa lahir pemberontakan buat merebut politik negeri dan mendirikan Diktatornya Proletar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5.  Rusia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seperti Pemberontakan Hartawan kepada Bangsawan di buka oleh Hartawan Prancis pada tahun 1789, begitulah Pemberontakan Buruh kepada Hartawan dimulai oleh Buruh Rusia kepada Hartawan disana. Seperti Revolusi 1789 di Perancis didahului oleh revolusi kecil di Inggris pada tahun 1650 (Cromwell), begitu pula diktatur proletar di Rusia tidak sama sekali baru, karena sudah didahului oleh Komune Paris pada tahun 1870, pada percobaan 1870 Karl Marx, dan Lenin banyak mendapat pelajaran buat menyempurnakan diktaturnya Proletar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada Revolusi Prancis kita bisa mempelajari, bahwa kemenangan Kaum Hartawan yang masih revolusioner itu turun naik. Republik-Hartawan yang didirikan pada tahun 1789 cuma bisa berdiri 5 tahun saja. Kemudian datang Napoleon yang akhirnya jadi Kaisar dan sesudahnya Napoleon jatuh maka berturut turut Raja keturunan Lodewyk XVI, (yang dipancung kepalanya oleh kaum pada revolusioner) bisa kembali memerintah. Barulah pada tahun 1849, maka Republik Hartawan bisa kembali lagi, yang walaupun sementara disambung oleh Napoleon III, sampai sekarang bisa terus berdiri. Jadi tidak kurang dari 60 tahun Prancis berkelahi dengan kalah menang buat demokrasi dan Parlemenarisme cara kemodalan. Dalam waktu Prancis berjuang dengan Bangsawan itu, maka berturut-turut negeri menjatuhkan Raja dan Bangsawannya seperti Belanda dan dimana-mana kekuasaan Bangsawan dan Raja di potong-potong seperti Jerman, Italia, Spanyol, dll. Ringkasnya berpuluh tahun Hartawan di seluruh dunia mesti berperang dengan kalah dan menang baru bisa menghancurkan Raja dan Bangsawannya sama sekali. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ini pengajaran yang dalam artinya buat kita. Dunia Hartawan yang berpuluh-puluh kali lebih kukuh dari dunia Bangsawan tentulah takkan bisa kita hancurkan dalam satu hari. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita tahu, bahwa reaksi di seluruh dunia sekarang bertambah hebat. Karena kaum Sosial Demokrat pada tahun 1917-1923 berkhianat, maka Revolusi Rusia tak diikuti oleh negeri lain-lain. Kaum Reaksi di belakang baju Sosial Demokrat, yang dikemukakan di Jerman buat melindungi Kaum Hartawan bisa bernapas kembali dan mengumpulkan semua senjatanya, yang pada tahun 1918-1923 hampir sama sekali hilang dari tangannya. Sekarang di Jerman Kaum Reaksi sudah mengancam dengan pemerintah Fasis, yakni diktaturnya Kaum Hartawan. Kaum Hartawan tidak akan memakai Parlemen lagi melainkan tangan besi, seperti Mussolini di Italia. Hartawan akan lemparkan demokrasi, dan atur ekonomi dengan memaksa kaum buruh kerja, dengan gaji sedikit, dan waktu yang lama, dan menghancurkan semua pergerakan revolusioner, dengan jalan kasar. Begitu juga di Prancis, dimana ekonomi kusut, Fasis sudah siap. Di Inggris, dimana pada 2 atau 3 bulan lagi disangka akan datang frisis sekarang Fasis sudah mengasah-asah pedang kiri kanan dan mengumpulkan uang dan senjata. Di Amerika, dimana Kaum Komunis mulai maju, Klu Klux Klan, sudah jadi Fasis, dan selalu sedia akan menghancurkan pergerakan merah. Tentulah Fasis dapat sokongan dari Kaum Hartawan baik lahir ataupun batin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi makin gelap jalan di muka, makin terang buat kita suluh yang di belakang. Sejarah menyaksikan kita, bahwa pertandingan kasta itu, bukanlah permainan, melainkan suatu kemestian pergaulan hidup dan suatu kewajiban sebagai manusia. Kalau musuh kita mengasah-asah pedang, maka jawab kita lain tidak hanyalah menegapkan barisan dan mempertajam senjata lahir dan batin. Pekerjaan yang sudah dimulai oleh Rusia dengan korban beribu-ribu jiwa, tiadalah boleh kita khianati dengan kelembekan atau dengan meninggalkan dasar yang sudah kita peluk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun di kiri kanan ada reaksi, kita mesti terus menyusun tentara yang ada di negeri kita. Kalau kawan kita pada waktu yang di muka ini, baik di Rusia ataupun Eropa Barat dan Amerika dapat serangan, maka kita harus tidak mundur malah merebut kemenangan pada barisan yang kita duduki, yakni: di muka Rakyat Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt; &lt;/h3&gt; &lt;h3&gt;II. KEADAAN INDONESIA&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Ekonomi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Adapun sifat kapitalisme di jajahan, seperti Indonesia dan Asia lain, adalah berlainan sekali dengan kapitalisme di Belanda dan Eropa lain. Disana lahir dan majunya kapitalisme itu terbawa oleh keperluan negeri sendiri, sedangkan di sini lahir dan majunya kemodalan itu terbawa oleh keperluan bangsa asing. Sebab itu di Eropa majunya kapitalisme itu dengan jalan menurut alam atau Organisch, sedangkan di Indonesia kunstamatig atau bikinan. Berpadan dengan hal itu, Kapitalisme di Eropa ada sehat dan sempurna, sedangkan yang di Indonesia verkracht atau terperkosa, seolah-olah sepokok kayu yang kena kelindungan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kapitalisme di Eropa membagi negeri atas kota dan desa. Di kota terdapat perusahaan atau industri dari kain, besi, batu, kertas dll. Sedangkan di desa terdapat gandum, sayur, sapi, domba dan hasil buat lain-lain makanan. Jadi dipukul rata kota memperusahakan barang pabrik dan desa mengadakan hasil tanah dan ternak. Bagian pekerjaan di kota dengan desa itu bertambah terang sekali pada negeri yang sangat maju permodalannya&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentulah hasil pabrik di kota itu, gunanya, terutama buat penduduk kota sendiri. Sisanya itu ditukarkan dengan makanan yang dihasilkan oleh desa. Begitulah kain, pisau, perkakas rumah, baja, dll yang dibikin di kota ditukar dengan gandum, sayur, daging, dll yang dihasilkan di desa, yakni dengan sisa yang dimakan oleh penduduk desa. Pada negeri kemodalan yang belum terang imperialistis, dan sehat ekonominya seperti Amerika sebelum perang 1914-1918, maka jumlah harga sisa barang kota itu hampir sama dengan harga sisa hasil tanah di desa. Begitulah asal majunya kemodalan dan perusahaan, yakni dari pertukaran barang pabrik di kota-kota dan hasil tanah di desa-desa. Makin maju perusahaan di kota, makin banyak penduduk desa lari ke kota mencari pekerjaan, kepandaian atau kepalsiran, karena di kota terkumpul, pabrik, sekolah, bioskop, rumah komedi, dll.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di Indonesia juga akan bisa begitu, kalau Belanda tak datang dan membunuh perusahaan kecil-kecil, buat membikin kapal, kain, barang-barang besi, seperti sudah ada di Tuban, Gresik, dll. Perusahaan kecil-kecil itu juga akan jadi besar, memakai uap dan listrik seperti di Eropa dan Amerika. Kota-kota Indonesia juga akan menarik penduduk desa dengan lekas dan bertambah hari bertambah maju penduduk, pabrik dan kaum buruhnya. Juga di kota Indonesia akan diadakan kain, bajak buat desa, dan desa-desa terutama hasilnya buat penduduk kota-kota Indonesia sendiri.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Tetapi sebab Belanda dengan hukum melarang membuat kapal dan membunuh perusahaan anak negeri dengan memasukkan barang pabrik yang murah harganya, maka kota dan desa kita jadi lain sifatnya dari kota di Eropa. Kota kita tidak ada yang menghasilkan, kain, bajak dan perkakas lain buat desa-desa, karena semua barang, ini dimonopoli atau diborong oleh Belanda. Desa kita tidak buat mengadakan hasil untuk penduduk kota, melainkan terutama buat tebu, teh, kopi, getah d. s. g. bukan buat keperluan negeri dan Bumiputera, melainkan buat untung si Pengisap yang tidur di Belanda. Sebab itu desa dan kota kita satu dengan lainnya tidak bergandengan dan tali bertali seperti pada suatu negeri yang sehat ekonominya, melainkan keduanya buat pengisi perut besar si Lintah Darat yang tidur di Belanda itu saja. Berhubung dengan hal ini, maka majunya kapitalisme di negeri kita jadi kunstmatig atau tak sehat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab perusahaan di negeri kita tidak buat keperluan anak bumi putera sendiri, maka barang yang perlu buat hidup kita, harus dibeli dari negeri lain dengan harga sesukanya orang lain itu saja. Dan oleh karena tanah di Jawa terdesak oleh kebun-kebun besar, maka beras, yakni nyawa kita, mesti datang dari negeri lain. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah pada tahun 1922 Rakyat membeli barang kain yang masuk ada kira-kira F. 182.531.000. Di jajahan lain seperti India, Tiongkok dan Filipina barang pakaian sudah bisa dibikin dinegeri sendiri. Jadi disana uang Rakyat bayaran kain itu tinggal di negeri sendiri, sedangkan di Indonesia terbang kesakunya Lintah Darat Belanda. Harga beras masuk, walaupun beras Jawa nomor 1 kualitasnya di dunia dan bangsa Jawa memang pintar bertani pada tahun 1922 juga ada F. 74.947.000. Karena di Jawa hampir tak ada kapital dan saudagar anak negeri, seperti di jajahan maka untung perniagaan beras ini tidak satu peser jatuh di tangan anak negeri. Demikianlah untung perniagaan berhubung dengan import (barang masuk) yang pada tahun 1922 banyaknya ada F 696.300.000 itu hampir semuanya mengalir ke saku Lintah Darat Bangsa Asing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sudahlah terang, bahwa total export (harga barang keluar) yang pada tahun 1922 ada F.1.142.400.000 sama sekali dimakan oleh Lintah Darat Belanda yang memonopoli sekalian perusahaan besar-besar di Indonesia ini. Sedangkan di jajahan lain untung dari import dan export itu ada sebagian jatuh di tangan anak negeri, maka di Indonesia yang sangat subur dan kaya ini, semuanya keuntungan perniagaan dan hasilnya perusahaan dan tanah sama sekali terbang ke perutnya Lintah Darat yang tidur, palsir atau mondar-mandir di Belanda. Sisanya yang terlempar kepada bumiputera, gunanya sekedar buat hidup sebentar, seperti kuda atau kerbau, yang dipakai penarik kereta, juga mesti diberi makan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab kapitalisme Indonesia gunanya buat memenuhi keperluan bangsa asing, yang jauh tinggalnya itu, maka keadaan dan majunya kapitalisme Indonesia juga semata-mata menurut keperluan bangsa asing yang tinggal di negeri asing itu. Kromo mesti menyewakan tanah buat gula, getah dan teh dan jadi kuli Belanda mau dapat untung. Rakyat Indonesia tak bisa dapat pabrik kain, pabrik mesin dan kapal, sebab Belanda takut Twente dan perusahaan kain sana akan jatuh, dan juga saudagar-saudagar Belanda, pabrik kapal dan perusahaan-perusahaan kapal yang mengangkut barang import dan export dari Indonesia ke Belanda akan turut jatuh. Sebab itu Indonesia mesti tinggal jadi landbow-land atau negeri-pertanian tidak negeri perusahaan atau industri-land. Penduduknya mesti tinggal mundur (pasif) dan mudah ditindas. Tiadalah seperti pada negeri industri, yang mempunyai buruh yang lebih maju dan lebih aktif dan tak gampang ditindas. Selama Indonesia tinggal jadi jajahan, maka ia tak akan bisa memajukan ekonomi dan perusahaannya sebagaimana yang baik buat dirinya senriri, karena ia terpaut oleh Lintah Darat Belanda, yang tak memperdulikan nasib Rakyat Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Sosial &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di negeri-negeri yang sangat maju kemodalannya, seperti Jerman dan Amerika maka Kaum Buruh itu jumlahnya ada kurang lebih 3/4 bagian dari seluruh penduduk negeri. Artinya itu ada 3/4 atau 75% dari penduduk yang tak berpunya apa-apa lain dari tenaganya dan tergantung hidupnya semata-mata dari modal besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepanjang ada bahwa perhitungan tahun 1905, maka di Jawa saja ada kira-kira 40% dari bumiputera yang proletar atau tak berpunya apa-apa. Kalau kita taksir sekarang, berhubung dengan bertambah majunya industri, angka itu sudah jadi 50%, maka dari penduduk tanah Jawa yang 36 juta itu ada 18 juta yang hidupnya tergantung dari perusahaan besar dan kecil. Tetapi di Sumatra, Borneo, Celebes, Daerah Ternate dan sebagainya yang jumlah jiwa kira-kira 18 juta itu masih sedikit kaum proletar. Hampir semua penduduk mempunyai tanah, modal kecil, perusahaan kecil atau perahu penangkap ikan. Kita pikir kita akan tak berapa salah menaksir (karena statistik yang sah belum ada ), bahwa kaum proletar di seluruh Indonesia pada masa ini ada kira-kira 18 juta, yakni kira-kira 34% dari penduduk yang 54 juta itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi di antara yang tak berpunya, Buruh Industri masih sangat sedikit. Di Jerman umpamanya, yang jumlah isi negeri hampir sama dengan Indonesia, yakni 60 juta ada kira-kira 2 juta buruh-pelikan (buruh pertambangan), sedangkan di Indonesia tak lebih dari 100.000, yakni seperdua puluhnya. Buruh kereta juga kira-kira 2 juta, sedangkan di Indonesia tak lebih dari 80,000, jadi kurang dari seperduapuluhnya di Jerman. Berjuta-juta buruh industri model baru, seperti pada pabrik membuat kereta, mesin, kapal, kain dll.  yang ada di Jerman, sama sekali tak ada di Indonesia. Jadi perkara banyaknya buruh industri, maka Indonesia, jauh kalahnya oleh Jerman, Inggris dan Amerika, juga kalah oleh Jepang dan India, dimana juga sudah terdapat buruh industri model baru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di Eropa, Amerika dan Jepang yang memiliki Pabrik, Tambang, Kereta, Kapal, Bank dll itu ialah bumiputera juga, Di Jajahan seperti India, Filipina dan Mesir sudah banyak bumiputera sendiri yang mernpunyai industri model baru, pertanian dan perniagaan model baru. Tetapi di Indonesia modal besar bumiputera bolehlah dikatakan tak ada. Betul di Jawa, lebih-lebih Sumatera di antara bumiputera ada yang mempunyai modal F.100.000 kebawah, tetapi ini masih kecil, dan urusan perniagaan atau perusahaan yang mempunya F.50.000.000, yang memiliki tambang, pabrik dan Bank seperti di Tiongkok, India atau Jepang, jadi kasta Hartawan bumiputera, memang di Indonesia tak ada. Sebabnya ialah karena dulunya Belanda dengan sengaja membunuh timbulnya modal anak negeri. Di Indonesia kasta-kasta itu terutama kasta-tani, kasta-buruh dan kasta tengah (ambtenar, saudagar, tani besar, kaum terpelajar d.s.g.) Di antara kasta-kasta ini, kasta inilah yang terbanyak dan kasta buruhlah yang terkuat dan makin hari makin kuat, karena kaum buruhlah yang geconcentreerd atau terkumpul dan ialah yang menjalankan industri, yakni nyawanya ekonomi, dan kasta buruhlah yang akan termaju pikiran dan wataknya dalam pergerakan ekonomi dan politik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan angka-angka saja belum bisa kita dengan sempurna memperbandingkan majunya buruh Indonesia dengan Eropa. Majunya itu terutama pula tergantung pada kualitas atau tingginya industri yang ada. Kita sudah terangkan di atas, bahwa Indonesia bukanlah industri-land melainkan terutama landbow-land, walaupun landbow atau pertanian di Indonesia dijalankan dengan perkakas yang model baru sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubung dengan itu, maka buruh Indonesia terutama bukanlah buruh industri malah buruh tani (gula, teh, getah dan sebagaianya). Yang buruh industri betul (minyak tanah, kereta, kapal) masih sedikit sekali. Perbedaan buruh pertanian Indonesia dengan buruh perusahaan di Eropa itu membawa perbedaan lahir batin pula. Proletar Indonesia masih muda, dan masih ada pertaliannya dengan familinya di desa-desa, dan acap kali masih mempunyai tanah di desa-desa. sedangkan proletar-industri Eropa sudah sampai ke nenek moyangnya terikat oleh pabriknya. Proletar kita masih mundur dalam pekerjaan teknik, masih percaya sama tahayul dan masih pasif. Proletar industri Barat sigap dan disiplin dalam pekerjaan, tak terikat oleh tahayul lagi, serta bersikap aktif dalam pikiran dan pekerjaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah pula kaum-tengah Eropa bersifat lain dari kaum tengah Indonesia. Di Indonesia sendiripun, berbeda pula satu kasta dengan kasta yang lain dan berbeda pula satu kasta pada satu pulau dengan kasta itu juga pada pulau lain di Indonesia. Seorang tani di Jawa umpamanya, yang selalu campur dengan pabrik gula, yang acap naik kereta tentulah berlainan sekali pikiran dan wataknya dengan seorang tani pemotong sagu di daerah Ternate, yang belum pernah seumur hidupnya melihat asap pabrik atau mendengar peluit kereta express. Ringkasnya perbedaan kemajuan industri pada satu negeri dengan negeri lain membawa perbedaan kualitas, yakni pikiran dan wataknya kasta-kasta di negeri negeri itu, seperti Buruh Eropa dengan Buruh Indonesia, Tani Jawa dengan Tani di daerah Ternate.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Krisis-Ekonomi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun Indonesia sangat kaya, dan pertanian serta perusahaan dijalankan dengan cara model baru sekali, tetapi bumiputera selalu dalam kemiskinan dan urusan uang (staatsfinancien) sudah lama selalu dalam krisis. Walaupun pada waktu perang yang baru lalu, modal-besar mendapat untung berlipat ganda dari waktu normal atau biasa, tetapi sebab harga barang naik dan gaji tinggal sedikit, maka kemelaratan Rakyat malah bertambah dari yang sudah-sudah. Pada penghabisan perang, urusan uang kalang kabut, sehingga hampir mendatangkan bangkrutnya negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab yang dalam, yang mendatangkan kesengsaraan dan krisis itu, walaupun kapital-besar mendapat untung berlipat ganda, terutama sekali, karena untung itu baik langsung atau tak-langsung semuanya mengalir ke Eropa. Langsung karena tiap-tiap tahun berjuta-juta uang dikirim ke Eropa, buat membauar bunga modal (dividenten) yang masuk di industri, kereta, pelikan dan kapal tak langsung, yakni dengan jalan perniagaan (export dan import), yang sama sekali dimiliki oleh bangsa asing juga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun Pemerintah Indonesia sekarang (ambtenar, serdadu, Justisi, armada, polisi d.s.g.) gunanya bermata-mata buat membantu dan membesarkan modal asing serta sebaliknya penindas dart, pengisap bumiputera buat modal besar itu, tetapi uang buat pengisi perutnya Pemerintah itu, yakni pajak, tiadalah dibayar oleh Kaum-Modal Belanda sendiri, melainkan oleh bumiputera juga. Jadi Rakyat Indonesia tidak saja membiarkan harta, tenaga dan kemerdekaannya dirampok oleh Kaum Modal Belanda, tetapi mesti membayar gaji hambanya kaum modal itu, yaitu Gubernur-jendral, Resident, Regent, Wedono, Commissaris van Politie, Jendral, Major dan beribu-ribu hamba yang lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab Modal-Belanda tak mau membayar gaji hambanya itu dari kantongnya sendiri, dan buat penambah Modal-Besar di Indonesia, maka Pemerintah Belanda terpaksa meminjam uang ke lain negeri. Sampai tahun 1923, maka banyaknya uang pinjaman itu sampai F. 1476.662.000. Dengan bunga 5%, maka saban-saban tahun mesti dibayar bunga kepada negeri lain F.6.471.641. Bunga itu tentulah tiada dibayar dari gaji Guberner-Jendral atau untungnya Colijn, melainkan dengan pendapatan Rakyat juga. (Semua angka-angka ini kita petik dari Handbook of the Netherlands East-Indie, yang dikeluarkan oleh pemerintah sendiri)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Uang masuk atau inkomsten, yakni terutama buat gaji hambanya pemerintah pada tahun 1921 ada F.769.700.000 tetapi uang keluar atau uitgaven, yakni yang dimakan oleh hamba-hamba tadi ada F.1.055.200.000. Jadi dapat kekurangan F.285.500.000. Kekurangan itu tinggal terus menerus, tiap-tiap tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Buat  pengobat krisis ini, maka Kaum-Modal Belanda    memilih  hambanya Guberner-Jendral  Fock.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab Fock ini dulunya ia mengaku liberal, maka buat penutup malunya sebagai liberal ia mula-mula pura-pura mau menolong Rakyat Indonesia. Ia berjanji mau memaksa Modal-Gula memperbaiki nasib buruh dan tani gula dengan ongkos Modal Gula sendiri. Lagi pula ia mau memaksa Modal Besar menolong Rakyat membayar pajak yang besar itu, supaya kekurangan pajak tadi bisa tertutup dan rakyat dapat kelonggaran&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi sesudah Modal Gula menyepak kembali, maka tuan Fock diam saja. Dan apabila Colijn, yakni Raja Minyak menjawab "Tutup mulutmu, kalau tidak kamu saja boikot, dan pabrik minyak kami tutup", maka tuan Fock yang liberal tadi lebih suka memihak kepada gajinya yang beribu-ribu itu, dari pada memihak kepada Rakyat atau kepada paham liberalismenya. Malah ia lebih menjilat ke atas dan lebih menendang ke bawah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keatas: Gaji ambtenaren yang  besar-besar di naikkan, laskar, armada dan polisi  dibesarkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kebawah: Pajak dinaikkan, buruh dilepas dan diturunkan gajinya, uang-keluar buat pendidikan, dan kesehatan Rakyat diturunkan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun Fock sedikit menaikan cukai dari barang masuk dan ke luar tetapi saudagar Belanda yang mempunyai barang-barang itu dengan mudah bisa menaikkan harga barang-barangnya, yang mesti dibayar oleh Rakyat yang membelinya juga (minyak, kain, korek-api d.s.g.)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rumah-Gadai, yang dipunyai oleh pemerintah sendiri menaikan untungnya pula dengan jalan menaikan isapan (Renten) pada Rakyat yang miskin juga. Sekarang ini menurut keterangan buku-buku, Rakyat Indonesialah yang tertinggi sekali membayar pajak di dunia ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di negeri-negeri lain di Timur seperti India, Filipina dan Tiongkok, bumiputera sendiri ada mempunyai perusahaan, pertanian dan perniagaan besar, sehingga untungnya juga tinggal dalam negeri sendiri, dan sebagian dari untung itu dipakai buat membayar pajak negeri. Tetapi di Indonesia pikulan uang sama sekali tertimpa pada Rakyat-Melarat, yang makin tahun bertambah miskin, karena semuanya untung mengalir ke sakunya Lintah Darat yang tidur di Den Haag atau Zorgvliet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Makin besar Pemerintah-Indonesia meminjam uang kepada bangsa lain seperti Amerika dan Inggris, makin berkuasa Modal Asing di Indonesia, makin habis tanah ditelan oleh Modal-Asing itu, makin besar uang yang mengalir ke negeri sebagai bunga dan dividen uang pinjaman itu, dan berhubung dengan itu makin dalam kemelaratan Rakyat dan makin hebat pula krisis ekonomi yang akan datang. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selama semua untung dari modal-besar, baik langsung atau tak langsung sama sekali mengalir ke luar negeri, selamanya itu Krisis ekonomi Indonesia tak bisa diobat. Betul sekarang, Fock hampir bisa mengadakan balans-begrooting atau sama-berat uang masuk dan uang-keluar, tetapi balance itu semata-mata memperberat pikulan Rakyat, dan wujudnya langsung akan memperjauhkan yang memerintah dari yang terperintah dan memperdalam krisis-politik. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Krisis Politik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di Filipina, India dan Mesir, oleh karena adanya Tani-Besar, Kapitalis besar dan Saudagar Besar dari bumiputera sendiri, maka dalam waktu krisis politik, kaum imperialist bisa memadamkan atau mengurangkan krisis politik itu, dengan jalan konsesi, yakni memberikan sebagian dari kekuasaan itu kepada bumiputera. Disana kaum modal asing mempunyai banyak sama keperluan ekonomi dengan modal bumiputera. Kalau pada suatu jajahan, dimana Imperialisme itu masih autokratik (yakni memungut semua kekuasaan) Rakyat bergerak menuntut kemerdekaan, seperti di India pada tahun 1918-1923, maka kaum imperialis memukul pergerakan itu dengan konsesi politik. Imperialisme Inggris memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, dimana Kaum-Modal bumiputera boleh mengirimkan wakilnya. Oleh karena kaum-tengah dan intelektual pada negeri yang ada mempunyai nasional-capital hampir semuanya memihak pada nasional kapitalis itu, maka mereka itulah yang terpilih menjadi anggota dari 1/2 atau 3/4 Parlemen tadi. Oleh karena keperluan Modal-Asing dan Modal Bumiputera banyak bersamaan, maka buat modal asing itu tak besar bahayanya, kalau sebagian dari politik negeri terserah pada wakilnya modal kulit hitam. Oleh karena kaum buruh dalam pertandingan buat keperluannya tak bisa membedakan Modal hitam dan Modal putih, maka Kaum Tengah dan intelektual, yang mempertahankan modal hitam itu terbawa-bawa mempertahankan modal putih seperti C. R. Das pemimpin Partai-Swaray di India. Dengan konsesi politik itulah di India Inggris menarik Kaum intelektual, yakni pemimpin pergerakan Rakyat ke dalam Parlemen dan dengan jalan kompromi itulah ia sering-sering mengundurkan revolusi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut pemandangan kita, atas dasar Marxisme, maka di Indonesia, sebab tidak ada nasional-kapital, Modal Belanda tak bisa memberi konsesi-politik yang berarti. Ia harus sendirinya memerintah atau dengan bumiputera yang memang terang budaknya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kaum cap Budi-Utomo (B.O.), Serikat-Islam (S.I.) dan Nasionale Indische Partij (N.I.P) yang dulu terpikat oleh suara merdunya Van Lim­burg Stirum, sekarang kita harap sudah yakin, bahwa mereka yang mau tinggal jadi Wakil Rakyat Indonesia tak bisa kerja bersama-sama dengan Wakil Modal Belanda di Volksraad, dan Volksraad tak bisa jadi 1/2 Parlemen, seperti di India atau 3/4 Parlemen seperti di Mesir dan Filipina. Volksraad mesti tinggal semata-mata buat Kapital-Asing, dan anti seluruh Rakyat. Tetapi oleh karena Nasionalis atau Islamis dinegeri kita tak sepeser mengerti Marxisme, yakni kea­ daan dan kedudukan kasta-kasta di Indonesia dan ber­hubung dengan itu politiknya kasta, maka mereka tentu masih bingung, tak mengerti apa-apa, apa sebab Dr. Tjipto, Tjokro dan Muis disepakkan, sesudah dipakai oleh Limburg Stirum pada waktu Krisis-politik tahun 1918. Kita kaum Komunis yang memboikot Volksraad pun belum pernah mengadakan pemandangan kekastaan yang jelas dan terang, kenapa Volksraad Indonesia tak bisa menjadi Parlemen, selama Keadaan Sosial d inegeri kita masih tetap seperti sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemandangan kita di negeri jajahan lain, seperti India di atas sudah sebagian memberi keterangan. Di Indonesia tak ada Kasta-Landlords (Tuan Tanah) atau Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya. Kasta saudagar-besar dan Modal-Besar sama sekali tak ada. Sebab itu kaum intelektual, yang di negeri kita baru mulai timbul belum mempunyai kasta bumi­putera tempat mereka berlindung. Sebab itu kaum intelektual kita masih pasif. Karena didikannya di sekolah imperialis, mereka tak mengerti, bahwa kasta mereka mesti mencampurkan diri ke kasta Buruh dan tani, karena kasta-kasta inilah di Indonesia yang bisa merebut kemerdekaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena Kasta Modal Bumiputera di indonesia tak ada atau masih sangat kuno dan lemah serta kasta-intelektualnya pasif, maka kalau Modal Belanda mau memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, haruslah ia memberi hak-politik dan Suara Memilih Wakil kepada Buruh dan Tani. Kepada kasta-kasta kedua inilah ia harus memberi konsesi dan dengan Rakyat melaratlah ia harus membagi kekuasaan politik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ini namanya contradictio determinis, artinya itu membantah diri sendiri. Masakan yang menindas bisa memberi 1/2 atau 3/4 senjata kepada yang tertindas, seperti si Penyamun akan memberikan pistolnya kepada yang disamunnya. Dengan segera yang disamun akan membunuh yang menjamun. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua Hukum dan Kekuasaan yang ada di Indonesia sekarang, ialah buat membantu dan membesarkan Modal Asing dan sebaliknya buat menginjak Rakyat Indonesia. Kalau Rakyat yang sama sekali terinjak itu diberi hak politik, yakni senjata buat mengubah, atau menghapuskan Hukum-Negeri tentulah tak satu Hukum akan tinggal buat mempertahankan Modal Asing itu. Kalau di Indonesia ada kasta Modal Bumiputera yang kuat, Kasta-Terpelajar yang kuat pula, tentulah kasta-terpelajar ini bisa ditipu oleh Modal Asing dengan 1/2 atau 3/4 sampai 7/8 Parlemen. Dengan politik menipu kaum-terpelajar (kaum mana terutama di jajahan sangat dipercayai oleh Rakyat), kaum imperialist. Belanda akan bisa menipu Rakyat yang mengikut kaum-intelektual itu dan meundurkan revolusi. Tetapi di Indonesia sebagian besar dari Rakyat ialah Tani, Buruh dan Saudagar kecil-kecil yang sama sekali tak bersamaan keperluannya dengan Modal Asing, malah sama sekali bertentangan. Sebab itulah Belanda takkan bisa memberi konsesi-politik yang berarti kepada Rakyat kita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertanyaan di negeri kita tidaklah revolusioner atau evolusioner, melainkan bagaimana kita harus mengadakan program-merah, taktik-merah, organisasi-merah, agitasi-merah dan aksi-merah, supaya Rakyat kita dengan lekas dan dengan sedikit kerugian jiwa bisa lekas lepas dari tindasan dan isapan Modal Belanda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sikap Merah kita ini menjadikan cemas dan ketakutannya Kaum Modal Belanda, dan kecemasan serta ketakutannya itu membesarkan, laskar, armada, polisi dan resisir pula. Hal yang terakhir ini seterusnya menaikan pajak pula dan kenaikan pajak mendalamkan dendam kesumat Rakyat Indonesia pada pemerintah asing ini pula. Demikianlah satu bersangkutan dengan yang lain dan hasilnya memperdalamkan krisis ekonomi dan politik juga. Ringkasnya sikap merah kita tidak saja berguna, buat mendidik Rakyat Indonesia dalam politik, tetapi juga memperdalam pertentangan antara si Penghisap dan yang Terisap, sebab itulah mencepatkan datangnya kemerdekaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;III. PROGRAM.&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Diatas kita sudah mencoba menerangkan, bahwa krisis atau pertentangan ekonomi &amp;amp; politik di Indonesia sangat tajam. Pertentangan itu, lebih-lebih, kalau kelak dicampuri oleh hal-hal lain, seperti bahaya kelaparan atau penyakit, pada tiap-tiap waktu bisa melahirkan revolusi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keyakinan ini tiadalah kita peroleh dari satu dalil atau nujum. Juga tidak, dari ilmu kebangsaan cap N.I.P yakni karena yang memerintah berkulit putih dan yang terperintah berkulit hitam, yang memerintah berwatak Barat dan yang terperintah berwatak Timur. Warna, watak atau Agama itu tak perlu mendatangkan revolusi. Kalau umpamanya di Indonesia ada kasta­hartawan bumiputera yang kuat, walaupun kasta ini beragama berkulit putih dan berwatak Timur, tetapi dengan konsesi 1/2 sampai 7/8 Parlemen, revolusi itu tiap-tiap kali bisa dihindarkan. Betul warna, agama dan watak itu bisa menambah tajamnya pertentangan yang sudah ada, tetapi tiada bisa menjadi hoofd-factor atau hal yang terpenting dalam sesuatu pemberontakan. Yang bisa mendatangkan revolusi di Indonesia kita ini sewaktu-waktu ialah karena pada krisis ekonomi dan politik, yang dipertajam oleh perbedaan watak, warna dan agama, tak ada kasta-hartawan bumiputera, yang bisa memperdamaikan yang memerintah dengan yang terperintah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab kita tahu, bahwa kemodalan Belanda besok atau lusa mesti jatuh, maka haruslah kita dari sekarang mengadakan peraturan ekonomi &amp;amp; politik, ialah program yang cocok dengan kastanya partai kita, yakni partai Rakyat melarat, yang tergambar pada P.K.I dan S.R.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Betul sesuatu program revolusioner, yakni kehendak sesuatu golongan atau kasta, tak berarti, kalau tak ada pergerakan revolusioner dari kasta itu sendiri. Tapi betul pula, bahwa sesuatu pergerakan revolusioner yang tidak mempunyai basis teori, atau lantai yang berdiri atas teori akan mati sendirinya saja. Lihatlah Budi Utomo, S.I dan N.I.P. Ketiganya, dulu, mula-mulanya revolusioner. Tetapi tidak satu yang bisa menggambarkan maksudnya dengan terang. Betul juga sebab jatuhnya ketiga partai itu karena tak mempunyai disiplin, tetapi sebab yang terutama sekali ialah mereka tak bisa membuat program yang kukuh&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Juga partai kita, walaupun di sana sini lebih terang melahirkan kehendaknya dari partai yang lain 2 di Indonesia, belum pernah memformulasi atau menetapkan program dengan secukupnya. Apabila kita mau tinggal memegang pimpinan revolusioner atas Rakyat melarat di Indonesia, maka haruslah sekarang kita memaklumatkan kehendak kita, dalam perkara ekonomi, politik, sosial d.s.g.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Adapun program itu tiadalah bisa kita gali dari dalil yang keluar lebih dari 1300 tahun dahulu, seperti pahamnya Haji Agust Salim, karena peraturan negeri pada zaman yang belum mempunyai pabrik, Bank dan kereta api itu berbeda sekali dengan keadaan negeri kita sekarang. Tiadalah pula bisa program itu kita timbulkan dari sentimen atau perasaan kebangsaan saja Kaum N.I.P. Akhirnya tiada pula bisa disalin dari programnya sesuatu partai komunis di Eropa atau Amerika dimana keadaan ekonomi, politik dan sosial berbeda sekali dengan keadaan di Indonesia. Melainkan kita harus memakai geest atau semangatnya Marxisme, buat mendirikan program yang cocok dengan keadaan di negeri kita. Jadi cuma metode atau cara mendirikan program itu saja bisa Marxis atau Komunis tetapi material atau perkakas mendirikan itu ialah Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berpadanan dengan itu, maka watak  program kita    haruslah:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a)    Cocok dengan kekuatan kita. Tuntutan kita tak boleh terlampau jauh, supaya kita jangan lekas dilabrak oleh musuh, baik diluar atau didalam negeri, Sebaliknya pula kita tak boleh mengadakan peraturan ekonomi &amp;amp; politik yang mundur, dimana Rakyat akan tinggal terhisap dan tertindas. Berapa jauhnya tuntutan kita itu, sebagai partai internasional, kita juga mesti memikirkan keadaan internasional. Artinya itu, revolusi dunia, boleh jadi tiada lama lagi akan pecah. Tetapi boleh jadi juga lebih lama dari kita kehendaki sendiri, Kalau revolusi-dunia besok pecah, tentu kita besok pula bisa dapat pertolongan lahir dan batin (perkakas mesin, kepandaian buat industri d.s.g) dari buruh Eropa dan Amerika. Kita dalam hal ini tak akan celaka, kalau segera mendirikan Diktatur-Proletar yang sempurna, yang sepadan dengan keadaan Kapitalisme Indonesia. Tetapi kalau revolusi dunia lama lagi akan pecah, dan kita besok mendirikan Soviet-Republik, maka kita yang terletak di antara imperialisme Inggris, Amerika dan Prancis ini dan terpisah sekali dari kaum Buruh revolusioner di Rusia, Eropa dan Amerika, dengan lebih lekas dan lebih kuat dari pada Rusia akan dikepung dan dilabrak oleh imperialisme itu. Sedangkan Republik biasa saja (demokratis) sudah akan bisa menggojangkan seluruh Asia, apalagi kalau nama Republik itu dimerahkan pula. Tidak bisa dibantah lagi bahwa, walaupun Indonesia terutama landbouw-land, tetapi hidup kita sudah sama dengan industrieel land seperti Eropa. Ekonomi sudah hampir sama sekali bersifat internasional, karena hasil industri dan landbouw kita seperti gula, minyak-tanah, karet, kopi, kina, dll sama sekali tergantung dari perniagaan di luar negeri kita dan pasar-pasar di luar Indonesia. Sebaliknya pula semua keperluan hidup Rakyat Indonesia seperti kain, perkakas dan beras sama sekali datang dari negeri lain. Kalau Inggris atau Amerika besok tak mau mangaku kemerdekaan kita, artinya itu tak mau berniaga dengan kita, maka sehari kita tak bisa mengurus ekonomi. Berhubung dengan itu sebentar kita akan jatuh. Jadi jauhnya program kita haruslah sepadan dengan kekuatan kita yang ada dan cakap menentang musuh lari atau tersembunyi, baik didalam ataupun diluar negeri. Program itu haruslah satu lantai yang kukuh buat berjalan sendiri (kalau revolusi dunia belum datang) atau buat berjalan bersama-sama dengan dunia (kalau revolusi dunia sama datang dengan kemerdekaan Indonesia).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b)    Bisa menaikkan derajatnya Rakyat Indonesia. Kaum-Buruh Indonesia haruslah memiliki perkakas hasil yang besar-besar, seperti pabrik, ondernemingen (bahasa Belanda untuk ventures atau perusahaan - catatan editor), tambang, Kereta, Kapal dan Banken. Mereka haruslah betul-betul berkuasa dalam hal menentukan, membuat dan membagikan (produksi &amp;amp; distribusi) hasil negeri. Mereka haruslah berkuasa betul dalam hal politik negeri. Perhubungan antara tuan dan budak, seperti yang masih ada di Eropa (kecuali Rusia) Amerika dan Jepang, yakni negeri-negeri yang kapitalistis pelan, haruslah dihapuskan. Untung yang berjuta‑juta yang sekarang tiap-tiap tahun mengalir kesaku Lintah Darat Belanda, di Den Haag, haruslah tinggal di Indonesia sendiri. Uang, ini boleh dipakai buat Didikan dan Kesehatan Rakyat, buat membantu Kaum Tani dan saudagar kecil dan Tukang-Tukang dengan jalan Koperasi dan terutama buat mendirikan industri model baru di Indonesia, seperti industri pembuat kapal, kereta, mesin-mesin dan perkakas lain-lain, pabrik kain, kertas dan membangun electrische-centrale (bahasa Belanda untuk pembangkit tenaga listrik - catatan editor) dari sungai-sungai dan danau-danau di Indonesia. Dengan perbutan demikian, maka niscayalah lama lambat seluruh Rakyat Indonesia, Buruh , Tani, Tukang dan Student akan maju derajatnya dalam hal ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan atau peradaban.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;c)     Bisa menarik Indonesia ke zaman industrialisme model baru. Bahwa perusahaan besar-besar, kepunyaan modal asing perlu dan bisa dimiliki kaum-Buruh, itu sudahlah terang. Perlu, karena dengan jalan begitu, hasil boleh diatur dengan rasional, yakni menurut keperluan Rakyat, bukan lagi buat di Lintah Darat di Eropa. Bisa, karena perusahaan besar-besar itu semuanya kepunyaan Modal-Asing, yang memperoleh harta itu dari Rakyat Indonesia juga dan tiadalah ada Kaum-Hartawan bumiputera yang cukup kuat buat melawan politik nasionalisasi Kaum-Buruh. Dengan pertolongan uang pada tukang, saudagar-kecil dan tani di Indonesia, dan dengan memberi pertolongan kepada mereka mendirikan Koperasi Negara, Pemerintah Baru di Indonesia bisa membesarkan dan mengumpulkan perusahaan kecil-kecil yang terpancir-pancir dan bisa membawa semua perusahaan kecil-kecil itu ke bawah pimpinannya. Semua perusahaan kecil, lama lambat akan hilang, sebab terbawa di bawah pengaruh Pemerintah-Baru (Republik-Indonesia), atau kalah bersaing dengan perusahaan Republik yang besar-besar. Kalau daya upaja yang tersebut diatas ditambah lagi dengan daya upaja mendirikan perusahaan yang model baru, maka dengan segera Indonesia, yang begitu mundur sekarang industrinya, sesudah beberapa lama akan menjadi negeri industri model baru di dunia penduduknya akan bertambah maju dalam segala hal dan politiknya juga akan memeluk seluruh alam atau menjadi internasional.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;d)    Bisa Mengadakan kerukunan seluruh Rakyat melarat. Kerukunan itu perlu tidak saja buat merebut kemerdekaan dari imperialisme Belanda, tetapi juga buat mempertahankan kemerdekaan itu keluar negeri (Inggris, Amerika dan Jepang). Walaupun Kaum-Buruh kita terkuat dari kasta-kasta lain di Indonesia, tetapi ia sendirinya saja tentu sukar merebut kemerdekaan buat seluruh Indonesia, seperti juga buat Sumatra, Borneo, Celebes d.s.g, dimana industri dan kaum buruh baru mulai datang. Di Jawa sendiripun buruh industri yang betul-betul masih sedikit. Ringkasnya, walaupun buruh bisa termuka dan bisa memberi pimpinan pada seluruh Rakyat melarat dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi ia mesti mendapat pertolongan dari, tani, saudagar, student, serdadu dan tukang. Haruslah seluruh Rakyat tertindas di Indonesia terikat dalam satu "tentara‑kemerdekaan". Tetapi ikatan itu harus berdasar ekonomi. Tani, atau tukang, tak bisa lama diikat dengan paham kebangsaan cap N.I.P. atau B.0. atau dengan agama cap S.I. saja. Ikatan semacam itu tidak bisa kukuh, karena tak mengandung kekuatan lahir melainkan perasaan saja. Ikatan itu cuma bisa kekal, kalau berdasar ekonomi jani, kalau tani, tukang dan saudagar dalam persahabatan dengan buruh itu betul‑betul mendapat keuntungan lahir dan batin (ekonomi, politik dan sosial). N.I.P. dan B.0. takkan bisa memperbaiki nasib kaum melarat, sebab kalau Indonesia di bawah pimpinan mereka menjadi merdeka, maka perusahaan besar-besar akan jatuh di bawah Angenent, Veynschenk, Raden Mas ini, atau Raden itu. Pun S.I tak akan bisa juga karena sesudah negeri merdeka urusan ekonomi sama sekali akan jatuh di bawah Kyai, Haji atau Sjech, seperti di Mesir Arab, Turki atau India. Tetapi kalau P.K.I. dan S.R. yang merebut kekuasaan, ia bisa menaikan derajat si Kecil karena lebih dulu mereka menghapuskan hak-Milik pada perusahaan besar-besar dan menghapuskan kasta Hartawan. Sebab kasta-buruh di Indonesia bukan Kasta-Penghisap, maka ia kelak bisa mengadakan perserikatan yang kukuh dengan segala golongan yang terhisap dan tertindas oleh imperialisme sekarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e)    Bisa membangunkan semangat revolusioner seluruh Rakyat Indonesia, dengan kekal. Betul perasaan kebangsaan dan Agama bisa menbangunkan kebencian kepada Penindas dan mendatangkan kerukunan pada Rakyat, tetapi kebencian dan kerukunan semacam, sangat negatif dan sementara. Sebentar menjadi dingin, seperti pepatah Minangkabau: Panas-panas tahi ayam. Tetapi satu Program yang mempunyai lantai teori yang kokoh dan mudah dimengertikan pada Rakyat, bisa mendatangkan keyakinan yang tetap, karena keyakinan semacam ini berhubung betul dengan hidup dan pikirannya hari-hari, dan bisa memberi jawab pada soal-soal ekonomi, politik dan sosial. Dari keyakinan semacam itulah saja bisa timbul kemauan yang keras buat mempraktikkan cita-cita yang terpeluk oleh Program itu. Sebab itu Program yang kukuh itulah saja yang bisa membangunkan dan menetapkan semangat revolusioner dari seluruh Rakyat Indonesia sampai maksudnya sampai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;III. PROGRAM &lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Program Nasional  P.K.I &amp;amp; S.R.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;A. Ekonomis&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Nasionalisasi atau memindahkan Pabrik dan Tambang (seperti pabrik gula, kina, kelapa, semen dan tambang arang, emas, timah d.s.g.) ke tangan Pemerintah Rakyat Indonesia. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.     Nasionalisasi Tanah dan Kebon, seperti Gula,    Getah, Tebu, Kopi, Kina, Kelapa,  Indigo d.s.g.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.     Nasionalisasi Transportasi dan Komunikasi    (Kereta, Kapal, Telegraf dan  Telepon).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.    Nasionalisasi Bank, Perusahaan dan    lain-lain  Anggota-Perniagaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5.    Electrificatie perusahaan, dan mendirikan industri model baru dengan pertolongan Negara, seperti buat pakaian, kereta, kapal, mesin d.s.g.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.    Mendirikan Koperasi-Rakyat dengan pertolongan Negara. Memberi perkakas dan pertolongan pada Kaum Tani, buat memperbaiki pertanian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;7.     Emigrasi atau memindahkan sebagian penduduk    Jawa dengan ongkos Negara, ke  pulau-pulau di luar    Pulau  jawa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;8.    Membagikan Tanah-Tanah kosong pada    proletar-tani, dan memberi  pertolongan pada Tani itu    buat mengerjakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;9.    Menghapuskan sisanya feudalisme (Yogya, Solo d.s. g) dan Tanah Partikulier, serta membagikan tanah-tanah ini pada Tani-Tani Miskin dan Proletar Tani.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;B. Politik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Kemerdekaan Indonesia yang sempurna  (absolut) pada    saat  ini juga.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Mendirikan  Federasi-Republik dari kepulauan    Indonesia.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Memanggil  Rakyat-Rakyat Indonesia yang mewakili    seluruh Golongan dan Rakyat  Indonesia pada saat ini    juga.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Memberi hak-Memilih yang sempurna  pada Rakyat    Indonesia (lelaki &amp;amp; perempuan)  pada waktu ini    juga.     &lt;/p&gt; &lt;p&gt;C. Sosial.     &lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Gaji minimum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Kerja 7 jam dan  memperbaiki nasib    kerja  dan hidupnya Kaum Buruh.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Perlindungan  Kerja (Arbeidsbescherming) Kaum    Buruh  dengan mengakui hak buat mogok.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.  Mendapat sebagian Untung dari  Perusahaan yang    besar-besar. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Mendirikan Rapat-Buruh  (Arbeidersiaden) pada    perusahaan besar-besar.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. Menceraikan Negara dengan Agama,  dengan mengakui    Kemerdekaan Agama seluas-luasnya.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;7. Memberi hak-hak ekonomi, politik dan Sosial pada    semua penduduk Indonesia lelaki  dan perempuan.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;8. Nasionalisasi Gedung besar-besar,  mendirikan rumah-rumah baru, dan membagikan tempat  tinggal buat    Buruh-Negara.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;9. Membunuh penyakit menular dengan  sekuat-kuatnya.      &lt;/p&gt; &lt;p&gt;D.  Didikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Didikan dengan diwajibkan dan ongkosnya Negara buat semua penduduk Indonesia sampai berumur 17 tahun, didikan mana memakai bahasa Melayu sebagai bahasa utama dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terpenting. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Menghapuskan  peraturan dan asas Didikan sekarang dan mendirikan peraturan dan asas baru, yang praktis, yang langsung berhubung dengan industri yang ada dan yang akan didirikan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Memperbanyak dan memperbaiki sekolah Pertanian Pertukangan dan Perniagaan dan menambah serta memperbaiki sekolah tinggi buat Personel Teknik dan Administrasi yang tinggi.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;E. Militer      &lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Menghapuskan Laskar yang imperialistis sekarang dan mendirikan Laskar Rakyat buat mempertahankan Republik Indonesia. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Menghapuskan hidup di tangsi dan peraturan yang menghina Kaum-Serdadu, memberi izin tinggal di kampung dan di rumah yang dibikin buat mereka, penganggapan yang lebih baik dan menambah gaji Kaum Serdadu Rendah, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Memberi  hak leluasa buat Organisasi dan Pertemuan    kepada Kaum Serdadu.     &lt;/p&gt; &lt;p&gt;F. Polisi dan Justisi.      &lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Memisahkan Pemerintah dari Polisi  dan Justisi.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Memberi hak-sempurna kepada tiap-tiap Pesakitan, buat mempertahankan diri di muka Hakim, dan melepaskan seorang tertuduh dalam 24 jam, apabila keterangan dan saksi kurang cukup. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Semua Perkara, yang wettig (mempunyai cukup dasar hukum) mesti diperiksa dalam 5 hari pada tempat yang umum, teratur dan patut.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;G. Aksi-Program.      &lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Menuntut  7 jam kerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.  Minimum Gaji dan perbaikan  Kerja dan Hidupnya Kaum Buruh.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Mengakui Federasi Serikat Buruh dan hak Mogok.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Mengatur  Tani buat hak-ekonomi dan politik.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Menghapuskan Punale Sanctie (pidana terutama atas penolakan untuk melakukan pekerjaan dan melarikan diri - catatan editor). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. Menghapuskan hukum-hukum dan peraturan-peraturan buat menghambat pergerakan politik, seperti Exorbitante-Stakings-Pers (sensor media - catatan editor) dan Onderwyswetten dan mengaku hak leluasa buat bergerak. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;7. Menuntut hak membikin demonstrasi. Massa demonstrasi (ramai-ramai) di seluruh Indonesia buat melawan Tindasan Bergerak dan Pajak dan buat melepaskan semua pemimpin Rakyat yang dibui dan mengembalikan semua pemimpin Rakyat yang dibuang, massa aksi mana harus dikuatkan oleh Mogok-Umum dan Massa-ongehoorzaamheid (tak menurut perintah pemerintah). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;8. Menuntut menghapuskan Volksraad (dewan penasehat untuk Netherlands East Indie yang dibentuk oleh Belanda - catatan editor), Raad van Indie (Council of Indies atau Dewan Hindia yang dibentuk untuk mengawasi Gubernur-Jendral VOC - catatan editor) dan Algemeene Secretarie (Seketratis Jendral - catatan editor) dan memanggil Rapat Rakyat (Nasional Assembly) dari mana nanti akan dipilih Anggota Menjalankan Hukum (Komite Eksekutif), yang bertanggungan kepada Rapat Rakyat.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Keterangan  Program.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Program diatas, ialah buat seluruh Rakyat Indonesia, yaitu Kasta-Proletar dan Non-Proletar atau yang tidak Proletar, seperti Kasta Tukang, Saudagar Kecil, Tani, Student d.s.g yang semuanya menghendaki Kemerdekaan sebagai Bangsa dan melawan Imperialisme Belanda. Sebab di Indonesia tidak sampai 1% penduduk yang membenci pada Indonesia Merdeka dan cinta pada Pemerintah Belanda, maka Program Nasional ini tidak salah namanya, karena betul memeluk hampir semua penduduk Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena di Indonesia Kasta Buruhlah yang terkumpul atau geconcentreerd (terkonsentrasi), maka ia lah pula yang bisa memberi pimpinan pada kasta-kasta yang lain-lain yang cerai berai itu. Pada Program ini kita melihat, bahwa Buruhlah yang termuka dalam hal tuntutan. Terutama tuntutan ekonomi (A), Sosial (C), dan Aksi (G), sebagian besar semata-mata buat keperluan Kaum Proletar. Tetapi dalam tuntutan Politik (B), Didikan (D), Pengadilan (F), keperluan Buruh banyak bersamaan dengan non-Proletar, sebab itu bisa dicampurkan. Umpamanya semua tuntutan politik (B. dari 1-4) sama sekali boleh dipakai buat non-proletar. Tuntutan ekonomi seperti A. 5, 6, 7 dan 8 bolehlah dikatakan terutama buat non Proletar. Sedangkan tuntutan F dari 1-3 semata-mata buat kasta yang tidak boleh kita lupakan dan lengahkan ialah Kaum-Serdadu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun pada Program Nasional, yakni buat seluruh Native atau penduduk Indonesia, semua tuntutan kita jadikan satu, tetapi dalam propaganda dan agitasi tentulah, tuntutan yang terutama buat Kaum Buruh tidak boleh kita pakai buat kaum Tani. Umpamanya tututan nasionalisasi pabrik tentulah buat kaum Tani tidak sepenting perkara pertanian dan koperasi. Jadi dalam agitasi dan propaganda kita mesti pilih tuntutan yang konkrit atau yang nyata dan dirasa buat masing-masing kasta. Kadang-kadang kita pentingkan betul tuntutan ekonomi seperti pada kasta Buruh dan Tani, kadang-kadang kita pentingkan politik seperti pada penduduk kota dan Kaum Student, kadang­kadang perlu kita terangkan sikap kita terhadap kepada agama, seperti di Solo, Yogya, Aceh, Banjarmasin. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua tuntutan yang diatas tentulah yang umumnya saja. Berpuluh-puluh tuntutan kecil-kecil buat Buruh, Tani dan Student atau Tukang, di Jawa atau Sumatera d.s.g pada kitab ini tak bisa kita tuliskan. Program Nasional haruslah pendek dan memeluk dasar dari tuntutan yang terutama saja. Tetapi plaatselyke Organisaties dan plaatselyk Beleid atau kecakapan pada masing-masing tempat tak boleh melupakan tuntutan yang plaatselyk dan penting buat satu kasta atau golongan. Umpamanya buat Kaum Militer boleh lagi ditambah beberapa tuntutan. Begitu juga buat Buruh Gula, buat Pelabuhan, buat Tani di d jawa, Sumatera dan Borneo, buat saudagar kecil di mana-mana negeri, buat pemancing ikan di Madura, Ternate d.s.g, pimpinan pada masing-masing tempat mesti mengadakan tuntutan, sehingga seluruh penduduk Indonesia mempunyai Program buat mengubah nasib masing-masing kasta atau golongan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua tuntutan itu haruslah konkrit atau dirasa, pendek dan terang. Dari tuntutan bersifat semacam inilah bisa datang keyakinan dan bisa lahir aksi revolusioner.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;IV. ORGANISASI.&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Adapun perkara organisasi pada suatu jajahan, seperti Indonesia adalah suatu perkara yang sangat sukar dan penting sekali. Dari pada kuatnya organisasi kita itulah bergantungnya, bisa atau tidakkah kita kelak memecahkan organisasi musuh yang sangat teratur tiu. Berhubung dengan Organisasi kitalah kelak bergantungnya, bisa apa tidakkah kita merebut Kemerdekaan, baikpun sebagai Bangsa ataupun sebagai Kasta.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiadalah bisa kita putuskan semua persoalan Organisasi itu dengan perkara Agama, sehingga barang siapa sudah "dikekahkan" dan pandai menyebut "syahadat" bolehlah diikat di dalam satu perkumpulan. Tiada perduli apa yang satu Saudagar Besar dan yang lain buruh atau tani melarat. Atau dengan persoalan Kebangsaan, sehingga barangsiapa mempunyai kulit hitam atau setengah hitam bisa masuk ke dalam satu Partai politik. Tak perduli apa yang satu Tuan Tanah dan yang lain tak berpunya apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita harus menyusun serdadu buat merebut kemerdekaan itu menutut keperluan masing-masing, yang sama keperluan hidup dalam satu organisasi pula, karena buat memperbaiki keperluan hidup itulah manusia dari tiap-tiap Sejarah dan tiap-tiap bangsa bergerak dan mengorbankan nyawanya. Oleh karena si Kapitalis bertentangan keperluannya dengan si Buruh, baikpun mereka "Indier" cap N.I.P. ataupun kaum-Islam cap S.I, seperti macan bertentangan keperluannya dengan sapi, oleh karena itulah mereka dari dua Kasta itu tak boleh disusun dalam satu barisan. Kalau mereka sementara bisa bekerja bersama-sama buat menendang musuh, seperti di Indonesia, haruslah mereka disusun dalam berlain-lain barisan. Oleh karena kita Marxis percaya, bahwa semua pertandingan di dunia terbawa oleh tindasan dan kemelaratan, maka sebab itulah kita terutama bersandar atas Kaum Tertindas dan Melarat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun kita internasionalistis, tiadalah bisa kita mengambil saja Organisasi Buruh di Eropa atau Amerika dan tanpa kritik, menanam Organisasi itu di negeri kita. Organisasi-pindahan semacam itu akan mati sendirinya saja, seperti gandum Eropa, kalau dipindahkan ke Indonesia niscaya akan mati juga. Kita harus dengan semangat Marxisme, memeriksa keadaan ekonomi, sosial dan kebudayaan di negeri kita, memeriksa banyak, kuat dan kualitasnya kasta-kasta yang ada di Indonesia dan menyusun tiap-tiap Kasta yang terhimpit pada masing-masing Barisan dan menyusun semuanya Barisan dari semuanya Kasta itu pada Tentara Nasional, buat memecahkan musuh dari dalam ataupun luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.  Maksud dan Sifat-sifat Organisasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maksudnya Partai Revolusioner di Indonesia ialah buat menendang Musuh dan mempraktikkan atau melakukan Programnya. Jadi Cara dan Sifatnya bekerja haruslah sepadan dengan Maksudnya itu, dan sepadan pula dengan Tempat dan Keadaannya bekerja. Artinya yang terus ialah sepadan dengan tingkat dan tajamnya perkelahian dan sepadan dengan pulau, kota atau desa tempat kita mengadakan aksi. Berhubung dengan itu, maka aksi kita pada waktu reaksi belum kurang ajar dan Rakyat masih lembek berlainan den­ gan aksi kita, kalau reaksi kurang ajar dan Rakyat bangun dan tetap hati. Dan lagi aksi yakni cara dan sifatnya kerja kita itu di Jawa lain dari di Sumatera atau Ternate, di Surabaya lain dari di Cicalengka atau Magelang, dimana industri masih lemah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Makin plastis atau liat seperti rotan Cara dan Sifat kerja kita itu, makin besar pengaruh Partai kita di seluruh Indonesia dan makin dekat Maksud kita. Supaya kita bisa memimpin seluruh Rakyat Indonesia yang tertindas itu, haruslah kita lebih dahulu bisa memimpin Partai kita sendiri yang sebagai Avant-Garde atau Pasukan Muka dari Rakyat yang Revolusioner  itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab itulah maksudnya Organisasi kita, terutama buat mengatur pimpinan yang sempurna, yakni menyusun dan mendidik kekuatan yang bisa memberi pimpinan kepada seluruh Rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pimpinan itu baru bisa sempurna, kalau perhubungan atau kontak dengan Rakyat sempurna pula. Tanpa kontak satu Partai tak bisa memberi pimpinan, karena ia terlampau maju di muka atau terlampau tinggal di belakang Rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Supaya hubungan dengan Rakyat Melarat rapi sekali, maka Organisasi kita memeluk dasar Demokratis Sentralisme. Artinya ini Sentralisasi Pekerjaan yang dilakukan dengan semangat demokratis atau sama rata. Jadi semua anggota Revolusioner dan semua anggota Revolusioner, seperti P.K.I, S.R, Serikat Buruh, JOI, d.s.g, masing-masingnya harus bekerja menurut kekuatan masing-masing, pekerjaan mana mesti teratur dan terkumpul. Bedanya Partai kita dengan Partai Sosial Demokrat, yakni beda bekerja. Pada Partai Sosial Demokrat yang bekerja itu cuma pemimpinnya, tetapi anggotanya pasif saja. Sebab itulah Partai Sosial Demokrat sangat birokratis. Semua anggota menurut saja apa perintah pemimpinnya, sama betul dengan demokratisnya Parlamentarisme Kaum Hartawan, yang juga terbagi atas Menteri yang aktif dan mengerjakan sekalian pekerjaan dan anggota Parlemen, yang kerjanya mengomong saja. Pada Partai Komunis semuanya anggota harus bekerja, kecil atau besar (propaganda, kursus, membagi surat kabar, buku, mengerjakan administrasi d.s.g menurut kecakapan masing-masing), sehingga demokrasi atau sama rata kita artinya "sama rata bekerja." Sifat Demokratis Sentralisme itulah yang bisa menghilangkan birokratisme, dan ialah yang mendidik pimpinan sampai kuat dan plastis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disiplin itu, ialah nyawanya suatu pergerakan revolusioner. Dalam pergerakan S.I sudahlah cukup kalau seorang bersumpah "demi Allah demi Qur'an," buat menjadi anggota. Dalam pergerakan N.I.P sudahlah cukup kalau orang yang mau jadi anggota itu mengaku azas N.I.P. Sesudahnya ia bersumpah, atau sesudah ia mengaku dasar itu ia boleh tidur nyenyak, dengan tiada dapat gangguan apa-apa dari partainya. Tetapi buat pergerakan kita "mengaku Program" itu belum lagi setengah kewajiban seorang anggota. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Partai komunis tiadalah menghendaki "pendeta Komunis" yang hapal programnya dari muka sampai ke belakang dan dari belakang sampai ke muka. Partai kita mau aksi atau perbuatan, aksi yang tetap dan benar yang berpadanan dengan azas dan maksud kita. Kalau pada waktu sebelum revolusi seorang anggota tiada mengeluarkan aksi apa-apa, maka tiadalah bisa kita harapkan yang dia pada waktu yang penting tiba tiba saja akan mendapat semangat yang aktif, seolah-olah mendustakan dirinya sendiri pada waktu biasa. Ringkasnya Partai kita menuntut aksi yang tetap dan benar, besar atau kecil dari tiap-tiap anggota. Kalau seorang anggota tiada mencukupi perintah Partai, mengerjakan pekerjaan yang dikira berpadanan dengan kekuatan anggota itu, maka lebih baik ia keluar saja dari pada tinggal dalam Partai dan memberi contoh yang buruk pada kawan‑ kawannya yang lain. Tetapi disiplin kerja atau arbeid­disipline semacam itu, tentulah pula tidak dalam satu hari saja bisa kita jatuhkan. Kita periksa dulu keadaan satu Seksi atau Lokal dan perkara menjatuhkan "disiplin kerja" itu harus ditimbang betul-betul dengan pemimpin-peminpin yang sudah lama kerja. Tetapi disiplin itu haruslah segera dijatuhkan pada seorang anggota yang mengkhianati partai, juga pada seorang anggota yang tiada mempertahankan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Serdadu revolusioner itu ialah serdadu yang mengerti dan mufakat dengan Program partainya, yang selalu bekerja sepadan dengan kekuatannya dan selalu menjaga kesentosaan partainya terhadap kepada musuh di dalam atau di luar partainya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agitasi. Seperti seorang Penambang menceraikan emas itu dari tanah dan lumpur, maka kita mengeluarkan aksi Kaum Tertindas itu dari peri kehidupan mereka itu juga. Perkakas kita buat mengeluarkan aksi itu ialah Agitasi. Dari dalam, betul dan kuatnya Agitasi itulah bergantung datangnya Aksi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Membuat Agitasi itu tiadalah dengan "Assalamualaikum atau dalil-dalil" cap Haji Agust de Groote ...... dengan tiada menyelesaikan persoalan hidup si Kromo hari-hari, atau kalau menyelesaikan ia tiada berani menarik si Kromo kepada aksi. Juga tiada seperti N.I.P yang agitasinya tiada pula lebih jauh welsprekendheid (lancar) atau mahirnya bicara tentang darah Indier dan wataknya Indier. Kita Kaum Komunis tak pula boleh berlaku seperti Kaum Syndicalist, yang menyangka, bahwa kalau kita campur menuntut hak Kecil-kecil ada berlaku kompromistis, dan cuma berharap, seperti kaum Utopis, bahwa Aksi Rakyat itu kelak datangnya akan sama sekali tiba-tiba saja. Tidak pula seperti si Pengkhianat Kaum Sosial Demokrat yang campur menyelesaikan persoalan si Kecil itu ialah buat menarik mereka, supaya ia memilih Kaum Sosial Demokrat jadi anggota Parlamen, atau supaya Kaum Buruh masuk jadi anggota Partai Sosial Demokrat. Kita Kaum Komunis menyelesaikan persoalan si Kromo, supaya mendapat kepercayaan dari mereka, bahwa kita betul-betul mau menolong mereka. Begitulah kita mendapat kontak dengan mereka dan bisa menarik mereka kepada aksi yang teratur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agitasi itu haruslah konkrit atau nyata sekali. Haruslah ia bersandar atas hisapan dan, tindasan si Kecil hari-hari. Di antara Buruh, tentulah perkara gaji, lama kerja dan penganggapan-lah perkara yang ter penting. Tiadalah perkara ini boleh kita singkirkan, melainkan kita dengan segala kepintaran memberi jawab, yang bisa memberi kepercayaan dan menimbulkan aksi kaum Buruh. Pada penduduk kota-kota, dimana non-proletariers yang terbanyak itu, selalu diojak-ojak oleh Tuan Tanah, Pemungut Pajak, Tuan Rumah, d.s.g. perkara pajak dan perkara sewa rumah itulah perkara yang penting buat peri hidupnya Rakyat. Begitulah pula pada desa-desa, baik di Jawa, Sumatera atau Celebes perkara tanah dan pajak itulah sangat dirasa oleh penduduk negeri. Dalam hal ini tiadalah boleh kita memangku tangan dan seperti seorang Pendeta menunjuk ke kitabnya, serta berkata: "Kalau Komunisme datang semuanya itu akan hilang. Apalkanlah Komunisme supaya Zaman Keselamatan itu lekas datang. Rajinlah saudara mengunjungi Kursus kami. Kami tak suka main pakrol-pakrol, karena itu semua kompromis. Tahanlah lapar dan sakit sampai Komunisme datang." Kita ulang lagi, apa saja tindasan Rakyat kita mesti memperlihatkan kepintaran buat memberi oplossing atau jawab, mesti mempunyai keberanian buat berdiri di muka, menuntut Haknya Rakyat, yang tertindas. Seperti si Penambang akan mendapat emas dengan memasukan tangannya kedalam lumpur begitulah pula kita harus bisa membawa Rakyat ke dalam Aksi, kalau kita campuri kesakitan dan siksanya hari-hari. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari aksi kita hari-hari itulah kita bisa memperoleh kepercayaan, pengaruh dan Contract yang kekal, dan dari aksi kecil-kecil itulah bisa lahirnya aksi yang besar. Marxisme itu bukanlah ilmu "hapalan" melainkan satu pedoman buat aksi, atau satu richtsnur tot handelen (guide to action) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Legal atau Illegal yakni Terbuka atau Tertutupnya, kita bekerja semuanya bergantung kepada keadaan bekerja. Kita suka bekerja legal, karena dengan jalan umum itu Program dan Taktik kita lekas diketahui oleh seluruh Rakyat. Tetapi kalau terpaksa, kita mesti teruskan propaganda dan Agitasi kita dengan jalan tertutup. Walaupun kita dipaksa berjalan tertutup, kita harus memakai dengan segala kekuatan dan kecakapan segala jalan buat mendapat kontak dengan Rakyat. Tidak boleh kita geisoleerd (terisolasi) atau terpisah dari Rakyat. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di Eropa Barat kita melihat pada waktu sebelum perang, Partai yang terbuka itu, tak bisa sama sekali bekerja tertutup seperti Partai kita di Rusia. Sebabnya ialah karena di Barat sangat tebal demokratisnya negeri, jadi orang bisa mendorong kiri kanan dengan mulut. Tetapi di Rusia Partai revolusioner harus bekerja di bawah tanah. Sebab itulah kalau Revolusi datang dan Partai revolusioner di Barat itu terpaksa bekerja tertutup ia tidak bisa jalan seperti Partai kita di Rusia yang tahu kerja, baik terbuka atau pun tertutup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Partai yang selalu kerja tertutup itu, ada mengandung bahaya, sama sekali akan kehilangan kontak dengan Rakyat melarat. Sebab itu ia akan tidak tahu, bagaimana perasaan Rakyat, dan kalau ia tiba-tiba keluar, Rakyat tidak mengikut, atau kalau Rakyat melarat tiba-tiba memberontak, Partai yang tersembunyi dan kehilangan kontak tadi, belum lagi siap. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Contoh Partai Konspirasi atau Rahasia, yang tak mempunyai kontak itu banyak di negeri Timur, seperti. Afdeeling B satu contoh yang baik. Sesudah anggotanya disumpahi setinggi langit, maka ia boleh kelak menunggu "alamat" dari Alam dan menunggu perintah dari pimpinan yang tertinggi, kapan mesti keluar. Alamat buat keluar itu, tiadalah hal yang nyata yang beralasan ekonomi atau politik melainkan, barang yang gaib-gaib yang kita kaum Komunis pada masa ini tak bisa mengerti lagi. Anggotanya tak bekerja dengan sadar, memakai anggota ekonomi dan politik Rakyat yang ada dan diaku sah oleh Pemerintah buat mendalamkan aksi, melainkan bekerja menambah iman. Tiba-tiba ia ketahuan oleh pemerintah, dan kalau pemimpinnya di hukum berat, Rakyat tercengang, karena ia memang tak tahu apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau kita mengatakan kita mesti kerja tertutup, maka maksud kita bukanlah mesti meninggalkan pekerjaan yang praktis hari-hari dan kita lakukan kerja tertutup itu ialah karena terpaksa, seperti sekarang kita sudah terpaksa menutup sebagian dari pekerjaan. Bukan karena kita takut melainkan karena kita tidak bodoh dan mau diprovokasi, yakni berkelahi sebelum siap betul. Pada masa Afdeeling B tak ada hal yang penting yang menyebabkan anggotanya perlu bersumpah gelap-gelap, karena S.I mempunyai pengaruh berjuta-juta. Kalau S.I mempunyai pimpinan yang pantas atau ditolak maju berterang-terangan oleh Pasukan S.I. sendiri, dan dalam S.I. sendiri, sebagai Linker-Vleugel atau Sayap Kiri, maka 2 atau 3 biji Belanda, yang tersesak karena ada peperangan (1914-1918) itu gampang dikirim ke pulau Merak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau kita Kaum Komunis terpaksa bekerja tertutup, maka kita mesti tetap tinggal bersambung dengan Rakyat. Anggota kita mesti tinggal mengurus anggota-anggota yang masih diaku Sah oleh yang berkuasa. Kalau Serikat Buruh umpamanya tak diaku, maka kita lari ke koperasi, kalau inipun tak diakui kita lari lagi ke Serikat Kematian, dan seterusnya, sampai "saat" kita datang, yakni kalau seluruh Rakyat keluar bergerak. Bekerja dalam Organisasi yang di aku sah oleh pemerintah itu perlunya bukan saja buat mengetahui stemming atau suaranya Rakyat, tetapi juga buat mendidik pemimpin-pemimpin kita berbicara dan mengatur Organisasi. Sehingga kalau Pemberontakan datang kita tidak kekurangan Orator, yakni tukang pidato, Agitator dan Organisator yang cakap, pemuka-pemuka mana perlu sekali buat merebut dan mempertahankan Kemerdekaan ke dalam dan ke luar Negeri. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Partai Komunis berdiri atas Massa-Aksi, yakni Aksi beramai-ramai dan Massa-Aksi ini bersamping kepada demonstrasi. Demonstrasi-politik, dijalankan dengan tuntutan politik. Kalau yang menuntut cukup kuat dan gembira, maka hak-politik itu boleh direbut dengan kekarasan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada sesuatu demonstrasi, kontak atau Perhubungan dengan Rakyat (Buruh, Tani, Tukang, Saudagar dan Student) haruslah teguh betul. Perhubungan itu baru bisa teguh dan boleh dipercaya, kalau Pimpinan demonstrasi itu ada mempunyai cukup wakil dari semua Kasta yang tersebut diatas. Suara semua Wakil Kasta itu mesti didengar betul oleh urusan demonstrasi, kalau tidak demonstrasi itu bisa terlandpur atau ketinggalan. Sebab di Italia dan Inggris umpamanya pada waktu sesudah perang Partai kita, yang dikhianati oleh Sosial Demokrat itu tak cukup mengadakan Wakil dari Serikat Buruh, jadi tak cukup mengadakan kontak dengan Buruh, maka ia jadi kalah, Di kedua negeri itu kita sudah bisa merebut politik negeri, sebab Buruh sudah luar biasa kegembiraannya (di Inggris 1-2 juta Buruh Tambang 3 bulan mogok). Tetapi Partai Politik Komunis disana tak cukup mendapat Suaranya Kaum Buruh itu, sebab tak cukup Wakil di dalam Partai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Supaya demonstrasi di Indonesia berhasil, haruslah kelak di Sentral Pimpinan Revolusioner diadakan Wakil dari semua Pulau dan semua Kasta di Indonesia. Begitulah suara dari segenap pihak boleh di ukur dan kita tak mudah ketinggalan seperti di Italia atau Inggris dulu itu dan tak pula mudah terlanjur seperti pada Aksi bulan Maret di Jerman 1921.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demonstrasi itu menuntut Pimpinan yang plastis dan Korban yang banyak. Pimpinan mesti selalu tahu, apa demonstrasi mesti diperkencang lagi dengan Pemogokan atau Boikot. Dalam masa itu Pimpinan, Surat Kabar, dan Perhubungan surat menyurat mesti ditempat yang rahasia, yang tak bisa diketahui oleh musuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebelum demonstrasi keluar, haruslah dibicarakan lebih dahulu tempat Demonstrator yang keluar dari semua penjuru kota atau desa mesti bertemu, apa tuntutan yang penting buat masa itu, apa perspektif atau Hasil demonstrasi kelak, kapan dan bagaimana mesti dibubarkan. Bersama-sama dengan beribu­ribu dan berjuta-juta Demonstrator itu ada tersembunyi Pimpinan, sebagai Staff umum atau Sidang Pimpinan, yang cukup mendapat kabar dari mana­mana dan pada tiap-tiap saat bisa memberi perintah kepada pemimpin-pemimpin yang ditaruh dipenjuru yang penting-penting, buat memimpin sekalian pasukan demonstrasi tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.          Tentara Nasional.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berapa susahnya mengadakan Organisasi yang tetap pada suatu jajahan seperti Indonesia, sudahlah bisa dibuktikan oleh sejarah pergerakan Indonesia, sendiri dalam kira-kira 17 tahun yang terakhir ini, Organisasi B.O cuma tergantung diawang-awang saja, sama sekali tak mempunyai pengaruh diantara Rakyat. N.I.P dan S.I yang diembus dengan "kebangsaan" dan "Agama" sekarang sudah kosong karena pompa angin tak bisa kerja begitu lama. Organisasi itu mesti berurat pada ekonomi dan Kasta, baru ia bisa tumbuh dengan tetap. Tetapi kita mesti bilang terus terang, bahwa sampai sekarang pada partai kita sendiripun belumlah jelas dan konsekuen, bahwa "Keadaan ekonomi dan Keadaan Kasta di Indonesia" itulah yang menjadi kriteria atau ukuran dalam pertimbangan kita buat mengadakan Organisasi. Di jajahan lain-lain seperti Mesir, India d.s.g dimana ada Nasional Kapital yang kuat dan pergerakan Nasionalisme yang revolusioner, maka dalam golongan Kaum Komunis sendiri adalah timbul pertimbangan, apakah tidak baik, jangan mendirikan Partai Komunis sendiri, melainkan memasuki Partai Nationalis yang revolusioner yang ada, dan dari dalam, sebagai Linksche Vleogcl atau Sayap Kiri, menumpu pergerakan Nasionalisme itu sampai ke Revolusi. Alasan pihak ini, yakni, dimana Buruh diatur oleh Kaum Komunis berpisah dari Kaum Nasionalis, seperti sudah dilakukan di Mesir dan India, disana pergerakan Nasionalis jadi mundur. Jadi kata pihak ini, selama pergerakan Nasionalisme masih revolusioner, biarlah Buruh Industri, yang menang pada tiap-tiap jajahan jadi pasukan muka pergerakan revolusioner, diatur oleh Kaum Nasionalis, dan kita Komunis cuma menolong saja dari dalam dan menjaga supaya pergerakan jangan jadi lembek. Maksud yang pertama toh, kata pihak ini seterusnya melemparkan "imperialisme."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disini tak tempatnya buat memeriksa pertimbangan ini lebih jauh. Tetapi kita boleh mengambil pengajaran dari pertimbangan itu, bahwa pada satu jajahan pergerakan nasionalisme itu buat melemparkan imperialisme satu faktor atau hal yang sangat penting, yang tiada boleh kita putuskan dengan dogma atau "kajian hapalan" saja. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya pula kita tidak boleh menunjuk ke bangkai S.I dan N.I.P dan berkata : "Nah, kan perlu lagi dihidupkan bangkai bangkai ini."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;N.I.P dan S.I mati karena ada mempunyai sebab yang dalam sekali, ialah karena tak ada Nasional Kapital yang kuat di Indonesia, yang bisa memberi inspirasi atau semangat buat mendirikan Program yang kokoh, Organisasi yang teratur serta Taktik yang tetap, seperti di Mesir dan India. Oleh karena pemimpin-pemimpin B.O, N.I.P, &amp;amp; S.I seperti Dauwes Dekker, Tjipto, Tjokro Aminoto dan Salim terpaut oleh Kasta dan didikan mereka, ia tak pernah sampai ke kasta Kaum Buruh. Mereka tak bisa mengerti, bahwa di Indonesia Kasta inilah yang kuat karena geconcentreerd (terkonsentrasi) dan dari Kasta inilah bisa datangnya inspirasi dan pimpinan buat merebut kemerdekaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya pula kita Komunis tak pula boleh memandang Indonesia sabagai Negeri industri, seperti Jerman atau Inggris, dan memikir bahwa Kebangsaan dan Agama dalam pertarungan kemerdekaan sama sekali tak ada artinya. Dan berhubungan dengan hal ini cukuplah kalau di Indonesia kita adakan Satu Partai Komunis saja. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sikap inilah kira-kira yang dipeluk oleh pihak yang mau menghapuskan S.R pada Konferensi bulan November 1924 di Yogya. Yang dijadikan alasan, ialah :&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Kaum borjuis kecil di Indonesia selalu kalah, juga dalam perjuangan dengan imperialisme Belanda, yang tergambar pada B.O, N.I.P &amp;amp; S.I. Sebab itu S.R yang juga kumpulan borjuis kecil tak akan bisa menang."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah kira-kira isinya Referaat Hoofdbestir. Kalah atau menangnya borjuis kecil di Indonesia buat kita pada masa ini perkara "puur philosophisch" (filosofi murni) artinya perkara timbang menimbang dengan tiada akan mendapat keputusan. Tetapi bukanlah kesimpulan atau putusan kalah menangnya itu sekarang yang terpenting buat kita, melainkan akuan, yang tak dibantah, malah terbawa oleh Referaat tadi sendiri, yakni Kaum borjuis kecil masih selalu berkelahi, jadi masih revolusioner.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Inilah yang terpenting buat kita, dan hal ini memang apriori atau sudah termasuk ke dalam pikiran. Kaum Borjuis Kecil, di mana-mana mau menjadi Borjuis Besar atau Hartawan-Besar. Pada Zaman Bangsawan, Borjuis kecil Indonesia terhambat oleh Raja dan Bangsawan kita, sebab itu ia acap berperang dengan Bangsawan itu. Pada Zaman kita mereka terhambat oleh imperialisme Belanda, sebab itu ia sekarang melawan imperialisme Belanda. Perlawanan ini sudah terbawa oleh alam dan tak akan habis, selama keadaan kasta-kasta masih tetap. Ringkasnya sekarang dalam himpitan imperialisme Belanda, borjuis kecil kita yang kira-kira 70% banyaknya dan tak berapa bedanya tertindas dari Kaum Buruh Industri akan tinggal revolusioner. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubung dengan akuan diatas ini  maka persoalan    kita seharusnya, sebelum  imperialisme Belanda belum kalah, ialah:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana kita mesti mengatur P.K.I. yang kuat sebagai Avant-Garde atau Pasukan-Muka dari pergerakan revolusioner Indonesia ?  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana kita mesti menyusun Kaum  Non-Proletar,    sebagai Reserve atau Pasukan  Pembantu pergerakan    revolusioner ?     &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana kita mesti menarik  Landstorm atau Laskar    dalam waktu tersesak, dari  seluruh Rakyat Melarat ?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana kita mesti mengadakan  perhubungan antara    P.K.I dan S. R. sebagai Partai  Non-Proletar ?      &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah persoalan kemerdekaan di Indonesia. Kita mesti mengaku, bahwa Non-Proletar saja tanpa Kaum Buruh susah mengalahkan Belanda. Sebaliknya pula Kaum Buruh tanpa pertolongan 70% Non-Proletar tidak pula mudah akan menang. Sedangkan di Jerman, dimana 75% dari penduduk negeri sama sekali buruh Industri model baru, pada tahun 1923, yakni waktu yang terpenting sekali buat revolusi, kita dengan segala daya upaja mendekati Kaum Borjuis Kecil. Juga di Rusia kemerdekaan kita peroleh dan kita pertahankan dengan Kaum Tani besar kecil yang banyaknya 80% itu, jadi dengan borjuis kecil juga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubungan dengan 4 persoalan yang diatas, maka kita sangka pertimbangan buat mengadakan Satu Partai, yakni P.K.I saja buat seluruh Indonesia ada salah. Kita pikir di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang dan Surabaya pun sekarang mesti dilakukan Partai Kembar, yakni P.K.I dan S.R. Dengan politik Satu Partai, baik di seluruh Indonesia ataupun buat kota-kota besar, kita pikir, pertama kita bisa tinggal kecil (sectarisme) atau kedua besar, seperti perut kemasukan angin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kecil, karena sudah kita terangkan, bahwa Indonesia tidak negeri industri betul melainkan landbouw-industri. Sudah pula kita perlihatkan, bahwa kota-kota kita bukan pusatnya industri (kain, besi, mesin, kapal d.s.g). Penduduknya kota-kota kita, terutama non-proletar, seperti tukang-tukang, dobi, saudagar kecil-kecil seperti penjual cendol, satai d.s.g. atau Buruh Halus, seperti guru-guru, jongos, clerk d.s.g. Yang buruh tulen di kota-kota kita masih sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan jumlah penduduk. Lagi pula mereka bukan buruh industri produktif yakni buruh yang mengadakan hasil (kain, besi, dll), melainkan buruh pengangkut, seperti kereta, kapal dan tram, yang kecakapannya juga kurang dari buruh industri betul. Tiadalah seperti di Berlin, London atau New York, dimana, kalau tutup pabrik pukul satu berbunyi kita melihat sampai 1.000.000 Buruh Pabrik, yang muka, tangan dan pakaiannya berkilat-kilat dengan minyak mesin, berduyun-duyun meninggalkan pabrik. Ini belum ada! Malah belum seperti Bombay, dimana buruh kain saja terkumpul 150.000. Atau di Calcutta yang mempunyai 300.000 buruh model baru, seperti buruh pelikan (tambang), kain, mesin, kereta, kapal dll. Betul ada beratus ribu sudah terkumpul di perusahaan gula, tetapi mereka itu buruh tani. Yang buruh pabriknya baru sedikit, dan sebab disini ada pabrik gula, disana 50 KM lagi berdiri pabrik lagi, jadi sebab sangat terpencar-pencar, maka kita susah pula mengatur mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ringkasnya betul buruh kita (kereta, kapal, gula, minyak d.s.g.) lebih kuat dari non-proletar, karena mereka menjalankan perusahan negeri, tetapi kita jangan overschatten (overestimate atau melebih-lebihkan), melebihi perhitungan kekuatan kita. Kalau kita bersandar semata-mata pada buruh tulen dengan mengadakan Satu Partai, serta menghilangkan S. R. maka Partai kita akan sangat kecil. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau ia dijadikan besar, maka terpaksa ia menarik jadi anggotanya saudagar-saudagar cendol, nasi, rujak d. s. g. Inilah namanya verwatering (mengencerkan), lebih santan dari pada air dan seperti SI akan segera jatuh kegemukan saja. Tidak boleh tidak elemen borjuis kecil itu, kalau masuk Partai Komunis, walaupun ia "menghapalkan" program kita, akan membawa semangat dan wataknya borjuis kecil (adat, logika, dan sifatnya). Betul kursus dan didikan bisa membangunkan semangat revolusioner, tetapi sebagai Marxis kita mesti tahu "bahwa keadaan itulah yang menentukan semangat" atau de mate­rieele onderbouw bepaalt den geestelyken bovenbouw. Cuma kaum Utopis dan Dogmatis yang percaya, bahwa dengan "menghapalkan" saja satu ilmu bisa jadi orang bersifat baru. Betul bisa satu atau dua orang yang bukan golongan buruh bisa menjadi Komunis, tetapi sebagai kasta, Kaum borjuis kecil tak bisa dilompatkan menjadi Komunis Revolusioner. Dan sebab di Indonesia borjuis kecil itu memang masih terpaut oleh semangat revolusioner (sebab belum pernah menang) sebab itulah kita gampang menyangka, bahwa sebab dia revolusioner itu ia Komunis. Inilah bahaya yang ada kalanya kelak bisa masuk ke dalam badan PKI sendiri, yang bisa memecahkan diri dari dalam. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana, kalau kita dirikan Satu Partai buat seluruh Indonesia dari kaum Buruh, dan non-proletar kita susun dalam Serikat Buruh?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Serikat Buruh saja tak cukup buat mereka, karena mereka borjuis kecil di negeri kita juga mempunyai cita-cita politik. Siapapun di kota-kota atau desa-desa, apapun juga pekerjaannya ia mau merdeka sebagai bangsa. Jadi kita harus mengadakan politik yang sepadan dengan kehendak mereka itu. Koperasi, Serikat Buruh atau Serikat Tani tak mencukupi cita-cita politik, lebih-lebih dari penduduk kota dan setengah kota.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lagi pula, kalau kita mau mengadakan Serikat Buruh buat borjuis kecil di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang, Surabaya d.s.g. di kota-kota klas dua seperti Sumedang, Pekalongan, Palembang, Banjarmasin d.s.g, berapa ribu Serikat Buruh mesti kita bikin, buat mengikat saudagar kecil-kecil, jongos, tukang penatu d.s.g, Ini dalam praktiknya mustahil!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita tidak saja di desa-desa dan kota-kota klas dua mesti mengadakan Organisasi politik yang memenuhi cita-cita 70% dari penduduk kita, tetapi juga di kota­kota besar seperti Betawi dan Surabaya, dimana borjusi kecilah yang terbanyak dan industri produktif sama sekali belum ada. Baru kalau Partai Komunis bersamping dengan Organisasi, yang memeluk beribu-ribu anggota, yang pada segenap waktu bisa dijalankan bersama-sama, baru kita bisa mengadakan aksi politik umpamanya demonstrasi yang berarti. Walaupun kita cuma dua atau tiga ribu, tetapi kalau kita dalam Aksi politik sebagai Avant-Garde dikelilingi oleh beribu-ribu Proletar &amp;amp; Non-proletar sebagai reserve, dan disukai oleh seluruh Rakyat yang tertindas sebagai Landstorm, kita bisa menang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubung dengan pertimbangan kita diatas, maka buat menjawab 4 pertanyaan tadi buat Indonesia Organisasi yang berikutlah yang sepadan dengan keadaan kita&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1.    Diadakan Partai-Kembar (PKI &amp;amp; S. R.), pada pusat ekonomi, politik dan Pergerakan, seperti di Betawi, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang dan Medan, pada pusat ekonomi (industri) seperti Cepu, Kediri, Pelaju, Belitung, Pangkalan Brandan, Sawah-Lunto, Balik Papan d.s.g, pada pusat politik, seperti Palembang, Kota-Raja d.s.g., pada pusat pergerakan, baik kereta atau kapal, seperti lain yang sudah tersebut diatas juga Banjarmasin, Makasar, Cilacap, Cirebon d.s.g. yakni menurut pertimbangan yang lain-lain (seperti di Balik Papan sudah cukup PKI saja).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Anggota PKI terutama mesti dari Buruh industri, seperti dari bengkel, baik kereta ataupun pelabuhan, Buruh Cetak, Pabrik gula, minyak­tanah, tambang arang, minyak d.s.g. Golongan inilah yang mesti jadi ruggegraat atau tulang punggungnya P.K.I.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kursus mesti dikencangkan, tetapi isinya mesti praktis dan berpadan dengan keadaan dan aksi di Indonesia. Program dan Agitasi, dikencangkan betul, ialah yang berhubungan dengan industri dan negeri. (Lihat Program Nasional!).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kontribusi dipertinggi dan disiplin diperkeras. Dalam semua Aksi seperti Pertemuan, Mogok dan demonstrasi anggota P.K.I mesti dimuka. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2.    Diadakan S.R. saja, selainnya dari tempat yang tersebut diatas (1) di seluruh Indonesia, di kota-kota klas dua, seperti Sumedang, Magelang, Paja Kumbuh, Pontianak, di pelabuhan klas dua, di desa-desa dan gunung-gunung sampai masuk ke dalam hutan seperti Puruk Tjau di Borneo. Tak ada tempat yang boleh di lupakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Anggota S.R boleh dari sembarang kasta, asal mengakui dasar revolusioner, yakni mau mengusir imperialisme Belanda (jadi berbeda dengan N.I.P, B.O &amp;amp; S.I ). Student, saudagar, tukang, tani dan penjual ini atau itu, beragama Islam, Kong Hu Tju atau Kristen; yang suka sama kebangsaan, agama atau anarkisme, pendeknya semua yang benci kepada Tindasan Imperialisme bolehlah berdiri di bawah bendera S. R. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kursus haruslah berhubungan betul dengan "keadaan dan cita-cita mereka. Perkara kemerdekaan sebagai Bangsa Nasional yang merdeka, perkara sewa rumah, Pajak, pendidikan dan perkara yang lain, yang terasa betul oleh penduduk kota tak boleh dilupakan. Dalam kesusahan hari-hari, baikpun dengan pakrol-pakrol si Kecil di kota atau desa yang tak berhak apa-apa itu mesti ditolong oleh S. R.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kontribusi mesti serendah-rendahnya, karena maksud kita yang terutama, supaya menarik mereka ke bawah pengaruh dan ke dalam aksi kita. Juga disiplin tidak bisa begitu keras, karena hal ini sudah terbawa oleh watak mereka. Jadi maksud kita yang terutama ialah mengumpulkan semua golongan yang tak senang hati di bawah Imperialisme Belanda dan memimpin mereka dalam segala aksi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3.    Dengan Perantaraan P.K.I, kalau krisis ekonomi dan politik datang kita bisa menarik terutama, segala Buruh industri yang ada, baik yang sudah diatur dalam Serikat Buruh ataupun yang belum di atur. Dalam Pemogokan atau demonstrasi PKI. akan memberi pimpinan yang langsung atas semua golongan Kaum Buruh di Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan perantaraan S.R, semua penduduk kota, seperti klerk, tukang, penjual ini atau itu, student d.s.g dan semua penduduk desa dan gunung akan menarik dengan Tuntutan yang pantas ke dalam Aksi, seperti Boikot dan demonstrasi buat melawan Krisis ekonomi atau politik dan merebut Kemerdekaan. Jadi P. K. I. &amp;amp; S. R. keduanya mesti menjadi Organ atau Anggota buat seluruh Rakyat Indonesia merebut Kemerdekaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Teranglah sudah maksud kita bahwa kedudukan P.K.I dan S.R bukan kedudukan Bovenbouw (atas) dan Onderbouw (bawah), yang di kursus atau tak di kursus atau tinggi berendah (memang kita dengan semua Rakyat melarat mau ke zaman persamaan, bukan?), melainkan kedudukan dua kasta tertindas, tetapi berlainan keperluan dan sifatnya, oleh sebab mana mereka harus di atur dalam dua pasukan. Sebab Buruhlah yang terkumpul dan memegang perusahaan negeri yang terutama serta non-proletar terpencar-pencar, maka dari buruhlah bisa datang Aksi yang tetap, Ideal atau cita-cita yang tetap, Program yang tetap dan Senjata yang tetap (Mogok). Berhubung dengan itulah ia di Indonesia bisa memberi Pimpinan yang tetap revolusioner. S.R berdirinya bukanlah karena internasional (memang ini dulu pelawan semangat N.I.P) atau karena tak beragama (memang ini mengandung dan melawan semangat S.I) melainkan karena ia berdiri atas kasta non-proletar yang bersifat revolusioner. Kasta dan semangat revolusioner itulah yang menjadi kriteria atau ukuran di S.R, dengan tiada melanggar Agama atau Kebangsaan, malah mufakat, kalau Agama dan Kebangsaan itu ada memperkuat keyakinan dan semangat Revolusioner. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.    Karena Buruhlah kasta yang terkumpul, dan ialah yang mempunyai senjata yang tertajam, yakni mogok, maka ialah pula yang mesti memberi pimpinan politik buat merebut kemerdekaan Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun Seksi atau Lokal diatur dengan Partai Kembar, tetapi Sentral tentu mesti satu, supaya urusan, agitasi dan aksi bisa satu pula. Supaya semua golongan di Indonesia bisa diperhatikan keperluannya, maka pada Sentral Pimpinan Revolusioner di Betawi, seberapa boleh kelak mesti diadakan wakil dari semua pulau, dan semua kasta yang terutama seperti Buruh, Student, Tani dan Penduduk kota. Buat memperhatikan kepulauan Indonesia yang begitu besar tentulah belum cukup 5 atau 6 orang duduk di Sentral Pimpinan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Supaya agitasi buat seluruh Indonesia dirasa betul oleh semua golongan haruslah Sentral Pimpinan Revolusioner, membedakan agitasi buat satu negeri dengan yang lain (Jawa dengan Sumatera atau Celebes, Padang dengan Jambi); dan satu golongan dengan golongan lain (Buruh dan Tani atau Student dengan Penduduk kota). Berhubung dengan hal ini pekerjaan di Sentral pimpinan haruslah dibagi-bagi (verdeling en specialiseeren van arbeid) (partisi dan spesialisi kerja).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Supaya pimpinan tinggal revolusioner, jangan seperti S.I atau N.I.P, haruslah baik di Sentral Pimpinan ataupun di Seksi atau Lokal, S.R yang mayoritas atau terbanyak ialah pemimpin Komunis. Dengan jalan begitu, kita menjaga supaya pergerakan Indonesia tinggal proletaris dan tak menjadi oportunistis atau reformistis, yakni lembek seperti S. I. dan N. I. P.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah Sentral Pimpinan Revolusioner di Indonesia, yang mengikat semua Seksi P.K.I &amp;amp; S. R, semua Serikat Buruh, Koperasi, dan mengikat JOI dan Rakyat-Scholen, yang menaruh semangat proletaris dan revolusioner, menunggu datangnya saat, dimana ia dengan Massa-Aksi kelak akan merebut hak ekonomi dan politik. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena Massa-Aksi itu cuma bisa dijalankan dengan Massa, yakni beramai-ramai, maka haruslah P.K.I yakni pemuka Kaum Buruh dan S.R yakni pasukan Muka Kaum Non-Proletar menambah anggotanya dengan berlipat ganda. Kalau S.I pada waktu baiknya bisa mengumpulkan sampai 1 atau 2 juta anggota (betul belum seperti anggota sekarang), dan menurut laporan pemerintah sendiri sampai 5 atau 6 juta simpatisan, yakni yang mufakat dengan S.I, maka kalau Taktik, Program dan Agitasi kita benar dalam waktu di muka ini sekurangnya kita mesti dapat laskar buat PKI 10.000 dan buat S.R 500.000. Juga anggota dari Serikat Buruh yang terutama seperti V.S.T.P, S.P.P.L, S.P.L.I dan S.G.B haruslah berlipat ganda banyaknya. Di Jambi, Palembang, Banjarmasin, Aceh d.s.g mesti ada koperasi-koperasi yang kuat. Demikianlah pula JOI harus memperbanyak anggota dan Seksinya. Di Betawi, Semarang dan Surabaya bersamping dengan P.K.I yang bisa mempunyai 1000-2000 anggota S.R bisa mendapat 10-20.000 anggota. Kalau sudah bisa kita mengadakan Tentara Nasional sebesar ini tidak saja Imperialisme Belanda segenap waktu bisa hancur, tetapi juga imperialisme Asing tak akan gampang menentang Tentara yang sebesar itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;h3&gt;V. REVOLUSI.&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Peperangan dan Revolusi.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebermula maka kemajuan Pergaulan itu diatur oleh hukum yang juga menguasai seluruh alam (hewan dan tumbuh-tumbuhan), yang dinamai Hukum Evolusi dan Revolusi. Kedua hukum ini sebetulnya satu, karena tak ada bedanya dalam sifat, melainkan berbeda cepatnya bekerja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seperti suatu sungai harus mengalir ke lautan, demikianlah juga pergaulan hidup kita ini menuju ke zaman persamaan, kesentosaan dan peradaban. Seperti sungai itu mengalirnya di tempat yang datar dengan tenang, demikianlah pergaulan hidup kita, kalau tak kuat kasta yang menghambat maju dengan sentosa. Berhubung dengan itu, maka kekayaan, kepandaian dan peradaban maju dengan tiada di rasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi seperti sungai yang terhambat majunya oleh gunung akan menebus gunung itu, demikianlah pula Pergaulan Hidup, yang terhambat majunya oleh satu Kasta atau Bangsa yang menindas, akan memecahkan Kasta dan Bangsa itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baik dengan damai atau perkosa, Evolusi  atau Revolusi Pergaulan Hidup kita tetap  maju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagian dari kemajuan itu terjadi dengan peperangan. Satu Bangsa memerangi yang lain, dan menghimpit bangsa yang lain itu dengan alat senjata peperangan. Kemudian, maka bangsa yang menang itu bertambah kaya, bertambah kuasa dan bertambah pandai, sedangkan yang kalah bertambah miskin, serta bertambah bodoh. Nietsche, seorang filsuf atau Pemikir Jerman, menjunjung tinggi Uebermensch, atau Dewa dalam bukunya "Also Sprach Zarathustra" (Begitulah sabdanya Nabi Zoroaster) dan dalam "Die Willie Zur Macht (Nafsu merebut Kekuasaan), dimana ia menggambarkan dengan giat sifat-sifat yang perlu dipakai oleh seorang panglima perang dan pembesar negeri. Buku-buku itu dibaca oleh Kasta Opsir di Jerman di medan peperangan yang baru lalu ini dalam asap meriam dan hujan pelor dengan segala keyakinan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nietsche, ialah Nabi-Imperialisme, yang menyangka, bahwa peradaban itu mesti terbawa oleh kemenangan suatu bangsa atas bangsa yang lain. Inilah filosofi imperialisme, yakni Kultur Paksaan, Peradaban Militerisme &amp;amp; Peperangan, serta Peradaban bunuh membunuh sesama manusia dengan maksud hendak menindas dan memeras bangsa yang lemah. Nietsche ialah Zenith atau puncak Peradaban, yang tergambar oleh Arjuno, Iskandar Zulkarnain, Napoleon dan Wilhem II.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selamanya ada tindasan, selamanya itulah pula ada rasa kemerdekaan. Cacingpun, yang diinjak bergerak kiri kanan, lebih-lebih manusia yang terinjak itu akan berusaha melepaskan dirinya dari injakan itu. Si Bengis Nero, menguatkan majunya Kaum Kristen. George III mengadakan Washington, yang melepaskan Amerika dari tindasan Inggris. Tsarisme di Rusia mengadakan Bolshevisme. Inggris di India melahirkan Pergerakan Boikot dan Swaray, demikianlah tak akan putus putusnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Peperangan buat Kemerdekaan tiadalah untuk menindas bangsa lain, melainkan buat melepaskan tindasan. Satria Kemerdekaan-Bangsa, tiadalah seorang Penindas, seperti Caesar, Napoleon dan Wilhem II, melainkan manusia yang berhati suci, berfikiran jernih dan yang setia kepada yang tertindas. Phoseon di Griek L'Ouver­ture pemimpin budak Negro, Garibaldi di Italia dan Rizal di Filipina, semuanya Satria, laksana gambaran Kemerdekan, Kesucian, Keberanian serta Kecintaan hati. Laskar Kemerdekaan, walaupun biasanya miskin dan tiada bersenjata, lebih kuat dari pada Laskar Imperialisme, karena dasar dan makudnya lebih tinggi. Disiplin laskar Kemerdekaan tiadalah pula perbudakan, seperti pada Laskar Imperialisme, melainkan kegiatan yang suci.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tindasan feodalisme di Prancis, melahirkan pemikir baru, yang wujudnya mau melepaskan tindisan satu kasta dari kasta yang lain. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Voltaire dan Rousseau, dengan pena yang maha tajam memecahkan Feodalisme itu dan melahirkan fikiran baru, buat zaman yang baru pula, yakni: "Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kaum Satria baru lahir pula, yakni buat menjalankan buah pena pemikir tadi. Mirabeau, Madame Roland, Danton, Robespierre dan Marat, ialah satria zaman baru, zaman mana kita masuki dengan banyak darah dan air mata mengalir. Satria Prancis tadi belumlah insaf, bahwa Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan itu sekarang diperkosa oleh Kapitalisme.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemikir baru mesti berdiri pula. Marx dan Engels, melahirkan pikiran dan pertandingan baru: "Kaum Proletar seluruh dunia bersatulah" Tidak lagi satu kasta dalam satu negeri, melainkan Kasta Hartawan diseluruh dunia haruslah dihancurkan oleh Kasta Proletar seluruh dunia, supaya datang Kemerdekaan dan Komunisme.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lenin, Trotsky, dll sejawatnya di Rusia sudah memperlihatkan, bagaimana besar kekuatan Kaum Proletar itu. Sekarang di seluruh dunia Kaum Proletar sedang mengatur kekuatan buat perkelahian yang lama, sukar dan bengis itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imperialisme boleh bersiap mengadakan kapal perang, meriam, kapal terbang, kapal selam, bom dan gas beracun. Bangsa jajahan di Timur dan Kasta Buruh di dunia boleh sementara dihisap dan ditindas, dan tiada apa kalau miskin dan tak bersenjata. Bangsa jajahan dan kasta Proletar ada mempunyai senjata yang lebih tajam dari pada peluru dan bom, yakni kerukunan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau Bangsa di jajahan dan Kaum Proletar mengerti, serukun dan mau, maka tentara imperialisme itu akan pecah dari dalam sendirinya karena yang memegang sekalian senjata itu ialah Kaum Proletar juga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Inilah senjata kita Kaum  Revolusioner yang    terutama sekali: Otak, Pena dan  Mulut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Serdadu Revolusi, ialah serdadu yang mengerti serta yakin, dan kalau saatnya sudah sampai, maka dengan perkataan dan tangan saja ia bisa menjatuhkan musuh berapapun besarnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Revolusi bukanlah peperangan imperialisme, yang dilakukan buat bunuh membunuh dan rampas merampas. Revolusi ialah satu pertarungan lahir dan batin, dimana satu Bangsa Tertindas atau Kasta Tertindas, melahirkan dan mengumpulkan sifat-sifat manusia yang termulia untuk maksud yang tersuci.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Revolusi di Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Objektifnya, yakni hal keadaan negeri di Indonesia sudahlah lama masak buat Revolusi. Lepasan-Kerja (pemecatan - catatan editor) terjadi hari-hari, dan tentara Kaum Buruh yang tak kerja (werkeloozen) belum pernah sebesar sekarang. Gaji Kaum Buruh banyak dikurangkan, walaupun harga barang-barang masih tetap tinggi. Pajak sudah lama melewati kekuatan Rakyat kita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun ekonomi dan politik dalam krisis, tetapi Rakyat belum lagi matang revolusioner, artinya itu belum sempurna siap dan bergerak sendirinya merebut dan memegang urusan ekonomi dan politik Negeri. Kesadaran Rakyat kita dalam hal politik, sungguhpun sangat cepat majunya, baru dalam permulaan, sebab itu masih satu persoalan besar, apakah ia cukup kuat dan giat buat menentang musuh di dalam dan di luar negeri (Inggris, Amerika dan Jepang) pada pertarungan yang tentu hebat dan lama sekali. Rakyat Indonesia, yang belum pernah sedikitpun mempunyai hak politik, karena, dari dulunya terhimpit oleh despotisme dan imperialisme, tentulah tiada bisa dibangun kan dalam dua tiga tahun saja. Perkumpulan politik kita mesti dilipat ganda banyak dan kualitas anggotanya pada masa ini juga. Berhubung dengan itu agitasi mesti lebih dalam dari pada yang sudah-sudah. Pun Serikat Buruh belum lagi cukup mempunyai banyak dan kualitasnya anggota, buat merebut ekonomi dan politik Negeri dan kelak menguruskan hasil dan pembagian hasil itu (produksi dan distribusi) serta mempertahankan negeri terhadap musuh di dalam dan di luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wataknya kelak Revolusi di Indonesia bolehlah sekarang kira-kira kita gambarkan. Tiadalah akan seperti di Marokko umpamanya, dimana ekonomi masih sangat mundur sekali. Oleh sebab disana pencarian hidup teutama pertanian kecil (bukanondernimingen) dan bergembala, maka tiadalah ada keberatan Abdul Karim buat menarik Tani dan Gembala itu lari ke gunung­gunung, buat meneruskan peperangan dengan Prancis dan Spanyol. Sebab negeri sangat besar dan penduduk sangat sedikit (luas Marokko saja, yang terletak ditepi gurun Pasir itu ada 4 1/2 Jawa, tetapi penduduk cuma 1/6 dari Jawa, sehingga Jawa ada 27 kali serapat Marokko dan kalau Jawa sekarang penduduknya serapat Marokko isinya tidak 36 juta melainkan 1 1/3 juta) dan pencarian hidup gampang sekali, maka perang gerilya, yakni perang lari-larian bisa diteruskan bertahun-tahun. Tetapi Jawa yang mempunyai isi negeri yang nomor satu rapatnya di dunia itu, dimana tak ada tempat lagi buat berlindung seperti Abdul Karim, dimana industri sudah sampai ke Trust dan Syndikaat, dimana hasil sama sekali tergantung pada pasar di luar negeri, dimana tiap-tiap tahun mesti masuk beras seharga F.75.000.000, jadi dimana ekonomi negeri sudah sama sekali berdasar kapitalistis dan internasional, tentulah tak setahun bisa menjalankan Karim-isme atau Dipo Negoro-isme. (Pada masa DipoNegoro penduduk Jawa baru 5 juta).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena di India ada Kasta Hartawan bumi putera yang kuat, maka juga pergerakan politik selamanya  ini  bisa nasionalistis tulen. Artinya itu, cuma buat mengusir pemerintah Inggris dan mengisi pemerintah itu dengan Wakil dari Hartawan bumi putera. hak Milik akan tinggal tetap, dan berhubung dengan itu perusahaan yang besar-besar tiada akan jatuh di tangan Buruh industri. Buat Rakyat Kemerdekaan di India itu tak akan berapa menambah hak ekonomi dan politik. Dalam perkelahian menentang Imperialisme Inggris, politiknya Kaum Nasionalis India semata-mata buat memakai Rakyat dan Buruh sabagai serdadu buat maksud Kaum Hartawan. Oleh karena senjata mogok, buat dilawankan kepada Inggris, juga berbahaya buat kapital nasional sendiri, maka Ghandi melarang Kaum Buruh mogok. Senjata yang bisa dipakai oleh Kaum Nasionalis di India ialah Boikot saja, karena boikot itu mengenai perusahaan dan perniagaan Inggris dan membesarkan perusahaan dan oerniagaan Hartawan Bumi Putera.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi di Indonesia senjata mogok itu bisa dipakai seluas-lusnya, karena tak ada kapital nasional yang bisa dikenai. Mogok umum di Indonesia bisa dan mesti disertai oleh demonstrasi umum, karena pergerakan politik kita bukan untuk satu golongan kecil, yakni dari hartawan saja, melainkan untuk rakyat melarat yang terbanyak itu. Rakyat Indonesia, kalau sudah merebut kekuasaan politik, bisa mengubah nasibnya dengan lekas dan bisa menasionalisi sekalian perusahaan yang besar-besar (kebon, pabrik, tambang, kereta, kapal, dan bank) yang sekarang di tangan hartawan Belanda. Bersama dengan ini, maka kelak nasib buruh dan Rakyat akan segera bisa menjadi baik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubung dengan hal diatas, maka Revolusi Indonesia kelak akan berbeda betul dengan pemberontakan Marokko dan pergerakan di India (Non-Cooperation clan Swaray). Revolusi Indonesia tiadalah akan semata-mata untuk menukar kekuasaan Belanda dengan kuasaan bumi putera (Peperangan Kemerdekaan bangsa), tetapi juga untuk menukar kekusaan hartawan Belanda dengan Buruh Indonesia (putaran-sosial).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jadi pergerakan kita sekarang, ialah nasionalis sosial, dan berpadanan dengan itu perkakas bertarung ialah perkakas militer (Karim-isme) bercampur dengan perkakas ekonomi dan politik, yakni mogok, boikot dan demonstrasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mana kelak yang lebih kuat diantara perkakas militer dan perkakas ekonomi dan politik itu, buat seluruh Indonesia, yang mempunyai pulau-pulau yang tiada sama kemajuannya, tiadalah bisa kita putuskan dengan sepatah perkataan saja. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di Jawa, sebagai sentral ekonomi Indonesia tentulah Karim-isme cuma sebagian bisa dilakukan, yakni kalau perkakas mogok, boikot dan demonstrasi sudah segenap waktu bisa dipakai. Artinya itu, kalau perkumpulan politik (P.K.I &amp;amp; S.R) dan Serikat Buruh sudah siap betul. Sungguhpun begitu, Kaum Serdadu tak sekejap boleh dilupakan. Karena, kalau kelak buruh dan Rakyat bisa merebut semua kota-kota di pesisir, tetapi benteng-benteng Bandung, Ambarawa dan Malang masih setia pada pemerintah, maka Belanda bisa lekas mendatangkan pertolongan dari luar Indonesia (Negeri Belanda, Inggris dan Amerika). Seperti dulu Spanyol, sesudah 3/4 di usir oleh Filipina, tiba-tiba menjual Filipina kepada Amerika, begitu juga kelak Belanda, kalau sudah 3/4 terusir, akan mencari akal busuk. Sebab itu benteng-benteng di Jawa, dimana kelak Belanda lari berlindung, mesti kita persatukan dengan Rakyat merah. Dan kelak kita tak boleh menjatuhkan palu terakhir dan menjalankan Karim-isme (kekuatan militer) sebelum kumpulan politik dan buruh matang betul dan kaum serdadu mengerti betul akan maksud kita. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di luar Jawa, dimana industri masih mundur Karim-isme bisa dilakukan. Tetapi kita mesti jaga lebih dahulu supaya Jawa sudah siap dengan senjatanya, yakni mogok, boikot dan demonstrasi. Kalau belum siap dan Karim-isme diluar Jawa dijalankan, maka pergerakan kita semacan itu akan sia-sia dan bisa lama memundurkan aksi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meskipun begitu, kalau sekiranya Karim-isme itu di Sumatra, Borneo, Celebes atau Ternate bisa dijalankan dengan lama dan kuat sekali, maka Belanda mesti akan dapat kesusahan besar. Tentu ia segera akan memukul pergerakan politik dan Serikat Buruh di Jawa, tetapi sebab ia terpaksa menaikkan pajak, semangat revolusioner akan tetap naik di seluruh Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita tahu, bahwa Anarkisme di mana-mana, sebab kapitalisme sudah sangat teratur, tak bisa menang. Anarkisme di India sudah masyur bertahun-tahun, tetapi tetap tinggal kalah. Di Mesir sangat memukul pergerakan yakni sebagai provokasi, yang memberi senjata pada Inggris buat melarang sama sekail pergerakan politik (sesudah pembunuhan Sir Lee Stac). Pergerakan Anarkisme malah sangat mengacaukan dan melemahkan pergerakan Buruh di Jepang. Tetapi walaupun kita sama sekali tak mempunyai pengharapan akan mendapat Kemerdekaan Indonesia dengan jalan Anarkisme, berhubung dengan sikap pemerintah, Anarkisme di Indonesia bisa timbul. Selama Rakyat masih bisa mendengar pembicaraan nasibnya, protes dan maksud kita, selamanya itu mereka bisa ditahan sampai ke Aksi Teratur. Tetapi kalau pemerintah menutup Kawah Pergerakan, maka api revolusioner itu akan meletus di lain tempat: "Umpamanya gula akan habis terbakar. jembatan akan runtuh, Lokomotif terguling dan Belanda terbunuh dimana-mana." Bukan karena kemauan P.K.I, melainkan kemauan Rakyat yang sudah putus asa, dan lari dari organisasi kita. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun pemberontakan Indonesia ada mengandung watak kebangsaan, tetapi, sebab ekonominya Jawa dan sebagian dari Sumatra sudah sangat maju kapitalistis dan internasional, maka Revolusi kita akan berwatak nasionalis-sosial, yakni campuran pergerakan kebangsaan dan kekastaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubung dengan wataknya Revolusi di Indonesia itu, maka walaupun Karim-isme atau perang gerilya dan Anarkisme (sebab kapitalisme masih muda) kelak menjadi "aanvulling" (tambahan - catatan editor) atau tempelan dari pergerakan revolusioner, tetapi kemerdekaan Indonesia terletak terutama pada massa aksi yang teratur: "mogok, boikot dan demonstrasi."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun berapa juga verleidelijk atau menggodanya Karim-isme dan Anarchisme (lebih-lebih kalau reaksi mengamuk!) kita tidak boleh diprovokasi dan menyimpang dari jalan yang betul, melainkan tetap mendidik sampai Rakyat bisa memegang senjata Massa aksi yang maha tajam itu.     &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.  Taktik di Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam daya upaja memecahkan imperialisme Belanda ini tak perlu kita berpusing kepada memikirkan Sosial Demokrasi, seperti Partai kita di Eropa dan Amerika. Stokvis c.s di negeri kita tak berani berhubung dengan rakyat, seperti juga di lain-lain negeri jajahan Kaum Sosial Democrat sama sekali jadi ekornya imperialisme.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cuma  kita mesti menjaga, supaya di dalam partai    kita,  semangat kelembekan Sosial Demokrat tak bisa    masuk. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Taktik kita terhadap kepada revolusioner kebangsaan dan agama ialah menarik mereka kedalam S.R Tiadalah ada salahnya, kalau kita kelak mengadaan Nasional-Platform, yakni Barisan Revolusioner yang memeluk sekalian Partai revolusioner besar kecil yang ada sekarang ini dan memimpin Barisan itu menjatuhkan imperialisme Belanda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Taktik kita ke dalam negeri, terutama menarik sekalian golongan yang tiada bersenang hati di bawah Belanda. Kita mesti berusaha keras mengatur buruh dan tani gula yang banyaknya barangkali lebih dari 1.000.000 itu. Buruh Kereta yang 80.000, buruh dan tani teh, kopi, coklat, jati, getah yang tentu tak kurang dari 1.000.000 pula, buruh minyak tanah yang kira-kira 40.000, tambang arang, emas, timah yang lebih dari 50.000 itu, buruh pelabuhan yang kira-kira 100.000 dan kuli kontrak yang 300.000 itu. Juga tiada boleh dilupakan Kaum Student yang di sekalian jajahan jadi pasukan-muka pergerakan. Di Jambi, Palembang, Padang, Banjarmasin bumi putera yang berada itu, perlu koperasi buat mempertahankan diri terhadap kepada kapitalis besar. Penduduk kota nomor satu dan kota nomor dua dan desa-desa harus semua ditarik ke dalam S.R. atau P.K.I. Disebabkan oleh bermacam-macam hal, maka masih sangat sedikit dari semua golongan yang di atas terikat oleh organisasi kita. Kita percaya, berapa pun besarnya reaksi dengan segala kecakapan pada waktu di muka ini kita akan bisa melipat ganda anggota P.K.I &amp;amp; S.R, Serikat Buruh, JOI d.s.g. Sedangkan Ternate suatu pulau kecil saja ada kalanya bisa menarik anggota 13.000 dan berkontribusi beratus rupiah. Kita sama sekali tak akan heran, kalau dijalankan betul, Jawa, Sumatra, Borneo, Celebes, Ambon dan Bali besok atau lusa akan memeluk beratus ribu anggota, yang bisa membayar cukup dan tetap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau kita tidak bisa mengadakan organisasi yang bisa memeluk sekalian Kasta dan sekalian pulau terberai-berai itu, maka pekerjaan melemparkan Imperialisme itu adalah satu percobaan yang sangat sia-sia. Belanda bisa lari dari satu tempat ke tempat yang lain buat berlindung dan mencari kawan. Jawa akan bisa di adu dengan Sumatra, Menado dan Ambon sama Rakyat Islam d.s.g. Sebab itu taktik kita yang terpenting sekali ialah mempersatukan semua pulau dan Kasta dengan Program Minimum, yang dirasa oleh semua penduduk Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau kita bisa mempersatukan seluruh Indonesia dan mengadakan disiplin yang keras, barulah kita bisa memikirkan merebut kemerdekaan dan barulah bisa mempertahankan kemerdekaan itu terhadap kepada Inggeris dan Amerika.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Inggris tentu tak suka Indonesia akan menang. Pusat armada di Singapura (satu negeri di Indonesia juga), gunanya buat mempertahankan dan melebarkan jajahan Inggris di Asia. Dalam waktu peperangan, maka Singapura mudah diperhubungkan dengan Australia, India dan HongKong. Kalau di Indonesia pecah revolusi, maka perhubungan dengan Australia akan terancam. Inilah hal yang bisa dijadikan alasan oleh Inggris buat menolong Belanda dan memakai Volkenbond buat membetulkan politik Inggris. Lagi pula berjuta-juta ada Kapital Inggris di kebon getah, teh dan terutama di Minyak Tanah, sehingga Koninkelijke Petroleum Maatschappij itu bolehlah dikatakan perusahaan Inggris. Akhirnya kemerdekaan Indonesia akan sangat disukai oleh Tanah Malakka dan India dan dengan lekas akan menggoncangkan seluruh jajahan Inggris, lebih berbahaya dari segala macam pergerakan revolusioner di Eropa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita tahu bahwa ketika Amerika memikir-mikir mau memberikan kemerdekaan pada Filipina, yang sudah lama matang buat Zelfbestuur (managemen swadaya - catatan editor) itu ia dapat tegoran dari Prancis, Inggris, Jepang dan Belanda. Alasan negeri-negeri imperialis, itu akan menyebabkan semua jajahan akan lebih keras menuntut kemerdekaannya dan akhirnya kekuasaan bangsa putih di Asia akan jatuh. Sebab itu terhadap kepada kemerdekaan Indonesia semua Imperialis mesti akan bersatu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun Amerika menamai dirinya demokratis, buat kita tak kurang bahayanya. Pada tahun yang sudah dia terpaksa membeli getah dari luar negeri F.1.500.000.000. Harga ini F.1000.000.000 lebih mahal dari 2 tahun terlampau. Sebabnya ialah karena Inggris yang menguasai 70%. dari semua getah di dunia bisa dengan sekehendak hatinya menaikan harga itu, sehingga Amerika mesti membayar berlipat ganda. Supaya ia lepas dari monopoli Inggris, maka Amerika berdamai dengan Belanda. Boleh jadi pada waktu paling di muka ini berjuta-juta modal Amerika akan masuk ke Indonesia buat menambah kebun getah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jadi ringkasnya Inggris dan Amerika (juga Jepang) semuanya cinta pada Indonesia dan semuanya mau menduduki. Kalau kita merdeka, tetapi tak cukup bersatu, maka seperti Tiongkok, kaum perampok itu akan mudah adu-mengadu kita sama kita. Negeri kita akan cerai-berai, diperintahi atau dipengaruhi oleh beberapa imperialis. Dengan segera kita yang tiada mempunyai armada ini, kalau pikiran dan maksud tak satu akan hancur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya kita tak boleh ngeri, asal mengerti, bahwa diantara satu imperialis dan yang lainnya, yang semuanya mengancam kita itu ada pertentangan keperluan. Politik kita kelak haruslah arif bijaksana mengenal pertentangan itu sewaktu-waktu dan memperdalam pertentangan itu supaya satu sama lainnya si perampok itu berkelahi dan kita terpelihara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau saatnya itu kelak sudah sampai, dan kita betul bersatu, maka nakoda kapal kemerdekaan itu, wajiblah dengan segala keyakinan, keberanian, ketetapan hati dan kepintaran menentang ribut topan di dalam dan di luar negeri, serta awas akan batu karang yang tersembunyi yang setiap waktu bisa menghancurkan kapal kemerdekaan itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4.  Massa Aksi di Indonesia..&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apabila kira-kira 30 tahun yang lalu Bonifacio mendapat jawab dari Rizal, bahwa Filipina tak bisa membuat Revolusi, karena tak mempunyai kapal dan bedil, maka Bonifacio dengan marah berkata: "Bliksem (petus!). Dimana dia baca?"&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dr. Jose Rizal, ialah seorang intelektual, yang dibuang oleh Spanyol ke sebuah pulau kecil. Ketika Dr. Rizal akan ditembak, sesudah diadakan tuduhan yang palsu, maka Bonifacio, yang memimpin Katipunan, yakni satu perkumpulan rahasia, mengirim wakil dengan rahasia sekali menemui Dr. Rizal, meminta, apakah ia mau lari dari penjara dan apakah ia mau memimpin Katipunan dalam revolusi kepada Spanyol. Dr. Rizal menjawab seperti diatas. Mendengar jawab itu Bonifacio menyindir dengan marah, bahwa tak ada buku sejarah, yang mengatakan, bahwa bangsa yang miskin dan tertindas itu mesti lebih dahulu menyiapkan kapal dan bedil buat revolusi. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bonifacio ialah seorang Proletar tulen. Tetapi sebab sangat rajin belajar sendiri, ia cukup mengetahui revolusi di Eropa dan Amerika. Oleh sebab keberanian, kesucian serta ketetapan hati ia mendapat pengaruh dalam rahasia di seluruh Filipina luar biasa sekali. Sudah lama ia bercerai dari La Liga Filipina (Persatuan Filipina) yang didirikan oleh Dr. Rizal, karena perkumpulan ini sudah terang kompromis dan lembek sekali. Tetapi sebab Rizal guru dari Bonifacio dan tinggal diseganinya sebagai pemikir dan satria yang luar biasa, ia sudi menyerahkan pimpinan Katipunan yang dibikinnya itu kepada Dr. Rizal. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apabila akhirnya Dr. Rizal dengan tuduhan palsu ditembak, maka seluruh rakyat Filipina meratap dan berniat membalas dendam. "Kalau Rizal seorang yang begitu besar, sehingga sangat disegani oleh Profesor di Eropa, yang tiada bersalah apa-apa ditembak lagi, siapakah yang bisa bekerja buat kemerdekaan Filipina?" Inilah pertanyaan yang lahir dalam pikiran Bumi Putera lelaki dan perempuan.   &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekaranglah datangnya saat buat Bonifacio akan memperlihatkan kepercayaannya atas massa atau Rakyat Filipina. Di Balintawak dekat dalam rahasia sekali Bonifacio mengumpulkan anggotanya dan dengan "bolo" (pedang) sekerat saja mereka menyerang tentara Spanyol yang teratur dan kuat itu. Beribu-ribu Rakyat mengikut panggilan Katipunan dengan bolo atau tanpa bolo. Dalam beberapa pertemuan dengan serdadu Spanyol, Rakyat Filipina, yang tak bersenjata itu merebut dengan tangan saja senapan serdadu Spanyol. Pada tiap-tiap medan peperangan berpuluh dan beratus senapan direbut, sehingga akhirnya cukup Rakyat mempunyai senjata api buat melawan Spanyol.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiada lama antaranya, maka bendera Rakyat yang karena miskinnya dibuat dari kain robek-robek saja terkibar di sebagian besar dari kepulauan Filipina. Hanyalah benteng Manila saja yang belum jatuh. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak lagi contohnya massa aksi, yakni aksi Rakyat, kalau betul sudah matang revolusioner, baik di Eropa ataupun Asia, walaupun tiada bersenjata apa-apa bisa menundukan laskar yang teratur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Umpamanya L'Ouverture, seorang budak Negro di Haiti (Amerika Tengah), yang memimpin budak miskin pula, bisa menaklukan Inggris, Spanyol dan serdadu Napoleon berikut-ikut. Di Revolusi Besar Prancis (1789) Rakyat yang paling miskin dan kurus kelaparan itu, sesudah kena propaganda revolusioner bertahun-tahun, akhirnya dengan tangan dan batu juga mengalahkan Laskar Raja dan Bangsawannya. Juga buruh di Rusia, yang miskin itu, baik pada revolusi 1905 ataupun 1917, tiada lebih dahulu memesan "kapal terbang" sebelum ia menyerang tentara Kaum Hartawan dan bangsawan di Rusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Senjatanya Rakyat yang betul revolusioner itu, hanyalah pena, mulut dan tangan saja. Kalau semangat revolusioner sudah betul menjadi darah daging Rakyat melarat, maka semua kepandaian dan senjata itu akan timbul sendirinya. Senapan bisa direbut dengan tangan dan juga seperti di Filipina tukang rumput bisa jadi jenderal. Inilah kemuliaan Revolusi dan kesucian si Revolusioner. Kita diatas mengambil contoh terutama dari Filipina, sebab penduduknya lebih dekat kepada kita dari penduduk negeri lain.         &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tak bisa bantah, "O, ya, mereka tinggal di negeri sejuk sebab itu kuat." Atau "mereka berkulit putih atau berasal ini atau itu." Rakyat Filipina juga bangsa Melayu dan diamnya juga di Khatulistiwa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya, walaupun sifat dan asal kita bersamaan, dalam hal lain-lain Rakyat Filipina lebih dalam kecelakaan dari pada kita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika mereka memberontak kepada Spanyol dan kemudian kepada Amerika, serta 3 tahun mendirikan Republik, jumlah jiwa cuma 8 juta. Spanyol kira kira 25 juta, dan satu imperialisme terbesar di dunia seperti Inggris. Amerika yang 50.000 terbunuh oleh bolo itu terkaya, dan mempunyai 100.000.000 jiwa. Sedangkan Indonesia sekarang mempunyai 55.000.000 jiwa, dan menentang Belanda yang cuma 6 1/2 juta saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita sekarang ada mempunyai perkakas mogok, tetapi Rakyat Filipina, sebab waktu revolusi industri belum maju, terpaksa langsung bertanding di medan peperangan, yang menuntut korban 100.000 jiwa mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita lebih besar membayar pajak dari Filipina di bawah Spanyol, yang sekarang lebih besar dari bangsa apa­pun juga di dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita masih bisa dan tetap akan bisa menaburkan benih revolusi, karena kita cukup mempunyai propagandisten dan surat kabar yang dibantu oleh kereta dan kapal. Sedangkan di Filipina Rizal yang memimpin La Liga Filipina yang sejinak B.O itu ditembak, dan propaganda terutama harus dijalankan dari luar negeri, Banifacio harus menjalankan propagandanya di Filipina dengan sangat rahasia sekali serta dengan kaki atau sampan kecil saja. Buku-buku dan surat kabar revolusioner, karangan Rizal, Del Pilar, d.s.g. yang dimasukan dengan rahasia sekali dari Spanyol, Hong-Kong dan Singapore, dibacakan oleh pasukan bacaan, yang membacakan pada Rakyat yang tak pandai membaca itu dalam rahasia sekali, karena pemerintah menghukum dan menyiksa keras si pembaca atau si punya buku dan surat kabar itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun Rakyat Filipina lebih dalam kecelakaan dari pada kita, ia toh bisa dan berani menentang Spanyol dan Amerika lamanya 3 tahun dan acap kali mengalahkan tentara kedua negeri yang sangat teratur itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita satu menitpun tak ada syak (keraguan) dan waham (ketidakpercayaan), bahwa kalau Rakyat Indonesia cukup sadar dalam hal politik (politik bewust) dan sudah tunggang mau merebut haknya baik ekonomi ataupun politik, juga dengan tangan dan batu saja bisa mengusir Belanda yang dua tiga biji itu dan menolak semua musuh dari luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disini tiada tempatnya buat membicarakan perkakas kita yang baik kita pakai, kalau Mogok dan demonstrasi kelak sudah melewati batas perdamaian dan sampai sendirinya ke tingkat perkelahian senjata. Memang kita di negeri semacam Indonesia cukup menyimpan senjata, yang segera akan kelihatan, apabila Rakyat yang 55.000.000 juta itu betul-betul sadar politik dan sama sekali keputusan jalan damai. Ringkasnya, kalau semuanya Buruh, Tani, Saudagar, Student, Penduduk kota, Jongos, Shauffeur, Serdadu, Matros, Tukang Cukur, Koki d.s.g  mau merebut kemerdekaan dan rela mengorbankan jiwa seperti Rakyat Filipina tempo hari, maka kemerdekaan kita letaknya di ujung pena saja: "Besok Republik Indonesia bisa ditabalkan (diproklamasikan)."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5.  Rapat Rakyat Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat kita buat Massa Aksi itu sewaktu-waktu bisa datang. Krisis ekonomi dan politik yang sekarang sudah begitu dalam akan bertambah dalam lagi, kalau umpamanya datang bahaya kelaparan dan bahaya penyakit. Juga sikap reaksioner dari pemerintah sekarang ini sangat memperdalam permusuhan antara Belanda dan Rakyat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau Rakyat sempurna sadar akan haknya sebagai manusia, maka semua pembuangan dan tutupan yang sewenang-wenang itu kelak segera akan dibalas oleh Rakyat sendirinya. Kalau umpamanya Pimpinan melarang perbuatan semacam itu, maka Pimpinan itu sendiri akan dilemparkan oleh Rakyat dan akan diganti oleh Rakyat sendiri dengan pimpinan baru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau pemerintah melarang membuat pertemuan, demonstrasi &amp;amp; mogok, maka ia tiada akan memperdulikan perintah itu lagi, melainkan terus keluar memperlihatkan tiada senangnya dengan peraturan yang ada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau pemerintah mengirim Polisi dan Serdadu, maka Rakyat yang betul betul sadar itu sendirinya akan mendekati Serdadu dan Polisi itu. Kalau mereka itu tak mau memihak kepada Rakyat, maka Rakyat akan mengadakan Pasukan-Merah sendiri, mencari senjata sendiri dan bekerja sendiri buat mempertahankan Mogok, Pertemuan, dan demonstrasi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau Pemerintah terus memakai "Tangan Besi" dan tiada menimbang permintaan Rakyat (yang mengisi perutnya hamba-hamba Pemerintah itu), tetapi Rakyat belum berani melawan berterang-terangan, maka ia akan sendirinya berjalan gelap-gelap. Seperti di Mesir, India dan Irlandia juga di Indonesia akan kejadian sabotase, racun-meracun dan bunuh-membunuh dengan rahasia sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semangat revolusi itu, kalau sudah menjadi darah daging Rakyat melarat tiadalah bisa dibunuh dengan hukum atau peluru lagi. Kalau semangat revolusi itu sudah masuk di semua kasta dan sekalian pulau, maka datanglah saatnya buat memanggil Rapat Rakyat Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Proletar, Tani, Student, Saudagar dan Serdadu haruslah dengan atau tanpa izin Pemerintah, memilih dan mengirimkan Wakil ke suatu tempat di Indonesia buat Rapat atau Pertemuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rapat Rakyat ini akan membuat Hukum untuk Rakyat Indonesia, dan kalau pemerintah Belanda tak suka menjalankan atau mengaku hukum itu dan tak suka pergi (sudah tentu is tak suka!!), maka Rapat Rakyat itu mesti sendirinya menjalankan. Kalau Pemerintah mengirim laskarnya, maka Rakyat mesti sudah bisa menjawab kiriman pemerintah itu dengan sepatutnya (baik dengan propaganda dalam laskar itu sendiri, baikpun dengan Tentara Merah).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memanggil Rapat Rakyat itu artinya mengirim ultimatum atau menentang Pemerintah sekarang, yang kita sudah yakin tak bisa mengurus terus ekonomi dan politik negeri dan tak disukai lagi oleh Rakyat. Panggilan kita itu haruslah dikeraskan oleh kemauan dan perbuatan Rakyat, yang sudah terbukti pada Mogok Umum dan demonstrasi, yang tak memperdulikan korban lagi dan dimana seluruh Rakyat melarat memperlihatkan ketetapan hati dan kegiatan. Dalam hal ini Rapat Rakyat itu, seolah-olah mahkotanya aksi kita dalam politik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentulah Rapat Rakyat itu baru bisa dipanggil kalau sudah lahir alamat dan tanda-tanda, bahwa Rakyat melarat sudah matang revolusioner:: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Umpamanya kalau mogok, pertemuan dan demonstrasi, walaupun dilarang bisa diteruskan (tentulah kalau pimpinan merasa perlu...). Kalau tuntutan ekonomi dan politik dalam mogok dan demonstrasi sudah kelihatan terasa dan termakan betul oleh seluruh Rakyat. Misalnya buruh tetap menuntut tambah gaji, sebagian dari untung, merdeka bergerak, dan disana sini sudah mendirikan dewan buruh atau rapat buruh buat menguruskan hasil serta sudah merebut pabrik atau kebun terutama di SOLO-VALLEY, atau Daerah Kali Solo, yakni pusatnya ekonomi Indonesia. Kalau berhari dan berbulan (seperti di Mesir, India, Tiongkok, Jerman dan Rusia) Rakyat Indonesia berdemonstrasi menuntut di hapuskan pajak, menuntut Algemeen Kiesrech (hak umum untuk memilih - catatan editor), Rapat-Rakyat, Kemerdekaan dan tuntutan politik dll. Kalau Rakyat yang 55 juta itu, lebih suka mati dari pada hidup seperti budak dan ketawa melihat kuda dan karet polisi. Kalau bui dibongkar dan pemimpin dikeluarkan. Kalau buruh kereta dan kapal mungkir membawa pemimpinnya ke tempat buangan. Kalau kaum serdadu mungkir menindas pergerakan dan mungkir menembak Rakyat yang tak bersenjata dan tak bersalah itu. Kalau Belanda tidur dengan pistol di tangannya, dan tak berani makan, kalau makanannya tidak diperiksa oleh dokter lebih dahulu..." &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Inilah semuanya tanda dan alamat, bahwa semangat revolusi itu sudah berurat dalam dan menjalar kemana-mana, serta tiada bisa diobat lagi, kecuali dengan kemerdekaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Barulah datang saatnya buat pimpinan revolusioner itu menimbang kekuatan kawan dan lawan, mengumpulkan Tentara Nasional dan mengerahkan tentara itu terhadap kepada musuh di dalam dan di luar negeri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebelumnya saat buat bertanding habis-habisan itu datang, maka pekerjaan kita yang terutama terus: "Pertama Agitasi, kedua Agitasi dan ketiga Agitasi."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau Bonifacio, seorang proletar tulen, dengan jiwa selalu terancam dan dimana perkakas buat propaganda dan agitasi belum secukup di Indonesia bisa mengadakan Nasional Organisasi pada beratus-ratus kepulauan Filipina, maka kita di Indonesia Selatan dengan jiwa 55 juta dan perkakas lahir batin lebih dari cukup, tak boleh lekas putus asa dan tak boleh lekas menyimpang dari jalan yang betul.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kita, sebagai Kaum Marxis, mesti tinggal bersandar pada keperluan, kemauan dan kekuatan massa, yakni Rakyat melarat dan kalau mereka belum masak-revolusioner dan belum siap menentang musuh dalam dan luar negeri yang sangat teratur itu, maka kita tak boleh diprovokasi oleh musuh, yakni tertipu bertarung pada tempat dan saat yang tidak kita kehendaki.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua pemberontakan Indonesia, kalau Rakyat belum matang revolusioner akan sia-sia belaka. Semua macam "putch" (pemberontakan tiba-tiba dari satu golongan kecil) harus kita singkiri dan musuhi. Kalau pemberontakan semacam itu sekiranya menang, maka Indonesia merdeka itu akan segera jatuh di tangan seorang militer. Dalam hal ini tiadalah politik dan rakyat yang berkuasa melainkan tangan besi seorang Militer. Hal ini terjadi di Tiongkok pada tahun 1911, dimana kekuasaan politik segera lepas dari Dr. Sun Yat Sen dan jatuh di tangan Yuan Shi Kai &amp;amp; Co.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Aksi ekonomi dan politik yang menempuh Rapat Rakyat itulah buat kita jalan yang tentu dan sentosa buat merebut kemerdekaan, menjatuhkan segala kekuasaan negeri pada Kaum politik, dan menghindarkan diktaturnya dan tindasan Kaum Militer dari bangsa Indonesia sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. Revolusioner Komunis.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada suatu negeri yang banyak mengandung sisa feodalisme, serta bibit kapitalisme, seperti Indonesia, sangatlah susah sekali buat menjadi komunis. Sisa feodalisme membawa agama dan politik, yang walaupun bisa revolusioner (seperti Dipo Negoro) tetapi sifatnya feodalistis. Demikianlah B.O &amp;amp; N.I.P yang percaya, bahwa Kerajaan cara Majapahit bisa dibangunkan lagi atau S.I yang dulunya percaya, bahwa Kerajaan Islam dan Kalifatullah yakni peraturan feodalisme akan bisa dibangunkan lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kapitalisme jajahan yang masih muda di negeri kita itu, mengandung bermacam-macam bibit pula. Ada yang bersifat kapitalistis, seperti juga terbawa oleh 3 partai yang tersebut diatas tadi, yang menghendaki modal Indonesia. Buruhnya yang masih muda itu ada pula mengandung anarkisme, yakni paham borjuis kecil yang dikalahkan oleh Modal-Besar. Demikianlah Anarkis di Eropa, yang hidup pada zaman yang lalu seperti Waffling, Proudon, Bakunin d.s.g mewakili kasta borjuis kecil atau kasta buruh yang kemarinnya borjuis kecil. Sebab borjuis kecil itu individualis (berdiri sendiri), karena ia si berpunya kecil, maka perkakasnya bertarung juga individualistis (memakai bom) dan tak tahu bersama-sama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tetapi buruh industri model baru, yang selalu kerja bersama-sama dan berdisiplin (karena kapitalisme memaksa begitu), membawa wataknya bersama itu menentang kapitalisme. Sebab itulah pada buruh industri, dan cuma pada buruh industri saja terbawa "kerja bersama" dan "bertarung bersama" dan dengan didikan lekas bisa hilang individualisme. Makin maju kapitalisme makin hilang anakisme (seperti Inggris dan Jerman) dan makin maju "kerja bersama" dan "aksi Bersama."&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jadi revolusioner agama, feodalistis, revolusioner hartawan dan anarkistis cuma perkara yang lalu, yang besok kalau industri maju, akan hilang seperti abu ditiup angin, dan berganti dengan revolusioner komunis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dasarnya revolusioner komunis, tiadalah perasaan, seperti pada revolusioner yang lain-lain tadi, melainkan pengetahuan. Adanya revolusi kita percaya, karena perbantahan kasta. Di Indonesia karena kasta modal Belanda tak bisa kompromi dengan Rakyat Indonesia. Datangnya revolusi tidak tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan kalau Krisis ekonomi dan politik sudah cukup dalam dan Rakyat sudah cukup sadar. Revolusi itu bisa berhasil, kalau banyak dan kualitas anggota, dan pengaruhnya partai kita sudah mencukupi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau keadaan ekonomi dan politik sudah cukup matang-revolusioner, tetapi Rakyat dan Partai kita belum siap, maka kita komunis mesti bisa menahan perasaan kita sebagai individu, menyingkiri segala percobaan avonturisme atau sia-sia dan menunggu bertarung sampai Rakyat dan Partai kita siap. Tiadalah sekejap kita boleh ditarik perasaan, melainkan tetap berdiri atas pengetahuan. Tentu kita menjunjung tinggi keberanian Partai kita, kalau disana atau sini didorong oleh musuh. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Imperialis putih ialah, politik Amerika semacam itu akan atau Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya tetapi tidak seperti individu, melainkan bersama dengan Massa dan buat Rakyat Melarat itu pula. Aksi dan keberanian individual buat kita sangat sedikit harganya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau keadaan ekonomi &amp;amp; politik umpamanya sementara berubah baik, dan Rakyat jadi sementara lembek, maka kita tak boleh jadi refomis, seperti Sosial Demokrat atau jadi mata gelap seperti anarkis, melainkan tetap meneruskan Aksi revolusioner yang sepadan dengan keadaan. Kita tahu, bahwa Kapitalisme tak bisa mengatur negeri dan besoknya krisis mesti datang lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Strategi kita tiadalah bersandar atas perasaan, seperti kebangsaan atau keberanian sebagai individu (melemparkan bom), melainkan bersandar pada pengetahuan tentangan ekonomi &amp;amp; politik Negeri dan pengetahuan yang dalam sekali atas psikologi atau tabiat Rakyat kita, tabiat mana turun naik sepadan dengan keadaan ekonomi. Bagaimana keadaan industri, pertanian dan perniagaan serta sikapnya imperialisme Belanda haruslah kita ketahui betul, karena keadaan inilah yang menurun naikkan semangat revolusionernya seluruh Rakyat melarat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau krisis dalam, rakyat melarat matang revolusioner. Partai kita sempurna mempunyai kekuatan, disiplin dan pengaruh, serta musuh di dalam dan di luar negeri kebingungan, maka barulah General Staff kita mengumpulkan segala kekuatan yang ada dan mengorbankan tenaga dan jiwa buat kemerdekaan sebagai bangsa dan sebagai kasta.. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hai Rakyat Melarat !! &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berapa lamakah lagi kamu mau menderita injakan dan tindasan semacam ini? Tiadakah kamu tahu bahwa sangat besar kekuatan mu yang tersembunyi? Tiadakah kamu insaf, bahwa kerukunanmu artinya kemerdekaan buat kamu dan keturunanmu? Beranikah kamu terus hidup dalam perbudakan dan menyarankan anak cucumu juga jadi budak ?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hai  Kawan-Kawan Separtai !! &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketahuilah, bahwa Rakyat kita, yang beribu tahun diajar jongkok, yang belum pernah mempunyai hak sebagai manusia itu tak mudah dididik. Janganlah kamu putus asa, kalau daya upayamu tidak lekas memperlihatkan hasil yang nyata. Teruskan pekerjaanmu yang maha-mulia itu, di tengah-tengah ratap tangis Rakyat melarat. Teruskan pekerjaanmu, walaupun bui, buangan, tonggak gantungan selalu mengancam. Ketahuilah, bahwa didikan itulah yang sangat ditakuti oleh musuh kita. Karena tak ada bangsa atau kasta yang mengerti di dunia ini yang rela ditindas dan dihisap...&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kawan-Kawan !!!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Janganlah segan belajar dan membaca! Pengetahuan itulah perkakasnya Kaum Hartawan menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu bisa merebut hakmu dan hak Rakyat. Tuntutlah pelajaran dan asahlah otakmu dimana juga, dalam pekerjaanmu, dalam bui ataupun buangan! Janganlah kamu sangka, bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu-ribu tahun terhimpit itu. Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan. Ada kalanya kelak dari kamu, Rakyat melarat itu akan menuntut segala macam pengetahuan, seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah !! &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau saatnya datang, berdirilah tegak di tengah­-tengah Rakyat, menentang peluru dan bayonetnya musuh. Jangan dilupakan ideal kita komunis: "Menang atau mati dalam Massa Aksi." &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di tanganmu tergenggam  Kemerdekaan-Indonesia, yakni    Kekapaan, Keselamatan, Kepandaian  dan Peradaban... &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kamu Kaum Revolusioner !! &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kelak Rakyat keturunanmu dan Angin Kemerdekaan akan berbisik-bisik dengan bunga-bungaan di atas kuburanmu: "Disini bersemayam Semangat Revolusioner"&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tokyo, Januari 1926.&lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt;Di Kutip Dari www.marxist.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4484010673516050752-5037794839723082883?l=wismakiri-ponorogo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/feeds/5037794839723082883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/2009/04/semangat-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default/5037794839723082883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4484010673516050752/posts/default/5037794839723082883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wismakiri-ponorogo.blogspot.com/2009/04/semangat-muda.html' title='Semangat Muda'/><author><name>" Komunitas Kiri - Ponorogo "</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16581105841070776783</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://4.bp.blogspot.com/_Aaxc4WfbAH8/SeX6GtJ-MkI/AAAAAAAAAAM/mWTj7VQhnlU/S220/jajalan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4484010673516050752.post-6126321937029842434</id><published>2009-04-14T15:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T15:34:06.932-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tan Malaka'/><title type='text'>Aksi Massa</title><content type='html'>&lt;h1&gt;Aksi Massa &lt;/h1&gt; &lt;h2&gt; Tan Malaka (1926)&lt;/h2&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;p&gt;Ditulis oleh Tan Malaka pada tahun 1926 di Singapura. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt; Diambil dari buku "Aksi Massa" terbitan Teplok Press, 2000.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dimuat ke HTML oleh Ted Crawford dan Ted Sprague. &lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt;    &lt;h3&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR  ISI&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/KataPengantar.htm"&gt;PENGANTAR PENULIS&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab1.htm"&gt;I. REVOLUSI&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab2.htm"&gt;II. IKHTISAR TENTANG RIWAYAT INDONESIA &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pengaruh Luar Negeri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bangsa Indonesia yang Asli&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengaruh Hindu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kegundahan (Pesimisme) Empu Sedah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tarunajaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diponegoro&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab3.htm"&gt;III. BEBERAPA MACAM IMPERIALISME&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berbagai Cara Pemerasan dan Penindasan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebab-Sebab Perbedaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akibat dari Berbagai Macam Cara Pemerasan dan Penindasan     &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;India &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filipina&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Indonesia &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab4.htm"&gt;IV. KAPITALISME INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kapitalisme yang Masih Muda&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tumbuh Tidak dengan Semestinya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kapital Indonesia Itu Internasional&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab5.htm"&gt;V.  KEADAAN RAKYAT INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kemelaratan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kegelapan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelaliman dan Perbudakan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab6.htm"&gt;VI. KEADAAN SOSIAL&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab7.htm"&gt;VII.  KEADAAN POLITIK&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tinjauan ke Belakang       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;Pokok Undang-Undang Minangkabau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perwakilan Rakyat atau Soviet&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dewan "Rakyat" Kita!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harapan kepada Badan Perwakilan Rakyat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab8.htm"&gt;VIII.  REVOLUSI DI INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kemungkinan Besar Akan Timbulnya Revolusi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sifat Revolusi Indonesia yang Akan Timbul&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab9.htm"&gt;IX.  PERKAKAS REVOLUSI KITA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Partai dan Sifat-Sifatnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program Nasional Kita &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tugas dan Organisasi Partai&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab10.htm"&gt;X.  SEKILAS TENTANG GERAKAN KEMERDEKAAN DI INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kegagalan Partai Borjuis       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt;Budi Utomo&lt;/li&gt;&lt;li&gt;National Indische Party&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sarekat Islam&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana Sekarang?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;De Indonesische Studieclub&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab11.htm"&gt;XI.  FEDERASI REPUBLIK INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Bab12.htm"&gt;XII.  KHAYALAN SEORANG REVOLUSIONER&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/AksiMassa/Program.htm"&gt;LAMPIRAN: RANCANGAN  UNTUK PROGRAM PROLETAR DI INDONESIA&lt;/a&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3&gt; &lt;/h3&gt; &lt;hr class="end"&gt; &lt;p class="footer"&gt; &lt;/p&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;PENGANTAR  PENULIS&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h4 align="center"&gt;&lt;em&gt;Alles was besteht ist wert,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;    &lt;em&gt;dass es zu Gruende  geht.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;    &lt;em&gt;(Mephistopheles)&lt;/em&gt;&lt;/h4&gt; &lt;p&gt;Asia sudah bangun!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lambat laun bangsa-bangsa Asia yang terkungkung itu tentu akan memperoleh kebebasan dan kemerdekaan. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bi­lamana dan dimana bendera kemerdekaan yang pertama akan berkibar. Siapa yang menyelidiki sedalam-dalam­nya perekonomian Timur, politik dan sosiologi akan da­pat menunjukkan halkah rantai yang selemah-lemahnya dalam rentengan rantai panjang yang mengikat perbuda­kan Timur. Indonesialah halkah rantai yang lemah itu. Di Indonesia benteng imperialisme Barat yang pertama dapat ditempur dengan berhasil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imperialisme Belanda lebih tua dan lebih kuno dari pada imperialisme Inggris dan Amerika, dipisahkan oleh satu lembah yang tak dapat diseberangi dari jajahannya. Negeri Belanda, karena tidak mempunyai bahan-bahan untuk industrinya, dari dahulu hanya mengusahakan per­tanian dan perdagangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penjabaran kapitalnya dari permulaan abad ini ke se­luruh Indonesia  sangat luasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pusat industri Belanda sekarang terletak di Indone­sia, sedang pusat perdagangan dan keuangannya ada di negeri Belanda. Bankir, industrialis dan saudagar tinggal di negeri Belanda, sedang buruh dan tani di Indonesia. Jika kita perhatikan kedua lautan yang memisahkan Be­landa dengan Indonesia itu, serta tidak pula kita lupakan perbedaan bangsa, agama, bahasa, adat-istiadat antara penjajah dan si terjajah, antara pemeras dan si terperas, tampaklah kepada kita satu perbandingan dari pergaul­an yang luar biasa di dunia imperialisme waktu seka­rang. Luar biasa, sebab kaum modal bumiputra tak ada. Jadi, titian antara negeri Belanda dengan Indonesia pu­tus sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiadaan kaum modal bumiputra yang sifatnya hampir bersamaan dengan imperialisme Belanda (sama­sama mau menggencet buruh dan tani) menyebabkan im­perialisme Belanda sukar sekali membereskan krisis eko­nomi di Indonesia. Dimanakah ada di Indonesia tuan-tu­an tanah bumiputra seperti di Mesir, India dan Filipina yang dapat menunjang kaum imperialisme untuk membela kepentingan-kepentingan ekonomi mereka? Dan dimanakah ada kaum modal bumiputra yang kuat, yang meminta-minta kekuasaan dalam politik perekonomian‑nya seperti di India?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tuan-tuan tanah Indonesia yang sedikit berarti telah lama menjadi gembala, kuli atau kuli tinta! Bangsa-bang­sa Eropa, Tionghoa dan dan Arab menguasai semua per­dagangan besar, menengah ataupun kecil! Bangsa Indo­nesia yang menengah atau yang kecil telah lenyap dari Pulau Jawa sejak beberapa tahun yang silam oleh pema­sukan barang-barang pabrik dari Eropa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Soal perguruan dengan sengaja dilengahkan oleh Be­landa, kaum intelektual jadi kurang. Sebab itu, kendati­pun kaum saudagar bumiputra seperti India, mau me­nyokong mereka mendirikan industri, toh tidak akan berhasil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebab ketiadaan kaum modal tuan tanah bumiputra itu, maka setiap aksi  parlementer dari partai nasional ma­na pun tidak berguna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimanakah "bapak gula" dan "nenek minyak" di negeri Belanda akan dapat memberikan hak pemilihan umum kepada bangsa Indonesia? Atau dengan lain arti: mempercayakan kekuasaan politik kepada wakil-wakil tani dan buruh yang miskin? Jika sekiranya di belakang kaum intelektual, berdiri tuan-tuan tanah dan kaum modal bumiputra yang akan mereka wakili di parlemen, tentulah akan berlainan keadaan itu. Dan cakap angin tentang "perubahan dalam pemerintahan di Indonesia" ada juga artinya sedikit. Imperialis Belanda berangsur-angsur, lambat laun dapat menyerahkan pemerintahan itu kepada bangsa Indonesia yang cakap dan jujur. Bukan­kah melindungi modal bumiputra, sebagian juga berarti melindungi modal bangsa asing? Di dalam nisbah seka­rang ini nyatalah bahwa flap pemerintahan bangsa Indo­nesia haruslah tunduk kepada kemauan modal asing yang besar-besar. Dan pemerintahan seperti itu tak akan diakui sebagai berasal dari rakyat dan oleh rakyat!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendeknya, Indonesia tak mempunyai faktor-faktor ekonomi, sosial ataupun intelektual buat melepaskan diri dari perbudakan ekonomi dan politik di dalam lingkung­an imperialisme Belanda. Bersamaan dengan itu, kans untuk mencapai kemerdekaan dalam arti yang seluas­-luasnya dengan jalan menguasai setengah, tiga perempat, hingga tujuh per delapan parlemen lenyap buat selama­nya. Impian seorang makhluk seperti Notosuroto yang mengangan-angankan Nederlandia Raja akan tetap jadi lamunan orang yang fasik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Indonesia dapat menaikkan ekonominya jika kekua­saan politik ada di tangan rakyat. Dan Indonesia akan mendapat kekuasaan politik tidak dengan jalan apa pun, kecuali dengan aksi politik yang revolusioner lagi teratur, dan yang tidak mau tunduk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dewan Rakyat kadang-kadang boleh dimasuki! Teta­pi bukan dipergunakan sebagai senjata yang sah untuk memperoleh pemerintahan nasional yang bertanggung jawab penuh dengan perantaraan Dewan Rakyat bekerja sama dengan imperialis Belanda. Tetapi guna mengem­bangkan usaha revolusioner hingga ke dalam kamar-kamar diperoleh dengan perantaraan aksi-aksi parlementer samalah dengan seseorang di Gurun Sahara yang mem­bum fatamorgana. Tetapi siapa yang mempergunakan sekalian pengetahuannya untuk aksi massa yang teratur, niscaya memperoleh kemenangan itu seumpama "ayam pulang ke kandangnya".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Soal kemerdekaan Indonesia bukanlah satu soal yang terbatas di Indonesia saja, yang dapat dipecahkan dengan perantaraan kongres dan putusan-putusan yang lembek di Dewan Rakyat, jangan dikata lagi dengan perantaraan kelakar-kelakar ekonomi dan kebudayaan di warung ko­pi. Soal itu mempunyai hubungan yang sangat rapat de­ngan kekuasaan Barat terhadap bangsa berwarna di benua Timur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu sebab — dan ini bukan sebab yang terkecil — mengapa Amerika tidak juga memberikan kemerde­kaan yang seluas-luasnya kepada orang Indonesia Utara (Filipina) yang menurut perkataan kawan ataupun lawan­nya telah lama matang (seperti kata surat-surat kabar im­perialisme Amerika di Manila) adalah bahwa kemerde­kaan Filipina berarti satu pemberontakan dan penyembelihan di Asia melawan kekuasaan kulit putih (a general re­volt in Asiatic countries against white authority, uprising being attended by slaughter). Kelepasan Indonesia (pu­sat arti ilmu bumi dan peperangan Asia, penduduk lima kali lebih besar dari Filipina dan dengan perdagangan in­ternasional) mustahil tidak berarti sebagai satu pistol yang ditujukan kepada kekuasaan Barat terutama Inggris di Asia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belum lama ini bekas putra mahkota Wilhelm mene­rangkan kepada seorang wakil dari United Press di Locarno yang diumumkan oleh radio ke seluruh dunia, bah­wa bila manusia yang berjuta-juta di Asia pada satu hari bergerak memukul Anglosakson (Inggris, Prancis dan Be­landa) niscaya bangsa Melayulah yang pertama kali akan menyebabkan kesusahan. Pengharapan imperialistis dan sindiran macam apakah yang dimaksud putra mahkota yang senewen itu, bagi kita tetap nyata: bahwa Indonesia sekarang bukan Indonesia pada beberapa tahun yang lalu. Indonesia telah mengambil tempat yang penting dalam barisan berjuta-juta manusia di Asia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu, kemenangan yang diperoleh dengan jalan damai dan parlementer sama sekali tak boleh dipikirkan. Bukankah hal serupa itu tepat mengganggu ketentraman kapitalis di Timur? Bila suatu hari Indonesia terlepas dan mempertahankan kemerdekaannya dari musuh-musuh dalam dan luar negeri, tentulah hal tersebut ditentukan oleh kodrat revolusioner, yakni yang disebabkan oleh ak­si massa: dari massa dan untuk massa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau penjajahan Belanda selama 300 tahun itu tidak berupa perampokan (membunuh habis industri bumiput­ra) niscaya derajat kaum intelektual kita jauh berbeda dari keadaan sekarang! Dan kita tentulah mempunyai sema­ngat kecerdasan (inteligensia) yang menurut asal, didikan dan perasaan menjadi pemuka dari tuan-tuan tanah, in­dustri, saudagar dan pegawai bumiputra. Pun juga akan timbul pergerakan demokrasi dan kemerdekaan nasional yang bersifat kerja sama (kompromis) dengan bangsa Be­landa atas pertolongan buruh dan tani seperti di India, Mesir dan Filipina lebih kurang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atas ketiadaan kaum modal bumiputra, intelegensia kita tak kuat berdiri. Ia melayang-layang di antara rakyat dengan pemerintah. Ia tidak mempunyai perasaan ingin mengorbankan diri seperti yang ditunjukkan nasionalis di negeri-negeri lain. Ia tidak mempunyai alat-alat pera­saan, pemikiran yang mendekatkan dirinya kepada mas­sa (rakyat murba). Disebabkan imperialis, kaum intelek­tual kita jauh dari massa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka tidak mempunyai satu kesaktian yang dapat mempengaruhi dan menarik hati rakyat. Kaum intelektual kita tidak beroleh kepercayaan dan simpati massa untuk menggerakkan mereka, membuat aksi-aksi serta memimpin mereka. Tambahan lagi, sebab jumlah kaum terpelajar yang tidak seberapa, mereka masih tinggal di dalam kelas mereka dan belum menjadi buruh terpelajar.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Untuk sementara waktu, dapatlah mereka menonton dari jauh. Lain halnya kalau jumlah mereka banyak, tentulah mereka akan luntang-lantung dan merasakan kemelaratan sebagai buruh industri dengan penuh "kegembiraan" dalam medan perjuangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kecepatan timbulnya kelas intelektual, kekecewaan terhadap Budi Utomo (B.U.) dan National Indische Party (N.I.P.) serta kekejaman reaksi, mencakar pemandangan mereka ke jurusan yang lain. Sungguhpun masih sangat lambat dan masih berdiri beberapa pal (1 pal = 1.5 kilometer) jauhnya dari mas­sa serta dalam keaktifan dan politik terjejer sangat jauh di belakang dibandingkan dengan kelas mereka di lain ko­loni, tetapi mereka telah mulai bangun dari tidur. "Jubah malaikat" dari Notosoeroto telah dilemparkan mereka, dan mulai bersetuju kepada aksi-aksi revolusioner. Seka­rang dari beberapa universitas di negeri Belanda yang jauh itu berdengung-dengung suara mereka hingga kedengar­an oleh kaum intelektual yang ada di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi harapan buruh dan tani di Indonesia tidak cuma persetujuan hati saja dari intelektual itu. Mereka menghendaki perbuatan atau bukti-bukti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama kaum terpelajar kita melihat bahwa perjuang­an kemerdekaan sebagai masalah akademi saja, selama itulah perbuatan-perbuatan yang diharapkan itu kosong belaka. Biarlah mereka melangkah keluar dari kamar be­lajar menyeburkan diri ke dalam politik revolusioner yang aktif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gelombang pemogokan, pemboikotan dan demon­strasi yang beralun-alun setiap hari bertambah besar, me­lalui rapat nasional menuju ke Federasi Republik Indone­sia, inilah jalan mereka, tidak lain!&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Tan Malaka&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;REVOLUSI&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Revolusi itu bukan sebuah ide yang luar biasa, dan istimewa, serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakan atau memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri. Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat. Atau dalam kata-kata yang dinamis, dia adalah akibat tertentu dan tak terhindarkan yang timbul dari pertentangan kelas yang kian hari kian tajam. Ketajaman pertentangan yang menimbulkan pertempuran itu ditentukan oleh pelbagai macam faktor: ekonomi, sosial, politik, dan psikologis. Semakin besar kekayaan pada satu pihak semakin beratlah kesengsaraan dan perbudakan di lain pihak. Pendeknya semakin besar jurang antara kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah semakin besarlah hantu revolusi. Tujuan sebuah revolusi ialah menentukan kelas mana yang akan memegang kekuasaan negeri, politik dan ekonomi, dan revolusi itu dijalankan dengan "kekerasan".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di atas bangkai yang lama berdirilah satu kekuasaan baru yang menang. Demikianlah, masyarakat feodal didorong oleh masyarakat kapitalistis dan yang disebut lebih akhir ini sekarang berjuang mati-matian dengan masyarakat buruh yang bertujuan mencapai "satu masyarakat komunis yang tidak mempunyai kelas", lain halnya jika semua manusia yang ada sekarang musnah sama sekali tentulah terjadi proses : &lt;em&gt;werden  undvergehen&lt;/em&gt;, yakni perjuangan kelas terus-menerus hingga tercapai  pergaulan hidup yang tidak mengenal kelas (menurut paham Karl Marx).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman purba waktu ilmu (&lt;em&gt;wetenschap&lt;/em&gt;) masih muda, semua perjuangan dalam kegelapan (kelas-kelas) diterangi (dibereskan) oleh agama yang bermacam-macam; perjuangan golongan menyerupai keagamaan, umpamanya pertentangan Brahmanisme dan Budhisme, Ahriman, Zoroastria dengan Ormus (terang dengan gelap), Mosaisme dengan Israilisme, kemudian Katholisme dengan Protestanisme. Akan tetapi, pada hakikatnya semuanya itu adalah perjuangan kelas untuk kekuasaan ekonomi dan politik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian sesudah ilmu dan percobaan menjadi lebih sempurna, sesudah manusia melemparkan sebagian atau semua "kepicikan otak" (dogma), setelah manusia menjadi cerdas dan dapat memikirkan soal pergaulan hidup, pertentangan kelas disendikan kepada pengetahuan yang nyata. Dalam perjuangan untuk keadilan dan politik, manusia tidak membutuhkan atau mencari-cari Tuhan lagi, atau ayat-ayat kitab agama, tetapi langsung menuju sebab musabab nyata yang merusakkan atau memperbaiki kehidupannya. Di seputar ini sajalah pikiran orang berkutat dan ia dinamakan cita-cita pemerintahan negeri. Kepada masalah itulah segenap keaktifan politik ditujukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tatkala kehidupan masih sangat sederhana dan terutama tergantung kepada pekerjaan tangan dan pertanian, pendeknya di zaman feodal, seorang yang mempunyai darah raja-raja, biarpun bodohnya seperti kerbau, "boleh menaiki singgasana dengan pertolongan pendeta dan bangsawan", menguasai nasib berjuta-juta manusia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cara pemerintahan serupa itu menjadi sangat sempit tatkala teknik lebih maju dan feodalisme yang sudah bobrok itu pun merintangi kemajuan industri. Kelas baru, yaitu "borjuasi" yang menguasai cara penghasilan model baru (kapitalisme), merasa tak senang sebab ketiadaan hak-hak politik. Mereka meminta supaya pemerintahan diserahkan kepada mereka yang lebih cakap dan pemerintah boleh "diangkat" atau "diturunkan" oleh rakyat. Cita-cita politik borjuasi adalah demokrasi dan parlementarisme. Ia menuntut penghapusan sekalian hak-hak feodal dan juga menuntut penetapan sistem penghasilan dan pembagian (distribusi yang kapitalistis).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tatkala raja dan para pendetanya tetap mempertahankan hak-haknya hancurlah mereka dalam nyala revolusi. "Revolusi borjuasi" tahun 1789 sebagai buah pertentangan yang tak mengenal lelah antara feodalisme dengan kapitalisme menjadikan negeri Prancis sebagai pelopor sekian banyak revolusi yang kemudian berturut-turut pecah di seluruh Eropa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nasib raja Prancis (yang digulingkan) diderita juga oleh raja Rusia yang mencoba-coba mengungkung borjuasi dan buruh dengan perantaraan kesaktian takhayul dan kekerasan di dalam sekapan feodalisme yang lapuk itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cita-cita revolusioner berjalan terus tanpa mengindahkan adanya pukulan, peluru dan siksaan yang tak terlukiskan walaupun dengan pena pujangga Dostoyevsky. Di dalam gua-gua yang gelap, di dalam tambang-tambang di Siberia, di dalam penjara yang mesum, dingin dan sempit itu, angan-angan dan kemauan revolusioner memperoleh pelajaran yang tak ternilai. Kerajaan, gereja dan Duma (parlemen di Rusia) dalam waktu yang singkat habis disapu oleh gelombang revolusioner yang tak terbendung. Dalam revolusi buruh bulan November 1917 kelihatan bahwa kelas buruh mempunyai kekuatan dan kemauan yang melebihi borjuasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Raja Inggris, George III, yang tak mengindahkan riwayat negerinya sendiri menyangka bahwa armada yang kuat dan kebesaran kekayaannya dapat merintangi tumbuhnya kesosialan. Bangsa Amerika Utara dengan tak mengindahkan jumlahnya yang kecil, kurangnya pengalaman dalam soal penerangan, uang dan lain-lain alat material, dapat mencapai kemerdekaannya sesudah mengadakan perlawanan habis-habisan yang tak kenal lelah itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baru setelah kungkungan ekonomi dan politik berhasil diputuskan dari imperialisme Inggris, dapatlah Amerika Utara melangkah menuju kekayaan kekuasaan dan kebudayaan yang sungguh tiada dua dalam riwayatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seandainya ia belum dua kali menceburkan diri kedalam revolusi (pada tahun 1860), Amerika Utara tak akan dikenal dunia selain sebagai Australia dan Kanada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi sosial bukanlah semata-mata terbatas di Eropa saja, tetapi merupakan kejadian umum yang tidak bergantung kepada negeri dan bangsa. Tidakkah Jepang 60 tahun yang lalu (1868) menghancurkan sekalian hak-hak feodal dengan perantaraan revolusi? Sesudah kejadian itu, lenyaplah Kerajaan Matahari Terbit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendeknya dengan jalan revolusi dan perang kemerdekaan nasionallah (yang dapat dimasukkan dalam revolusi sosial!), maka sekalian negeri besar dan modern tanpa kecuali, melepaskan diri dari kungkungan kelas dan penjajahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi bukan saja menghukum sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan dan kelaliman, tetapi juga mencapai segenap perbaikan dari kecelaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam masa revolusilah tercapai puncak kekuatan moral, terlahir kecerdasan pikiran dan teraih segenap kemampuan untuk mendirikan masyarakat baru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu kelas dari suatu bangsa yang tidak mampu mengenyahkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan melalui revolusi, niscaya musnah atau terkutuk menjadi budak abadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi adalah mencipta!&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;II&lt;/h3&gt; &lt;h3&gt;IKHTISAR TENTANG RIWAYAT  INDONESIA&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.  Pengaruh Luar Negeri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Riwayat Indonesia tak mudah dibaca, apalagi dituliskan. Riwayat negeri kita penuh dengan kesaktian, dongengan-dongengan, karangan-karangan dan pertentangan. Tak ada seorang jua ahli riwayat dari Kerajaan Majapahit atau Mataram yang mempunyai persamaan dengan ahli riwayat bangsa Roma kira-kira di zaman 1400 tahun yang silam, seperti Tacitus dan Caesar. Kita terpaksa mengakui bahwa kita tak pernah mengenal ahli riwayat yang jujur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Paling banter kita cuma mempunyai tukang-tukang dongeng, penjilat-penjilat raja yang menceritakan pelbagai macam keindahan dan kegemilangan supaya tertarik hati si pendengar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi meskipun demikian ada jugalah batas dari karangan-karangan dan putar-memutar kejadian yang sesungguhnya. Tak usah terlampau jauh kita langkahi batas itu, niscaya berjumpalah dengan intisari yang sebenarnya. Demikian jugalah dengan riwayat-riwayat negeri kita. Di antara kekusutan-kekusutan dalam karangan itu, terbayanglah kebenaran, tampaklah Kepulauan Indonesia, kerajaan-kerajaan dan kota-kotanya yang berdiri dan kemudian runtuh, laskar yang berderap-derap, berperang, kalah dan menang, kekayaan, kesentosaan, dan pasang-surut kebudayaan dan seterusnya. Tak dapat dipungkiri bahwa di Malaka, Sumatera dan Jawa berdiri negeri-negeri yang besar. Di Borneo Tengah pun ada satu kerajaan yang agaknya tak seberapa kurangnya dari Kerajaan Majapahit. Di sana berdiri kota-kota yang besar penuh dengan gedung dan perhiasan yang indah-indah, sebagaimana yang dibuktikan oleh barang-barang yang dijumpai di dalam tanah hingga waktu sekarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dapat pula dipastikan, bahwa Indonesia belum pernah melangkah keluar dari masyarakat feodalisme, dan bahwa ia jauh tercecer dari feodalisme di Eropa. Bangsa Yunani jauh lebih tinggi dari bangsa Indonesia — dalam hal ini Majapahit bila kerajaan ini dianggap sebagai tingkatan yang setinggi-tingginya — dalam hal pemerintahan negeri, politik, ilmu hukum dan kebudayaan. Ya, rakyat Majapahit sebenarnya tak pernah mengenal cita-cita pemerintahan negeri. Berabad-abad pemerintahan itu bukan untuk dan milik rakyat. Perkataan: "Bagi Tuankulah, ya, Junjunganku, kemerdekaan, kepunyaan dan nyawa patik," pernah dan berulang-ulang diucapkan rakyat Indonesia terhadap raja-rajanya!! Di sana tak ada Orachus, Magna Charta dan tak ada pengetahuan yang diselidiki dengan betul-betul seperti yang dipergunakan Aristoteles, Pythagoras dan Photomeus. Pengetahuan mendirikan gedung-gedung dan ilmu obat-obatan kita masih dalam tingkatan percobaan. Keajaiban Borobudur kita tak seajaib segitiga Pythagoras, sebab yang pertama berarti jalan mati, sedang yang kedua menuntun manusia menuju pelbagai macam pengetahuan. Di manapun tak ada jejak (bekas-bekas) pengetahuan serta puncak kecerdasan pikiran!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Biarlah, tak usah kita ceritakan ilmu kebatinan Timur! Hal ini ada di luar batas pikiran; tambahan lagi bangsa Barat di Zaman Kegelapan (Abad Pertengahan) pun sudah mengenal itu. Lagi pula, kebatinan tidaklah bersandarkan kepada kebenaran sedikit jua, bahwa masyarakat kita senantiasa memperoleh dari luar dan tak pernah mempunyai cita-cita sendiri. Agama Hindu, Budha dan Islam adalah barang-barang impor, bukan keluaran negeri sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, cita-cita ini tak begitu subur tumbuhnya seperti ke-Kristen-an di Eropa Barat. Mesin penggerak segenap pemasukan agama Hindu, Budha dan Islam sampai kepada masa kedatangan kapitalisme Belanda, serta semua perang saudara di waktu itu adalah berada di luar negeri. Indonesia adalah wayangnya senantiasa, dan luar negeri dalangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Bangsa Indonesia yang Asli&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman dahulu, tatkala bangsa Indonesia asli didesak oleh bangsa Tionghoa dan Hindu ke luar negerinya — Hindia-Belakang — dan melarikan diri ke Nusantara Indonesia, mereka telah mempunyai suatu peradaban. Pak tani di zaman itu menjelma menjadi bajak laut yang sangat buas dan ditakuti orang. Dengan Vintas (semacam perahu) kecilnya, mereka mengarungi seluruh kepulauan antara dua lautan besar, antara Amerika dan Afrika. Penduduk asli dari India dan Oceania ditaklukannya. Rimba raya hingga puncak gunung dijadikannya huma. Rumah yang bagus-bagus didirikannya, permainan dan pengetahuan dimajukannya. Tatkala bangsa Barat dan Timur menyembah kepada pedang Jengis Khan dan Timurleng serta lari ketakutan, waktu itu mereka bukan saja menentang, tetapi dapat pula mengundurkan laskar Mongolia. Bajak laut bernama Pakodato dari Kerajaan Singapura di Semenanjung Tanah Melayu pada tahun 500 dapat menggeletarkan Kerajaan Tiongkok dan Hindustan dengan angkatan armada serta pedangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.  Pengaruh Hindu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agaknya hawa tropika di lingkungan katulistiwalah, yang terutama menyebabkan teknik kita tak maju. Hawa yang subur dan melemahkan itu, serta sedikitnya penduduk, menjadikan kaum tani yang senang hidupnya itu, tinggal diam dan menerima, sedangkan kepulauan yang sangat banyak itu menarik hati penduduk di pantai-pantai, kepada perantauan dan pengalaman. Menurut riwayat dapat diketahui bahwa, sesudah dibawa pengaruh Hindu, kebudayaan mereka bertambah naik dan mereka mulai berkenalan dengan perampas. Kejadian itu berlangsung sesudah bangsa kita bercampur darah dengan penjajah-penjajah bangsa Hindu. Kini terbayanglah dalam benak kita kejadian-kejadian yang dapat digambarkan oleh kejadian-kejadian itu, yang membangkitkan tenaga terpendam itu jadi dinamis. Bukan oleh percaturan hidup kita sendiri (melawan atau antara kelas-kelas) maka penguraian kita perihal teknik kebudayaan feodalistis seperti tersebut di atas, tetapi disebabkan pengaruh yang datang dari luar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Biarlah kita tinggalkan di sini perihal peraturan matriarchaat (pusaka turun kepada kemenakan) di Minangkabau yang berhubungan dengan keadaan alam dan kedudukannya yang terpencil. Dengan mendirikan demokrasi satu-satunya di Indonesia, kita tinggalkan pula riwayat Sriwijaya dan kerajaan lain-lain di Pulau Jawa, dengan menunjukkan garis-garis yang besar saja. Agama bangsa Indonesia, animisme, didesak oleh agama Hindu dan Budha, demikianlah kata orang kepada kita. Bangsa yang lebih pintar itu mengajarkan pemerintahan negeri, teknik kebudayaan yang lebih sempurna. Penduduk Pulau Jawa yang suka damai itu belum mempunyai pertentangan kelas dalam anti yang seluas-luasnya. Mereka tidak memberi kesempatan kepada pengikut-pengikut agama Hindu untuk mempertaruhkan kepercayaan mereka dalam sebuah pertentangan, yakni Hinduisme yang aristokratis dan Budhisme yang lebih demokratis. Ketajaman pertentangan agama, oleh masyarakat Jawa yang tidak mengenal kelas itu, dapat diredam. Sedikit atau banyak, semua filsafat Hindu diterima oleh penduduk Pulau Jawa yang asli. Siwa, Wisnu, dan dewa-dewa agama Budha yang di negeri asalnya satu dan lainnya bermusuhan serta berpisah-pisah, hidup bersama di Pulau Jawa dengan damainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal  yang seperti itu, Islam pun datang dan akhirnya mengambil kedudukan Hindu dan  Budha.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penduduk Jawa sekarang adalah "kristalisasi" dari bermacam-macam agama ketuhanan dan agama dewa-dewa (animisme). Ia bukan seorang animis, bukan seorang Hindu, bukan seorang Budha, bukan seorang Kristen dan bukan seorang Islam yang sejati. Indonesia menurut alam, tetapi Hindu-Arab dalam pikirannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Kegundahan (Pesimisme)  Empu Sedah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di kerajaan Daha yang kokoh lagi termashur yang diperintah oleh Raja Jayabaya, seorang yang cerdik dan pandai, lagi bijaksana, ada seorang ahli nujum yang bernama Empu Sedah, yang selalu gundah karena sangat curiga terhadap pengaruh luar negeri yang makin lama semakin besar. Dalam tulisannya disebutkan: "Sebuah revolusi di Pulau Jawa akan timbul, dipimpin oleh orang yang berkulit kuning dan akan memperoleh kemenangan buat beberapa lama". Dalam perkataan sindirannya tertulis "akan memerintah seumur jagung".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidakkah ramalan itu kemudian terbukti dengan kemenangan seorang Tionghoa Jawa bernama Mas Garendi yang dalam waktu yang singkat menggenggam kota Kartasura?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di masa Empu Sedah, pengaruh bangsa Tionghoa  makin lama bertambah besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah pada tempatnya bangsa Tionghoa itu sedapat mungkin mempergunakan bangsawan Jawa sebagai alat untuk memenuhi kepentingan ekonomi mereka!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila maksud ini tak berhasil dengan pengaruhnya itu, adakalanya dengan jalan revolusi mereka mencoba-coba merebut pemerintahan negeri. Tetapi, supaya mereka dapat tetap memperoleh kemenangan mestilah mereka lebih kuat atau mendirikan satu kelas. Mereka haruslah menjadi anak negeri atau bercampur darah dengan bumiputra. Barulah mereka dapat menaklukkan raja dengan perantaraan kaum tani yang tidak senang itu. Karena bangsa Tionghoa dalam hal sosial tetap tinggal dalam ke Tionghoaannya dan tak memperoleh bantuan militer dari tanah air mereka, maka tak lamalah mereka sanggup mempertahankan kemenangan atas raja-raja Jawa itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rupanya Empu Sedah mengerti betapa kebencian rakyat dan revolusi yang akan pecah. Sedang kekuatan nasional tak cukup kuat menahan revolusi sosial tersebut. Itulah yang menimbulkan kegundahannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Kerajaan Majapahit berdiri beberapa perusahaan batik, genteng dan kapal dengan kapital yang cukup besar. Dalam beberapa perusahaan bekerja ribuan kaum buruh. Nahkoda-nahkodanya telah ada yang dengan kapal‑kapalnya berlayar sampai ke Persia dan Tiongkok. Boleh jadi sungguh besar modalnya, malah modal orang asing. Saudagar-saudagar yang kaya di bandar-bandar seperti Ngampel, Gresik, Tuban, Lasem, Demak dan Cirebon agaknya adalah bangsa asing atau yang sudah bercampur darah dengan orang-orang Jawa. Nahkoda Dampu-Awang, menurut ceritanya yang berlebih-lebihan, mempunyai kapal yang layarnya setinggi Gunung Bonang dan kekayaannya kerapkali dijadikan ibarat, rasanya seorang Tionghoa-Jawa. Satu statistik di zaman itu tak ada pada kita! Tetapi banyak bangsa yang diam di Pulau Jawa dapat dibuktikan dengan perkataan seorang pujangga Majapahit, bernama Prapanca, "Tidak henti-hentinya manusia datang berduyun-duyun dari bermacam-macam negeri. Dari Hindia-Muka, Kamboja, Tiongkok, Annam, Campa, Karnataka, Guda dan Siam dengan kapal disertai tidak sedikit saudagar ahli-ahli agama, ulama dan pendeta Brahma yang ternama, siap datang dijamu dan suka tinggal.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah tentu, penduduk bandar-bandar yang makin lama makin maju itu merasa memperoleh rintangan dari kaum bangsawan di ibukota. Sebagaimana terjadi di negeri Eropa, penduduk bandar meminta hak politik dan ekonomi lebih banyak. Dari pertentangan antara pesisir dengan darat, perdagangan dengan pertanian, penduduk dengan pemerintah, timbullah satu revolusi yang membawa Pulau Jawa ke puncak ekonomi dan pemerintahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila bandarnya mempunyai industri dan perdagangan nasional yang kuat, niscaya Jawa akan mengalami satu revolusi sosial yang dibangkitkan, dipecahkan dan dipimpin satu revolusi sosial yang dibangkitkan, dipecahkan dan dipimpin oleh tenaga-tenaga nasional seperti terjadi di Eropa Barat, jadi revolusi borjuis terhadap feodalis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi Jawa sesungguhnya dikungkung oleh  ramalan Empu Sedah : "orang asing akan memimpin".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang keturunan Hindu bernama Malik Ibrahim pada tahun 1419, dengan membawa agama yang belum dikenal orang di Pulau Jawa, datang di Gresik yang ketika itu penduduknya kebanyakan orang asing. Dengan cepat ia memperoleh pengikut. Jadi boleh dikatakan, dengan kedatangannya yang membawa agama Islam ketika itu, bumiputra bagaikan memperoleh "durian runtuh", karena ketika itu sedang berapi-api pertentangan antara penduduk pesisir dengan ibukota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keadaan bertambah kusut, dan pada akhirnya sampai ke puncaknya, yaitu penyerangan terhadap raja-raja yang dipimpin oleh seorang Tionghoa-Jawa, bernama Raden Patah. Dengan perbuatannya, Raden Patah menghancurkan kerajaan yang ada. Hal itu menunjukkan lagi bahwa seorang asing, dengan membawa paham baru (agama Islam) dan untuk mempertahankan kedudukan saudagar-saudagar asing di pesisir itu, berhasil menjatuhkan kerajaan bangsawan setengah Hindu. Kerajaan Demak berdiri dengan kemashurannya! Tetapi akhirnya terpecah belah oleh perang saudagar yang dinyala-nyalakan oleh orang asing yang cerdik-jahat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jipang bermusuhan dengan Pajang, Demak dengan Mataram. Semua perang saudara ini, besar atau kecil, untuk kepentingan bangsa asing, dalam waktu singkat berakhir dengan kemenangan seorang Tionghoa-Jawa bernama Mas Garendi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5.  Tarunajaya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana di Kerajaan Roma dan Tiongkok, gundukan pengendali pemerintahan yang tidak mencocoki kebenaran di ibukota disapu oleh kekuatan baru dari daerah; demikianlah, darah Kerajaan Mataram akan dibersihkan dan dikuatkan oleh Tarunajaya serta kawan-kawannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang putera Indonesia datang dari Makasar yang mengetahui jiwa (psikologi) rakyat Jawa mendapat pengikut yang besar, serta berhasil mengalahkan Raja Mataram yang keluar dari garis kebenaran itu. Pulau Jawa khususnya dan Indonesia umumnya akan mempunyai riwayat lain bila tidak datang satu kekuasaan baru di Pulau Jawa. Ramalam Empu Sedah yang lain sekarang seakan-akan terbukti, "Pemerintahan bangsa asing, yaitu kerbau putih yang bermata seperti mata kucing" (&lt;em&gt;kebo bule siwer matane&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan datangnya kekuasaan Belanda lenyaplah segala sesuatu yang menyerupai kemerdekaan. Pengaruh bangsa asing dan percampuran darah dengan bangsa Asia lain-lain menyebabkan gencetan yang sebuas-buasnya. Sekalian hak-hak ekonomi dan politik "ditelan" bangsa itu (Belanda) dengan kekerasan dan kecurangan, seperti yang belum pernah dikenal oleh bangsa Indonesia! Pemerasan yang serendah-rendahnya (kebiadaban) serta kelaliman menjadi kebiasaan setiap hari!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tarunajaya tak dapat melawan kekuasaan Belanda yang memakai senjata asing (Barat). Maka kucing melihat keadaan ini dan untuk pertama kali dipergunakanlah jalan politik devide et impera, memecah-belah dan menguasai, yang mashur itu. Sesudah Raja Mataram berjanji kepada Kompeni Hindia Timur untuk memberikan kekuasaan dan tanah, mulailah setan-setan itu bekerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Panembahan di Madura, seorang kawan dari Tarunajaya, disumbat oleh Kompeni Hindia Timur dengan mas intan dan perkataan yang manis-manis hingga mereka dapat bergandengan. Sekarang Tarunajaya berdiri di antara "tiga api": Belanda, raja dan kawan lamanya. Inilah yang menyebabkan kalahnya Tarunajaya dengan disaksikan oleh Kompeni Hindia Timur sendiri!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kerajaan Mataram yang tak semanggah itu mendapat "kemenangan" atas sokongan yang tak langsung dari Kompeni, namun suatu hal yang tak semanggah itu lambat laun akan menjadi kenyataan juga seperti yang terbukti pada akhirnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6.  Diponegoro&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jalan raya dari Anyer ke Banyuwangi yang mesti mempertalikan daerah-daerah yang dirampok itu dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels dengan cucuran peluh dan taruhan nyawa orang Jawa. Dengan adanya jalan itu, proses penanaman kapital jadi teratur. Tetapi proses itu tidak secara sukarela diterima oleh bangsa Indonesia. Ia adalah satu proses paksaan dan tidak menurut undang-undang alam. Saudagar di bandar-bandar didesak. Pelayaran dimonopoli oleh Belanda, bumiputra dilarangnya mempunyai hak milik. Pemasukan katun dari Barat yang murah harganya menghancurkan industri dan perdagangan, baik yang kecil maupun yang sedang. Borjuasi Jawa atau setengah Jawa dapat meneruskan langkahnya, yakni perjalanan antara feodalisme menuju kapitalisme. Akan tetapi, ia diperas sampai kering, oleh kapital Barat dan perangkatnya; begitulah feodalisme Mataram yang hampir tenggelam itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang anak jantan dengan kemauannya yang keras seperti baja, berpengaruh laksana besi berani, yakni seorang laki-laki yang di dalam dadanya tersimpan sifat-sifat putera Indonesia sejati, tak berdaya mengubah nasib yang malang itu. Jika Diponegoro dilahirkan di Barat dan menempatkan dirinya di muka satu revolusi dengan sanubarinya yang suci itu, boleh jadi ia akan dapat menyamai sepak terjang Cromwell atau Garibaldi. Tetapi ia "menolong perahu yang bocor", kelas yang akan lenyap. Perbuatan-perbuatannya, meskipun penuh dengan kesatriaan, dalam pandangan ekonomi adalah kontra-revolusioner. Dan sangat susah dipastikan, macam apakah Diponegoro dalam pandangan politik, sebab tak dapat disangkal lagi bahwa cita-citanya adalah "Singgasana Kerajaan Mataram". Satu kekuasaan yang mudah berubah menjadi kelaliman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diponegoro menunjang kesuburan modal serta perluasan jalan. Karena itu, ia menghalang-halangi kenaikan penghasilan atau secara ekonomi, kontrarevolusioner. Tak pernah kita baca bahwa ia menentang kapital-imperialistis dengan menghidupkan kapital nasional. Pendeknya, ia tidak mempunyai program politik atau ekonomi. Ia merasa didesak oleh kekuasaan baru dan setelah dia lihat bahwa kekuasaan baru itu mempergunakan kekuasaan Mataram yang bobrok itu sebagai alat, maka kedua musuh itu pun diterjangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekiranya Pulau Jawa mempunyai borjuasi nasional yang revolusioner, Diponegoro dalam perjuangannya melawan Mataram dan Kompeni pastilah berdiri di sisi borjuasi itu. Dengan begitu niscaya dapatlah tercipta suatu perbuatan yang mulia dan pasti. Tetapi itu tak ada, borjuasi yang berbau keislaman dalam lapangan ekonomi dihancurkan oleh kapital Belanda sama sekali. Dalam kekecewaan yang hebat terhadap Mataram dan Kompeni, dapatlah ia mempersatukan diri di bawah pimpinan Kyai Mojo, seorang ahli agama Islam yang fanatik dan bersemboyan "Perang Sabilullah", bukan kebangsaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menarik satu kesimpulan terhadap pemberontakan Diponegoro bukanlah satu pekerjaan yang mudah. Karena hal ini sesungguhnya perjuangan kaum borjuasi Islam Jawa menentang kapital Barat yang disokong oleh satu kerajaan yang hampir tenggelam (Mataram).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibatnya sungguh jelas. Tak ada seorang pun mampu, bagaimanapun pintarnya, menolong satu kelas yang lemah, baik teknik maupun ekonomis melawan satu kelas yang makin lama makin kuat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu kelas baru mesti didirikan di Indonesia untuk melawan  imperialisme Barat yang modern.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah kesimpulan dari riwayat-riwayat yang tersebut di atas?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, bahwa riwayat  kita ialah riwayat Hindu atau setengah Hindu; &lt;em&gt;kedua &lt;/em&gt;bahwa perasaan sebagai kemegahan nasional jauh dari  tempatnya; dan yang &lt;em&gt;penghabisan&lt;/em&gt;,  bahwa setiap pikiran yang mencitakan pembangunan (&lt;em&gt;renaissance&lt;/em&gt;) samalah artinya dengan menggali aristokratisme dan  penjajahan bangsa Hindu dan setengah Hindu yang sudah terkubur itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bangsa Indonesia yang sejati dari dulu hingga sekarang masih tetap menjadi budak belian yang penurut, bulan-bulanan dari perampok-perampok asing.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebangsaan Indonesia yang sejati tidak  ada kecuali ada niat membebaskan bangsa Indonesia yang belum pernah  merdeka itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bangsa Indonesia yang sejati  belum mempunyai riwayat sendiri selain perbudakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai jika  mereka terlepas dari tindasan kaum imperialis. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;III&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;BEBERAPA  MACAM IMPERIALISME&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;1. Berbagai  Cara Pemerasan dan Penindasan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tuhan menciptakan dunia menurut  gambaran-Nya sendiri".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang asing yang menjajah Asia selama 300 tahun adalah untuk memenuhi kebutuhan mereka masing-masing dan mereka memerintah negeri-negeri taklukannya dengan berbagai cara. Adapun secara ekonomis, dari dulu sampai sekarang dapat dibagi sebagai berikut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. &lt;em&gt;Perampokan  terang-terangan&lt;/em&gt;, dahulu dilakukan oleh Portugis dan Spanyol.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. &lt;em&gt;Monopoli&lt;/em&gt;, yang dalam praktiknya sama dengan perampokan, masih terus dilakukan oleh Belanda di Indonesia sampai sekarang (± tahun 1926, &lt;em&gt;peny&lt;/em&gt;.).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. &lt;em&gt;Setengah monopoli&lt;/em&gt;, mulai  dilakukan oleh Inggris di India.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. &lt;em&gt;Persaingan  bebas&lt;/em&gt;, mulai dilakukan oleh Amerika di Filipina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cara-cara imperialis lain hampir dapat  disamakan dengan cara yang tersebut di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun cara penindasan dalam politik adalah  seperti di bawah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. &lt;em&gt;Imperialisme  biadab&lt;/em&gt;, yakni menghancurkan sekalian kekuasaan politik bumiputra dan menjalankan pemerintahan yang sewenang-wenang, misalnya adalah Spanyol di Filipina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. &lt;em&gt;Imperialisme autokratis&lt;/em&gt;, yakni yang hampir  tak berbeda dengan yang tersebut pasal a seperti Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. &lt;em&gt;Imperialisme  setengah liberal&lt;/em&gt;, yakni imperialisme yang memberikan kekuasaan yang sangat terbatas kepada bumiputra yang berkuasa (raja-raja atau kepala negara yang turun-temurun seperti Inggris di India).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. &lt;em&gt;Imperialisme  liberal&lt;/em&gt;, yakni imperialisme yang memberikan kemerdekaan sepenuhnya kepada tuan tanah yang besar serta kepada borjuasi bumiputra yang mulai naik, misalnya adalah imperialisme Amerika di Filipina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Sebab-Sebab Perbedaan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perbedaan dalam cara pemerasan dan penindasan terhadap si terjajah disebabkan bukan oleh perbedaan tabiat manusia di negeri-negeri imperialis tersebut. Tetapi karena kedudukan kapital dari masing-masing negeri waktu mereka sampai di Asia, dan juga cara menjalankan kapital tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu Spanyol dan Portugis kira-kira tahun 1500 datang di Asia, mereka belum terlepas sama sekali dari feodalisme. Portugis dan Spanyol adalah negeri pertanian, pekerjaan tangan, kaum bangsawan dan kaum agama (jadi belum ada industri).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Barang-barang industri yang dapat dijual di pasar-pasar tanah jajahan belum ada. Mereka datang ke koloni-koloni untuk merampok hasil-hasil di sana lalu dijual dipasar Eropa dengan harga tinggi. Karena mereka sangat keras memeluk agama Katholik yang baru saja mengusir Islam dari Spanyol, maka bangsa Indonesia yang memeluk agama animis di Filipina itu dipaksa menjadi orang Kristen. Siapa yang tidak suka mengikut paksaan itu dipancung dengan pedang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu Belanda mengikuti Spanyol dan Portugis sampai ke Indonesia kira-kira tahun 1600, sebagian besar dari feodalisme Belanda telah didesak oleh borjuasinya. Mereka telah melepaskan diri dari tindasan feodalisme serta Katholikisme dan mengambil jalan menuju perdagangan merdeka, liberalisme dan Protestanisme. Negeri Belanda ada di dalam zaman kapitalisme muda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inggris yang pada tahun 1750 dapat berdiri tetap di India, sebenarnya telah 100 tahun lamanya menyelami revolusi borjuasi di bawah pimpinan Cromwell.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu kapitalisme Inggris semakin maju dengan sangat cepatnya, disertai dengan paham-paham perdagangan bebas, liberalisme, konstituationalisme dan kepercayaan merdeka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amerika sampai di Filipina pada tahun 1898 setelah mengalami dua revolusi borjuasi (1775 dan 1860). Ia kokoh memegang paham Monroe, demokrasi dan politik pintu terbuka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.  Akibat dari Berbagai Macam Cara Pemerasan dan Penindasan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai buah dari cara perampokan itu, maka Portugis dan Spanyol akhirnya dihalau dari tanah jajahannya (Siapakah yang akan dihalaukan sekarang).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekalipun semangat revolusioner di Indonesia sudah matang dan menyala-nyala tetapi persediaan belum cukup, maka imperialisme Belanda masih berdiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan jalan memberikan konsesi-konsesi yang besar, kalau terpaksa, serta politik kompromis kepada segolongan orang India, maka imperialisme Inggris masih berdiri di sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan berkedok untuk mengasuh, menolong dan mengasihi manusia serta memberikan otonomi-ekonomi, politik ekonomi yang besar kepada bumiputra di Filipina maka, imperialisme Amerika masih dapat membuat kekacauan di sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;a. India&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun Waren Hasting dan Lord Clive membunuh dan merampok, perbuatan mereka tidak boleh disamakan dengan perbuatan Daendels, van den Bosch serta lain-lain, sebab sistem kolonial Inggris dari segi "material dan riwayat" jauh lebih mendingan daripada sistem Belanda (tentu saja kita tak menghendaki imperialisme macam apa pun). Nafsu membunuh dan merampok dari imperialisme Inggris tak dapat menghancurkan kemauan bangsa India.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemauan itu memperlihatkan dirinya terutama dengan barang-barang hasil India yang belum dirampok oleh Inggris. Setelah mengalami beberapa perjuangan politik dan ekonomi, dapatlah bangsa India mendirikan industri, pertanian besar, dan perdagangan besar nasional. Selain itu, imperialisme Inggris mengadakan sekolah dari tingkatan terendah sampai sekolah-sekolah tinggi (lebih dari lima universitas) dan semenjak beberapa lama telah mengadakan sistem pemerintahan sampai kepada "dominion" atau lebih jauh lagi. India telah mempunyai seorang Tilak, Mahatma Gandhi, Das, Tagore, Dr. C. Bose dan Dr. Naye yang termashur ke seluruh dunia. Sekalian kaum terpelajar ini dilahirkan dalam pengakuan imperialisme Inggris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena Inggris di negerinya sendiri mempunyai bahan-bahan untuk industri (arang dan besi), dengan sendirinya ia menjadi bengkel dunia. Sebab ia tak mempunyai kapas pada permulaannya, dijadikanlah India sebagai kebun kapas. Selain itu, sebagai negeri industri yang mempunyai penghasilan yang amat besar, Inggris membutuhkan pasar-pasar. Karena itulah, tanah Inggris (negeri industri semata itu) terpaksa bekerja bersama-sama dengan India, meskipun pada permulaannya secara tak langsung. Bukankah firma-firma dan maskapai-maskapai, baik impor atau ekspor dalam perdagangan yang sedemikian besarnya antara Inggris dan India, membutuhkan kaum saudagar pertengahan bangsa India sebagai perantaraan? Dan lagi bukankah tak selamanya "bayonet" dapat memaksa suatu bangsa untuk membeli barang-barang? Mau tak mau ia mesti menaikkan taraf hidup, jika ia ingin memperoleh pembelian yang tetap. Inilah yang memaksa imperialisme Inggris memberikan pendidikan Barat kepada segolongan bangsa India. Sekolah Tinggi pertama di Benggala yang sekarang sudah berusia 100 tahun, yang pada mulanya hanya boleh dimasuki oleh anak orang kaya dan aristokrasi, kemudian dibenarkan juga buat anak orang biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam waktu yang singkat, sekolah-sekolah tinggi itu pun menghasilkan sekian banyak kaum terpelajar, hingga birokrasi Inggris tak dapat menerima mereka sama sekali. Timbullah di sana kelas yang terdidik secara Barat dan yang merasa tak senang, yaitu kaum buruh halus. Dari kelas inilah kemudian lahir beberapa orang pemimpin pergerakan kemerdekaan yang terkenal sebagai ekstrimis, yakni kaum kiri. Demikianlah, imperialisme Inggris melahirkan musuhnya serta menggali kuburnya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan pimpinan Tilak yang termashur itu, timbullah aksi boikot pada tahun 1900-1905. Maksudnya supaya industri dan perdagangan nasional hidup, yaitu dengan jalan memboikot barang-barang pabrik Inggris yang diimpor ke India (kapas ditanam di India, sesudah itu dikirimkan ke negeri Inggris, dengan harga yang berlipat ganda dijual pula kepada pembeli bangsa India).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan mempergunakan barang-barang yang belum dirampok "sebagai senjata", kaum terpelajar memperoleh kemenangan. Tuan tanah yang besar-besar dan saudagar-saudagar memberikan pertolongan berupa kapital, semangat dan alat untuk memenuhi program kaum ekstrimis. Meskipun penuh dengan rintangan-rintangan politik, ekonomi, keuangan dan alat yang luar biasa dapat jugalah Tilak dan kawan-kawannya meraih kemenangan. Berbagai industri, termasuk industri tenun — industri nasional waktu sekarang — adalah buah tangan yang terpenting dari Tilak dan kawan-kawannya. Pun industri itu sudah mempunyai lapangan internasional. Sebagian besar kemenangan itu juga tergantung pada pertolongan buruh dan tani bangsa India.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdiri di atas kemenangan Tilak, dapatlah Mr. Gandhi meraih kemenangan dalam pergerakan noncooperation atau gerakan boikot. Hampir semua pabrik tenun di Bombay (lebih kurang 200 jumlahnya) sekarang dimiliki dan dikelola oleh otak dan tenaga India. Kapas Inggris terpukul dalam persaingan yang hebat, bukan saja di India tetapi juga di Afrika, Melayu, Tiongkok dan lama-kelamaan juga di Eropa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Undang-undang perdagangan India belakangan ini melindungi kapas keluaran India. Tidak sedikit kebun-kebun firma dan bank sekarang bekerja dengan kapital India dan dipimpin oleh bangsa India. Industri-industri seperti arang dan besi; serta industri logam yang modern sekarang dipegang oleh bangsa India. Jika waktu perang dunia Inggris membeli gerobak kereta api dari "Tata Coy", sekarang (semenjak lebih kurang 2 tahun) ia membuat perjanjian akan membeli juga mesin-mesin kereta api. Pendeknya, tanpa kekerasan imperialisme Inggris, kapital nasional India berdiri — yang berakibat perjuangan yang tak mau kalah, yang kadang-kadang menimbulkan pertumpahan darah. India sekarang ada di zaman industri besar yang modern. Negeri Inggris bukan lagi jadi pusat bengkel di dunia meskipun di dalam kerajaannya sendiri; dan India bukan lagi kebun kapas bagi Britania.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah Inggris takluk dalam percaturan ekonomi, terpaksalah ia mengakui kemenangan India dalam politik. Di sana sekarang berdiri industri nasional yang kepentingan materialnya dalam beberapa hal bersamaan dengan kepentingan penjajah. Tinggal lagi bagi Inggris memberikan konsesi-konsesi politik kepada wakil-wakil tuan tanah yang besar dan borjuasi modern.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang inilah artinya kerja islah pemerintahan negeri yang telah bertahun-tahun dilakukan — MontageuChelmsfordsplan. Daerah besar-besar yang berpenduduk 50,000,000 seperti Benggala dan Daerah Tengah setelah diadakan islah (&lt;em&gt;hervorming&lt;/em&gt;) dengan perantara majelis-majelis daerah, hampir jatuh ke tangan bangsa India sepenuhnya. Pemilihan dewan yang tertinggi (Duma bangsa India), dipengaruhi oleh kaum Swaray, militer, perguruan, dan pengadilan, dalam beberapa tahun ini disediakan - ditempati oleh putera-putera India yang cakap dan setia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun demikian, belumlah ada satu perwakilan rakyat (parlemen) dan kabinet yang bertanggung jawab. Sungguhpun islah pemerintahan India jauh lebih sempuma dari Dewan Rakyat ala Belanda, tetapi belum sampai seperti Dominion Canada, konstitusi Filipina atau Mesir. Tetapi sejumlah pemimpin dan kaum ekstremis dapat ditarik hatinya oleh islah itu. Karena itu pergerakan kaum revolusioner untuk sementara waktu "terkandas" hingga imperialisme Inggris memperoleh kesempatan untuk menarik napas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;b. Filipina&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keadaan di Filipina berlainan sedikit dengan di India. Bangsa Amerika datang, pada tahun 1898, waktu bangsa Filipina telah "tiga perempat berhasil" melemparkan kekuasaan Spanyol. Awalnya Amerika berlaku sebagai kawan, tetapi setelah kokoh pendiriannya dia tinggal terus dalam negeri itu. Perang Filipina -Amerika yang 33 tahun lamanya (1898-1901) tak berhasil menghalau pencuri itu. Sebelum kedatangan Amerika, bangsa Filipina sudah dapat menunjukkan beberapa nasionalis besar seperti Dr. Rizal (yang ditembak orang Spanyol dari belakang); seorang organisator, Bonifacio, seorang diplomat Mahbini dan panglima perang Luna serta Aquinaldo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu perlulah dipakai suatu tipu daya yang sangat fisik untuk mengelabui mata sebuah bangsa yang gagah lagi cerdik, seperti rakyat Filipina itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disebabkan oleh kebesaran dan kekayaan Amerika dan oleh salah satu paham anti-imperialisme di antara bangsa Amerika yang berpengaruh, dengan segera kaum imperialis mengerjakan islah. Politik dalam negeri, dengan perantara "Senat" dan "&lt;em&gt;House of Representative&lt;/em&gt;", sekarang boleh dikatakan ada di dalam tangan bumiputra. Semua wakil dari kedua dewan itu — kecuali dari beberapa daerah Islam — dipilih dengan hak memilih yang sepenuh-penuhnya dan semuanya adalah orang Filipina. Sebagian besar gubernur dari daerah-daerah adalah juga orang Filipina. Hanya beberapa kepala departemen saja orang Amerika. Di dalam satu konstitusi, Amerika mesti berjanji akan memberikan "kemerdekaan" yang seluas-luasnya "kepada bangsa Filipina setelah mereka dapat menunjukkan kecakapan mendirikan pemerintahan yang tetap".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekolah rendah diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mementingkan  pertanian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perusahaan yang menjadi pokok dari ekonomi Filipina sekarang dipegang oleh bumiputra sepenuhnya. Beberapa pabrik, rumah-rumah perdagangan dan maskapai-maskapai kapal adalah kepunyaan atau dipimpin oleh orang Filipina. Empat buah Universitas dan beberapa sekolah tinggi setiap tahun meluluskan putera dan puteri Filipina dalam jumlah besar untuk mempertahankan bangsa yang 12,000,000 jiwa itu dari tipu daya dan kecurangan Amerika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya sedikit sekali penduduk yang buta huruf. Boleh dikatakan semua anak-anak masuk sekolah. Hingga sampai ke sudut-sudut yang jauh, selain dari bahasa sendiri, pemuda-pemudanya mengerti bahasa Inggris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Biarpun perguruan di sana tak menyenangkan hati seorang Belanda yang terpelajar seperti Dr. Nieuwenshuis - yang tentu sekali akan selamanya menjilat-jilat kudis pemerintahannya sendiri, sambil menghinakan perbuatan orang lain, tetapi karena ketinggian intelek Filipina, orang-orang Amerika yang hebat dan kaya-kaya itu tak dapat berbuat sesuka hatinya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebab Amerika pada tahun 1925 mesti membayar harga karet f 540,000,000 lebih banyak daripada tahun 1924 kepada Inggris, timbullah pikiran orang Amerika untuk membuka kebun di Filipina Selatan yang tanahnya bagus buat karet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi pemimpin-pemimpin Filipina bekerja keras untuk menghindari terkaman "serigala-karet" bangsa Amerika. Sebelum mereka bertindak lebih jauh buat memperoleh tanah yang luas untuk kebun karet, dalam konsesi — berkat usaha pemimpin-pemimpin Filipina, anggota Senat dan &lt;em&gt;House&lt;/em&gt; dengan hukum tanah (&lt;em&gt;landwet&lt;/em&gt;) nya yang lama ditentukan bahwa  "tidak lebih dari 2500 &lt;em&gt;acres&lt;/em&gt; (satu &lt;em&gt;acre&lt;/em&gt; 4840 &lt;em&gt;yard&lt;/em&gt; persegi) yang boleh disewakan kepada orang asing. Belum berapa lama berselang serigala karet itu, dengan perantaraan Firestone datang meminta konsesi untuk kebun karet itu. Mereka disambut dengan perkataan bahwa hukum tanah Filipina "tidak memberi izin".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemimpin-pemimpin Filipina berpendapat bahwa apabila Amerika menanam kapitalnya di Filipina, selain rakyat segera akan menjadi sengsara (seperti di Jawa) juga Amerika akan mendapat satu alasan untuk merintangi kemerdekaan Filipina. Imperialisme Amerika yang tidak kurang cerdiknya dari imperialisme Anglosakson bukankah kelak dapat mengatakan, bahwa satu kegoncangan boleh jadi akan muncul karena kepergian Amerika yang belum pada waktunya? Kepentingan-kepentingan Amerika membahayakan di Filipina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah sebabnya maka pemimpin-pemimpin Filipina dengan tergesa-gesa mengeluarkan hukum tanah tersebut dari kitab undang-undang dan membeberkannya kepada seluruh rakyat... Layaknya sebuah kampung kedatangan seekor macan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebuah bangsa yang sudah terbuka matanya seperti Filipina, tambahan pula diberi wawasan oleh surat-surat kabar bumiputra (disebabkan sekolah tinggi yang dikutuki Dr. Nieuwenshuis yang terpelajar itu!), dapat melihat dan melaksanakan kebenaran dari pemimpin-pemimpinnya. Dengan diiringi oleh seluruh rakyat, dapatlah pemimpin-pemimpin Filipina setiap waktu memanah serigala karet imperialisme Amerika dengan panah hukum tanah yang liat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak seorang pun yang mencela sistem perguruan yang tidak nasional itu selain dari pemimpin-pemimpin Filipina sendiri. Selain itu pun ada kesulitan-kesulitan untuk mengambil peran perdagangan dari bangsa asing. Tetapi semuanya mereka sekata (semufakat) bahwa sistem perguruan yang sehat dan perubahan ekonomi yang sebaik-baiknya hanya dapat dilakukan dengan sempurna setelah tercapai kemerdekaan bangsa. Dan di sudut dunia manakah hal itu dipandang secara berlainan? Adanya Gubernur Jendral yang mempunyai hak mencegah (&lt;em&gt;recht van veto&lt;/em&gt;) menjadi rintangan bagi islah ekonomi yang semata-mata bagi bangsa Filipina. Itulah sebabnya, saudara-saudara kita di sebelah utara sana masih terus berjuang semata-mata untuk kemerdekaan yang seluas-luasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Konsesi yang besar-besar, yang dengan terpaksa diberikan oleh Amerika mulai 25 tahun yang silam tak dapat mendinginkan sanubari bangsa Filipina untuk merampas hak kelahiran dan kemerdekaannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seandainya yang dipertuan bangsa Filipina bukan Amerika (satu negeri yang terkuat dan terkaya di atas dunia), tetapi "perampok di tepi Laut Utara (Belanda) yang termashur itu", niscaya telah lama yang dipertuan itu dihalau mereka masuk ke dalam neraka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inggris menguasai karet lebih dari dua pertiga  dan Amerika memakai 72 % dari hasil dunia. Disebabkan masih berlakunya "&lt;em&gt;Stevenson Rubber Restriction's policy&lt;/em&gt;",  tuan-tuan kebun dan mereka yang mempunyai monopoli, bangsa Inggris sajalah  yang menguasai karet sedunia ini — &lt;em&gt;verslag  kamer van koophandel Amerika&lt;/em&gt; yang diumumkan dalam &lt;em&gt;Manila Tribune&lt;/em&gt;, 26 Juli '25.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;c.  Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keadaan India dan Filipina yang saya kemukakan  di atas, saya maksudkan untuk menambah pengetahuan kita tentang imperialisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perihal Indonesia, sekarang dan nanti, akan kita uraikan di belakang dengan panjang lebar. Setelah memperhatikan semua yang diuraikan di atas, niscaya tak sudah bagi pembaca untuk mengartikan perampokan, pembakaran, dan pembunuhan yang dilakukan orang Belanda. Karena itu, kita tidak akan berlama-lama menggambarkan hongi-hongi (merica di Ambon), kebun kopi yang sekarang dipanggil penanam merdeka. Semuanya telah terkenal dan dikutuki oleh setiap manusia yang berotak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jauh dari maksud kita mengatakan bahwa sekalian kejadian itu adalah semata-mata perbuatan "manusia" Belanda. Kita sendiri telah cukup mengenal pekerti dan tabiat bangsa Belanda. Tetapi lagak dan lagu imperialisme Belanda menjadikan seorang bangsa Belanda seperti yang kita kenal dulu dan sekarang — jahat dan bengis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tatkala Belanda mengarahkan kapal pembajaknya ke Indonesia, waktu itu negeri mereka hanyalah negeri tani dan tukang warung kopi yang kecil-kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Juga sekarang negeri itu masih tetap tinggal sebagai negeri tani dan saudagar. Dan ia tidak akan menjadi lain, karena ia tak mempunyai bahan dasar untuk industri besar, yakni arang, besi dan kapas. Sekiranya negeri Belanda tidak mempunyai tanah jajahan niscaya ia tak dapat menyamai Belgia atau Swedia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setinggi-tingginya ia hanya satu negeri tani  dan saudagar-saudagar kecil yang sunyi seperti Denmark.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan keberanian dan kemauan seorang bajak laut serta ketamakan seorang tukang warung kopi yang kecil, habislah sekalian hasil negeri Indonesia dirampasnya. Tak ada sebutir batu pun untuk perumahan ekonomi bumiputra yang ketinggalan. Bagaimana mungkin kita harapkan pemerintahan bijaksana dari bajak laut, tukang warung kecil ini ! (&lt;em&gt;Hoe &lt;/em&gt;&lt;em&gt;kan&lt;/em&gt;&lt;em&gt; men okk vooruitziensheid en staatsmanschap van een  piraat - kruidenier verwachten&lt;/em&gt;!). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum datang Kompeni Hindia-Timur, orang Tionghoa, Hindu-Arab (lama-kelamaan) menjadi orang Jawa atau setidak-tidak terus tinggal di negeri ini, tetapi bangsa Belanda datang ke Indonesia dan balik ke negerinya dengan karung yang penuh berisi. Di sana dihambur-hamburkan uang Indonesia dan di sanalah mereka menyedot dana pensiunnya dari peti uang Indonesia. Akibatnya, bocor dan keringlah ekonomi Indonesia!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekiranya negeri Belanda adalah sebuah negeri industri yang maju niscaya lambat laun terpaksalah ia seperti Inggris dan Amerika, memakai politik yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia tentu akan memakai politik liberal terhadap orang Jawa atau Indo-Jawa serta bangsawan Jawa. Dengan demikian, kemajuan politik dan ekonomi sebagai sekarang terjadi di Filipina dan India, boleh juga terjadi di Indonesia. Biarpun Belanda semenjak 20 tahun belakangan ini mulai mengindustrialisasi Indonesia, tetapi tujuannya tetap monopoli. Kapitalnya tetap kapital luar negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jurang antara penjajah dan si terjajah sekarang masih tetap sebagai di zaman Daendels dan van den Bosch. Hanya suara revolusi yang gemuruh sajalah yang dapat menimbun jurang yang dalam itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi agaknya oleh karena hal inilah maka Indonesia dan negeri-negeri Asia yang lain kelak memberi selamat kepada imperialisme yang dipertahankan Belanda itu. Sebab dari pertentangan sosial yang tajam di Indonesia itu, satu masa niscaya akan timbul kodrat baru yang dapat melepaskan Indonesia dan seluruh Asia dari tindakan Barat untuk selama-lamanya.&lt;/p&gt; &lt;hr class="end"&gt;        &lt;br /&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;IV&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;KAPITALISME &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Kapitalisme di Indonesia adalah cangkokan dari Eropa yang dalam beberapa hal tak sama dengan kapitalisme yang tumbuh dan dibesarkan dalam negerinya sendiri, yakni Eropa dan Amerika Utara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Kapitalisme yang Masih  Muda&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena kapitalisme di Indonesia masih muda, produksi dan pemusatannya belumlah mencapai tingkat yang semestinya. Kira-kira seperempat abad belakangan baru dimulai industrialisasi di Indonesia. Baru pada waktu itulah dipergunakan mesin yang modern dalam perusahaan-perusahaan gula, karet, teh, minyak, arang dan timah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Industri Indonesia, terutama industri pertanian, masih tetap terbatas di Jawa dan di beberapa tempat di Sumatera. Tanah yang luas, yang biasanya sangat subur dan mengandung barang-barang logam yang tak ternilai harganya, seperti Sumatera, Borneo, Sulawesi dan pulau-pulau yang lain masih menunggu-nunggu tangan manusia. Meskipun Pulau Jawa dalam hal perkebunan dan alat-alat angkutan sudah mencapai tingkatan yang tinggi, tetapi umumnya pulau luar Jawa, kecuali Sumatera, masih rimba raya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Industri modern yang sebenarnya tidak akan diadakan di Pulau Jawa. Ia akan tetap tinggal menjadi tempat industri pertanian. Sebab logam-logam seperti besi, arang, minyak tanah, emas dan lainnya, tidak atau hanya sedikit sekali didapat di sana. Sumateralah yang menjadi tempat industri modern yang sebenarnya. Hal ini sekarang sebagian kecil telah terbukti. Arang, minyak tanah, emas dan timah hasil Sumatera (kelak juga besi) besar artinya, baik di kalangan nasional maupun internasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inggris, negeri industri yang tertua di dunia, pada pertengahan abad yang lalu mengadakan perubahan yang tepat dalam perindustriannya. Negeri-negeri Eropa yang lain dan Amerika Utara mengikuti pula berangsur-angsur. Teknik dan peraturan bekerja di sana sekarang telah sampai pada tingkat yang setinggi-tingginya seperti yang belum pernah dikenal oleh riwayat dunia. Tenaga produksi dan distribusi jauh melewati batas keperluan nasional. Eropa dan Amerika Utara telah menjadi negeri kapitalis yang matang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kapital memisahkan kota dengan desa. Kota menghasilkan produksi industri dan produksi pertanian. Makin maju kapitalisme, semakin banyak penduduk yang tadinya di desa-desa ditarik ke kota-kota. Bukankah di kota sewaktu keadaan politik dan ekonomi baik, kita peroleh lebih banyak pekerjaan, lebih banyak rumah-rumah pendidikan dan lebih banyak kesenangan daripada di desa-desa? Pada tahun 1790 di kota-kota berdiam 3.4% dan di desa-desa 96.6% penduduk dari seluruh penduduk, dan pada tahun 1920 menjadi 51 % dan 49%. Di tahun 1870 angka-angka itu jadi 21% dan 79% dan di tahun 1910 jadi 51 % dan 49%. Jadi, jumlah penduduk di desa-desa pada tahun 1920 lebih kecil dari penduduk kota. Angka-angka ini membuktikan secara nyata pada kita perihal kemajuan kota-kota Amerika, sebagai akibat dari kemajuan industrialisasi. Di negeri Inggris proses pembagian itu (perihal kota dan desa) sama teratur dan sama cukupnya. Pada tahun 1850 di kota-kota berdiam 49% penduduk dari seluruh penduduk. Pada tahun 1900 perbandingan ini menjadi 77% dan 23%, (The relation Governement to industry, M.L. Regua).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut &lt;em&gt;foods No. 73&lt;/em&gt; tahun  ini, jumlah penduduk dan kota-kota yang mempunyai lebih 10,000 jiwa di Jawa dan  Madura baru 60% dari seluruh penduduk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita pakai perbandingan antara penduduk kota dan desa sebagai ukuran kemajuan industri satu-satu negeri, niscaya industri Indonesia masih di dalam keadaan bayi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita ambil pula jumlah panjangnya jalan kereta api untuk menggambarkan kemajuan industri selaku penjelasan uraian kita yang di atas, nyatalah kepada kita bahwa negeri Jerman, dengan 177,000 mil persegi luasnya dan penduduknya yang lebih sedikit dari Indonesia, pada tahun 1913 mempunyai 38,809 mil jalan kereta api, sedang Indonesia yang luasnya 735,000 mil persegi, pada tahun 1919 hanya ada mempunyai 3,914 mil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perihal jumlah perdagangan (impor-ekspor) di  Indonesia 1924 (sesudah perang dunia) ada f 2,208,800 (menurut &lt;em&gt;International Ocean&lt;/em&gt;, no. 526, Negeri Jerman pada tahun 1913 [sebelum perang] ada f 13,375,000.000). Angka-angka ini menunjukkan kemunduran kita. Tetapi jika dibandingkan dengan negeri seperti Inggris, India, dan Filipina, kelihatannya Indonesia belum berapa mundur. Dan bila dibandingkan dengan Turki, Siam, dan Tiongkok, Indonesia jauh lebih baik. Dengan membuat perbandingan itu sebagaimana yang sudah kita lakukan, sebetulnya ini telah melebihi dari kemestian. Maksud kita tak lain ialah untuk menerangkan betapa mudanya kapitalisme di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Tumbuh Tidak dengan Semestinya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi bumiputra yang menurut kemauan alam. Ia adalah perkakas asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi bumiputra.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila kita perhatikan perkembangan kapitalisme di Eropa dan Amerika, nyatalah pada kita bahwa cara produksi yang tua berturut-turut digantikan oleh yang muda. Biasanya kejadian itu tidak tampak jelas, tetapi adakalanya cepat sehingga cukup jelas. Kejadian yang belakangan ini ialah oleh adanya pendapatan-pendapatan baru. Biar bagaimanapun keadaan saat itu, ia adalah kemajuan menurut alam, sebab tenaga yang mendorongkan pada kemajuan itu ada di dalam genggaman masyarakat di Eropa dan Amerika sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana yang telah kita tunjukkan, kemajuan industri di setiap negeri sejajar dengan timbulnya kota-kota yang mengeluarkan terutama barang-barang industri seperti barang-barang besi, perkakas pertanian, obat-obatan dan lain-lain. Desa-desa mengeluarkan beras, sayur-mayur, binatang ternak, susu dan lain-lain. Barang-barang kota yang berlebih — yakni barang itu dipandang penduduk kota sebagai keperluan hidupnya ditukarkan dengan barang-barang desa yang berlebih itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Amerika pada waktu yang biasa seperti pada tahun 1913, selagi negeri ini terpencil dan kurang imperialistis, seperti sekarang ini, boleh dikatakan sama besarnya perbandingan antara barang-barang industri dengan pertanian (harga pasar antara kedua barang itu hampir sama). Jadi dalam pemandangan ekonomi kota memenuhi keperluan desa, desa memenuhi keperluan kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Indonesia sebagai akibat kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagaimana mestinya, tidak seperti di atas keadaannya. Kota-kota kita tak dapat dianggap sebagai konsentrasi dari teknik, industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan barang-barang baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kapitalis-kapitalis bumiputra. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumah tangga, bahan-bahan untuk pakaian dan lain-lain tidak dibuat di Indonesia, tetapi didatangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialistis. Desa-desa kita tak menghasilkan barang kebutuhan untuk kota-kota, karena untuk mereka sendiri pun tak mencukupi. Beras misalnya, makanan rakyat yang terutama mesti didatangkan dari luar, di tahun 1921 seharga f 114,160,000, meskipun bangsa kita umumnya sangat pandai mengerjakan tanahnya dan semua syarat untuk menghasilkan beras bagi keperluan sendiri bahkan dapat pula mengeluarkan berasnya yang berlebih. Desa-desa kita mengeluarkan gula, karet, teh, dan lain-lain barang perdagangan yang mengayakan saudagar asing, tetapi memiskinkan dan memelaratkan kaum tarsi; kota-kota kita bukanlah menjadi pusat ekonomi bangsa Indonesia, tetapi terus-terusan menjadi sumber ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk setan-setan uang luar negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bahan yang menyebabkan kapitalisme bukanlah Indonesia — mengingat riwayat negeri kita yang tersebut di atas — teranglah bagi kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah kita lihat bahwa politik perampok bangsa Belanda, memusnahkan sekalian benih-benih industri bumiputra yang modern. Hongi-hongi cultuur stelsel, monopoli stelsel dan gencetan pajak yang tak ada ampunnya. Dan pemasukan saudagar-saudagar Tionghoa yang teratur di zaman Kompeni Timur Jauh (VOC) menghancurluluhkan sekalian alat-alat sosial ekonomi dan teknik nasional yang kuat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika sekiranya bangsa Indonesia tidak dirampok, dan mempunyai kepandaian teknik, serta dipengaruhi oleh orang asing, tentulah orang Indonesia ada kesempatan untuk memenuhi kemauan alam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Boleh jadi dengan secara damai (seperti di Jepang) atau dengan perantara pemboikotan nasional (seperti di India) kaum menengah Indonesia atau Indo dengan jalan mengumpulkan kapital nasional mendirikan industri untuk memenuhi kebutuhan nasional seperti tenun besi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah, kapital Indonesia timbul dengan teratur pula antara lapisan-lapisan sosial Indonesia dan mempunyai perhubungan yang teratur. Saudagar Indonesia yang dulu kecil sekarang sudah menjadi bankir atau mengepalai perusahaan yang besar-besar. Penempa besi, tukang tukang gula, saudagar batik yang dulu kecil menjadi pemimpin industri logam, gula atau tenun. Tetapi imperialisme Belanda dalam 300 tahun tak meningkatkan apa pun untuk bangsa Indonesia, semua habis diangkut ke negerinya. Ia memuntahkan kapitalisme kolonial Belanda yang tidak ada duanya di dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maju ke dalam perjuangaan ekonomi melawan raksasa asing, dengan maksud meningkatkan industri nasional sama dengan "menjaring angin".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.  Kapital Indonesia Itu Internasional&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imperialisme Inggris dengan industri nasionalnya yang nomor wahid dan armada yang luar biasa, semenjak semula merasa perlu mengadakan kompromi dengan raja-raja, dan tuan-tuan tanah bangsa India, untuk mempertahankan diri terhadap borjuasi bumiputra yang baru timbul. Tetapi tatkala yang tersebut belakangan ini keluar dari medan perjuangan dengan kemenangan (di tahun 1900-1905 dan 1919-1922), Inggris mengulurkan tangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bersama dengan raja-raja, tuan-tuan tanah dan borjuasi India yang baru itu, dia pergi memperkuda punggung rakyat yang menggerutu itu. Bagaimanapun sulitnya imperialisme Inggris, ia masih mempunyai tujuan di dalam kerajaan sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imperialisme Belanda memukul dan menendang "kerbau" yang sabar itu, sekian lamanya, hingga sekarang kerbau itu mempergunakan tanduknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belanda kecil yang di waktu dulu menelan segalanya untuk dirinya sendiri, sekarang terpaksa membagi-bagikan itu dengan negeri-negeri yang lebih kuat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun kekurangan kapital dan industri, adalah sebab yang terpenting dari tindakan Belanda itu, maka semenjak beberapa tahun, kapital Inggris memegang peranan besar di Indonesia. Raffles yang bijaksana itu sudah lama melihat hal ini dan tidak puas sebelum ia dapat mengelabui mata Belanda-tani itu. Setelah perang dengan Napoleon berhenti, Inggris mengembalikan sekalian koloni Belanda. Perbuatan ini seakan-akan sangat bertentangan dengan politik yang waktu itu dipakai Inggris, tetapi setelah dicermati perbuatan itu adalah politik Inggris yang selicin-licinnya dan semurah-murahnya dalam memakai Belanda sebagai opas untuk kapital yang ditanamnya di Indonesia. Apakah pengambilalihan seluruh administrasi yang ada di Indonesia memberi tanggung jawab dan kesusahan kepada Inggris? Kapital Inggris yang beberapa tahun belakangan ini makin hari makin besar, bagi Belanda — kecil sangat mengkhawatirkan, dan bangsa Indonesia sekarang tak sabar lagi, hingga Belanda sekarang berniat memakai "politik pintu terbuka". Istilah yang sebenarnya diambil dari kamus Amerika ini sungguh cocok dengan politik Belanda di Timur. Dalam kata-kata biasa, ia berbunyi: "Dan terhadap kapital Inggris serta bangsa Indonesia yang telah terjaga dari tidurnya, semestinya Belanda lebih kuat bila mempunyai Amerika yang demokratis. Tetapi negeri ini mesti ditarik ke Indonesia. Kapitalnya ditanam di Indonesia dengan segala daya upaya dan, jika perlu, diberikan hak-hak yang luar biasa. Jika tiba masanya, kelak Amerika bergandeng tangan dengan Belanda".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Uang dan susah payah tak diperhitungkan demi kapital  Amerika. Seorang menteri pernah berkata terus terang di dalam &lt;em&gt;kamer&lt;/em&gt;, bahwa: Kedatangan kapital Amerika sangat mudah karena undang-undang di Indonesia sekarang. Kunjungan Fock ke Manila pada tahun 1923, dan kedatangan beberapa kapal perang ke Filipina, mendudukkan seorang konsul jendral di New York yang kerjanya selain hilir mudik dengan perundingan dan perjanjian juga menghambur-hamburkan uang buat reklame, pamflet dan majalah yang selama bertahun-tahun memuat perihal Jawa sang negeri ajaib (Java the Wonderland). Semuanya itu adalah untuk memikat pelancong-pelancong dan kapitalis Amerika supaya datang berduyun-duyun ke Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berapa besar kapital Belanda itu dapat kita  lihat pada angka-angka di bawah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam buku &lt;em&gt;Handbook voor cultuur  en handsondernemingen in Ned. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;India&lt;/em&gt; ditulis oleh Agulvant, kapital yang ditanam di Indonesia ditaksir sejumlah f 3.270.000.000. Di antaranya f 1.27,000,000 di dalam kebun-kebun, minyak f 900,000,000. Dalam bank dan perdagangan f 750,000,000.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perusahaan kapal, kereta api dan tram masing-masingnya f 250.000.000, f 220.000.000 dan f 200,000,000. Tambang-tambang f 70,000,000 dan maskapai-maskapai asuransi f 60,000,000.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kapital yang ditanam di Sumatera Timur pada tahun 1924 sejumlah f 439,000,000. Di antaranya 55.3% kepunyaan Belanda dan 44.7% kepunyaan bangsa asing. Kapital bangsa asing yang ditanam dalam industri pertanian sejumlah f 200,000,000. Di antaranya f 147,500,000 adalah kapital Inggris, f 300,000,000 milik Prancis dan Belgia, f 15.700.000 milik Jepang dan f 4.000.000 milik Jerman (&lt;em&gt;International  Ocean&lt;/em&gt;. No. 6, 1926).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Luas kebun karet pada tahun 1924 sebesar 241,357 bau [note 1]. Di antaranya 42.2% kepunyaan bangsa asing dan 32.4% kepunyaan Inggris. Berhubung dengan monopoli Inggris, kapital karet Amerika beberapa tahun belakangan ini sangat cepat meningkatnya di Sumatera. Luas kebun teh di Jawa 116,664 bau. Kepunyaan bangsa asing 23.8% dan Inggris 17.8%.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari tujuh macam hasil utama yang dikirimkan ke pasar-pasar di seluruh dunia, ekspor gula di tahun 1924, f 491,100,000 atau 32.1 % dari jumlah ekspor. Karet f 202,600,000, atau 13.2% dari ekspor. Minyak tanah f 158,300,000, tembakau f 123,600,000, kopra f 97,400,000, teh f 93,600,000 dan kopi f 56,600,000 yakni masing-masing 10.3%; 8.1%; 6.4%; 6.1%; dan 4.3% dari jumlah ekspor semuanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahun 1924 ekspor ke tanah Inggris dan di jajahannya 42.55% dari semua ekspor dan ke negeri Belanda hanya 19.7%, sedang 40.4% dari Inggris dan tanah jajahannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi teranglah, bahwa perdagangan Inggris di Indonesia lebih besar dari semua negeri asing, sedangkan di dalam perusahaan minyak dan kebun-kebun yang terpenting, kapital Inggris memegang peranan yang terbesar di antara kapital bukan Belanda. Jadi tidaklah mengherankan mengapa orang Belanda tergesa-gesa memikat kapital Amerika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Betul beberapa tahun belakangan ini, karena iri hati melihat Inggris menjalankan politik karet dengan cara monopoli, Amerika mulai menanam kapitalnya di kebun karet di Sumatera Timur. Akan tetapi, hal itu belum menjadi satu kepastian, apakah Amerika hendak menanamkan kapitalnya di Sumatera dan Jawa saja, sebab di Mindanau (Filipina Selatan) dan Liberia ada tanah yang subur untuk kebun karet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengakui dan melindungi industri bumiputra yang modern seperti di India menurut pandangan ekonomi baru tidak akan ada sama sekali, sebab industri bumiputra modern memang tidak ada. Rakyat hanya diperas, diinjak-injak dan ditipu. Pemecatan kaum buruh bukanlah satu keanehan, dan cengkraman pajak makin lama makin erat. Ekonomi rakyat tak perlu disebut-sebut sebab negeri Belanda terutama bergantung pada kapital luar negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[note 1] 1 bau = 500  tombak persegi atau 7096 m2.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;V&lt;/h3&gt; &lt;h3&gt;KEADAAN RAKYAT INDONESIA&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Kemelaratan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berapa ribu, bahkan berapa ratus ribu rakyat Indonesia yang meringkuk dengan perut kosong di atas balai-balai setiap hari saat melepas lelahnya, tak terjelaskan dengan tepat. Pemerintah punya catatan angka-angka yang lengkap tentang kebun-kebun dan perusahaan yang menguntungkan, terutama nama-nama orang yang wajib membayar pajak, tetapi lupa memberi kepastian tentang penghidupan rakyat seluruhnya. Betul kadang-kadang dibentuk oleh pemerintah suatu panitia, tapi badan itu tak mewakili rakyat, dan tentu saja panitia itu tidak pernah mendakwa kapital besar, meskipun mencela saja. Pemeriksaan "teratur" dan "merdeka" sebagai bukti maksud-maksud yang suci, belum pernah kedengaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita mau tahu berapa jumlah buruh industri, kebun-kebun dan pengangkutan, tentulah dengan jalan itu kita ketahui berapa banyaknya "budak belian kolonial" yang kelaparan di Indonesia sebab sebagian besar dari buruh industri itu miskin, sebab kepada perusahaan besar-besar itu, mereka harus menjual atau menyewakan tanahnya, hingga akhirnya kehilangan tanah dan mata pencaharian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal itu tidak mungkin disebabkan oleh ketakpedulian dan kelalaian pemerintah. Meskipun kita bekerja dengan angka-angka yang tak cukup, ini belum berarti bahwa keadaan rakyat Indonesia adalah buku yang tertutup bagi kita; bahkan sebaliknya tak dapat diduga bahwa dua sampai tiga juta budak yang tertindas menerima upah yang hanya cukup bertahan agar mati kelaparan. Bagian yang terbesar dari mereka berorganisasi. Mereka itu misalnya buruh kereta api, tukang sapu, kuli barang dan tukang rem, yang mulai bekerja dengan gaji f 15 — dengan satu sampai dua rupiah kenaikan setiap tahun — dan mencapai maksimum f 30 sampai f 40 sebulan apabila mereka sudah beruban. Sungguh gaji itu terlalu sedikit di zaman kapitalisme, dan hal ini sangat menyedihkan, mengingat kepada kecermatan dan tanggung jawab sekumpulan buruh itu bergantung hidup beribu-ribu manusia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika beratus ribu buruh gula yang karena tak berorganisasi tidak berani meminta tambah gajinya; Jika kaum tani yang kehilangan tanah hanya bekerja beberapa bulan dalam setahun dengan gaji 30 atau 40 sen sehari, yakni di waktu memotong tebu; jika 250 sampai 300 ribu kuli kontrak — yang dinamakan "kuli merdeka" di Sumatera Timur — mendapat upah 30 sampai 40 sen sehari, siapakah yang berani mengatakan bahwa di masa ini seseorang (meskipun ia seorang inlander!), dengan anak bininya, dapat hidup sebagai manusia dengan upah 12 sampai dengan 25 rupiah sebulan? Jika ada orang yang berkata seperti itu, ia adalah seekor keledai atau lebih hina lagi adalah seorang "pengkhianat".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tukang-tukang besi segolongan buruh yang besar gajinya di negeri-negeri lain, di Surabaya sangat rendah gajinya, tinggal seperti di kandang anjing, makanan, pakaian dan keperluan hidup lain-lain tak cukup, hingga kekallah mereka jadi mangsa lintah darat Tionghoa dan Arab. Kita masih mendengar gaji mereka antara 30 sampai 40 rupiah. Di Surabaya yang dikenal sebagai kota dagang, gaji itu berarti sekadar penghalang agar jangan sampai mati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siapakah nama gubernur jendral yang pada suatu hari dengan malu-malu menceritakan bahwa beribu-ribu kuli di pelabuhan Jakarta, sebab upah mereka tidak cukup untuk menyewa gubuk yang sangat dicintai oleh orang-orang Jawa? Sudah begitu memalukan dan tak menentunya nasib kaum buruh yang nota bene masih kerja itu, bagaimanakah halnya kaum penganggur yang makin lama makin banyak itu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam &lt;em&gt;Verslag van de Suiker  Enquete Commissie&lt;/em&gt; (hlm. 99) kita baca kalimat yang sangat berarti: "Agaknya setengah dari keluarga rakyat di Pulau Jawa termasuk orang yang mempunyai tanah, dan selebihnya hidup dari perusahaan dan perdagangan bumiputra ataupun bukan. Di sana tentulah beratus ribu manusia yang tak punya apa‑apa, yang kadang-kadang bekerja pada salah seorang peladang dan dengan tidak pada tempatnya menamakan dirinya petani". Selain itu, di kota-kota tidak sedikit orang yang bergelandangan di sepanjang jalan, makan sesuap kala pagi dan sesuap kala petang. Kita tidak mempunyai statistik yang lengkap, benar dan sah tentang berapa jumlahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi siapapun yang pernah tinggal di kota gula seperti Banyumas, Solo, Kediri dan Surabaya, serta ia sungguh memperhatikan kehidupan rakyat, ia akan tercengang dengan "kesabaran" dan "kebetahan" rakyat menanggung kesusahannya, bahwa pajak jauh melewati kesanggupan penduduk, tidak asing lagi bagi orang-orang pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua dan setiap yang bernyawa (meskipun dia tidak berpencaharian) mesti membayar pajak. Kutipan-kutipan dari segala pihak dapat kita cantumkan, tetapi, karena kita anggap tidak berfaedah, tak perlu kita tambahkan di sini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Sepintas lalu kita katakan bahwa industri besar-besar dan kongsi-kongsi perdagangan juga membayar pajak. Akan tetapi, hal itu adalah perkara perjanjian belaka, karena dengan berbagai cara, pajak itu dapat ditimpakan di atas kepala rakyat Indonesia yang melarat dan tak punya hak lagi itu).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Padoux, penasihat pemerintah Tiongkok dalam "Memorandum for the National Commission for Study of Financial Problem", menentukan bahwa setiap kepala di Filipina, Indo-Cina, Prancis, Siam, Indonesia, dan Tiongkok masing-masing membayar pajak $7.50, 8.50, 9.50, 15.50, dan 1,20.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, pajak yang tertinggi di Indonesia! yaitu dua kali Filipina, hampir dua kali Indo-Cina, Prancis, dan dua belas kali Tiongkok. Perhitungan itu diambil menurut perbandingan sebelum tahun 1923. Waktu itu masih ada "Inlandsch Verponding" — satu perbuatan hina yang tidak tahu malu — sebagaimana yang belum pernah dilakukan oleh seorang raja yang selalim-lalimnya di Jawa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mr. Yeekes menerangkan dalam "de Opbouw" (tahun 1923) bahwa pendapatan rakyat Indonesia pukul rata f 196 setahun. Dari pendapatan itu banyak yang harus dikeluarkan sebagai pembayar pajak, dan di luar Jawa untuk rodi pula, hingga pendapatan sebulan tinggal f 13. Satu angka yang jauh di bawah minimum. Perhitungan Mr. Yeekes ini adalah untuk seluruh Indonesia, jadi penda-patan rakyat di Jawa Tengah tentu lebih sedikit lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita di zaman modern ini sedih dan heran melihat orang Jawa yang tinggal di pondok-pondok rombeng atau tak bertempat tinggal sama sekali, kelaparan dan berpakaian kotor compang-camping, hidup dalam iklim yang sangat membahayakan sebagai di Indonesia, kurang terawat kesehatannya, disebabkan wabah malaria, cacing tam-\bang, kolera dan sampar; "hanya" ratusan ribu yang mati di waktu penyakit itu merajalela.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu keuletan yang patut dipuji!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Kegelapan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masih saja "pemerintah tani dan tukang warung" Belanda takut kepada Universitas dan Sekolah Tinggi seperti kepada hantu. Masih saja belum terlepas ia dari gangguan momok "buruh intelektual". Ia sudah berbuat keliru dalam pandangan politik pengajaran Inggris dan mengambil kesimpulan yang salah. Ia terlalu bodoh untuk memikirkan bahwa berhubung dengan wawasan dan kecakapan imperialisme Inggrislah, maka dulu sudah ada kaum terpelajar di India yang pada masa sulit kerapkali membantu pemerintah Inggris, dan juga berkat adanya kelas intelektual, termasuk juga kaum ekstrimis, maka Tilak dan Mahatma Gandhi beroleh kemenangan ekonomi dengan gerakan boikotnya yang luas. Dan pula karena Inggris bekerja sama dengan borjuasi bumiputra modern, di lapangan politik dan ekonomi, maka Inggris dapat memerintah terus di India walaupun digempur oleh gerakan noncooperation baru-baru ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemerintah Belanda di dalam perdebatan selalu mengemukakan pelbagai keberatan terhadap pendirian universitas di Indonesia, yaitu keberatan yang hanya dapat diterima oleh anak-anak kecil. Semua dalilnya hanya terpakai di zaman timbulnya penjajahan dan dapat disimpulkan dalam alasan-alasan di bawah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Bahwa pemerintah ini, sesudah menyesal, seharusnya sekarang menjadikan dirinya pendidik rakyat Indonesia dengan belanja rakyat sendiri dan sepatutnya memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada anak-anak Indonesia, jika ia tidak doyan omong kosong.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Bahwa bangsa Indonesia baik otak maupun kebangsaan tidak lebih tinggi, juga sebaliknya tidak lebih rendah dari bangsa mana saja, dan bahwa mereka itu sungguh matang untuk menerima pengajaran yang macam mana sekalipun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Bahwa universitas Indonesia yang pertama tak perlu cangkokan atau tiruan dari Eropa,tetapi dengan memperhatikan perguruan tinggi di Eropa berdasarkan pada kecerdasan rohani dan keadaan masyarakat Indonesia sendiri pada masa ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Filipina — yang 12 juta penduduknya — sudah mempunyai empat universitas dan beberapa sekolah tinggi, tapi Indonesia dengan penduduknya yang lima kali lebih banyak belum mempunyai sebuah juga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekejap pun tak kita lupakan, bahwa bila "orang Belanda" mendirikan universitas di Indonesia, pengajarannya niscaya dan pasti lebih tinggi daripada di koloni lain sebagaimana, katanya, universitas Belanda jauh lebih tinggi daripada universitas di mana pun. Tanpa mempedulikan tabiat menurutkan kata hati sendiri itu, kita hanya ingin mengatakan kepada Belanda, "Cobalah dulu tunjukkan kecakapanmu itu di Indonesia!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"&lt;em&gt;Perbuatan&lt;/em&gt; itulah yang sebenarnya harus kamu buktikan!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi, selain duit yang bagi seorang Belanda lebih berat timbangannya daripada cita-cita dan alasan politik, ada pula pandangan politik lain yang tak dapat kita harapkan dari si Belanda tani dusun yang dungu itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belum selang berapa lama Tuan Hardeman, Kepala Departemen Pengajaran, menerangkan dalam sidang Dewan Rakyat bahwa mendirikan suatu perguruan tinggi belum tentu melahirkan buruh terpelajar, karena kebutuhan akan buruh pelajar itu untuk sementara waktu ini berkurang, disebabkan kesukaran ekonomi yang nanti tentu akan pulih. Dengan ini lenyaplah "momok" seperti yang dibuat oleh &lt;em&gt;Java  Bode&lt;/em&gt;, tanggal 30 Juni.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibat politik pengajaran Belanda di sana-sini kelak akan kita ulas lagi. Di sini kita ingin memastikan, dengan angka-angka, bahwa perguruan rendah, menengah dan tinggi, semenjak dulu tidak cukup untuk rakyat yang berjumlah 55 juta. Hal itu harus diakui tanpa mengindahkan alasan kosong dari yang menyebut dirinya "pemerintah".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita lewati sepintas lalu sekolah-sekolah tinggi yang sudah beberapa tahun, katanya, mengeluarkan berpuluh-puluh dokter, mister, dan insinyur. Kita tujukan pembicaraan sebentar kepada soal sekolah rendah. Jumlah anakanak yang harus masuk sekolah pada tahun 1919 adalah sebagai berikut: H.I.S. 1%, Sekolah Rakyat 5%, Sekolah Desa 8% sampai 14%. Lebih kurang 86% anak-anak yang seharusnya bersekolah tak mendapat tempat (menurut laporan kongres N.I.O.G. tahun 1923 yang diumumkan dalam &lt;em&gt;Indische Courant&lt;/em&gt;). Mereka yang bisa  membaca dan menulis sekarang ditaksir 5% sampai 6%, mungkin juga 2% sampai 3%.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jumlah belanja perguruan di tahun 1919 menurut kabar yang sah adalah f 20,000,000 dan f 75,000,000 untuk 150,000 orang anak-anak Eropa dan f 12,500,000 untuk anak-anak dari 55,000,000 tukang bayar pajak rakyat Indonesia. Pada tahun 1923 belanja perguruan itu f 34.452.000. Jadi, untuk seorang anak bumiputra pada waktu itu dikeluarkan 30 sen, sama artinya 1/7 dari yang dikeluarkan untuk anak Filipina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk badan-badan lain, yang memperlihatkan contoh yang baik kepada rakyat yang tak senang, seperti polisi, militer dan armada, pada tahun itu dikeluarkan belanja sebesar f 156,274,000. Tambahan pula seperti yang sudah dimufakati antara dia sama dia, di lain tahun akan dibelanjakan f 300,000,000. Satu beban yang berat sekali di atas bahu si Kromo yang merana itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita, kaum revolusioner, pada tahun 1921 bermaksud untuk memperbaiki keteledoran pemerintah dalam pendidikan itu dengan mendirikan sekolah-sekolah sendiri. Dengan menempuh pelbagai macam kesusahan, seperti kesulitan teknis, kepegawaian, keuangan, politik dan polisi, akhirnya dapat kita dirikan di seluruh Jawa 52 buah sekolah dengan kira-kira 50,000 orang murid dan jumlah itu bertambah banyak. Akan tetapi, sekolah itu digencet dengan kekerasan. Dengan alasan yang tak cukup setiap waktu guru-guru di sekolah itu dilarang mengajar, dan orangtua murid-murid ditakut-takuti. Pukulan penghabisan dijatuhkan Serikat Hijau (sebuah kumpulan penyamun yang dikerahkan, diupah dan dipimpin oleh pemerintah dan orang-orangnya). Penyamun upahan ini disuruh membakar sekolah, menakut-nakuti dan menganiaya orang, murid dan guru-gurunya. Dan perintah dijalankan oleh mereka dengan sungguh-sungguh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebuah pergerakan rakyat yang sehat menuju ke pemberantasan buta huruf yang dipimpin dengan gembira dan tak memandang susah payah oleh kaum revolusioner di Priangan pada tahun 1922 ditimpa nasib yang seburuk itu pula.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Politik pemerintah ini dalam soal pengajaran boleh disimpulkan dengan perkataan: "bangsa Indonesia, harus tetap bodoh supaya ketenteraman dan keamanan umum ter pelihara" .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Kelaliman  dan Perbudakan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski sudah 300 tahun Indonesia berkenalan dengan peradaban Barat, masih saja rakyat kita hidup di dalam keadaan yang tak mengenal atau mempunyai hak. Pak tani tak pernah sehari juga mendapat kepastian tentang kepemilikan, kemerdekaan bahkan nyawanya sekalipun. Setiap tahun skrup pajak rakyat semakin keras putarannya. Kaum buruh tidak boleh mengadakan perhimpunan atau mengemukakan keberatannya. Permohonan rakyat yang pantas tidak didengarkan. Pendidikan dan pemimpin rakyat yang dipercayai rakyat dicap dan diperlakukan seperti penghasut dan bandit, dan karena itu, dengan tidak diperiksa terlebih dahulu, dimasukkan ke dalam penjara, disekap di kamar tikus, dihalau keluar negeri atau diketok kepalanya sampai mati. Permintaan dan protes yang beralasan dimusnahkan oleh birokrasi yang rupanya lebih suka tenggelam dalam kebusukannya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang marilah kita persilakan Prof. Van Vollenhoyen yang termashur itu berbicara dan mencela sikap pemerintah Belanda, seperti yang tertulis dalam buku beliau &lt;em&gt;Indonesier en zijn Grond&lt;/em&gt;. Indonesia boleh jadi mempunyai tidak kurang dari 70% penduduk yang hidup dari pertanian; dan karena itulah, maka penting bagi seorang terpelajar — yang kehormatan dan kedudukannya belum pernah dicurangi orang — supaya mendengar apakah yang sudah diperbuat terhadap si tani dalam beberapa tahun oleh sebuah kekuasaan yang mengaku dirinya sebagai "pengasuh rakyat" serta merasa berbuat serupa itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita bukan hendak mengorek-orek yang sudah terjadi maka lebih dulu diperbincangkan kejadian-kejadian semenjak 60 tahun dari abad yang silam. Siapa saja tentu tahu dan membenarkan perkataan bahwa di tahun-tahun itu "orang Jawa dianiaya". Akan tetapi tidak semua orang dengan lekas melihat macam apa dan sampai ke mana batas penggencetan atas milik kaum tani itu. Untuk mengetahui hal ini, tak usah kita baca buku-buku kelaliman pemerintah Belanda ini sebagai "kaum penghasut dan penyebar kebencian", tetapi kita ambil saja perslahannya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesewenang-wenangan Daendels, biar bagaimana busuknya, masih dapat dianggap luar biasa. la mempunyai kekuasaan sendiri atas sawah dan ladang rakyat untuk menggaji pegawai bumiputra (hlm. 12 dan dll).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seterusnya van Vollenhoven berkata: "dibandingkan dengan peratusan raja-raja Jawa yang hampir sama busuk dengan kebiasaan kita, "masih terbatas" dalam kerajaannya saja, Kedu, Yogyakarta dan Surakarta, tetapi kita meluaskannya sampai meliputi seluruh pulau itu" (hlm. 16).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pegawai-pegawai desa mengambil suatu kepunyaan rakyat yang baik untuknya dan diberikannya yang buruk kepada rakyat yang bodoh. Semua itu perbuatan sewenang-wenang (hlm. 17).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Apakah yang kita harapkan sekarang?” tanya van Vollenhoven seterusnya. Apakah kita berangsur-angsur akan menghentikan kerewelan perkara sawah ladang karma pajak tanah (ini sudah terjadi). Apakah kita berang,sur-angsur tidak lagi akan mengambil sawah ladang dan kebun paksaan rakyat (ini sudah terjadi). Apakah kita akan mengurangi dan menghapuskan akibat yang merugikan dari kerja paksa atas tanah-tanah kepunyaan rakyat (ini sudah terjadi). Dan selanjutnya kita belajar mendiamkan tangan kita yang gatal itu. Yang belakangan ini belum terjadi (hlm. 20).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila pada tahun 1919 seorang Jawa yang haknya atas tanahnya dirugikan f 1,000 datang mengadukan halnya kepada kontrolir, ia akan dihukum delapan hari kerja paksa. Bila ia menghadap Presiden Pengadilan Negeri, ia akan dijawab, "Tidak ada waktu!" dan bila orang itu pergi minta perlindungan Wali Negeri, "Sri Paduka Tuan Besar tidak berkenan menjawab". Dalam bahasa Belanda yang agak halus disebut hal itu "&lt;em&gt;godsgeklaagd&lt;/em&gt;" (hlm. 26).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Seringkali terjadi di tengah-tengah sebidang tanah yang akan diberikan pemerintah kepada tuan-tuan besar kebun ada sawah atau ladang bumiputra. Menurut undang-undang, tanah itu tidak boleh diambil kecuali jika untuk keperluan pemerintah sendiri. Akan tetapi dalam praktiknya orang berikhtiar membujuk si inlander supaya mau menukar haknya dengan uang (hlm. 26).&lt;br /&gt;  Berikut ini adalah kesimpulan dari Prof. van.  Vollenhoven yang tak dapat dicela kebenaran dan kenyataannya itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tetapi rupanya inilah yang sepenting-pentingnya orang Indonesia yang punya tanah sendiri, sungguh sangat susah akan mempunyai perasaan selain dari pelanggaran terus menerus; dusta dan penipuan atas hak tanahnya yang sah di atas kertas, sebagai daya upaya yang tak habis-habisnya untuk merampasi haknya tadi atau berdaya upaya supaya ia jangan dapat mempergunakannya" (hlm. 28).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita masih dapat mengutip beberapa gugatan dan kesimpulan van Vollenhoven yang berkenaan dengan penipuan atas tanah dengan jalan mengubah kalimat undang-undang, dengan merusak dan melanggar undang-undang itu sendiri dan tentang sebab-sebab pemberontakan di Sumatera, Borneo, yakni pencurian tanah. Akan tetapi, kutipan tersebut di atas sudah memadai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan tidakkah semua kenaikan pajak sekarang itu adalah suatu kesewenang-wenangan yang kasar jika kita menggunakan perkataan Prof. van Vallenhoven itu sendiri? Adakah rakyat kita diberitahu waktu pemerintah mengambil suatu keputusan dan memperbincangkan kepemilikan, pekerjaan dan kemerdekaan kita?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak pernah! Persis sebagaimana pemerintah  tidak pernah bertanya kepada kita, "Apakah kita menyukainya atau  tidak?"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bangsa Indonesia yang 55 juta itu tidak mempunyai wakil seorang jua pun dalam pemerintahan ini yang boleh memperdengarkan suara atau nasihat, protes atau celaan. Gerombolan militeris dan birokrasi yang menghisap darah dan menguasai nasib kita, tak pernah kita sukai dan kita pilih. Mereka tak dapat kita hentikan sebab kita tak punya kekuasaan politik. Mereka ini mesti kita terjang bila kita tidak suka kepada mereka, lain tidak! Kesimpulannya, sekalian dan peraturan yang menguasai kita di Indonesia dibuat sesuka hati mereka sendiri dan pembayaran pajak dalam teori atau praktik, semuanya adalah "pencurian".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Marilah kita perhatikan nasib 300.000 kuli kontrak, yang "katanya" dilindungi oleh pemerintah ini. Upah yang kurang lebih f 12 sebulan sungguh hampir tak cukup untuk membeli pakaian yang biasanya koyak-koyak, sebab setiap hari dipakai kerja di kebun. Sehari bekerja 14 sampai 18 jam, sebab kebun-kebun tembakau biasanya jauh letaknya dari pondokan kuli, lebih tepat kandang kuli, meskipun di dalam kontrak hanya tertulis 10 jam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlakuan pengawas-pengawas kebun bangsa Eropa lebih tepat digambarkan sebagai penikaman, pembacokan; penganiayaan dan pembunuhan atas asisten-asisten kebun dan "kehalusan yang diusik-usik hingga menjad kekejaman!" Di sinilah terjadi pergaulan sosial yang diracuni oleh judi, candu dan persundalan yang merendahkan tabiat kuli-kuli dan menyebabkan mereka banyak berutang kepada majikannya, hingga kontrak mereka terpaksa selamanya diperbaharui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syarat-syarat kerja seperti itu — langsung atau tidak — dipikulkan di atas kaum tani yang kebanyakan buta huruf dan dungu; mereka ditekan dalam satu "kontrak" yang diakui oleh pemerintah. Dalam kontrak itu disebutkan mereka "tak boleh berorganisasi dan mogok" — yang dengan jalan itu mereka dapat menagih upah dan syarat-syarat kerja yang sedikit mendingan seperti di negeri-negeri lain. Hal itu diakui oleh pemerintah. Sungguh hal itu hanya dapat dipertahankan oleh "saudagar budak" di zaman biadab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Marilah kita ingat kejahatan-kejahatan yang dilakukan di Deli. Marilah kita ingat penganiayaan baru-baru ini yang dilakukan oleh orang-orang Eropa di Lampung dan Sumatera Selatan, yaitu kejahatan yang dianggap sebagai dongeng saja di abad. Bahkan lebih dari dongeng, yaitu ringannya hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintah atas "bajingan-bajingan" Eropa itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum buruh industri, perkebunan dan pengangkutan yang beratus ribu atau beberapa juta di Jawa dan lainnya, yang diperbudak tidak dengan kontrak, yang katanya "buruh merdeka", bernasib tak lebih baik daripada budak kontrak asli. Satu per satu kakinya diikat dengan rantai aturan, hingga tak dapat berorganisasi dan berjuang melawan kapitalis yang sewenang-wenang. Di dalam Dewan Rakyat, Majelis Tinggi dan Rendah, dan surat-surat kabar yang berlain-lainan tujuan itu, telah berulang-ulang diperbincangkan hak organisasi dan hak mogok dari kaum buruh Indonesia! Tak perlu kita ulang lagi di sini, atau kita uraikan hukum-hukum paksa itu. Sekali lagi dikatakan undang-undang itu bukanlah menurut perasaan modern, tetapi aturan paksa yang dihadapkan oleh segerombolan kaum birokrat kepada buruh Indonesia, buat pengikat segala daya upaya mereka menuju perbaikan nasib.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua undang-undang yang dijalankan itu menyebabkan kita teringat kepada zaman biadab dan perbudakan yang gelap. Begitu banyak undang-undang paksa terhadap politik gerakan sehingga tak dapat kita terus-terang mengatakan atau menulis sesuatu mengenai si penjajah atau yang dapat membukakan mata rakyat yang terbelenggu ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rakyat Indonesia mesti menutup mulutnya jika terjadi penganiayaan atas diri pemimpin-pemimpin yang mereka percayai dan kasihi, juga apabila dengan sengaja para pemimpin dirampas beberapa bulan kemerdekaannya atau tanpa diperiksa lebih dulu terus dibuang sebab dianggap berbahaya atau secara khianat ditikam, dibacok, diketok kepalanya sampai mati, atau dicabut nyawanya dengan peluru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila diceritakan kepada rakyat bahwa seorang pemimpin yang dicintai, seperti Haji Misbach yang katanya mati "disebabkan demam hitam" pada satu pembuangan yang ditentukan oleh pemerintah, mau tidak mau, mereka mesti percaya saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bilamana rakyat mendengar bahwa seorang pemuda yang terpelajar dan sopan, seperti Soegono kita, pemimpin V.S.T.G yang katanya "membunuh diri" dalam penjara, sedangkan pada kepala dan tangannya terdapat bekas-bekas penganiayaan dan sebuah jarinya hancur sama sekali, rakyat "tak dapat mendakwa", juga tidak boleh mengajukan protes sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan pemerintah yang "katanya" jadi pengasuh dan pelindung rakyat kita, tidak mengadakan pemeriksaan saksama tentang sebab-sebab kematian yang sekonyong-konyong dari pemimpin rakyat yang cakap berjuang dengan dada terbuka dan pendek kata dicintai dan dipercayai rakyat. Dia tidak mempedulikan atau tak punya keberanian moral akan mengakui dan membetulkan kesalahannya dan menghukum yang bersalah menurut undang-undang &lt;em&gt;Fiat justitiaruate cellum&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Jalankanlah keadilan meskipun langit akan runtuh!)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keadilan di Indonesia hanya bagi segolongan kecil yaitu si penjajah kulit putih. Bagi bangsa Indonesia yang berhak atas negeri itu, tak ada keadilan dan pengadilan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;VI&lt;/h3&gt; &lt;h3&gt;KEADAAN SOSIAL&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Kecurangan tukang waning Belanda yang sudah tiga ra­tus tahun dalam dunia imperialistis yang disebut kolo­nisator menciptakan pertentangan sosial dan kebangsaan yang satu-satunya di seluruh Asia. Di satu pihak tampak kapital yang beranak pinak dalam pertanian yang sangat modern, dengan produksi yang sangat tinggi dan dengan jalinan hubungan internasional yang bersatu dalam se­jumlah sindikat dan &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt; yang memberi untung yang berlipat ganda. Di lain pihak, tampak kaum tani, pedagang­-pedagang kecil dijadikan buruh. Mereka berjubel-jubel sebagai buruh industri di kota-kota dan buruh tani di ke­bun-kebun. Semua ini melahirkan kesengsaraan, perbu­dakan dan kegelisahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika pertentangan kelas yang sebenarnya menyerupai satu jurang yang tak dapat ditimbun, yang di negeri-ne­geri Barat dan Jepang menimbulkan sosialisme, anarkisme dan bolsyevisme, di Indonesia jurang itu diperdalam lagi oleh pertentangan bangsa Belanda kontra Indonesia. Pertentangan ini, meskipun bukan satu sebab yang terpenting, tetapi mungkin sekali dapat memancing perang-perang kemerdekaan. "Pertentangan" Belanda kapitalist dengan buruh Indonesia, itulah nisbah sosial kita yang berbeda dengan negeri-negeri lain. Pertentangan ini lahir dalam bentuk yang setajam-tajamnya. Ketajaman itu bukan saja disebabkan oleh ketiadaan kapital modern dar bangsa Indonesia, melainkan juga oleh perbedaan agama, bangsa, bahasa, adat istiadat antara penjajah dan si terjajah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di negeri-negeri kapitalis yang maju, pertentangan sosial terbagi atas dua kelas: kelas kaum kapitalis dengar para pengikutnya dan kelas buruh. Kaum kapitalis ialah yang mempunyai tanah, pabrik, kereta api, kapal dan bank, dan menambah kekayaan dalam keadaan biasa dengan jerih payah kaum buruh yang tidak dibayar, yang dilukiskan oleh Marx "&lt;em&gt;met de zijn kapitaal geaccumuleenk  meerwaarde&lt;/em&gt;". Kaum buruh ialah mereka yang kepunyaan dan tanahnya dirampas oleh kapitalis. Mereka yang dulunya adalah petani dan pedagang kecil, tetapi waktu ini segala miliknya punah sama sekali kecuali tenaga, badan dan nyawa. Harga tenaga ini "tunduk" kepada turun naiknya harga di pasar tenaga. Kaum kapitalis hidup dari pemerasan dan kaum buruh dari upah kerjanya. Upah ini disebabkan oleh "undang-undang besi" dalam "tawar-menawar" di pasar tenaga — tidak dapat menutup harga kerja yang dilakukan (karena persaingan hebat di pasar tenaga dan kecemasan akan mati kelaparan, terpak­sa buruh itu menerima upah yang serendah-rendahnya).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Supaya dapat mengadakan pemerasan atas kelas bu­ruh yang jumlahnya lebih besar, kelas kapitalis yang jum­lahnya kecil, mempergunakan "senjata gaib", seperti se­kolah, gereja atau masjid, dan surat kabar, juga perkakas kelas seperti polisi, tentara, penjara, dan justisi. Parlemen, masjid, gereja, sekolah dan surat-surat kabar berdaya upaya menidurkan dan melemahkan hati buruh dengan pendidikan yang banyak mengandung racun. Bila mere­ka tak dapat berlaku seperti itu, dipergunakanlah penja­ra, polisi dan militer.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persaingan ekonomi sesama kaum kapitalis menye­babkan timbulnya kongsi. Mereka dapat melawan mu­suh-musuhnya yang terpencil. Kalau kongsi dalam per­saingan "mati-matian" tak dapat menaklukkan lawannya, ia mencoba mengadakan kompromi. Kedua kongsi yang dulunya bermusuhan, sekarang menjadi satu sindikat. Demikianlah mereka dapat menaikkan harga barang­barangnya dengan sesuka hati, sehingga merugikan si pembëli (buruh dan tani miskin).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, sindikat itu adalah gabungan dari beberapa kongsi. Akan tetapi kongsi bekerja itu menurut caranya sendiri dan merdeka seperti biasa. Supaya kekuatannya bertambah besar dan terpusat ke satu pimpinan untuk per­juangan ekonomi, dibentuklah satu &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt;. Jadi, sindikat mempunyai banyak ketua, sedangkan &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt; seorang saja, dan begitu juga cara  kerjanya, sebuah &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt; dapat secara  lebih sempurna menguasai pasar dunia daripada sindikat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di pasar negeri-negeri Barat, terutama Amerika, kita lihat sejumlah tambang arang, industri besi, pabrik-pab­rik minyak dan maskapai kapal yang dulunya terpecah-­pecah sekarang bersatu dalam &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt; yang besar, dikepa­lai oleh  raja-raja &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt;. Kita dengar  nama-nama seperti Mor­gan Raja Bank, Rockefeiler Raja Minyak, Carnagie Raja  Baja dan Ford Raja Mobil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Jerman kita lihat bagaimana trust yang banyak itu diikat menjadi  satu "gabungan &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt;". Pabrik-pabrik besi, arang dan kertas, maskapai kapal dan kereta api se­muanya tunduk di bawah pimpinan Stinnes yang baru meninggal dunia. Demikianlah, Stinnes dapat menguasai harga bahan-bahan mentah dan barang-barang pabrik, se­lanjutnya ongkos pengangkutan dan advertensi dari ba­rang-barang pabrik itu. Pembentukan trust seperti ini di­tiru pula oleh bank-bank yang menyatukan diri dari mas­kapai menjadi sindikat, dari sindikat ke &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt; dan dari &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt; ke gabungan &lt;em&gt;trust&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bank meminjamkan uang kepada industri dan perke­bunan; bank itu senantiasa bertambah kaya oleh bunga uang yang tinggi, yang dibayar oleh si peminjam. Akan tetapi, bunga uang yang tinggi itu ditarik si peminjam da­ri buruh mereka, dan si buruh menarik hanya dari keri­ngat dan tenaganya. Kepada negara, bank juga memin­jamkan uang yang mesti dibayar dengan bunga yang ti­dak rendah. Bank negara pada gilirannya menarik pajak yang banyak sekali dari kaum buruh (sebab merekalah yang terbanyak jumlahnya) untuk membayar utang itu beserta bunganya. Ke negeri-negeri asing, bank memimjamkan uangnya dengan bunga yang serupa. Bank, "benteng kapitalisme", jadi penguasa industri, pertanian dan pemerintahan suatu negeri, dan dengan penanaman modal di negeri asing itu, ia juga menguasai negeri-negeri itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Supaya tetap memperoleh bunga, maka ia jugalah yang mengangkat dan memberhentikan kepala-kepala industri, ahli negara dan ahli politik, dan langsung atau tidak menggaji atau menyuap mereka. Dengan adanya trust maka ditaruhnya pimpinan perusahaan bank ke tangan beberapa bankir. Jadi, bangkirlah pada hakikatnya yang jadi pemimpin industri, pengangkutan, pertanian perdagangan, negara dan politik, pendeknya masyarakat kapitalis modern.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, tampaklah kepada kita bahwa makin maju kapitalisme, makin sedikit orang yang berharta dan jumlah kaum buruh miskin menjadi lebih besar. Di negeri-negeri kapitalistis yang cerdas seperti Inggris, Jerman dan Amerika, jumlah buruh yang pandai dan yang tidak kurang lebih 75% dari penduduk. Jumlahnya pemangku tangan, tetapi berkapital dan produksi makin lama makin sedikit. Kekuasaan dan kekayaan mereka semakin besar. Jumlah buruh, tapi tak mempunyai apa-apa, makin lama makin banyak, dan organisasi mereka demikian pula. Pertentangan kaum pemangku tangan dengan buruh miskin makin lama semakin tajam dan akhirnya menimbulkan revolusi sosial.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Indonesia proses kapitalisasi itu hampir tidak berbeda dengan garis-garis besar yang diuraikan di atas. Sau­dagar-saudagar Indonesia dan perusahaan yang kecil-ke­cil sudah lama lenyap dari masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan "pagi makan, petang tidak". Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Ke­kuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan badan perdagangan, kini semuanya dipesatkan dalam ta­ngan beberapa sindikat seperti Avros, Suikersyndikaat, Handeslvereeniging Amsterdam dan lain-lain. Pimpinan sindikat-sindikat besar itu tergantung di tangan beberapa orang kapitalis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertentangan sosial antara kapitalis dan buruh di In­donesia — berhubungan dengan satu dan lain hal — le­bih tajam daripada apa yang kelihatan oleh mata. Keun­tungan besar dari gula, minyak, karet, kopi, teh dan lain-lain sebagian besar mengalir ke Eropa, ke kantong bang­sa Belanda, dan sebagian kecil ada juga kembali ke Indo­nesia, tetapi bukan sebagai kenaikan gaji buruh, melain­kan sebagai penambah "kapital" yang sudah ada, buat jadi "alat penghisap" yang baru pula. Sebagian besar ke­untungan itu ada di negeri Belanda sebagai gaji uang ver­lof atau pensiun pegawai-pegawai Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemalangan nasib buruh Indonesia hanya dapat di­perbaiki dengan jalan menaikkan gaji mereka yang sepa­dan (dengan memperhatikan) harga barang keperluan se­hari-hari. Dengan pembukaan beberapa kebun besar, me­mang ada kaum buruh atau penganggur yang mendapat pekerjaan, tetapi sebaliknya tanah mereka disewakan dan dijual hingga banyak petani yang kehilangan miliknya. Tambahan lagi, karena perluasan kapitalisasi itu, barang keperluan sehari-hari bertambah tinggi harganya. Sung­guh tak dapat dipungkiri bahwa kenaikan harga barang dalam sepuluh tahun belakangan ini tidak sejalan dengan kenaikan gaji buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa (malahan ke­rapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal. Dan oleh persaingan yang makin lama makin hebat, karena cacah jiwa cepat sekali bertambah­nya dan kuat, berkuranglah kepastian akan mendapat pe­kerjaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kaum kapitalis itu bangsa Indonesia, tentulah ke­miskinan dan kemelaratan tak akan sepedih itu sebab si­sa keuntungan yang sangat banyak itu mungkin dilem­parkan pada rakyat. Gaji buruh boleh jadi dinaikkan; pe­ngajaran, koperasi rakyat, industrialisasi dan kesehatan mungkin diperhatikan dan diperbaiki. Sekarang tak se­mua itu terjadi, sebab untung yang berlipat ganda terus menerus diangkut dari Indonesia keluar negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain dari proses pengeringan ini, pertentangan so­sial dipertajam oleh perbedaan bangsa dan apa saja yang bersangkutan dengan hal itu. Kaum kapitalis berbahasa lain dari rakyat dan pemerintah bukan pemerintah rak­yat. Kaum kapitalis dan pemerintah memeluk agama lain, mempunyai kesusilaan dan kebiasaan lain, serta ideo­loginya berbeda dengan rakyat. Dalam pergaulan seha­ri-hari antara kapitalis dan buruh, antara pemerintah dan rakyat, yang tersebut tadi penting sekali. Kapitalis Belan­da tidak mengenal buruhnya, pemerintah Belanda mengenal rakyatnya. Bukan dia tak ingin mengenal rak­yat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun dia sekiranya mau berbuat serupa itu, tidaklah mudah bagi Belanda akan menyelami batin peng­huni khatulistiwa ini sebab mereka tidak menyiapkan faktor-faktor yang perlu, seperti pendidikan, bahasa per­gaulan sosial dan kepercayaan rakyat. Oleh karena itu­lah, Belanda yang katanya "sopan" kerapkali mengeluar­kan kata-kata yang kotor terhadap bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak akan menyukai pemerintah Be­landa. Sebagaimana Filipina yang tak langsung merasa­kan kekuasaan Gubernur Jenderal Amerika dan boleh di­katakan tidak mendapat kesusahan dari pembesar-pem­besar Amerika, masih saja terus mereka menuntut kemer­dekaannya, demikian jugalah bangsa Indonesia-selatan akan tetap menagih kemerdekaan yang mutlak dan se­luas-luasnya. Sebagaimana seorang manusia tak suka di­ganggu dan dikuasai oleh orang lain, demikian pula rak­yat. Mereka lama-kelamaan tak akan membiarkan dirinya dijajah atau dikuasai oleh bangsa lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terserah kepada kita memperhatikan, apakah perten­tangan Belanda kapitalis dan Indonesia buruh akan tetap selama-lamanya atau sementara waktu saja!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertentangan ini lambat laun berkurang bila pemerin­tah sekarang, bukan nanti, mengadakan perubahan besar, perbaikan ekonomi, politik dan sosial yang memperbaiki keadaan seluruh rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hak ini hanya terjadi dengan mendirikan industri ba­ru (kapas, karet, pabrik-pabrik mesin, perkapalan, tam­bang dan lain-lain), membuka pertanian besar-besar dan memperbanyak jalan-jalan raya, mendirikan koperasi rakyat dengan bunga yang rendah, memberi bantuan pi­kiran dan bahan kepada kaum tani, tanah kepada bekas­-bekas petani yang miskin, menaikan gaji buruh dan mengurangkan jam bekerja, meringankan atau menghapus­kan pajak dan membesarkan pajak perkebunan atau ke­bun-kebun besar, dan industri dijadikan hak bersama, yai­tu pemerintah, memberikan hak dalam pemilihan umum yang seluas-luasnya kepada bumiputra, mendirikan perwakilan rakyat yang "sejati" yang daripadanya dipilih sa­tu badan yang bertanggung jawab sepenuh-penuhnya ke­pada rakyat Indonesia, menghapuskan segala badan birokrasi yang tak berfaedah, seperti &lt;em&gt;Raad van  Indie&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;de Al­t gemeene Secretaris&lt;/em&gt; dan lain lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu tak akan terjadi!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setengah dari itu pun tak akan terjadi. Taruhlah secara tiba-tiba imperialis Belanda melemparkan "politik warung kecilnya" dan mempergunakan politik kolonial sesungguhnya, itu sudah terlambat! Sekali lagi terlambat! Imperialisme Belanda tak punya cita-cita, keberanian dan alat-alat untuk mengadakan perubahan yang berarti sedikit. Ia terlalu "daif" (lemah) untuk melakukannya dan tidak ada pula borjuasi bumiputra modern dapat membantunya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Adapun "kapital luar negeri" yang bertitik-titik beberapa dollar dari wallstreet hanya seumpama beberapa butir kerikil yang dilemparkan untuk menimbuni jurang yang sangat dalam antara imperialisme Belanda dan rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perbaikan radikal seperti di Filipina dapat dan mau Amerika jalankan, bila ia menerima kekuasaan politik di Indonesia dari Belanda si tukang warung itu. Jika terjadi yang seperti ini, Amerika dalam waktu yang singkat nis­caya akan datang di Indonesia dengan beberapa ribu juta rupiah. Tetapi mustahil! Sebab bertentangan dengan ke­pentingan dan "kehormatan" Belanda. Sebab kapital Amerika yang besar di Indonesia akan mendesak kapital Belanda ke sisi! Dan kalau keuangan terikat, kapital Be­landa tak berarti (dan tukang warung Belanda terpaksa jadi boneka-boneka Paman Sam).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu saja "Meneerge" tidak mau! Tambahan lagi yang tak kurang pentingnya, ini berarti kekuasaan eko­nomi dan politik Amerika akan bertambah besar di bagian yang strategis dan penting sekali di Pasifik. Hal itu tentulah dengan sekuat-kuatnya akan ditentang oleh Inggris dan Jepang yang dengki, dan mungkin akan menimbulkan perang dunia yang lama dan dahsyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh sebab itu, bagi Belanda cilik yang enggan mus­nah, lebih baik ia berbuat sesukanya sambil menunggu keruntuhannya. Lagi pula, penjajah lain (Inggris, Amerika dan Jepang) lebih baik membiarkan Belanda bergumul dengan jajahannya yang mulai durhaka.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;VII&lt;/h3&gt; &lt;h3&gt;KEADAAN POLITIK&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Tinjauan ke Belakang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Politik" di Indonesia belum pernah  jadi "&lt;em&gt;a common good&lt;/em&gt;",  kepunyaan umum rakyat. Paham kenegaraan tak pernah melewati segerombolan kecil  penjajah Hindu atau setengah Hindu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana dalam kebanyakan negeri feodalistis di Indonesia, pemerintahan negeri dipegang oleh seorang raja dan komplotannya. Seorang raja sesudah berhasil menjalankan peran "jagoan", lalu mengangkat dirinya jadi raja yang bertuan. Anaknya yang bodohnya lebih dari seekor kerbau atau seorang tukang pelesir, di belakang hari, menggantikan ayahnya sebagai &lt;em&gt;yang dipertuan&lt;/em&gt; di dalam negeri. Peraturan turun-temurun ini "lenyap" apabila seorang "jagoan" baru datang menjatuhkan yang lama, dari mengangkat dirinya pula jadi raja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Konstitusi tidak ada yang menentukan penobatan atau pemaksulan seorang raja dengan menteri-menterinya, serta menetapkan dengan saksama. Semua kekuasaan dan cakupan pengaruhnya bersandarkan pada kekerasan dan kemauan raja, juga kepercayaan dan perhambaan masa. Pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, rakyat sebagai yang dikatakan Lincoln tak pernah dikenal di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kadang-kadang ada seorang rajalela yang "agak adil" di panggung politik. Akan tetapi, hal ini adalah suatu perkecualian, kebetulan dan keluarbiasaan. Tidak ada yang dapat dilakukan rakyat jika tiada raja yang begitu selain berontak. Indonesia hanya mengenal pemerintahan beberapa orang dan tak pernah mengenal hukum-hukum yang tertulis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keadaan di Minangkabau sedikit berlainan. Pemerintahan oleh adat diserahkan kepada wakil-wakil rakyat para penghulu, yakni datuk-datuk. Mereka mesti memerintah menurut undang-undang tertentu. Kekuasaan tertinggi bernama "mufakat" yang diperoleh dari perundangan dalam satu rapat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiap-tiap rapat mesti terbuka seluas-luasnya dan menurut kebiasaan yang pasti. Laki-laki dan perempuan dalam rapat mempunyai hak bicara sepenuh-penuhnya yang dengan cara bagaimanapun tak boleh dikurangi. Baik terhadap perkara daerah atau nasional, "undang-undanglah" yang berkuasa setinggi-tingginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, keadaan seperti itu terdapat di Minangkabau saja, yaitu daerah kecil terpencil di Kepulauan Indonesia. Oleh sebab itulah, orang di sana tidak seberapa terpengaruh oleh Hindu dan Arab, pendeknya, dalam hal politik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun orang Belanda, andaikata ingin memperlakukan rakyat Indonesia dengan hormat seperti terhadap sesamanya, misalnya seperti di bagian lain-lain dari Indonesia, dalam merancang dan menjalankan undang-undang dan dalam membentuk dan memaksulkan pemerintah, "rakyat tidak boleh campur tangan".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;a. Pokok Undang-Undang  Minangkabau&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Anak kemenakan beraja  kepada penghulu,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penghulu  beraja kepada mufakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mufakat  beraja kepada alur dan patut".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula halnya di Kerajaan Poko-Dato,  Sriwijaya, Majapahit dan Mataram.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena rakyat tidak campur tangan dalam pemerintahan negeri, dapatlah Kompeni Hindia-Timur menaklukkan atau berkompromi dengan raja-raja Indonesia, dan mendapat kekuasaan sedikit ke sedikit, dan akhirnya seluruh Indonesia jatuh ke tangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;b.  Perwakilan Rakyat atau Soviet&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama penjajahan Belanda, terlahir nisbah sosial yang lambat laun meminta pemecahan atas soal susunan negara tetapi pemerintahannya belum tentu secara parlemen atau Soviet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Parlementarisme di negeri-negeri Barat dilahirkan oleh kaum borjuis sewaktu kekuasaan sewenang-wenang merajalela di sana dan kaum borjuis dengan perniagaan dan industrinya yang semakin maju merasa digencet dalam memperbesar perusahaannya, oleh raja-raja feodal: yang merintangi dengan pelbagai cukai dan pajak yang tinggi-tinggi, sementara borjuasi tidak mempunyai hak politik. Dalam keadaan begitulah lahir Magna Charta, Cromwellisme, dan Revolusi Prancis. Selanjutnya Voltaire, pemimpin borjuasi yang hebat habis-habisan menggempur agama Katholik dan pendeta-pendetanya, lalu ia mengajarkan paham "atheis" (memungkiri Tuhan).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rousseau menentang autokrasi dengan demokrasi dan untuk menentang pemerintahan turun-temurun, diajarkannya "kontrak sosial", yakni satu pemerintahan yang mengadakan kontrak dengan rakyat. Menurut ajaran Rousseau, seorang raja hanya boleh memerintah selama ia berbuat sesuai perjanjian; rakyat harus menentangnya bila perjanjian itu dilanggar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena borjuasi Prancis merasa kurang kuat melawan kekuasaan raja, bangsawan dan pendeta, bersatulah mereka dengan massa revolusioner, yaitu kaum buruh dan tani. Akan tetapi, massa ini tidak boleh berkuasa. Mereka semua hanya dipakai sebagai umpan meriam dalam revolusi borjuasi, sedang kekuasaan dipegang oleh kaum borjuis. Dengan semboyan "Liberte, Egalite, dan Fraternite" yang sekarang jadi demokrasi, liberalisme dan parlementarisme, mereka dapat merobohkan pemerintah feodalistis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesudah memperoleh kekuasaan politik, "demokrasi borjuasi" menunjukkan dirinya. Biarpun dalam negara parlementer, seperti Inggris, Prancis dan Amerika, tiap rakyat diberi hak dalam pemilihan, tetapi kaum buruh dan si miskin di sana (orang yang terbesar jumlahnya) senantiasa tidak dapat mempertahankan calon-calonnya dalam pemilihan parlemen sebab mereka terkurung di dalam pengaruh pikiran borjuis yang dikembangkan di sekolah-sekolah, gereja, surat-surat kabar, dan terlebih lagi, karena mereka kekurangan alat-alat propaganda (ruangan rapat, koran dan brosur yang semuanya mahal).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Borjuis dengan profesor, jurnalis, pendeta dan kaum diplomatnya yang bergaji besar, dapat memperoleh kemenangan waktu pemilihan parlemen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena anggota-anggota parlemen memegang jabatannya selama tiga atau empat tahun, hubungan antara si pemilih dengan yang dipilih sangat renggang. Mereka berhadapan dengan rakyat di waktu pemilihan saja, dan itulah yang menyebabkan wakil tadi menjadi birokrat sejati. Oleh karena perceraian Majelis Rendah dan Majelis Tinggi (badan yang membuat undang-undang) dengan kabinet (badan yang menjalankan undang-undang) jatuhlah kekuasaan yang sesungguhnya ke tangan kantor-kantor yang selalu berhubungan rapat dengan bank-bank. Begitulah akhirnya, asas demokrasi dan aturan parlementer ditelan oleh tuan-tuan besar bank (Morgan di Amerika, Locheur di Prancis, dulu Stinnes di jerman), itulah "demokrasi resmi": terbentuk karena dana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitulah, demokrasi yang sebenarnya di masa ini menjadi diktator dari borjuasi (Cromwellisme, Napoleonisme dan sekarang berupa Pascisme) yang bersembunyi di belakang pers, sekolah, gereja dan bertopeng parlemen dalam ketenangan masa kecerdasan kapitalisme Dan kekuasaan politik yang sebenar-benarnya, seperti ekonomi, selamanya di tangan borjuasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sovietisme dan parlementarisme sudah saya uraikan dalam brosur "Parlemen atau Soviet" (dicetak tahun 1911) Oleh sebab itu, di sini hanya pokok-pokoknya yang saya uraikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman pergerakan proletar dan revolusi ini, kaum buruh yang tak mau damai itu mengemukakan segala pertentangan dan pendiriannya terhadap kekuasaan kaum. borjuis, seperti borjuasi merobohkan kaum feodalis dalam perjuangan rohani dan jasmani selama 100 tahun (1740-1848).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peraturan ekonomi komunis dipertentangkan dengan kapitalis, diktator buruh dengan diktator borjuis, Sovietisme dengan Parlementarisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana parlemen adalah ciptaan borjuasi, Soviet adalah ciptaan diktator buruh yang dengan pertolongan kaum tani menguasai borjuasi. Jadi Soviet adalah alat politik di tangan kaum buruh yang diadakan sebelum atau selama revolusi. Soviet itu merupakan keadaan politik yang membelokkan masyarakat kapitalisme ke arah komunisme dengan jalan nasionalisasi segala alat-alati produksi serta mengurus sekalian produksi dan distribusi secara komunistis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Badan-badan ekonomi, politik dan pendidikan yang dibentuk selama pemerintahan diktator itu, dipakai bukan saja untuk melemahkan dan menghancurkan borjuasi di gelanggang politik, ekonomi, dan ideologi, melainkan juga untuk mencerdaskan semua tenaga masyarakat ke arah komunisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara buruh mengadakan diktator terhadap borjuis, di dalam kelasnya sendiri sudah ada demokrasi yang sesungguhnya. Ia berkekuasaan politik yang sebenarnya sebab ia menguasai semua alat produksi dan distribusi. Tambahan lagi, ia akan mempunyai semua alat penyebar semangat, seperti sekolah, surat kabar dengan secukupnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Soviet berikhtiar menghancurkan "birokrasi" yang biasa terdapat dalam susunan parlementer. Supaya tercapai maksud ini dijalankan tindakan-tindakan berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Waktu pemilihan dipersingkat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Hubungan si pemilih dengan yang dipilih didekatkan dan si penyusun undang-undang dengan si pelaksana disatukan dan dibentuk satu badan yang sama-sama membuat dan menjalankan undang-undang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Wakil-wakil itu kapan saja boleh diangkat dan diberhentikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ke dalam pemerintahan sedapat mungkin dimasukkan kaum buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum buruh yang berkesadaran tinggi, yang seharusnya memegang pemerintahan negeri karena kaum borjuis akan selalu berdaya upaya menuntut kekalahannya yang dulu dirampas oleh buruh, dan hal ini tentulah dijalankan mereka dengan kontrarevolusi. Mereka ini disusun dalam partai komunis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut keadaan itu, nanti kekuasaan politik diperas sampai kepada buruh-buruh berorganisasi dan serikat sekerja dan akhirnya ke seluruh kaum buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semestinya, tiap-tiap kelas yang revolusioner hendaknya merampas dan mempertahankan semua kekuatan politik. Karena kalau ketentaraman politik di tiap negeri sudah kokoh, dapatlah usaha-usaha ekonomi dijalankan dan, bersama dengan itu, hiduplah demokrasi ang sesungguhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Indonesia belum pernah mengenal "demokrasi". Dan arena borjuasi bumiputra yang kuat tak ada, buat sementara waktu, Indonesia tidak akan berkenalan dengan demokrasi itu. Semua daya upaya untuk memperolehya tidak akan berhasil, dan boleh dikatakan bahwa semua cita-cita seperti itu — diktator — demokrasi borjuis - adalah tidak mungkin. Hanya kelas buruh Indonesia aja yang dapat memegang diktator (bila ia tetap insaf dan bekerja). Ia menguasai kehidupan ekonomi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan di waktu sekarang, buruh merupakan salah satu kelas yang mempunyai organisasi yang terkuat di Indonesia. Kita tak usah menyesal bila kita langkahi zaman “demokrasi tipuan” itu!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kekokohan politik Republik Indonesia dapat dipertahankan oleh diktator buruh yang kekuasaan semangatnya terkandung dalam satu partai revolusioner yang "kuat". Lama-kelamaan kekuasaan politik dapat diperluas kepada tiap-tiap buruh Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Dewan "Rakyat" Kita!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perbuatan birokrasi yang buruk dan kemunafikan besar! Sungguh hanya pada bangsa Filistin dahulukah kita dapati kekerasan dan kecurangan seperti sekarang ini?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di manakah rakyat yang berdiri di belakang Dewan Rakyat itu? Dan apakah yang sudah diperbuat Dewan Rakyat yang mahal itu untuk rakyat? Di antara 48 orang anggota, 20 orang adalah bangsa Indonesia dan 28 orang asing yang mewakili kapital asing. Dengan keadaan demikian sia-sialah semua ikhtiar anggota akan mendapat kemenangan suara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Andaipun dewan itu adalah dewan yang sesungguhnya, sebenarnyalah dewan itu tak dapat berbuat sesuatupun sebab semua nasihatnya boleh dibuang ke dalam keranjang sampah oleh orang yang berkuasa (Dewan Rakyat bukanlah badan pembuat undang-undang, melainkan badan penasihat).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jumlah anggota bangsa Indonesia terlalu kecil dan, oleh sebab itu, mereka tak dapat menyatakan kehendak rakyat. Jika kita ingat negara Belanda yang jumlah penduduknya 7,000,000 mempunyai 100 orang anggota &lt;em&gt;Tweede Kamer&lt;/em&gt; (anggota &lt;em&gt;Eeste Kamer&lt;/em&gt; tidak masuk), niscaya Indonesia yang jumlah penduduknya 55,000,000 sepatutnya secara parlemen mempunyai sekurang-kurangnya 600 orang anggota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara 20 orang anggota Indonesia yang ada di dalam dewan itu tak seorangpun yang betul-betul wakil rakyat atau dipilih rakyat, apalagi untuk rakyat. Delapan orang diangkat oleh Gubernur Jenderal dan kebanyakan dari mereka ini pemburu pangkat, seperti wakil Sumatera, Demang Loetan, dan dari Jawa, Dawidjosewojo. Atau mereka itu seperti anak bengal politik seperti contoh yang sebaik-baiknya, ditunjukkan oleh yang dipertuan Tuan Soetadi. Anggota lain-lainnya dipilih oleh rapat-rapat gementee (PEB), bukti ini cukup terang! Tak ada faedahnya dalam buku ini kita tuliskan semua kebusukan birokrasi Belanda. Pun tak ada faedahnya bagi kita, kaum revolusioner, mengeritik dengan sungguh-sungguh semua usul-usul yang diperbincangkan atau yang telah diterima oleh dewan itu. Jika kita tak mau diperdaya oleh nama-nama yang bagus dan janji yang manis-manis dari pemerintah ini, dapatlah kita menyimpulkan semua politik kolonial Belanda sebagai berikut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Bangsa Indonesia yang 55,000,000 itu tak mempunyai hak bersuara  tentang politik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Kapitalis besar memerintah dengan perantaraan kaum birokrat yang tak  punya hati dan militeris yang picik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Dewan Rakyat itu "seekor lintah" yang melekat di punggung  rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Harapan kepada Badan  Perwakilan Rakyat.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adakah harapan bagi Indonesia kelak akan memperoleh semacam Badan Perwakilan Rakyat? Jawab yang pasti: "tidak". Mendirikan Badan Perwakilan Rakyat selama pertentangan sosial dan kebangsaan seperti sekarang, berarti matinya imperialisme Belanda atau" hancur" mesin politiknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini harus diketahui oleh tiap-tiap bangsa Indonesia!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini bukan soal "matang" atau "mentahnya" bangsa Indonesia melainkan, seperti yang sudah berulang-ulang kita uraikan di bagian lain dalam buku ini, disebabkan oleh ketiadaan borjuasi bumiputra modern, yang kepentingan ekonominya sedikit banyak sama dengan borjuasi imperialistis-kapitalistis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau di masa sekarang wakil-wakil dari seluruh atau sebagian rakyat Indonesia dipilih oleh orang Indonesia dengan pemilihan yang sebebas-bebasnya niscaya dengan segera akan menghadapi masalah kelas. Jika mereka tak suka menipu si pemilih, wakil-wakil mereka seharusnya mengangkut masalah perbaikan ekonomi, sosial dan politik untuk melawan kapital besar. Hal ini bukanlah perbaikan kecil-kecilan yang dijalankan perlahan-lahan oleh kaum birokrat, melainkan perubahan radikal yang dikerjakan dengan cepat dan praktis di bawah pimpinan dan pengawasan wakil-wakil rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai misal pencuri-pencuri seperti pada Perusahaan Beras di Selat Jaran dan perusahaan pemerintah yang lain semestinya tidak dihukum dengan pemecatan yang "tidak terhormat" seperti yang biasanya dilakukan pada pencuri kecil-kecil. Tuan-tuan yang berbuat begitu yang digaji oleh rakyat tapi merusakkan perusahaan rakyat, semuanya harus digantung "dengan hormat".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kelak wakil-wakil rakyat dapat mengadakan islah yang nyata, rakyat akan merasa, bahwa material dan moral mereka sungguh bertambah maju, dan soal "bendera" (terjajah atau terlepas dari Belanda) akan dilupakan sementara waktu. Bukan karena soal itu tidak penting melainkan karena kesukaran yang besar-besar dapat disingkirkan dan cita-cita politik sebagian besarnya dapat diwujudkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita tidak akan memperbincangkan hal bentuk pemerintahan yang akan diadakan seperti yang digambarkan di atas. Soal itu adalah soal angan-angan dan susunan pemerintahan negeri yang disandarkan kepada "pertimbangan teoretis" belaka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pati soal itu, apakah imperialisme Belanda akan sanggup kelak mengadakan islah-islah yang nyata? Jika sekali lagi kita ingat jurang pertentangan Belanda-kapitalis dengan buruh Indonesia, ketiadaan borjuasi bumiputra, kelemahan dalam hal keuangan dan kepicikan politik imperialis Belanda, pertanyaan itu tanpa menanggung risiko besar dapat kita jawab dengan "mustahil!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesimpulannya, segala kerewelan tentang perubahan pemerintahan negeri di Indonesia yang sekarang sedang ramai diperbincangkan oleh orang-orang pintar dan birokrasi Belanda itu membuang-buang waktu percuma. Jika rakyat Indonesia satu waktu memperoleh Badan Perwakilan Rakyat, niscaya ini bukan "karunia dari atas" melainkan disebabkan "desakan kuat" dari bawah.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;VIII&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;REVOLUSI  DI &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Kemungkinan Besar Akan  Timbulnya Revolusi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalah politik, ekonomi dan sosial yang mungkin menimbulkan revolusi di Indonesia rasanya tak perlu kita kupas lagi, karena sudah beberapa kali kita terangkan di atas. Cukuplah dikemukakan kesimpulan yang di bawah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Kekayaan dan kekuasaan sudah tertumpuk ke dalam genggaman beberapa  orang kapitalis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Rakyat Indonesia semuanya makin lama semakin miskin, melarat,  tertindas dan terkungkung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Pertentangan kelas dan kebangsaan makin lama semakin tajam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Pemerintah Belanda makin lama semakin reaksioner.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Bangsa Indonesia dari hari ke hari semakin bertambah  kerevolusionerannya dan tak "mengenal damai".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena dugaan bahwa imperialis Belanda dengan tiba-tiba menjadi cerdas, cerdik dan sanggup mengadakan islah-islah yang merugikan kapitalis besar dapat dipandang sebagai khayal dalam "Cerita Seribu Satu Malam" maka proses revolusi yang berlangsung sekarang tidak akan tertahan. Sebaliknya, perjalanan makin lama semakin pesat dan tiap-tiap waktu pecahnya revolusi boleh diharapkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apalagi sebagian dari revolusi itu sudah terbukti. Beberapa pemberontakan yang pecah dengan sendirinya di Jawa dan Sumatera selama 300 tahun dalam "keberkahan" imperialisme Belanda adalah akibat perbenturan kelas dan kebangsaan yang pada mulanya berupa pemberontakan agama. Juga kekacauan politik semenjak 15 tahun, ini berupa berbagai hasutan dan aksi dan yang lebih jelas berupa niatan dan perbuatan anarkis di Jawa dan pembunuhan atas pegawai-pegawai Pamong Praja di Sumatera Barat yang melunturkan kepercayaan terhadap kekebalan imperialisme Belanda, semuanya tergolong akibat perbenturan kelas dan kebangsaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, perbenturan besar antara kelas dan kebangsaan yang dahsyat, pecah semata-mata karena pertentangan itu sendiri dan bersifat modern, yaitu berupa "revolusi", belum terjadi di Indonesia!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelak ia pasti melanda seluruh kepulauan ini  dan meletus-letus dengan sendirinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Sifat Revolusi Indonesia yang Akan Timbul&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana rupa revolusi itu? Apakah sifat-sifatnya yang ditunjukkan bila ia meletus besok atau lusa? Inilah yang harus kita, sebagai revolusioner, tanyakan kepada diri sendiri dan menjawabnya sekali, jika kita mau menjauhi politik "terombang-ambing" seperti Douwes Dekker dan Tjokroaminoto. Menurut jawaban atas pertanyaan itu, kita tempa alat-alat revolusi, yaitu program organisasi dan taktik kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia merupakan syarat terutama untuk mendapat perkakas revolusi. Hal itu pulalah yang menjadi syarat pertama yang mendatangkan kemenangan revolusi kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika pengupasan itu tidak sempurna atau kita keliru dengan ramalan dan kesimpulan kita, kemenangan itu tidak akan pasti atau sebentar saja. Kita tak mempunyai horoskop yang dapat melihat peristiwa yang bakal terjadi layaknya ahli nujum meramalkan kehidupan seseorang di kemudian hari. Akan tetapi, dengan Marx dan Lenin sebagai penunjuk jalan dapatlah kita tentukan sedikit garis-garis besar dari revolusi di Indonesia (melihat tingkat kecerdasan kapitalisme pada waktu ini).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentulah revolusi itu akan berbeda dengan "Pemberontakan Maroko". Hal ini benar sekali sebab Indonesia tenaga produksinya lebih tinggi (industri, pertanian, pengangkutan dan keuangan yang besar kuat) daripada negeri tani kecil dan gembala domba seperti Maroko. Juga Indonesia, terutama Jawa, tidak berpegunungan yang dapat didiami dan gurun pasir luas tempat kaum revolusioner menyembunyikan diri bertahun-tahun untuk kemudian setiap saat dapat meneruskan perang gerilya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan lagi, ia tak akan berupa revolusi proletar sejati seperti di Jerman, Inggris dan Amerika (yang penduduknya sebagian besar terdiri dari kaum buruh) karena kapital Indonesia masih terlalu muda, belum subur dan masih lemah. Oleh karena itu, kaum buruh kita kalau dibandingkan dengan kaum buruh di negeri Barat, jauh ketinggalan, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tambahan pula, keadaan kaum yang bukan buruh yang juga akan turut mengadakan revolusi masih ada di dalam zaman revolusi borjuasi dan revolusi nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi kita juga tidak akan menyamai revolusi borjuasi seperti di Prancis tahun 1789 karena borjuasi kita masih terlampau lemah dan feodalisme sebagian besar sudah dimusnahkan oleh imperialisme Belanda. Juga ia tidak akan menyamai Revolusi Prancis tahun 1870 karena kita agaknya mempunyai tenaga-tenaga produksi lebih cerdas, tambahan lagi nisbah sosial sangat berlebihan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan berlainan pula ia dengan Revolusi Rusia yang feodalismenya boleh dikatakan lemah dan borjuasinya muda yang oleh perang bertahun-tahun menjadi sangat mundur, sedangkan kaum buruhnya muda, gembira dan dididik menurut aturan Lenin. Kita harus berjuang melawan imperialisme Barat meskipun kecil, ia tak boleh diabaikan sebab ia mempunyai tipu kelicinan dan suka menjadi "pelayan" imperialisme Inggris yang besar itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia akhirnya tidak akan menjadi revolusi politik semata-mata seperti yang biasa akan terjadi di India, Mesir dan Filipina, yaitu borjuasi bumiputra merebut kekuasaan politik saja (kekuasaan parlemen) karena kapitalis nasionalnya kuat dan kaum intelektualnya sudah lebih banyak daripada di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian yang terbesar menentang imperialisme Barat yang lalim. Ia juga didorong oleh kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menindas dan menghina mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pati revolusi (sekurang-kurangnya di Jawa) harus dibentuk oleh kaum buruh industri modern, perusahaan dan pertanian (buruh mesin dan tani). Benteng-benteng politik, terutama ekonomi imperialisme Belanda, hanya dapat dipukul oleh kaum buruh. Di sekitar kaum bumi itu berbaris kaum borjuasi kecil yang mundur maju tak &lt;em&gt;pungguh  hala&lt;/em&gt; (Kaum borjuis akan menurut bila mereka tahu akan memperoleh kemenangan; itu pun di belakang sekali. Pun kalau mereka sungguh suka turut. Lebih dari itu "tidak" dan jangan diharap).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Revolusi Indonesia yang memperoleh kemenangan akan mendatangkan perubahan yang tepat dalam perekonomian, politik dan sosial pada waktu kecerdasan kapitalistis menghadapi krisis. Bila kaum buruh kita tetap giat, dapatlah mereka memegang peran yang terpenting.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;IX&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;PERKAKAS  REVOLUSI KITA&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Dengan pelbagai ragam suara, dalam keadaan yang berbeda-beda dan oleh berbagai golongan rakyat, tujuan politik kita sudah dinyatakan yaitu kemerdekaan nasional. Tentang tujuan akhir ini, orang di seluruh Indonesia telah bulat sepakat. Hanya tentang jalan yang akan ditempuh serta alat-alat yang akan dipakai, berlain-lainan pendapat orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertukaran susunan negara feodalistis ke kapitalistis yang cepat dan tidak sesuai dengan kemauan alam menyebabkan bangsa Indonesia berubah cepat cara berpikirnya. Tetapi, perubahan cara berpikir ini biasanya tertinggal dari perubahan ekonomi. Umumnya bangsa kita secara lahiriah tampak modern sesuai dengan zaman kapitalis tetapi cara berpikirnya masih kuno, masih tinggal di zaman dahulu, seperti masih menganut Mahabarata, Islam, dan berbagai macam takhayul dan kepercayaan kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat dan lain-lain. Mereka masih terus seperti anak-anak dan berpikiran fantastis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kekalahan dalam persaingan ekonomi dengan kapital Barat yang lebih kuat itu menyebabkan terbitnya pikiran tidak betul dan anarkistis (melanggar peraturan) tidak melihat sesuatu dalam sifatnya yang sebenarnya. Ini terjadi terutama di kalangan penduduk dusun-dusun kecil yang baru dikalahkan dan digencet dan sebagian dari kaum buruh industri dan pertanian yang masih muda yakni mereka yang baru dirampas miliknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana perbedaan tingkat dalam industrialisasi demikian pulalah perbedaan pikiran penduduk di berbagai daerah di Indonesia. Kita tunjukkan saja perbedaan kemajuan pikiran antara penduduk Jawa dan saudara-saudara kita di Halmahera, atau antara saudara-saudara yang ada di Surabaya dan Semarang yang telah sadar itu dengan penduduk desa yang tidak berindustri. Di mana kapitalisme tumbuh, serta berurat-berakar, di sana mulai hiduplah rasionalisme dan pikiran yang sehat serta lenyaplah dengan perlahan-lahan kepercayaan kepada segala takhayul. Jadi, psikologi dan ideologi jiwa dan akal rakyat bangsa Indonesia sejalan dengan kecerdasan kapitalisme yang senantiasa berubah-ubah. Yang lama lenyap dan yang baru menjadi cerdas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sukar sekali membawa sekalian perbedaan pikiran yang sedang dalam transformasi itu kepada satu cita-cita yang sama membangun dan tak berubah. Karena itu pekerjaan yang berat sekali bagi kaum revolusioner akan membawa seluruh rakyat Indonesia kepada garis-garis yang sesuai dan selaras dengan aksi-aksi marxistis. Ia mudah tergelincir menjadi tindakan cari untung, anarki, dan mempercayai jimat-jimat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sampai waktu ini belum ada satu partai yang pandai menarik satu garis yang cocok dengan keadaan-keadaan yang ada di Indonesia dan memimpin rakyat kita di sepanjang garis itu. Beberapa partai berturut-turut tersesat di jalan yang tidak membawa ke tujuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mempercayai jalan parlementer yang tenteram, yakni meretas jalan kemerdekaan Indonesia dengan cara berebut kursi dalam Dewan Rakyat dan meminta-minta supaya diberikan kekuasaan politik, kita namai "percobaan untung-untungan" yang menyesatkan. Percobaan ini hanya dapat dipikirkan secara teoretis dan praktis di dalam negeri jajahan yang mempunyai borjuasi bumiputra. Kerja bersama yang jujur dengan golongan penjajah Belanda di luar atau di dalam Dewan Rakyat adalah pengkhianatan terhadap rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak dimaksudkan bahwa kita selamanya membelakangi Dewan Rakyat. Sebaliknya, bila besok atau lusa kita mendapat kesempatan melalui jalan pemilihan yang langsung untuk menduduki Dewan Rakyat, kewajiban kitalah memasukinya. Sungguh kita berbuat keliru dan penakut bila tidak bertindak begitu. Tetapi, belum semenit juga kita bermaksud bekerja bersama di dalam Dewan Rakyat dengan perampok gula, pencuri minyak dan penyamun getah, kita terpaksa memasukinya, menentang, melakukan aksi oposisi dengan penuh keberanian, dan memecahkan topeng mereka. Kita pergunakan Dewan Rakyat sebagai "Pengadilan Rakyat" dan kita rintangi tindakan pemerintah dari dalam. Dengan berbuat demikian, dapatlah kita sekadarnya mendidik rakyat yang tak boleh menulis dan bicara politik di luar Dewan Rakyat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mempergunakan cara yang sangat bertentangan dengan yang tersebut di atas, kita anggap suatu kebodohan pula karena lebih banyak merugikan usaha kemerdekaan seperti yang dipikir-pikirkan oleh kebanyakan bangsa kita. Selama seorang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan "&lt;em&gt;putch&lt;/em&gt;" atau anarkisme, hal itu hanyalah impian seorang yang lagi demam. Dan pengembangan keyakinan itu di antara rakyat merupakan satu perbuatan yang menyesatkan, sengaja atau tidak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"&lt;em&gt;Putch&lt;/em&gt;" itu adalah satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu bisanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memedulikan perasaan dan kesanggupan massa. Ia sekonyong-konyong keluar dari guanya tanpa memperhitungkan lebih dulu apakah saat untuk aksi massa sudah matang atau belum. Dia menyangka bahwa semua lamunannya tentang massa adalah benar sepenuhnya. Dia lupa atau tak mau tahu bahwa massa hanya dengar berturut-turut dapat ditarik ke aksi politik yang keras (secara modern!) dan pada waktu sengsara serta penuh reaksi yang membabi buta. "Tukang-tukang putch" lupa bahwa pada saat revolusi ini kapan aksi massa berubah menjadi pemberontakan bersenjata tak dapat ditentukan berbulan-bulan lebih dulu, sebagaimana yang dapat dilakukan oleh seorang "tukang-tenung". “Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai macam keadaan". Bila tukang-tukang "putch" pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba (seperti Herr Kapp tukang "putch" yang termasyhur itu), massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan karena "massa hanya berjuang" untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiada satu kemenangan politik pun, hingga sekarang, yang diperoleh massa (bukan oleh segerombolan militer!) jika tidak dengan aksi ekonomi atau politik! Kerapkali pada awalnya orang melalui jalan yang sah. Akan tetapi, karena tukang-tukang &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; keluar dari jalan yang sah, yaitu tiba-tiba memakai kekerasan senjata penggempur pemerintah maka 99 dari 100 kejadian, mereka ditinggalkan oleh massa sebab mereka dari mula sudah memencilkan diri dari massa. Demikian juga, 99 dari 100 kejadian, "komplot" &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; dapat diketahui musuh. Rancangan &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; selamanya bocor karena setengah anggotanya tidak sabar dan mereka ceramah atau karena pengkhianatan anggota yang ketakutan. Atau gerakan mereka dapat dicium mata-mata yang mondar-mandir di mana-mana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Membuat &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; di negeri, seperti Indonesia (terutama di Jawa), di tempat kapital dipusatkan dengan rapinya dan dilindungi oleh militer dan mata-mata ala Barat yang modern – sebaliknya, rakyat masih mempercayai yang gaib-gaib, takhayul dan dongeng – samalah artinya dengan "bermain api": tangan sendiri yang akan hangus. Kaum anarkis yang biasanya berkata bahwa kekuasaan Barat yang kokoh ini dapat dirobohkan dengan beberapa butir telur "yang meletup" tidak lebih cerdik daripada seorang yang menembak batu dengan kepalanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya "satu aksi massa", yakni satu aksi massa yang terencana yang akan memperoleh kemenangan, di satu negeri yang berindustri seperti Indonesia!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aksi-Massa tidak mengenal fantasi kosong  seorang tukang &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka. Ia disebabkan oleh kemelaratan yang besar (krisis ekonomi dan politik) dan siap, bilamana mungkin, berubah menjadi kekerasan. Sebuah partai yang berdasarkan aksi massa yang tersusun pasti mampu membawa aksi massa yang memecah pelabuhan yang tenang dan aman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagian dari aksi massa menunjukkan dirinya dengan "pemogokan atau pemboikotan". Bila buruh yang berjuta-juta meletakkan pekerjaannya dengan maksud tertentu (menuntut keuntungan ekonomi dan politik) niscaya kerugian dan kekalutan ekonomi akibat aksi mereka dapat melemahkan kaum penjajah yang keras itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut kekuatan dan kemenangan kita pada waktu itu, dapatlah kita memperoleh hak-hak politik dan ekonomi. Di India pemboikotan itu ternyata adalah pisau bermata dua. Di satu pihak ia sangat merugikan importir Inggris, di lain pihak ia memajukan perdagangan bumiputra. Di Indonesia ketiadaan kapital besar bumiputra yang penting itu memberatkan pemboikotan terhadap perdagangan asing. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bukan saja kekuasaan besar itu disebabkan oleh ikhtiar mengumpulkan kapital yang diperlukan, tapi juga meneruskan pemboikotan itu. Kita mudah memperkirakan bahwa pemboikotan nasional Indonesia yang hebat dan keras sangat dibenci dan dimusuhi oleh imperialis Belanda yang buas, seperti dia membenci pemogokan umum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, pemboikotan di Indonesia bukanlah pekerjaan mustahil. Di Pulau Jawa dan di luarnya bukankah banyak kapital bumiputra kecil-kecil yang kalau dikumpulkan ke dalam koperasi nasional dapat melahirkan kapital yang sangat besar. Tapi ikhtiar yang serupa itu terlalu banyak meminta kesadaran, keaktifan dari seluruh lapisan penduduk Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemboikotan pajak yang dianggap menjadi aksi itu di India tidak pernah dilakukan karena kekuatiran borjuasi terhadap akibat revolusioner. Di Indonesia pemboikotan pajak adalah sebuah senjata ekonomi politik yang sangat sakti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi, perbuatan seperti itu berarti "melanggar undang-undang" dan hanya terjadi dalam keadaan-keadaan revolusioner di bawah pimpinan satu partai revolusioner yang kuat betul.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagian politik dari aksi massa menunjukkan diri dengan demonstrasi dan di India dengan keengganan kerja bersama mengandung maksud politik dan ekonomi, menagih pemerintahan sendiri (&lt;em&gt;home rule&lt;/em&gt;) dari imperialisme Inggris. Bagian politiknya berupa  tindakan meninggalkan hal-hal sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. badan-badan pemerintahan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. pengadilan pemerintahan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. sekolah-sekolah pemerintahan; dan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. polisi dan tentara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tindakan yang keempat, karena takut kepada pemberontakan, tidak pernah dijalankan. Yang pertama sampai yang ketiga tidak cukup lama dilakukan dan tak cukup memberi hasil. Apakah di Indonesia dapat lebih lama dijalankan dan lebih berhasil daripada di India? Pertanyaan ini akan kita jawab kelak dalam satu pembicaraan yang khusus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demonstrasi politik ditunjukkan dengan massa yang berbaris di sepanjang jalan raya dan di gedung rapat, dengan maksud mengajukan protes dan memperkuat tuntutan politik dan ekonomi dan menunjukkan kepada musuh berapa besarnya kekuatan kita. "Bila semboyan dan tuntutan" sungguh diteriakkan oleh massa, demonstrasi politik dapat jadi gelombang hebat, yang makin lama semakin deras, kuat sehingga meruntuhkan benteng-benteng ekonomi dan politik dari kelas yang berkuasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di negeri yang berindustri seperti Indonesia, "aksi-massa", yakni boikot, mogok dan demonstrasi, boleh dipergunakan lebih sempurna sebagai senjata yang lebih tajam (di India tidak terjadi sebab bumiputra yang berkapital takut pada pemogokan umum dan kekuasaan politik dari kaum buruh, ketakutan yang tak berbeda dengan borjuasi Inggris!).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila sebuah partai revolusioner berhasil mengerahkan kaum buruh yang berjuta-juta agar meninggalkan pekerjaannya dan yang bukan buruh agar tak mau bekerja sama serta seluruh rakyat berdemonstrasi untuk menuntut hak ekonomi dan politik tanpa melempar sebutir kerikil pun kepada pegawai pemerintah, niscaya akibat politik moral dari aksi itu sangat besar artinya. Ia akan mendatangkan keuntungan dalam perjuangan politik dan ekonomi lebih besar daripada seratus Pemberontakan Jambi atau huru-hara, pembunuhan yang aneh-aneh dan dikerjakan oleh anggota-anggota "bagian B" dan tukang-tukang &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; yang gagah. Kita tidak boleh melupakan bahwa aksi yang akan kita lakukan itu sekarang dilarang oleh undang-undang tetapi, tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan jalan satu-satunya itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tambahan pula, menjadi pertanyaan besar, apakah pemerintah dapat mempertahankan larangan itu, sekurang-kurangnya jika tidak lekas patah arang oleh kekalahan kecil seperti yang sudah-sudah. Hak-hak manusia yang asli seperti mogok (menolak penjualan tenaga sendiri), boikot (menolak kerja bersama, membeli atau menjual barang-barang) dan hak berdemonstrasi (mengumumkan cita-cita) akan lenyap selama-lamanya dari bangsa Indonesia kalau di belakang tiap-tiap orang Indonesia berdiri seorang serdadu imperialis yang bersenjata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelebihan aksi massa daripada putch, ialah  bahwa dengan aksi massa perjuangan kita dapat dijaga, sedangkan dengan &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt;, kita memperlihatkan iri kepada musuh. Di dalam aksi massa, pemimpin boleh berjalan sekian jauh menurut kepatutan yang perlu di waktu ini. Ia selamanya dapat menentukan berapa jauh ia boleh mengadakan tuntutan politik dan ekonomi tanpa tidak menanggung kerugian besar (pengorbanan mesti ada dalam tiap-tiap aksi massa). Dan ia tidak kehilangan hubungan dengan massa. Demikian pun, hubungan antara massa itu sendiri tidak putus. Dengan serangan sekonyong-konyong, yaitu tindakan keras tukang-tukang &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt; yang disengaja terhadap musuh, mereka dari awalnya gampang diserang musuh. Pemimpin aksi massa dengan memegang "peta perjuangan" di tangannya dapat mempermainkan musuh dengan jalan maju selangkah-selangkah dan kemudian sekali menggempur habis-habisan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aksi massa membutuhkan pemimpin yang revolusioner, cerdas, tangkas, sabar dan cepat menghitung kejadian yang akan datang, waspada politik. Ia harus juga bekerja dengan kekuatan nasional yang sudah ada dan tidak mengharapkan kekuatan yang sekadar lamunan. Selanjutnya, ia harus mengetahui tabiat massa yang dipimpinnya (mengetahui waktu dan cara bagaimana reaksi rakyat terhadap kejadian-kejadian politik dan ekonomi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia harus pandai pula bersemboyan yang menyemangatkan rakyat sehingga mengubah "kemauan massa" menjadi "tindakan massa". Selain itu, kedudukan politik dan ekonomi mesti diketahuinya betul-betul dan ia harus pula pandai mempergunakannya tanpa ragu-ragu. Disebabkan kelas yang berkuasa (pemerintah) mempunyai laskar yang lengkap dan senantiasa siap siaga maka kecakapan dan ketangkasan pemimpin gerakan modern aksi massa mesti mempunyai pengetahuan yang praktis tentang politik dan ekonomi dari negeri serta psikologi rakyat dan kemudian pandai memperhitungkan kejadian kejadian politik yang akan terjadi. Terlebih lagi, pemimpin itu harus dapat mempergunakan "waktu" dengan cepat dan benar, juga mempergunakan sekalian pertentangan di dalam masyarakat kapitalistis (juga di dalam laskar) yang dapat mendatangkan keuntungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, kalau "tenaga bodoh" (seperti  di zaman feodal) dapat mengadakan &lt;em&gt;putch&lt;/em&gt;,  seorang pemimpin pergerakan massa yang modern haruslah seorang manusia cerdas  dan bijaksana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.  Partai dan Sifat-Sifatnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah yang dinamakan partai? Jika kita mau mengumpulkan dan memusatkan kekuatan-kekuatan revolusioner di Indonesia dengan jalan aksi massa yang terencana buat meretas jalan kemerdekaan nasional, tentulah kita mesti mempunyai satu partai yang revolusioner. Adapun, hingga kini Indonesia belum mempunyai partai revolusioner, yang ada hanya perhimpunan-perhimpunan dari orang-orang yang "berlain-lainan" pandangan dan tindakan politiknya. Satu partai revolusioner ialah gabungan orang-orang yang sama pandangan dan tindakannya dalam revolusi. Dan sebaik-baiknya perbuatan revolusioner adalah tiap-tiap anggota bersama, satu dengan lainnya, dipusatkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk menghilangkan suatu perasaan yang kurang baik dari tiap-tiap anggota partai, mestilah tiap-tiap orang diberi hak bersuara, mengemukakan dan mempertahankan keyakinannya dengan seluas-luasnya. Dan sesuatu keputusan partai mestilah dianggap sebagai hasil permusyawarahan dan pertimbangan bersama-sama yang matang dari seluruh anggota. Tiap-tiap permusyawarahan hendaknya dijalankan dengan secara demokratis yang sesungguhnya. Tiap-tiap tanda yang berbau birokrasi dan aristokrasi mesti dicabut hingga ke akar-akarnya. Tetapi, birokrasi dan otokratisme dalam partai tak dapat dihapuskan dengan "maki-makian" atau dengan menggebrak meja tetapi dengan membiasakan bertukar pikiran secara merdeka dan kerja sama dari semua anggota. Tiap-tiap keputusan partai mesti diambil menurut suara yang terbanyak. Jika satu keputusan sudah diterima oleh suara yang terbanyak, mestilah suara yang terkecil, meskipun bertentangan dengan keyakinannya, " tunduk" kepada putusan dan dengan jujur menjalankan keputusan itu. Jika tidak begitu, niscaya tak akan pernah sebuah partai mencapai tenaga yang revolusioner. Keputusan yang "setengah betul" tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan lebih baik daripada keputusan yang " bagus sekali" tetapi dikhianati oleh setengah anggota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Partai mesti mempunyai "peraturan besi". Selanjutnya, barulah ia mampu memusatkan tindakan partai. Partai mesti mempunyai alat-alat revolusioner untuk memeriksa dan memperbaiki segenap perbuatan anggota. Belumlah mencukupi bila seorang "mengakui setuju" dengan suatu keputusan atau peraturan partai. Ia mesti membuktikan dengan perbuatan bahwa ia menjalankan keputusan itu dengan betul dan setia terhadap partai. Perbuatan itu biasanya adalah, misalnya, mencari kawan dalam surat-surat kabar partai, kursus, serikat sekerja dan mengerjakan administrasi dan organisasi partai. Jika ia tak memenuhi hal-hal tersebut atau "terbukti", bahwa ia tidak setia kepada partai, mestilah dijalankan pendisiplinan. Lebih baik ia keluar dari partai daripada ia merusak partai atau memberikan teladan busuk sebagai seorang revolusioner pemalas kepada anggota-anggota yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2.  Program Nasional Kita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tujuan politik, ekonomi dan sosial yang revolusioner dari satu partai untuk negeri tertentu dan jalan yang akan dituntut bersama, diterangkan dengan "program nasional" yang revolusioner. Program itu ialah penunjuk jalan bagi partai dan harus diakui, dipahamkan, dipertahankan dan dikembangkan oleh tiap-tiap anggota. Perihal program nasional kita dan sifat-sifatnya yang umum sudah cukup jelas saya uraikan di dalam brosur &lt;em&gt;Naar de republik  Indonesia&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Semangat Muda&lt;/em&gt; (yang masing-masing dikeluarkan bulan April 1925 dan Januari 1926). Di sini masalah itu tidak akan diuraikan lagi dan silakan pembaca membaca buku-buku kecil tersebut. Tetapi, demi memudahkan pembaca, saya lampirkan juga program nasional itu (tidak dengan keterangan) di belakang buku ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3.  Tugas dan Organisasi Partai&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Partai itu menjalankan tujuan dan pelopor (&lt;em&gt;avantgarde&lt;/em&gt;) pergerakan di segala tingkatan revolusi. Pandangannya lebih jauh dan senantiasa berjuang di barisan depan sekali dan, karena itu, ia menjadi "kepala dan jantung" massa yang revolusioner.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam "revolusi borjuasi" Prancis  (1789), &lt;em&gt;avantgarde&lt;/em&gt; terdiri dari  borjuasi yang revolusioner dan kaum buruh terpelajar yang borjuis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Merekalah yang mengepalai dan memikirkan revolusi itu, sedangkan kaum buruh industri yang masih lemah dipergunakan sebagai "tenaga budak", sebagai kuda-kuda. Kejadian seperti ini mungkin juga terjadi di negeri jajahan yang borjuasi bumiputranya kuat tapi tidak diberi kekuasaan politik oleh si penjajah sehingga mereka terpaksa menjadi revolusioner. Di Mesir dan India, pengemudi gerakan kemerdekaan sampai sekarang boleh dikatakan di tangan kaum intelektual yang borjuis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun yang berjuang di negeri-negeri kolonial itu terutama sekali kaum buruh dan tani revolusioner. Di Indonesia borjuasi bumiputra tak dapat memimpin, moril dan materiel.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena kondisi sosial dan ekonomi terlalu lemah, kaum buruh mesti mendirikan cita-cita dan menyusun laskarnya sendiri. Jika kaum borjuis, besar atau kecil, di Indonesia mau memasuki massa, mereka jangan berjuang dengan kapital nasional dan parlementarisme tapi mereka mesti berdiri di atas asas-asas buruh, nasionalisasi dan pemerintahan buruh dan tani. Mereka mesti_ menjadi kaum buruh terpelajar dan berjuang dengan kaum buruh untuk cita-cita buruh dan dengan logika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kaum terpelajar borjuis mau diakui oleh massa sebagai teman, mereka mestilah berbuat lebih dari kawan-kawannya segolongan yang ada di Mesir, India dan Tiongkok. Sebagai kelas, tentulah mereka tak dapat berbuat begitu sebab dirintangi oleh keturunan, pendidikan dan lingkungan mereka sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelas buruh di Indonesia tak bisa mengharapkan sekalian buruh terpelajar pada borjuis kita, besok atau lusa, akan menerjunkan diri ke dalam massa yang sedang berjuang itu. Tetapi beberapa orang dari mereka (tidak sebagai kelas) "boleh jadi" masuk ke dalam barisan baru sebagai laskar sukarela. Kaum terpelajar borjuis yang revolusioner jika dengan mentah-mentah dimasukkan dalam partai buruh yang revolusioner, itu berarti memborjuiskan kaum buruh kita. Di Indonesia, terutama, hal itu sama artinya dengan "mengebiri", merampas perasaan revolusioner dan cita-cita yang lanjut dari kaum buruh. Tak kan mungkin keluar tenaga dari kaum buruh yang seperti itu. Partai seperti itu, "bukan ikan dan bukan daging", bukan borjuis revolusioner proletar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malahan jika borjuasi Indonesia lebih kuat dan lebih revolusioner dari sekarang ini, ia tak kan mau dan sanggup berjalan lebih jauh dari "kemerdekaan politik", yakni merampas kekuasaan politik dari imperialisme Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemecahan-pemecahan masalah ekonomi dan politik yang radikal (dimisalkan ada borjuasi Indonesia yang revolusioner dan kuat) hanya dapat dijalankan dengan merugikan kapital bumiputra itu sendiri. Terhadap pemecahan itu, borjuasi yang dimisalkan itu niscaya tidak menyetujuinya . Di tiap-tiap negeri yang terjajah, borjuasi bumiputra yang revolusioner (terhadap imperialisme) itu dengan segera berubah menjadi reaksioner buruh pada saat imperialisme dirobohkan. Tujuan akhir dari tiap-tiap borjuasi bumiputra yang revolusioner adalah "politik" semata-mata. Di India, Tiongkok, Mesir dan Filipina hal itu sudah berbukti. Begitu pulalah segerombolan kaum borjuis kecil Indonesia. Di dalam perjuangan politik mereka terhadap imperialisme Belanda, tersembunyi cita-cita kepada harta dan kekuasan yang lebih besar. Mereka ingin menjadi tuan-tuan tanah, saudagar kaya raya, bankir dan juga ingin menjadi gubernur, menteri dan lain-lain. Pendeknya mereka ingin menjadi borjuis besar, seperti di lain-lain negeri. Nisbah antara kapital dan tenaga, antara kapitalis dan buruh serta sistem politik, ketiga-tiganya mereka kehendaki supaya tetap kapitalistis. Dengan menggulingkan imperialisme Belanda, kaum borjuis kecil Indonesia ingin kelak dapat menjalankan sekalian kekuasaan politik dan ekonomi terhadap kaum buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tujuan buruh melewati batas "anti-imperialisme". Mereka berniat, terang atau kabur, merobohkan kaum kapitalis sama sekali. Kaum buruh Indonesia menghendaki pemecahan yang radikal di dalam perekonomian, sosial, politik dan ideologi, sekarang atau nanti. Bila sekiranya kelak sesudah imperialis Belanda ditentang dan dimusnahkan hingga ke akar-akarnya, meskipun tak mungkin dalam arti kemenangan nasional semata-mata, niscaya kaum buruh akan dan mesti memperkuat barisannya melawan borjuasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, borjuasi Indonesia yang kecil, apalagi yang besar hanya anti-imperialisme saja, sedangkan kaum buruh anti kedua-duanya: imperialisme dan kapitalisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, buruh Indonesia jika dibandingkan dengan borjuasi revolusioner menghadapi perjalanan yang jauh lebih panjang sebelum sampai kemerdekaan sejati. Jadi, semestinyalah mereka lebih giat dan radikal dalam perjuangan dan sekarang pun sudah begitu, seperti di negeri lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Soal organisasi" berhubungan rapat sekali dengan cita-cita sosial, ekonomi dan politik, serta tingkatan revolusioner dari kelas-kelas yang revolusioner. Menurut cita-cita dan "liatnya" sekalian kelas yang revolusioner, bolehlah kita bagi laskar nasional kita dalam: (1) &lt;em&gt;barisan pelopor&lt;/em&gt;, yaitu  terdiri dari kaum buruh industri yang seinsaf-insafnya dan kaum buruh  terpelajar; (2) &lt;em&gt;cadangan&lt;/em&gt; yaitu terdiri dari kaum buruh yang kurang insaf dan bukan kaum buruh yang revolusioner yang di masa revolusi berjuang di bawah pimpinan dan berdiri di sisi barisan pelopor.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seringkali hubungan itu ditimbulkan oleh pemusatan kerja. Pekerjaan partai sehari-hari ialah merapatkan anggota dengan anggota, partai dengan organisasi "sepupunya", mengurus pembacaan anggota partai, antara partai dan rakyat seluruhnya. Kadang-kadang hubungan itu didatangkan pula oleh agitasi yang cocok dan benar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agitasi itu mesti didasarkan kepada kehidupan massa yang sebenarnya. Tak cukup dengan meneriakkan kemerdekaan saja. Kita harus menunjukkan kemerdekaan dengan alasan yang sebenarnya. Kita harus menerangkan semua penderitaan rakyat sehari-hari seperti gaji, pajak, kerja berat, kediaman bobrok, perlakuan orang atas yang menghina dan kejam. Seorang agitator yang cakap setiap waktu harus siap sedia memecahkan sekalian soal yang bersangkutan dengan kehidupan materiel Pak Kromo dengan benar dan revolusioner. Ia juga harus senantiasa bersedia menarik dan memimpin Pak Kromo-Pak Kromo itu kepada aksi politik dan ekonomi yang memperbaiki kebutuhan materiel mereka. Tak boleh kita harapkan bahwa massa akan masuk ke dalam perjuangan karena didorong cita-cita saja!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Massa (di Timur atau di Barat) hanya berjuang karena kebutuhan materiel yang terpenting. Dengan perjuangan ekonomi, seperti pemogokan atau pemboikotan serta ditunjang oleh demonstrasi politik, kita akan dibawa kepada tujuan yang penghabisan!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segala agitasi mestilah cocok dengan keadaan tiap-tiap daerah. Penerangan terhadap seorang buruh industri tak boleh disamakan dengan seorang tani sebab keduanya mempunyai kebutuhan materiel yang lain-lain. Seorang tani di Jawa pun tak boleh disamakan dengan seorang tani di Sumatera sebab keduanya mempunyai soal-soal tanah dan ekonomi yang berlainan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika agitasi itu benar nyata dan mengenal segala kebutuhan rakyat yang tergencet pada tiap-tiap daerah di Indonesia, bilamana program tuntutan dan semboyan-semboyan kita "sungguh" dipahamkan dan dirasai oleh seluruh lapisan penduduk, jika pemimpin &lt;em&gt;partai liat, tangkas dan cerdas&lt;/em&gt; mempergunakan sekalian pertentangan  yang ada di dalam masyarakat Indonesia, niscaya &lt;em&gt;hubungan&lt;/em&gt; yang perlu "dengan" — pengaruh yang diinginkan "atas" dan akhirnya kepercayaan yang dibutuhkan " dari" — massa dapat diperoleh partai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal ini sudah lebih panjang daripada maksud kita yang semula, apalagi bila ditambah pula dengan pembicaraan perihal "teknik" aksi massa. Pun hal ini mestilah kita serahkan kepada pembicaraan yang praktis karena kita tidak "menelanjangi" diri di hadapan musuh dengan membukakan rahasia pun teknik perjuangan kita. Tetapi, di sini mesti kita peringatkan bahwa soal "persenjataan" — meskipun hal itu penting sekali serta sangat kuat menarik perhatian kaum revolusioner! — bagi kita bukanlah soal hidup mati. Ia tunduk kepada soal politik dan organisasi yang revolusioner. Dengan kata lain bahwa massa yang gembira dalam pimpinan partai revolusioner yang berdisiplin baja, berkelahi dengan tangan serta suara nyanyian yang revolusioner, akan merobohkan laskar imperialis sampai ke urat akarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai penutup pasal ini, boleh kita tambahkan  bahwa bagi kemenangan revolusioner, perlu dua faktor berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Faktor "objektif", yaitu sebuah tingkatan dari tangan produksi dan kemelaratan massa. Tingkatan itu terutama di Jawa dan di beberapa tempat di Sumatera dalam pandangan kita dianggap cukup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Faktor "subjektif", yaitu kesediaan bangsa Indonesia yang mesti diwujudkan dalam suatu partai revolusioner yang "sempurna" (teratur dan matang betul) dan keadaan-keadaan revolusioner yang baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk mencapainya, partai mesti mempunyai disiplin; massa yang tidak senang itu harus di bawah pemimpinnya. Kemudian dipecah-belah musuh-musuh dalam dan luar negeri. Lihat seterusnya &lt;em&gt;Menuju Republik Indonesia&lt;/em&gt; pasal "pukulan strategis".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Andaipun partai yang revolusioner tidak dapat diperoleh dengan pembicaraan-pembicaraan akademis di dalam partai ataupun tak ada kesempatan bagi bangsa kita yang sengsara dan dihina-hinakan, senantiasa kita dapat mendorong partai itu ke dalam perjuangan ekonomi dan politik yang besar ataupun yang menciptakan "disiplin" yang diinginkan yang memberi pengaruh yang tak dapat ditinggalkan atas massa dan kepercayaan yang dibutuhkan dari massa serta, selain itu keliatan, kecerdasan dalam perjuangan. Itulah syarat-syarat yang akan membawa kita pada kemenangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Barisan penduduk yang terdiri dari kelas  menengah dan borjuasi yang lemah hanya akan turut berjuang bila terpaksa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan terlampau panjang bila diperbincangkan di sini dengan panjang lebar perihal satu-dua partai. Maksud kita dengan itu ialah apakah kaum buruh dan kaum borjuis yang kecil-kecil mesti dihimpunkan dalam "satu" organisasi nasional dengan "satu" pusat pemimpin atau dipecah dalam "dua" organisasi dengan dua pemimpin tetapi bekerja bersama-sama (Pada waktu ini kaum buruh — sebab sistem yang pasti belum dipakai — boleh dikatakan belum tersusun dalam Partai Komunis Indonesia (P.K.I.) dan bukan-buruh dalam serikat rakyat. Keduanya mempunyai satu pengurus besar.).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimanapun wujud organisasi itu di dalam satu koloni seperti Indonesia, kaum buruhlah yang paling aktif dan radikal. Organisasi tidak boleh menghalang-halangi keaktifan itu. Sebaliknya, ia mesti tahu mempergunakannya dan dapat menghidup-hidupkannya. Organisasi itu semestinya menjadi gabungan dan pemusatan segala keaktifan kaum buruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semestinya diikhtiarkan supaya kaum buruh sebanyak-banyaknya duduk di dalam partai dan memegang pimpinan. Partai revolusioner kita akan berkembang hidup sebesar-besarnya dan sesehat-sehatnya bilamana benih-benih partai ditanam pada tiap-tiap pusat industri.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Demikianlah jadinya, kedudukan P.K.I. terbatas di dalam kota-kota, pusat-pusat ekonomi, pengangkutan; dan Serikat Rakyat (S.R.) harus menjadi partai yang bukan buruh. Selain di kota-kota, di desa-desa pun mestinya didirikan. Dengan jalan seperti itu, dimasukkanlah api revolusioner ke dalam P.K.I. dan S.R., kaum buruh yang setengah insaf dan belum insaf sama sekali tak boleh tinggal di luar organisasi. Mereka mesti diajak masuk ke dalam perjuangan ekonomi yang setiap waktu berubah menjadi perjuangan; mereka dihimpun dalam serikat-serikat kerja sebagai barisan cadangan yang berdiri langsung di bawah pimpinan P.K.I.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum bukan-buruh yang setengah insaf dan yang belum insaf sama sekali dalam politik dan ekonomi, juga tergencet mesti dihimpun ke dalam koperasi rakyat yang juga merupakan barisan pembantu yang berdiri langsung di bawah pimpinan P.K.I. dan S.R.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah, P.K.I. mesti mempunyai beberapa organisasi serikat kerja, koperasi dan serikat rakyat yang tiap-tiap beraksi-massa langsung berada di bawah pimpinan P.K.I. Organisasi itu — yang semangatnya dipengaruhi surat-surat kabar partai dan serikat kerja — merupakan laskar revolusi nasional dalam perjuangan menentang imperialisme dan kapitalisme Barat.[1]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika satu partai revolusioner benar-benar ingin menjadi pemimpin massa di Indonesia, terlebih dulu partai itu sendiri harus dipimpin sebaik-baiknya. Organisasi partai ialah kesimpulan dari beberapa susunan partai. Dengan kata lain, menjadi "tali nyawa" dari partai, menjadi yang "terpenting", misalnya seperti penyusunan, pelatihan, pendidikan bagi pemimpin dan anggota-anggotanya. Tambahan pula, partai mesti berhubungan rapat dengan massa, terutama pada saat yang penting, dengan segala golongan rakyat dari seluruh Kepulauan Indonesia. Dengan tidak berhubungan seperti itu, tak kan ada pimpinan yang revolusioner.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1] Seorang anggota P.K.I. sedapat mungkin adalah seorang buruh atau buruh terpelajar (bukan borjuis). Ia harus mengetahui dan pandai menerangkan komunisme dalam teori dan praktik, taktik nasional dan internasional. Di atas segalanya, ia harus lebih banyak dan lebih canggih untuk melakukan pekerjaan revolusioner, yaitu pekerjaan menyusun dan menggalang pertemanan. Seorang anggota S.R. biasanya adalah bukan buruh, tani, saudagar atau pelajar (mahasiswa). Ia tak usah melakukan pekerjaan revolusioner sebanyak yang dikerjakan anggota P.K.I cukuplah jika ideologinya anti-imperialis dan menghendaki kemerdekaan nasional. Bila dipakai sistem satu partai, kaum buruh dan bukan buruh dihimpun dalam sebuah organisasi yang revolusioner. Dalam partai itu, golongan yang lebih "sadar" dan buruh terpelajar merupakan sayap kiri. Sayap kiri inilah motor pergerakan Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;X&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;h3 align="center"&gt;&lt;strong&gt;SEKILAS  TENTANG GERAKAN KEMERDEKAAN DI &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Kegagalan Partai Borjuis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya bukan kualitas pimpinan itu sendiri yang menyebabkan partai-partai borjuis Indonesia "beriring-iringan patah di tengah". Para penganjur, seperti Dr. A. Rivai dan Dr. Tjipto, niscaya akan memegang peranan yang jauh berlainan sekali di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia jika di sini ada kapital besar milik bumiputra. Lambat laun, dengan sendirinya, mereka akan sampai pada program nasional borjuis yang dengan perantaraan satu organisasi dan taktik yang cocok, sebagian atau seluruhnya, dapat diwujudkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena kapital besar bumiputra tidak ada, program nasional dan organisasi mereka sebagai partai borjuis tak tahan hidup. Mereka dibesarkan oleh pendidikan borjuis secara Barat sehingga tidak tercerabut massa Indonesia dan tidak berperasaan akan mencari logika untuk mendapat program nasional yang proletaris. Partai borjuis yang didirikan dengan perlahan-lahan, lenyap sama sekali, "hidup enggan mati tak mau" atau tinggal namanya saja yang hidup.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;a. Budi Utomo&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Budi Utomo — didirikan pada tahun 1908 — adalah sebuah partai yang semalas-malasnya di antara segenap partai-partai borjuis di Indonesia. Seperti seekor binatang pemalas, ia merana sombong karena umurnya panjang. Karena ia tak mendapat cara-cara aksi borjuis yang radikal dan tidak berani mendekati dan menggerakkan rakyat maka dari dulu sampai sekarang, kaum Budi Utomo menghabiskan waktu dengan memanggil-manggil arwah yang telah lama meninggal dunia. Borobudur yang kolot, wayang dan gamelan yang merana, semua basil "kebudayaan perbudakan" ditambah dan digembar-gemborkan oleh mereka siang malam. Di dalam "lingkungan sendin" kerapkali dukun-dukun politik itu menyuruh Hayam Wuruk — Raja Hindu atau setengah Hindu itu — dengan laskarnya yang kuat berbaris di muka mereka. Di luar hal-hal gaib itu, paling banter hanya dibicarakan soal-soal yang tak berbahaya. Di dalam Kongres Budi Utomo berkali-kali (sampai menjemukan) kebudayaan dan seni Jawa (?) dibicarakan. Soal yang penting, yaitu mengenai kehidupan rakyat di Jawa — jangan dikata lagi di seluruh Indonesia — tak pernah disentuh, apalagi diperbincangkan mereka. Belum pernah, barangkali, diadakan suatu aksi untuk memperbaiki nasib Pak Kromo yang tidak hidup di zaman Keemasan Majapahit, tetapi di dunia kapitalistis yang tak memandang bulu. Panjangnya umur Budi Utomo sebagian besar diperolehnya dari "mantera-mantera" pemimpinnya, dari hasil "main mata" dengan pemerintah dan dari hasil kelemahan teman seperjuangannya. Sebuah semangat kosong seperti Budi Utomo dapat diterima oleh pemerintah seperti Belanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, Budi Utomo tidak menumbuhkan cita-cita "kebangsaan Indonesia". Fantasi "Jawa-Raya", yakni bayangan penjajahan Hindu atau setengah Hindu terhadap bangsa Indonesia sejati, langsung atau tidak, menyebabkan timbulnya keinginan akan Sumatera Raya, Pasundan Raya atau Ambon Raya dan lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Budi Utomo yang mengangkat kembali senjata-senjata Hindu-Jawa yang berkarat dan sudah lama dilupakan itu, sungguh tidak taktis dan jauh dari pendirian nasionalis umum. Perbuatan itu menimbulkan kecurigaan golongan lain yang mencita-citakan persaudaraan dan kerja sama antara penduduk di seluruh Indonesia (bukan antara penjajah satu terhadap Iainnya). Dengan jalan sedemikian, Budi Utomo menimbulkan gerakan ke daerah yang bila perlu (misalnya Budi Utomo kuat), dengan mudah dapat dipergunakan imperialisme Belanda. Dengan keadaan seperti ini, keinginan "luhur" yang satu dapat diadu dengan yang lain, yang akibatnya sangat memilukan, Indonesia tetap jadi negeri budak.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;b. National Indische Party&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan pikiran pincang dan ragu-ragu tidak dapat juga N.I.P. yang didirikan pada tahun 1912 "mencium" kebangsaan Indonesia. Pohon-pohonan yang terapung-apung — indo-indo Eropa itu — berdiri dengan sebelah kakinya di sisi jurang imperialisme dan sebelah lagi di sisi jurang kebangsaan Indonesia. Yang terutama tidak mempunyai cita-cita nasional yaitu borjuasi Indonesia; masa bercerai-berai. Karena itulah, satu program nasional yang konstruktif dan konsekuen tak dapat diwujudkannya. Rumpun "Indonesisme" ala Douwes Dekker ialah cita-cita dari Belanda Indo yang tidak kurang imperialisisnya daripada Belanda totok, mereka merasa dikesampingkan oleh yang tersebut belakangan dan itulah semangat yang dikembangkannya. Mereka meminta "persamaan" dengan totok dan kadang-kadang dibisikkannya perkataan kemerdekaan. Maksud mereka yang sesungguhnya mau membagi kekuasaan, satu orang separo diantara mereka berdua. Karena si totok kerapkali terlalu banyak mengambil bagian untuknya sendiri, si Indo mengancam "bekerja sama dengan Inlander". Cap yang lebih dalam tak dapat kita tempelkan kepada kebangsaan Belanda Indo itu. Mereka tidak berbeda coraknya dengan bangsa Hindu dan Muslim di zaman perang saudara dulu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tatkala Si Jenaka Van Limburg Stirum "pelayan liberal dari kapital besar" memberikan pekerjaan yang menguntungkan Teeuwen dan Co waktu itu, program N.I.P. mencapai tujuannya tanpa menumpahkan darah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Douwes Dekker berjalan terus; untuk mencapai itu, dia menganggap perlu memakai kekuatan bumiputra. Dengan perkataannya yang kabur tentang hak dan kemerdekaan, tertariklah Dr. Tjipto, Soewardi dan Co ke dalam N.I.P. Kejadian ini memberi jiwa kepada pohon kebangsaan Indonesia yang tidak dikenal di seluruh pergerakan Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu cita-cita modern tentang kebangsaan yang jauh lebih sehat dan lebih luas daripada fantasi Jawa Raya (cita-cita penjajahan Hindu dan kasta-kasta) boleh dikatakan lahir di seluruh Kepulauan Indonesia. Tetapi, sesudah Dr. Tjipto, Soewardi dan Co duduk di dalam N.I.P., orang betul-betul memperhatikannya; di sana dapat dilihat satu pertentangan antara anggota-anggota perkumpulan itu. Di satu pihak berdiri Indo-Borjuis yang dididik secara imperialistis, sombong dan penuh curiga, di pihak lain berdiri bumiputra yang ekonomi dan politiknya tergencet, diperas dan diinjak-injak.&lt;br /&gt;Sebuah asimilasi baik sosial ataupun ideologi belum pernah tercapai. Seorang anggota N.I.P. merasa sangat senang mendapat pembagian kerja 50 banding 50 dengan si totok yang sangat dibenci itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengangkatan Teeuwen menjadi aggota Dewan Rakyat, kemudian menjadi pegawai tinggi, sesungguhnya menjadi obat yang mujarab buat penyakit politik N.I.P.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangankan aksi revolusioner, mogok saja jauh dari keinginan Indo anggota N.I.P. Apalagi revolusi meminta hubungan yang rapat serta asimilasi sejati dengan bangsa Indonesia, bukan dengan priyayi-priyayi yang bersih saja, melainkan juga dengan Pak Kromo. Dan yang lebih utama, pembagian kekuasaan politik dengan si Inlanders yang terbesar jumlahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan pemogokan yang mungkin berubah menjadi revolusi meski sekecil apa pun, tentulah takkan pernah cekcok dengan kepentingan dan ideologi tuan tanah dan pegawai-pegawai Belanda-Indo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama perkataan "hak dan kemerdekaan" tetap tinggal gelap, selama itulah Belanda-Indo dapat bergandengan tangan dengan priyayi-priyayi Jawa. Tetapi, pertentangan kelas yang beberapa tahun belakangan ini terbukti dalam pemogokan maka keluarlah nasionalis-imperialis (nasionalis menurut sebutan dan imperialis menurut perbuatan) dari "nasional" Indische Party.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa yang diidamkan oleh Indo anggota N.I.P. sekarang dibukakan oleh I.E.V.: hak tanah dan fasisme. Anggota N.I.P. bumiputra umumnya lebih radikal dari Belanda Indo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, mereka terkungkung dalam "kebangsaan Douwes Dekker" (satu teori yang menggembirakan perihal "darah Timur dan perasaan Timur") yang bagian ekonominya ditutup dengan &lt;em&gt;wardisme&lt;/em&gt; yang kacau itu. Sekiranya N.I.P. mempunyai seorang pemimpin yang sanggup mempertalikan kebangsaan Indonesia dengan program proletaris dan sanggup menarik kaum buruh ke dalam partai itu, niscaya N.I.P., meskipun ditinggalkan oleh Belanda-Indo yang fasistis itu, dapatlah hidup terus dan boleh jadi lebih kuat dari yang sudah-sudah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi sekali lagi, sebab tak ada borjuasi bumiputra yang modern maka semangat yang begitu sehat dan revolusioner seperti Dr. Tjipto tak mendapat tempat dalam pergerakan revolusioner yang borjuis. Sebaliknya, daripada mendekati massa berulang-ulang, mereka lebih suka merintang-rintang waktu dengan kerja yang tak layak baginya, yaitu memanggil-manggil arwah kebesaran (Hindu dan Islam) yang telah meninggal dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu nasionalistis "maya" yang sejati.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;c.  Sarekat Islam (S.I.)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sarekat Islam pada tahun 1913 tampil ke muka disertai suaranya yang gemuruh. Perhimpunan ini adalah penyambung aksi massa Timur setengah feodal yang sudah berabad-abad mengalami penindasan. Tetapi, ia bukanlah suatu aksi massa yang teratur, tetapi manifestasi dari perasaan massa yang kurang senang di bawah pimpinan saudagar-saudagar kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan melibat-libatkan agama, dikumpulkannya si Kromo ke dalam satu organisasi yang sangat picik. Dan pada permulaannya ditujukan untuk menentang saudagar-saudagar Tionghoa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam perjuangan ekonomi antara saudagar bumiputra dan Tionghoa tampak betul kelemahan yang disebut duluan. Kecurangan pemimpin S.I. menyebabkan dan menimbulkan datangnya kekalahan ekonomi. Dengan berhentinya gerakan, terhenti pulalah kegiatan saudagar-saudagar kecil di dalam S.I. Jika kita mau menamakan paham campur aduk antara Islam, kebangsaan reformisme dan demagogi dari pemimpin-pemimpin S.I. itu "politik", maka sekarang kita pandang S.I. sudah menginjak tingkatan "politik". Pada tingkatan politik ini, berkat pengaruh kaum revolusioner di Semarang, dapatlah mereka mengadakan aksi-aksi ekonomi pemogokan "liar".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Massa yang kurang senang yang bersatu dalam S.I. tak dapat menjadi sendi aksi massa yang teratur. Untuk itu, pemimpin S.I. tak mempunyai pengetahuan sedikit pun perihal pertentangan kelas, taktik revolusioner dan kepemimpinan. Tambahan pula program revolusioner yang konstruktif dan konsekuen, kecakapan organisatoris dan kejujuran administrasi tak ada. Pergerakan S.I. yang permulaannya demikian hebat dan menarik perhatian umum — hingga kerapkali disamakan dengan gerakan Charterisme — tampaknya menang hanya karena beroleh adat menjongkok-jongkok.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disebabkan kebimbangan dan kelemahan aksi S.I. itu, pergilah mereka yang kecewa dan yang lebih radikal-islamistis borjuis mengambil jalan yang salah. Segala alat-alat feodal seperti mistik, jimat-jimat dan mantera yang sudah lama terkubur diambil mereka dan dipergunakannya untuk menentang imperialisme, dan tentulah mereka jadi hancur luluh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski Afd. B. dari S.I. berhasil kiranya merangkak-rangkak di bawah tanah lebih lama dan pada waktu yang diperkirakan tepat lalu menyerbukan diri ke dalam perjuangan, ia tidak akan mendapat hasil selain dari pemberontakan dan huru-hara agama seperti yang sudah berulang-ulang terjadi di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Organisasi S.I.  mati ketika kaum revolusioner Semarang di tahun 1921  membuang disiplin partai (&lt;em&gt;trade mark&lt;/em&gt; Haji A. Salim). Apa yang terjadi sesudah itu tak lain dari perpecahan anggota S.I., yang paling aktif pergi masuk S.R. dan P.K.I. Golongan Muhammadiyah dengan segala kejujurannya menerima subsidi dari tangan pemerintah "kafir" untuk sekolah Islam. Kedua Haji yang termashur itu — Agus dan Tjokro — tak dapat lagi meniup gelembung sabun Islam dengan patgulipat syariat yang lama dan yang baru dipikir-pikirkannya.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;2.  Bagaimana Sekarang?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam perjuangan yang luar biasa beratnya selama beberapa tahun yang lalu, berhasillah P.K.I. dan S.R. menghimpun kaum buruh dan revolusioner dari B.U., N.I.P., dan S.I. untuk bernaung di bawah panji-panjinya. Tak ada partai lain yang sudah memberikan korbannya seperti P.K.I. dan S.R. Beribu-ribu anggota yang sudah tertangkap, berpuluh-puluh yang sudah dibuang, dipukul atau dibunuh. Sungguhpun begitu, masih diakui BENDERA-nya di seluruh pulau, bukit, gunung, kota dan desa (Indonesia). Ia dipakai menjadi lambang kemerdekaan yang sekian lama diidam-idamkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam beberapa aksi daerah untuk tujuan yang kecil-kecil, P.K.I. dan S.R. sudah menunjukkan kekuatan dan kecakapannya. Akan tetapi, untuk mengadakan satu aksi nasional umum (apalagi di lapangan internasional), mereka betul-betul belum kuasa. Hal ini, atas nama kemerdekaan 55 juta manusia, tak boleh didiamkan. Kalau mereka berbuat seperti itu pula, niscaya akan berarti menjatuhkan diri ke dalam kesalahan seperti yang terus-menerus dilakukan oleh partai-partai borjuis (terutama partai Tjokro &amp;amp; Co). Tatkala muncul &lt;em&gt;Larangan Berkumpul&lt;/em&gt; pada penghabisan tahun yang lalu, kita tidak menunjukkan perasaan tak senang. Kini sesudah lebih delapan bulan masih saja belum ada sesuatu yang terjadi. Manakah rakyat yang beratus ribu atau berjuta-juta di jawa, Sumatera, Sulawesi yang langsung berdiri di bawah pimpinan atau tunduk ke bawah pengaruh kita? Kemanakah perginya, dalam waktu delapan bulan itu, kaum revolusioner yang setia terhimpun di dalam V.S.T.P, S.P.P.L., S.B.G., S.B.B. dan lain-lain, serta beberapa juta yang tidak diorganisasi tetapi yang bersimpati kepada kita? Adakah kita dengan segera mengerahkan dan menarik rakyat untuk membalas dendam atas kelahiran &lt;em&gt;Larangan Berkumpul&lt;/em&gt;, masa penangkapan dan pembuangan serta kematian saudara Soegono, Misbach dan lain-lain dengan satu aksi massa yang sepadan, tetapi dijalankan dengan gembira.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak, kita sekali-kali tak menangkis serangan lawan sehingga timbul sekarang pertikaian yang tak dapat dihalang-halangi dalam barisan revolusioner, dan anggota yang berdarah anarkis mengambil jalan sendiri serta menarik kawan-kawannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain   seksi-seksi kita yang baik, yang sangat diharapkan, seperti Sumatera Barat, Medan, Semarang, Surabaya, (semuanya mana yang tidak?) menderita keputusan dan kelemahan organisasi yang tak mudah ditolong lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila kita membalas &lt;em&gt;Ultimatum  Desember&
